
Sepanjang perjalanan menuju Kantin, tidak ada percakapan apapun antara keduanya. Lanlan bingung harus mulai darimana, dia tidak mau ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Tapi, dia takut Gaby merasa tersinggung kalau dia sampai membahas hal yang didengarnya tadi.
" Astaga " Mora terkejut melihat dua sahabatnya tiba-tiba duduk didepannya.
" Kalian bisa ngga sih kasih tau kalo udah sampai? Kaget tau " ujar Mora memarahi keduanya.
" Maaf " ucap Lanlan kemudian.
" Kalian darimana aja sih? Lan, tadi bilangnya cuma sebentar. Nih liat, makananku ampe abis karena kelamaan nunggu " ucap Mora kesal.
" Maaf " lagi lagi kata maaf yang keluar dari mulut gadis pemilik pipi cuby itu. Ia terlihat tidak fokus, sepertinya masih memikirkan kejadian tadi.
" Aku abis dari Perpus tadi, nyari buku bentar " jawab Gaby membuat alasan.
" Apa? Dia berbohong? Kenapa By? Sampai segitunya kamu menutupi semua masalah kamu pada kami, apa benar kita adalah sahabat? " batin Lanlan. Jujur, dia merasa kecewa saat mendengar alasan yang Gaby buat itu.
" Terus, kok bisa barengan sama Lanlan datengnya? " tanya Mora merasa ada yang aneh.
" Ketemu didepan tadi " jawab Gaby, lagi lagi hanya alasan yang Gaby lontarkan.
Pikiran Lanlan semakin tak jelas, setelah mendengar kenyataan tadi ia tak bisa berpikir jernih. Apalagi setelah Gaby menjawab pertanyaan Mora dengan alasan yang dibuat buat.
" Lan, kamu kenapa? " tanya Mora, sejak kembali dia terlihat agak aneh.
Pertanyaan Mora tak digubrisnya. Pertanyaan, kenyataan, dan alasan yang didengarnya, semua itu tak bisa Lanlan cerna dengan baik.
" Lan? " panggil Mora lagi.
" Hm? Ada apa Ra? " Lanlan sedikit tersentak dengan panggilan Mora.
" Kamu kenapa? Kok bengong terus dari tadi " jelas Mora.
" Aku ngga apa-apa kok, aku duluan ya " pamit Lanlan.
Mora merasa aneh akan sikap Lanlan itu, sedangkan Gaby, dia terlihat merasa bersalah pada Lanlan.
" Maafin aku, Lan. Aku ngga bermaksud untuk bohong, aku hanya belum siap untuk cerita semua masalahku " sesal Gaby dalam hati.
°•°•°•°•°•°•°•°•°•°
Beberapa jam mata pelajaran, Lanlan lalui begitu saja. Meski begitu, tak ada satu pun yang masuk kedalam pikirannya . Dia merasa harus meminta penjelasan pada Gaby, agar kegelisahan dalam hatinya sedikit memudar.
__ADS_1
Pukul 3.30 sore, mata pelajaran terakhir akhirnya selesai. Lanlan berniat untuk menemui Gaby, mencari kebenaran atas semua kenyataan.
" By, aku mau ngo.... " Lanlan melongo saat menengok kebelakang, kursi yang Gaby duduki telah kosong.
" Ra, Gaby mana? " tanyanya pada Mora yang masih sibuk membereskan buku-bukunya.
" Hm? Gaby udah pulang, katanya ada urusan penting " jawab Mora santai.
" Pulang? " ulang Lanlan.
" Iya, barusan aja. Dia kayak buru-buru gitu, ngga tau deh ada urusan apa " jelas Mora.
" Aku duluan juga ya " pamit Lanlan, dia berharap masih sempat mengejar Gaby.
Keluar ruangan Lanlan mencari Gaby, keluar gedung pun dia masih mencarinya. Namun, harapannya untuk bisa mengejar Gaby telah sirna.
Dia kembali merasakan kecewa, karena tak bisa mendapat kebenaran.
" Dhan, abis ini mau kemana? Makan dulu yuk, laper nih " Dion tanya, tapi dijawab sendiri dengan ajakan. Memang benar tak jelas nih anak.
Dhan hanya menggeleng tak mengeluarkan jawaban.
" Apaan tuh maksudnya? Ngga kemana-mana apa ngga mau makan nih? " tanya Dion meminta kejelasan.
" Oke, kita makan " seru Dion.
" Dhan " suara seorang gadis memanggil dari arah belakang.
" Kamu denger ngga? Ada yang manggil kamu tau, tumben banget ya " ucap Dion heran.
" Dhan, aku mau bicara sebentar " tambah gadis tadi.
" Lanlan? " Dion kaget karena suara gadis yang memanggil Dhan tadi adalah Lanlan.
" Ada apa? " tanya Dhan langsung.
" Dion, aku boleh pinjem Dhan bentar ngga? " tanya Lanlan meminta izin.
" Oh, boleh dong. Silahkan silahkan, aku pergi dulu ya " balas Dion langsung setuju. Sejurus kilat, dia langsung melesat jauh.
" Mau bicara apa? " tanya Dhan dengan ekspresi datarnya.
__ADS_1
" Em, kita bicara di taman ya " pinta Lanlan.
Mereka berdua berjalan menuju taman, lalu duduk di sebuah kursi panjang tanpa meja.
" Ada apa? " tanya Dhan begitu sampai.
" Ini soal yang tadi, maaf bukannya mau ikut campur. Tapi seharian ini aku sangat terganggu dengan semua itu " ucap Lanlan jujur.
" Siapa suruh menguping pembicaraan orang " tutur Dhan mulai menunjukkan sikap tak sukanya.
" Maaf, tapi aku tidak menguping " jawab Lanlan.
" Kalau tidak nguping, ngapain kamu ikutin aku sama Gaby sampai ke ruang kelas? " ucapan selanjutnya yang Dhan katakan sangat menusuk hati, pasalnya secara tidak langsung Lanlan sudah ketahuan mengikuti mereka.
" Gimana kamu bisa... "
" Tau, kalo kamu ngikutin kita? " Dhan melanjutkan kata yang akan Lanlan tanyakan dengan benar.
" Aku... aku tidak bermaksud untuk.... "
" Sudahlah, ngga perlu bahas itu. Apa yang mau kamu katakan sebenarnya? " Dhan langsung menghujani Lanlan dengan semua kebenaran yang akan gadis itu tanyakan.
" Apa benar kamu dan Gaby itu, saudara? " akhirnya Lanlan menanyakan hal itu juga.
" Benar " jawab Dhan langsung dan jelas.
" Tapi, kenapa kamu tidak memanggil Ibu kalian dengan sebutan Ibu? " tanya Lanlan lagi.
" Viona? Dia bukan Ibuku " Dhan kembali mengulangi nama yang paling dia benci.
" Lalu? "
" Tidak ada lalu, apa yang mau kamu ketahui sebenarnya? " kali ini Dhan bertanya langsung apa keinginan Lanlan.
" Aku, aku ingin hubungan kalian bisa membaik layaknya saudara " Lanlan mengatakan apa yang dia inginkan sebenarnya.
" Jangan pernah berharap, aku tidak akan pernah menjalin hubungan baik dengan anak dari pembunuh orang tuaku " jelas Dhan.
" Ap.. apa? "
°•°•°•°•°•°•°•°•°•°
__ADS_1
Mungkinkah Dhan akan langsung menceritakan semua kisah hidupnya? Atau dia hanya akan membuat Lanlan semakin bingung?
next episode ya 😊