Cahaya Bulan Dilangit Mercusuar

Cahaya Bulan Dilangit Mercusuar
Episode 48


__ADS_3

Semua teman Lanlan masih berada di rumahnya hingga senja datang. Bersama kedua adik laki-lakinya. Dhan serta Dion main bersama Ata dan Ari, tentunya setelah kesalahpahaman yang terjadi kemarin selesai dijelaskan.


Macam-macam permainan yang mereka mainkan. Mulai dari ludo, ular tangga sampai monopoli. Semua itu memanglah permainan anak-anak, tapi jauh lebih seru ketimbang bermain game. Siapa yang kalah, mukanya harus diolesi tepung.


Sedangkan para wanita, mereka menonton film yang berasal dari Negeri Ginseng. Ada juga menonton para boyband tampan, yang saling menunjukkan kebolehan mereka dalam dance dan tarik suara.


" Assalamu'alaikum, Bunda pulang " salamnya.


" Wa'alaikumsalam " jawab mereka serentak.


" Wah, ada tamu rupanya? Kenapa tidak bilang sama Bunda, Aya " ucapnya, melihat ada banyak anak muda di rumahnya.


" Halo, Tante "


" Sore, Tante " sapa mereka hampir bersamaan.


" Iya, halo juga " balas Ibu Lanlan.


" Ata, Ari, kalian di rumah juga? Tumben " heran Ibu Lanlan, seperti melihat ketidakmungkinan yang menjadi mungkin.


" Iya Bunda, tadi pulang bareng sama Kak Aya " jawab Ari.


" Ya sudah, kalian lanjut aja ya. Bunda mau ke kamar dulu " pamitnya.


" Iya Bunda " jawab Lanlan dan kedua adiknya.


" Iya Tante, silahkan " jawab keempat teman Lanlan.


" Dhan, kita pulang aja yuk. Udah sore juga, ngga enak " ajak Dion.


" Ya udah, tapi pamit dulu ya " jawab Dhan.


" Putri, kita pulang. Kasian Tante Sasa, pasti udah nungguin di rumah " ajak Dhan.


" Oh iya, kita pulang ya Lan udah sore. Kamu besok ngampus, kan? " ucap Putri.


" Iya, berangkat kok. Bentar ya, aku panggil Bunda dulu " pinta Lanlan.


" Bun, Bunda " panggilnya mengetuk pintu kamar Ibunya.


" Ya, ada apa Nak? " sahut Ibu membuka pintu.


" Temen-temen aku mau pamit pulang, Bunda "

__ADS_1


" Iya Tante, kita pamit pulang dulu. Udah sore soalnya " ucap Putri.


" Loh, kenapa buru-buru? Ikut makan dulu aja disini " sahut Ibu Lanlan.


" Ngga usah Tante, udah sore takut dicariin orang rumah soalnya " jawab Putri lagi.


" Oh gitu, ya sudah apa boleh buat " sahut Ibu Lanlan terlihat kecewa.


" Maaf Tante, bukannya kita nolak. Besok-besok kita janji bakal sering main kesini deh " timpal Dhan, melihat raut kecewa yang tergambar diwajah Ibu Lanlan, membuatnya tak enak hati.


" Betul ya? Soalnya kalian teman pertama Aya yang dibawa main ke rumah " ucap Bunda.


" Iya Tante, kita usahain sering main kesini " balas Dhan.


" Kalo gitu kita pamit, Tante " timpal Putri.


" Iya iya, makasih ya sudah main ke rumah Aya. Sering-sering main kesini " pintanya.


" Iya Tante " jawab Dhan, Dion, Putri dan Mora.


" Hati-hati dijalan ya " tambah Ibu Lanlan.


" Iya Tante, Assalamu'alaikum. "


¤•¤•¤•¤•¤•¤•¤•¤


Mobil keluar dari halaman rumah, tepat saat Ayah Lanlan memasuki pekarangan. Dhan sempat membunyikan klakson, karena melihat bapak-bapak yang terlihat tidak asing baginya. Seperti baru dilihatnya, tapi lupa dimana.


" Kayaknya aku tau, kenapa si Arya itu bersikap seperti itu sama Lanlan " ucap Mora sok tau.


" Kenapa? " tanya ketiga penghuni mobil yang lain.


" Karena nama mereka yang hampir sama penyebutannya " jelas Mora.


" Maksud kamu? " Putri sama sekali tidak paham dengan apa yang Mora katakan.


" Iya, kenapa itu jadi masalah? " timpal Dion.


" Apa maksud kamu, Arya itu ngga suka karena nama mereka sama? " Dhan angkat bicara setelah mencerna perkataan Mora.


" Yap, betul sekali " sahut Mora membenarkan.


" Bentar-bentar, aku masih belum paham. Kenapa Arya bisa kayak gitu? Cuma nama doang kan? Apa masalahnya " Putri menuturkan ketidakmungkinan yang Arya lakukan.

__ADS_1


" Emang kamu tau, itu orang aslinya kayak gimana? " ucap Mora.


" Ya enggak lah, liat orangnya aja baru tadi " jawab Putri.


" Tapi, bukannya mereka temenan ya? Kenapa setelah Lanlan ungkapin perasaan, sikapnya jadi berubah? " ungkap Dion, mengingat apa yang Lanlan ceritakan.


Mobil yang mereka tumpangi terjebak kemacetan, menjelang sore jalanan memang lebih padat dan ramai daripada saat siang.


" Aduh, pake macet lagi " keluh Mora.


" Kayaknya bakal telat kita sampe di rumah " ucap Dhan.


" Iya. O iya, bener kata Dion. Mereka kan dulu temenan, kalian masih ingat dong cerita Lanlan tadi? Baru tadi siang loh " ucap Putri.


" Terus apa alasan dia coba? " timpal Mora.


" Harus tanya ke orangnya langsung kalo mau tau " saran Dhan.


" Besok aku bakal tanya langsung sama dia " tambahnya.


" Mending jangan deh, nanti kalo kamu yang nanya bakal ribut lagi pasti " cegah Dion. Mengingat Dhan dan Arya pernah berantem, bahkan tadi siang juga hampir ribut lagi.


" Iya Dhan, jangan kamu yang nanya. Besok aku sama Mora bakal deketin dia pelan-pelan, terus nanya apa alasan dia kayak gitu sama Lanlan " sahut Putri juga berusaha mencegah Dhan.


" Oke, tapi kalian harus hati-hati ya. Sebelum melakukan misi, sebaiknya kalian coba tanya sama Lanlan apa yang paling membuatnya kesal. Karena jangan sampe buat dia kesal. bisa-bisa kalian juga jadi korban " saran Dhan.


" Oke, besok pagi aku tanya dulu sama Lanlan " sahut Putri, diikuti anggukan Mora.


.


" Dia dipanggil Aya ya kalo di rumah " gumam Dion.


" Iya, padahal panggilan itu jauh lebih cocok daripada Lanlan " lirih Dhan, hampir tak terdengar.


" Hah? Apa Dhan? " seru Dion.


" Enggak, bukan apa-apa "


.


.


next up 😊

__ADS_1


__ADS_2