Cahaya Bulan Dilangit Mercusuar

Cahaya Bulan Dilangit Mercusuar
Episode 19


__ADS_3

Lanlan tak menggubris larangan teman-temannya untuk mengikuti acara malam, kini akibatnya harus ia tanggung sendiri. Lanlan tak bisa menyalahkan Erina, karena pemilihan wakil tim untuk maju ke depan dilakukan dengan cara di undi.


Namun ia bingung harus menampilkan apa untuk mewakili timnya. Sementara Lanlan masih berpikir, teriakan demi teriakan terus menyuruhnya untuk segera maju.


" Biar aku saja yang maju " ucap Gaby.


" Enggak, aku aja. Toh, aku bisa tampilkan yang lain selain dance " tolak Lanlan, tak mau merepotkan sahabatnya. Lagipula itu termasuk tanggung jawabnya, karena sudah terpilih untuk mewakili tim.


Lanlan maju ke depan, dengan kaki yang masih sakit ia berusaha menampilkan yang terbaik.


Sementara di belakang sana, seorang pria tampak mengepalkan tangan karena kesal. Ia kesal karena melihat Lanlan tetap maju dan menolak tawaran dari Gaby untuk menggantikannya.


" Maaf, ada yang punya gitar? " tanya Lanlan pada semua orang, termasuk Erina yang duduk mengawasi di belakang peserta.


" Aku sih punya, tapi sayangnya ngga dibawa " jawab salah satu teman peserta.


" Huuuuuuu " sorakan demi sorakan terdengar ganas akibat rasa kesal.


" Buat apa kamu nanyain gitar? Memangnya kamu bisa main gitar? " pertanyaan mengejek Erina tak membuat Lanlan kesal, justru membuatnya menjadi lebih bersemangat untuk membuktikan dan menampilkannya.


Hanya simpul senyum yang Lanlan tunjukan.


" Kalau dia nanya ada yang punya gitar? Jelas dia pasti akan bermain gitar, tidak mungkin hanya sekedar tanya " suara seorang pria berucap, terdengar membela Lanlan.


Sedang Erina dibuat kesal akan si pembela tadi, ia semakin bertambah kesal kala melihat pria yang membela juniornya itu adalah si Ketua Kampus.


" Ini, pakai punyaku " ucap Reno, menyodorkan sebuah gitar pada Lanlan.


" Terima kasih Kak " balas Lanlan menebar senyum.


" Sama-sama. Silahkan, lagu apa yang ingin kamu mainkan? " tanya Reno mempersilahkan, namun mencegat Lanlan sejenak dengan pertanyaan.


" Untuk sahabat dari Audy, Kak " jawab Lanlan.


" Lagu untuk sahabat ya? Oke, teman kita akan menyanyikan lagu dari Audy untuk semua para sahabat " jelas Reno pada semua orang.


" Lanlan, silahkan dimulai " pinta Reno mempersilahkan.

__ADS_1


" Iya Kak " jawab Lanlan lagi.


Jari jemari gadis berpipi cuby, berhidung mancung serta memiliki wajah yang secantik artis korea Son Ye Jin itu, mulai menyentuh pasti sinar gitar yang mengeluarkan suara merdunya.


" Biarkan saja...kekasihmu pergi. Teruskan saja... mimpi yang kau tunda. Kita temukan... tempat yang layak... sahabatku... " lirik indah itu sengaja Lanlan hentikan sejenak, menunggu respon dari semua teman angkatannya.


Detik kemudian, lagu kembali bersua. Menunjukkan suara indah sang penyanyi dadakan malam itu. Respon para sahabat dengan cepat membantu sang penyanyi, dalam menyuarakan lagu indahnya.


" Ku percayakan... langkah bersamamu. Tak ku ragukan... berbagi denganmu. Kita temukan... tempat yang layak... sahabatku (Oh-wo-wo-wo) "


suara indah nan merdu milik gadis cuby, berpadu dengan suara semua orang yang berada di Lapangan.


" Kita mencari (cari)... jati diri. Teman lautan mimpi... " Lanlan kembali mengajak semua orang untuk menyanyikan lagu sahabat bersamanya.


" Aku bernyanyi untuk sahabat. Aku berbagi untuk sahabat. Kita bisa jika bersama... Kita berbagi untuk sahabat. Kita bernyanyi untuk sahabat. Kita bisa jika bersama... "


Malam itu semua orang memiliki kebahagiaan mereka sendiri. Satu pria yang melihat Lanlan dengan tatapan kesal, kini berubah menjadi kagum. Ia tidak percaya, gadis itu memiliki suara indah yang mampu membuat semua orang terpesona, termasuk dirinya.


Dalam buai suara merdu dan petikan khas senar gitar, membuat sang pria larut dalam buai asmara. Putra Dhan Pramana, dialah sang pria itu.


" Diem " tegas Dhan, sedikitpun tak melirik ke arah Dion.


" Hadeuh, susah ya emang kalo orang udah kena pesona gadis cantik " lanjut Dion kembali menyindir.


" Siapa yang kena pesona siapa? " tanya Dhan berlagak bodoh.


" Mana aku tau " ledek Dion.


Tidak ada lagi percakapan diantara keduanya, mereka kembali terfokus oleh suara sang penyanyi dadakan di depan mereka.


°•°•°•°•°•°•°•°•°•°


Pukul 10 malam, acara seru-seruan yang mereka buat telah usai. Setelah lelah menyerang, semua orang kembali ke tenda masing-masing untuk istirahat. Mempersiapkan diri untuk kembali pulang ke kampus esok hari.


" Wah, gila ya Lan. Suara kamu kok bisa bagus gitu sih? " entah pertanyaan atau pujian yang Mora layangkan. Ia terdengar sangat antusias, seperti akan belajar nyanyi saja.


" Makasih " balas Lanlan disela kegiatannya bersiap untuk tidur.

__ADS_1


" Di keluarga kamu pasti ada yang pinter nyanyi " tebak Gaby.


" Engga kok, tapi dulu Ayah suka ngajak karaoke di rumah. Mungkin karena kebiasaan karaoke jadi gini deh " jelas Lanlan tersenyum, menunjukkan deretan gigi indahnya.


" Lan " terdengar suara pria memanggil dibalik tenda.


" Siapa tuh yang manggil? " tanya Mora kaget.


" Suaranya sih kayak Dhan " timpal Gaby.


" Dhan? " ucap Lanlan mengulangi nama Dhan, segera ia membuka resleting tenda dan keluar.


Benar juga tebakan Gaby, suara panggilan pada Lanlan tadi memanglah suara Dhan. Ia berdiri di depan tenda seorang diri, tanpa ditemani Dion.


" Ada apa? " Lanlan menanyakan perihal kedatangan Dhan, yang beberapa kali terlalu tiba-tiba itu.


" Maaf " ucapan Dhan yang ia gantungkan terdengar aneh.


" Buat? " Lanlan kebingungan sendiri.


" Atas ucapanku tadi " lanjut Dhan.


" Oh soal itu, ngga apa-apa kok. Aku paham kenapa kamu mengatakan hal itu " balas Lanlan.


" Ini " Dhan memberikan sebuah kotak yang dibungkus plastik putih pada Lanlan.


" Apa ini? " tanya Lanlan kembali dibuat bingung.


" Buat kamu " jawab Dhan, lalu ia pergi meninggalkannya.


°•°•°•°•°•°•°•°•°•°


Bungkusan apa kira-kira yang Dhan berikan pada Lanlan? Apa pula maksud dari pemberiannya itu?


Next episode kakak ☺


 

__ADS_1


__ADS_2