Cahaya Bulan Dilangit Mercusuar

Cahaya Bulan Dilangit Mercusuar
Episode 4


__ADS_3

Dimohon bijak dalam membaca...


Bantu like 👍 rate ⭐ vote 🎟 kirim hadiah 🎁 dan kritik sarannya 💬 sebagai masukan ya 🙏 terima kasih ☺


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...°\=°\=°\=°\=°\=°\=°\=°\=°...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiga hari masa orientasi maba telah usai, kini mereka semua resmi menjadi mahasiswa semester awal di Mercusuar University.


Kota Jaya Tumbler adalah salah satu kota yang sangat luas, namun penduduk aslinya tidaklah padat. Kebanyakan dari mereka adalah para remaja, yang merantau untuk belajar di sekolah ataupun kampus ternama.


Kota ini memang sangatlah unik, seperti namanya Jaya Tumbler. Hampir semua bangunan berbentuk tumbler dengan tinggi yang menjulang, kota ini juga pemasok tumbler ke beberapa kota ternama lainnya.


" Hey, pagi banget sih datengnya? " sapa Dion pada teman barunya itu.


" Kenapa? "


" Engga apa-apa sih " balas Dion nyengir kuda.


" O iya, kamu kok bisa masuk kampus ini? Katanya kamu bukan warga sini kan? Terus darimana taunya? " setelah berhasil menjadi teman, banyak sekali hal yang Dion tanyakan.


" Emang bukan "


" Ya terus tau darimana? " ucap Dion selalu penasaran.


" Sudah, aku mau ke Perpus dulu "


Teman Dion meninggalkannya pergi ke Perpus begitu saja.


" Yaelah, tuh anak ngga ada sopan-sopannya ya diajak bicara malah kabur, kebiasaan banget " lirih Dion ngedumel.


Meski memiliki teman yang sangat cuek, Dion merasa sangat senang bisa berteman dengannya. Dia adalah teman pertama Dion, sejak kejadian beberapa tahun yang lalu.


°•°•°•°•°•°•°•°


" Wah, dia dateng kesini lagi. Cueknya itu loh ngangenin " ucap seorang gadis didalam Perpus.


" Sekarang namanya bukan JP lagi tau " timpal teman ceweknya.

__ADS_1


" Hah, siapa? " satu teman lainnya ikut penasaran.


" Anak satu jurusannya sih pada manggil Dhan gitu, kayaknya namanya Dhan deh " balas cewek kedua.


" Wah, namanya juga bagus ya. Heuh, kapan aku punya pacar kayak dia? " harap si cewek pertama.


Saat Dion masuk kedalam Perpus, ketiga gadis yang tengah membicarakan Dhan langsung terdiam. Mereka tau kalau cowok yang baru masuk itu adalah teman Dhan satu-satunya, dan dia sangat tidak suka kalau Dhan terus dibicarakan dibelakang meskipun itu adalah pujian.


" Kamu mau nyari buku apa Lan? " tanya Gaby.


Tiga gadis baru saja memasuki perpus, sekejap pandangan Dion jatuh kepada gadis bernama Cahaya Rembulan. Dion mulai terpesona saat sesi perkenalan kelompoknya, saat itu gadis yang dipanggil Lanlan itu tengah memperkenalkan diri tepat setelah Dhan.


Dion langsung memperhatikan Lanlan, saat itu Lanlan memakai sweeter tipis selutut dengan kaos berwarna navi dan celana jins senada. Namun bukan karena penampilan, melainkan senyum manis dan sikap ramah yang gadis itu tunjukan, mampu membuat Dion terpesona kepadanya.


Dalam sehari-hari, Lanlan memang berpenampilan sederhana. Bukan karena dia orang tak punya, orang tuanya tergolong orang yang memiliki kehidupan serba berkecukupan. Hanya saja dia memang tidak seperti gadis-gadis pada umumnya yang terlalu heboh dalam berpenampilan.


Lanlan memiliki 2 orang adik, semuanya laki-laki dan mereka masih duduk di bangku kelas 1 SMA. Kedua orang tuanya memiliki usaha sendiri, yakni salon dan warung makan. Ibunya bekerja di salon sedang ayahnya yang menjaga di warung makan, dibantu 2 orang karyawan.


" Bunda, liat tuh kakak " adu salah satu adiknya yang bernama Ari.


" Iya Bu, masa kakak mau kuliah begitu pakaiannya " timpal satu adiknya, Ata.


" Apa sih kalian, usil aja. Terserah aku dong " balas Lanlan, tak menghiraukan protes kedua adiknya soal penampilannya yang sederhana.


" Iya, suka suka aku dong, terserah aku dong.. Wleeek " ledek Lanlan.


" Iya, emang terserah Kakak. Tapi kita peduli, kita ngga mau kalau Kakak sampai dihina lagi kayak dulu " ucapan yang Ata lontarkan seketika membius Lanlan.


" Ta, ssssttt " Ari mengingatkan Ata untuk tidak mengatakan hal, yang bisa membuat Kakaknya kembali sedih.


Ata memang anak yang ceplas-ceplos, beda dengan Ari yang selalu berpikir sebelum mengatakan sesuatu. Namun dibalik sifatnya yang ceplas-ceplos itu, Ata paling menyayangi Kakaknya.


" Aku berangkat ke kampus dulu, Bun. Assalamu'alaikum " pamit Lanlan, mencium tangan Bundanya.


Melihat putrinya pergi dengan raut sedih, perasaan Bunda menjadi sedikit gelisah. Dia takut kalau sampai kejadian beberapa tahun yang lalu itu, kembali menimpa putrinya.


" Ata, Ari, kenapa kalian harus membahas masalah ini lagi sih? " ucap Bunda menatap tajam.


" Ata minta maaf Bun, Ata ngga tau kalau sampai keceplosan gini " ucapnya merasa bersalah.


" Ini semua salah Ari, Ari yang mancing duluan. Makanya Ata baru ngomong kayak gitu sama Kak Aya " jelas Ari. Sedikit membela saudaranya, karena memang dia yang pertama memulainya.

__ADS_1


" Sudah, sudah... Kalian tidak perlu lagi saling menyalahkan diri sendiri, Bunda tau kalian juga sangat menyayangi kakak kalian " ucap Bunda menengahi.


" Maafin kami Bunda " kedua adik Lanlan memeluk Bundanya.


" Iya, sudah Bunda maafin kok. Sekarang kalian sudah besar, bantu Bunda jaga Kak Aya ya " pinta Bunda disela pelukannya dengan kedua putranya itu.


" Pasti Bunda, tanpa Bunda minta pun Ata sama Ari pasti jagain Kak Aya. Bunda tenang aja " jawab Ata dengan sifat dewasanya.


" Terima kasih, Bunda sayang kalian " tambahnya.


" Kami juga sayang Bunda " balas Ata dan Ari.


°•°•°•°•°•°•°•°•°•°


" Lan " panggil Gaby kesekian kalinya. Dia merasa ada yang aneh dengan sikap Lanlan hari ini.


" Ya " jawab Lanlan terkejut.


" Kamu kenapa? Sakit? " tanya Gaby kemudian.


" Iya Lan, kita tanyain kamu ngga jawab. Kita panggil panggil kamu diem aja, ada apa? " tambah Mora ikut khawatir.


" Hmm? Aku ngga apa-apa kok, cuma lagi mikirin mata kuliah hari ini aja " jawab Lanlan ngeles.


" Ya sudah, tapi kalau ada apa-apa cerita sama kita ya. Kita kan sahabat, aku ngga mau kalau kamu sampai menyimpan masalah kamu sendiri " saran Gaby.


" Iya Lan, kita pasti bantuin kamu kok " tambah Mora.


" He'em... Makasih ya " balas Lanlan dengan senyuman yang dibuatnya.


" Astaga, apa nih? " seru Mora. Dia terkejut karena hampir saja tersandung bersama kedua temannya.


" Hah? Dia siapa? Kenapa bisa tiduran sambil duduk begini? " tanya Mora heran.


Ternyata mereka hampir saja jatuh, karena tersandung kaki seorang pria yang duduk di sela jalan diantara 2 rak. Pria itu duduk dengan bersandar pada rak dibelakangnya dengan mata tertutup, lalu kedua kakinya dibiarkan berselonjor bebas ketengah jalan.


Saat melihat pria itu, Gaby terkejut. Bukan karena dia tidur ditengah jalan seperti itu, melainkan wajah pria itu adalah wajah yang dia lihat saat sesi perkenalan maba beberapa hari lalu. Dimana pria itu mengaku namanya adalah Dhan, nama yang sangat dikenalnya. Nama yang sangat membenci dirinya juga mamanya, sejak 8 tahun yang lalu. Sejak saat itu pula, dia tak pernah lagi melihat pria pemilik nama itu.


°\=°\=°\=°\=°\=°\=°\=°\=°\=°


Note : Masa lalu yang kelam mampu mengoyak emosi, juga meninggalkan bekas luka yang menyakitkan. Jangan pernah bersembunyi, cobalah untuk lebih percaya pada diri sendiri. Karena sejatinya, semua itu bukanlah apa-apa jika kita percaya bahwa kita jauh lebih kuat dari yang kita bayangkan..... 😇😇

__ADS_1


°\=°\=°\=°\=°\=°\=°\=°\=°\=°


__ADS_2