
Siang itu setelah mata pelajaran selesai, Lanlan pergi menemui sahabatnya, Gaby. Ia hanya ingin menanyakan perihal hubungan sahabatnya dengan Dhan.
" By " panggilnya.
Gaby yang duduk melamun di taman, sedikit tersentak. Saat melihat Lanlan, dia merasa bersalah karena selalu menghindarinya.
" Please, jangan menghindari ku lagi. Kalo kamu ngga mau aku bertanya apapun, maka aku akan diam. Tapi tolong duduk sebentar bersamaku " pinta Lanlan.
" Maaf Lan. Bukannya aku menghindar, aku hanya merasa malu saat bertemu. Aku bingung gimana jelasin sama kamu " ucap Gaby terus menunduk.
" Gaby, kita ini sahabat. Ngga ada yang perlu kamu tutup-tutupin, aku akan selalu ada saat kamu ingin cerita " lanjut Lanlan membujuk.
" Iya Lan, makasih "
" Gaby " suara dari panggilan itu terdengar tidak asing di telinga. Pasalnya baru tadi malam Gaby bertemu dengan pria pemilik suara itu.
" Om Rasya " sapanya.
" Kamu ada waktu? Kita bicara sekarang aja ya " pinta Rasya setelah bertanya.
" Iya Om " jawab Gaby menurut.
" Tunggu sebentar ya, Tante Sasa lagi manggil Dhan " pintanya lagi untuk menunggu.
" Dhan? Siapa Om ini? Kenapa Gaby terlihat sangat dekat dengannya? Apa yang ingin mereka bicarakan sama Dhan juga Gaby? " pertanyaan demi pertanyaan kembali muncul dalam benak Lanlan. Dia kembali dibuat bingung dengan kemunculan lelaki asing di kampus mereka.
" Mas " panggil istri.
Tasya datang membawa Dhan bersamanya. Ternyata, malam setelah Rasya dan Tasya bertemu Dhan. Mereka menemui Gaby, membuat janji agar bisa bertemu.
" Kenapa dia ada disini? " tanya Dhan sinis.
" Dhan, Om minta kamu sabar dulu ya. Tahan emosi kamu. Kalau sampai kamu marah-marah, maka kamu sendiri yang akan menyesal nanti " penuturan Rasya membuat Dhan, Gaby juga Lanlan bertanya dalam hati.
" Menyesal? Apa maksud Om ini sebenarnya? " pikir Lanlan.
" Menyesal? Maksud Om Rasya? " Dhan bertanya karena tidak mengerti jalan percakapan ini.
__ADS_1
" Mas, sebaiknya kita duduk disana ya " ajak istri.
" Oke. Dhan, Gaby, ikut Om. Ada yang mau kita bicarakan " pinta Rasya melangkah maju, menuju kursi yang tergabung mengitari meja bundar di tengah taman.
Empat orang itu duduk saling berhadapan. Rapat pembahasan kebenaran. Sudah saatnya kenyataan ini terungkap.
°•°•°•°•°•°•°•°•°•°
" Apa? Bagaimana itu mungkin? " Gaby syok, setelah mendengar kebenaran yang dikatakan oleh Rasya dan Tasya.
Berbeda dengan Gaby yang terlihat sangat syok. Dhan justru terlihat biasa saja. Dia hanya diam tanpa berkomentar apapun.
" Om minta maaf. Om tau, kenyataan ini pasti tidak dapat kalian terima begitu saja. Tapi Om mempunyai bukti, kalau kalian itu saudara kembar yang dulu sempat terpisah " Rasya memberikan berkas yang didalamnya terdapat bukti.
" Ini... ini.. ngga mungkin. Ini semua ngga mungkin. " lirih Gaby tak percaya saat melihat bukti itu.
Dhan melihat ada beberapa foto saat mereka masih kecil. Dhan mengenali foto itu. Itu adalah foto Putri dan dirinya. Lalu ada satu foto yang memperlihatkan Putri tengah sendirian, dan dibelakang foto itu terdapat tulisan yang membentuk nama Gabriella Rana Amanta. Jelas jelas itu foto Putri, tapi diganti nama saat dia sedang sendirian. Ada satu bukti tes, dimana hasil tes itu menyatakan bahwa Dhan juga Gaby adalah saudara kembar. Mereka memiliki DNA yang sama, golongan darah yang sama dan beberapa hal lainnya semua sama.
" Om dapet semua ini darimana? " tanya Dhan.
" Ma... maksud Om Rasya? " sahut Gaby.
" Rafa ingin membuktikan semua kecurigaan dan firasat Resha. Sebenarnya sudah sangat lama Resha memiliki firasat kalau Gaby adalah Putri, tapi semua itu hanyalah firasat tanpa bukti yang pasti " jelas Rasya. Dhan juga Gaby mendengarkan penjelasan Rasya dengan tenang.
" Beberapa hari sebelum terjadi kecelakaan. Rafa memintaku untuk menyelidiki semua tentang Gaby dan Viona. Lalu, di hari kalian kecelakaan, aku mendapatkan semua bukti ini. Tapi sayang, Resha belum sempat mengetahui kebenaran ini karena dia sudah pergi terlebih dulu " jelas Rasya.
" Kenapa selama ini Om ngga pernah cerita? " tuntut Dhan.
" Karena itu adalah permintaan terakhir Rafa, ayah kamu. Dia memintaku untuk tidak menceritakannya, sampai kalian mencapai usia 18 tahun " sambung Rasya.
" Lalu kenapa aku bisa tinggal bersama Mama Viona, Om? " tanya Gaby tetap memanggil Viona dengan sebutan Mama.
" Dia bukan ibumu, Resha-lah yang seharusnya kamu panggil Mama. Itu karena Viona menculikmu saat kamu kecil dulu " tutur Rasya menjelaskan semuanya.
" Gaby, Tante tau kamu masih ragu dan belum sepenuhnya percaya. Mungkin bukti ini bisa menghilangkan segala keraguan kamu " ucap Tasya. Dia memberikan sebuah buku catatan pada Gaby.
" Ini? Ini kan buku catatan Mama Viona. Aku tau karena pernah melihat Mama menulis disini " ucap Gaby sangat yakin.
__ADS_1
" Kamu benar. Itu memang buku catatan milik Viona, ibu kamu. Didalamnya terdapat semua bukti. Dia menuliskannya dengan begitu detail " ungkap Tasya.
Gaby langsung membuka halaman tengah buku tersebut.
Akhirnya... akhirnya aku bisa melihat kamu hancur Resha... ha ha ha
Kamu gila. Kamu menjadi gila karena telah kehilangan satu anak. Izinkan aku untuk merawat putrimu. Aku janji, aku akan merawat dan menganggapnya seperti putriku sendiri. Hingga tiba saatnya nanti, putrimu ini yang akan membawaku masuk kedalam keluarga Pramana. Masuk perlahan, dan menggeser posisimu di keluarga itu.
Satu halaman telah membongkar semuanya. Gaby kembali syok, pertahanannya mulai goyah. Dia tidak percaya akan semua ini. Dia tidak percaya, orang yang selama ini dia anggap ibu ternyata seorang penculik, penipu dan pembohong. Lemah tak berdaya, jatuh begitu saja diatas kehijauan.
" Gaby " teriak Tasya.
" Gaby sayang. Nak, kamu dengar Tante kan? " Tasya berusaha menyadarkan kembali Gaby. Dia terlihat lebih menyedihkan. Orang yang selama ini dia percayai. Orang yang selama ini dia sayang. Orang yang selama ini dia bela mati-matian, ternyata seorang penipu. Seorang penjahat, seorang pembunuh.
" Pa... Ma... " isak tangis mulai terdengar. Bulir air mulai jatuh. Kenyataan ini terasa lebih menyakitkan. Semburat bayang kejadian masa kecil kembali memutar. Saat dimana Resha menganggapnya seperti anak sendiri. Saat dimana kasih sayang itu terasa lebih besar, daripada kasih sayang orang yang dia anggap ibu selama ini.
" Jadi, mereka berdua saudara kembar? Bagaimana bisa orang yang bernama Viona itu tega melakukan hal ini? Memisahkan anak dengan ibunya, memisahkan dua saudara kembar. Kasian Gaby, dia pasti sedih. Aku harus kesana untuk membuatnya sedikit lebih tenang " pikir Lanlan.
" Tunggu " cegah seorang pria memegang tangan Lanlan.
" Dion? " Lanlan terkejut mengetahui Dion juga berada disana.
" Sejak kapan kamu disini? " tanya Lanlan.
" Sejak dua orang itu mengajak mereka kesana " tunjuk Dion.
" Jadi, kamu mendengar semuanya? "
" Iya, aku denger semuanya. Sekarang aku minta kamu untuk tetap disini " pinta Dion.
" Kenapa? "
" Biarkan dua orang itu menyelesaikan semuanya " jelas Dion. Kali ini setiap perkataan Dion terdengar bijak dan dewasa.
next......
°•°•°•°•°•°•°•°•°•°
__ADS_1