Cahaya Bulan Dilangit Mercusuar

Cahaya Bulan Dilangit Mercusuar
Episode 36


__ADS_3

Dion merasa lega setelah menceritakan masa lalu kelamnya pada Dhan. Meski telah mengalami kejadian yang mengejutkan, meski dulu dia merasa telah salah menilai arti seorang teman. Meski teman, bahkan orang yang Dion anggap seperti saudara telah membuatnya kecewa. Dion tidak pernah ragu saat memilih Dhan untuk menjadi teman baiknya.


" Lalu, gimana hubungan kalian setelah kamu pindah? " tanya Dhan.


" Pernah sekali dia datang ke rumah, bahkan memaksaku untuk menerimanya. Karena kesal, aku sempat memukulnya. " aku Dion.


" Dia marah? " Dhan kembali bertanya.


" Enggak, dia hanya diam dan bertanya kenapa aku ngga bisa membalas perasaannya "


" Lalu? "


" Aku jawab, semua masalah hati dan perasaan tidak ada yang tau. Meski itu kepada lawan jenis, maupun sesama jenis " Dion diam sesaat, menarik napas panjang sebelum memulai kembali sesi ceritanya.


" Mungkin dia sadar, karena setelah aku mengatakan hal itu, dia sempat bilang kata maaf. Setelah itu, dia pergi tanpa sepatah kata apapun " jelasnya.


Dhan menepuk pelan pundak Dion, memberikan semangat sebagai seorang teman.


" Aku tau, pasti berat kehilangan seorang teman karena masalah seperti itu. Aku yakin, dia pasti akan mengerti seiring berjalannya waktu " ucap Dhan bijak.


" Iya, makasih banyak Dhan. Aku tau kamu adalah seorang teman yang baik " ucap Dion memeluk Dhan. Sifat alay dan tidak jelasnya keluar lagi.


" Yon, jangan bilang kamu udah ketularan dia " sindir Dhan. Merasa risih dengan pelukan yang Dion lakukan.


" Amit amit jabang bayi. Jangan sampe deh, aku masih normal tau " bantah Dion, melepas pelukannya.


Dua masalah sudah terselesaikan. Masalah antara Dhan juga Gaby yang saling mencari, sudah terselesaikan. Dan masa lalu Dion yang buruk terjawab sudah. Meski merasa sedikit risih dan malu saat menceritakannya, Dion mampu menguasai suasana hati. Semoga kali ini, dia tidak harus kehilangan seorang teman lagi. Tidak akan.


°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°

__ADS_1


" Lanlan " suara sapa seorang pria.


Lanlan yang sedang membaca buku didalam perpustakaan, tampak serius dan tidak menanggapi si pemanggil.


Gaby dan Mora yang duduk didepannya, saling sikut satu sama lain. Memberi kode siapa yang harus memberitahu Lanlan, kalau ada seorang pria tampan yang saat ini tengah menunggu balasan sapaannya tadi.


Tidak mendapat respon, pria yang memanggil Lanlan lalu duduk disebelahnya.


" Serius amat baca bukunya? Ada yang manggil sampe ngga denger " sindirnya.


" Hah, apa? " Lanlan tersentak. Dia melihat kearah dua gadis di depannya. Lalu menoleh kearah pria yang mereka tunjuk.


" Erik? " ucap Lanlan saat melihat pria yang duduk di sampingnya.


" Hai " balas Erik tersenyum diikuti lambaian tangan.


" Hai, sejak kapan kamu duduk disitu? " tanya Lanlan.


" Maaf ya, aku terlalu serius kalo udah baca buku " balas Lanlan.


" Ngga apa-apa kok, aku udah terbiasa kamu abaikan. O iya, ngomong ngomong kamu udah makan siang belum? " tanya Erik.


" Aku bercanda, jangan terlalu serius " tambahnya.


" Apaan sih ni cowok, gayanya kok kayak udah kenal lama sama Lanlan " batin Gaby tak suka melihat pria di depannya.


" Ngga jelas deh nih cowok. Ngapain coba, lagi gombalin Lanlan nih ceritanya? Enak aja, Lanlan itu udah ada yang punya tau " Mora pun turut membatin.


" Aduh Lan, kayaknya kita harus pergi deh. 5 menit lagi kelas dosen killer tau " seru Gaby. Mencegah pria aneh bicara yang tidak tidak.

__ADS_1


" O iya, bener tuh. Kalo aku sih ngga mau telat 1 detik aja, nanti nilai yang bakal kena imbasnya " timpal Mora.


" Kalian masuk juga kesana? Ya udah, kita bareng aja ke kelas " ajak Erik.


Ucapan Erik membuat Gaby dan Mora melongo. Mereka pergi untuk menghindarinya, justru ia malah mau pergi bersama. Astaga.


" Hehe, sebentar ya " ucap Mora, dia menarik Lanlan ke salah satu sudut perpustakaan.


" Apa sih, Ra? Ada apa? " tanya Lanlan.


" Ada apa, ada apa. Siapa cowok tadi? " tanya Mora kesal.


" Erik maksud kamu? Dia mahasiswa baru disini, baru masuk kemarin " jawab Lanlan.


" Maba? Kok kamu udah kenal sama dia? " selidik Mora.


" Iya, aku ngga sengaja ketemu sama dia kemarin. Dia yang nolongin aku " ucap Lanlan.


" Nolongin kamu? Emang kamu kenapa? " dalam mode selidik, Mora khawatir dengan keadaan Lanlan.


" Ngga apa-apa, cuma masalah kecil. Kamu kenapa sih? Kok kayak ngga suka gitu sama Erik " tanya Lanlan.


" Emm.. Ngga apa-apa kok, ngga suka aja liatnya " jawab Mora.


Di tempat lain, Gaby tampak menatap tajam pada Erik. Erik hanya diam saja membolak-balik buku yang tadi sempat dibaca Lanlan. Tanpa merasa risih atau apa.


" Lanlan udah punya cowok " ucapan penuh penekanan terdengar mengancam. Hanya beberapa kata, seakan bisa menyampaikan bahwa Erik tidak boleh mendekati Lanlan.


next....

__ADS_1


°•°•°•°•°•°•°•°•°•°


__ADS_2