
Lanlan bangun pagi pagi sekali, bahkan kedua temannya pun belum bangun padahal mereka berdua tidur lebih awal dibanding Lanlan.
Pukul 5 pagi, Lanlan tampak sibuk membereskan barang-barangnya. Sebenarnya bukan bangun pagi, melainkan dia tidak bisa tidur karena terus terbayang kejadian semalam.
Bukan pelukan Dhan yang terus terbayang dalam pikirannya, melainkan sikap Dhan yang membuatnya terus berpikir. Bagaimana tidak berpikir, sikap cuek dan dingin yang Dhan tunjukan selama ini ternyata mengandung kesedihan yang begitu dalam.
" Berhenti memikirkannya " suara seorang pria dengan nada melarang.
Sekejap si gadis menghentikan kegiatan, melihat suara siapa si pelarang tadi.
" Dhan? " lirihnya.
" Aku bilang berhenti memikirkannya " larang Dhan lagi.
" Apa maksud kamu? Memikirkan apa? " Lanlan selalu dibuat bingung setiap kali ucapan ambigu yang laki laki itu katakan.
" Berhenti untuk berpura-pura, bukankah semalam kamu sudah mendengar semuanya? " ada nada marah pada kalimat Dhan berikutnya.
" Oke, jujur aku emang denger tapi tidak semua. Sedang masalah pura pura, apa maksudnya itu? Lalu memikirkan hal apa yang kamu katakan tadi, aku tidak paham semua kalimat itu " jelas Lanlan.
" Apa saja yang kamu dengar semalam? " tanya Dhan kembali menyelidik.
" Putri, aku dengar kamu menyebut namanya. Siapa dia? "
" Itu bukan urusan kamu " sanggah Dhan.
" Aku tau itu semua bukanlah urusanku, aku hanya ingin agar kamu tidak memendam semua masalahmu sendiri " ucap Lanlan.
" Kamu bisa cerita kok, aku pasti akan jadi pendengar yang baik. Kalo kamu belum siap untuk cerita sekarang, kapan pun kamu mau aku siap dengerinnya " lanjut si gadis berpipi cuby.
" Aduh, ada apa sih? Kok ribut banget " ucap Mora, mengucek mata karena masih mengantuk.
" Ra, jam berapa sekarang? " susul Gaby keluar dari tenda, ia juga melakukan hal sama dengan apa yang Mora lakukan tadi.
" Sekarang udah jam setengah 6 " jawab Lanlan. Ada rasa waswas dalam hatinya, semoga saja dua sahabatnya itu tidak mendengar percakapannya bersama Dhan.
" Lan, kamu udah bangun? Loh, kok kamu disini, Dhan? " ucap Mora terkejut, satu melihat Lanlan yang lebih dulu bangun. Sedang satu lagi, karena lagi lagi dia melihat si pria cuek ada di depan tendanya.
" Apa? Dhan? " Gaby membelalakkan matanya, untuk melihat sosok yang barusan disebutkan namanya oleh Mora.
" Kalian? Kalian berdua ngapain? " lanjutnya, dengan mengacungkan jari telunjuk ke arah dua tokoh utama pagi ini.
" A..aku... maksudnya kita...kita berdua ngga ngapa-ngapain kok " jawab Lanlan tergagap.
__ADS_1
" Kita? " ulang Mora dan Gaby bersamaan, semakin terdengar aneh saat mendengar Lanlan menyebut kata kita. Apalagi dia mengatakannya dengan terbata-bata.
Lanlan terlihat gugup, dia bingung bagaimana menjelaskan pada Gaby dan Mora tentang keberadaan Dhan disana. Di sisi lain, dia juga takut kalau sampai salah satu diantara mereka ada yang mendengar percakapannya bersama Dhan.
Sedangkan sang tokoh utama pria, dia terlihat santai dan cuek seakan tidak ada yang terjadi.
" Dhan " suara pria memanggil.
" Aku cariin tadi, kaget loh bangun bangun kamu udah ngga ada. Aku kira kamu kemana, taunya ada disini " lanjut si pria tadi, Dion Wiyoga.
" Eits, kok pada kumpul semua ya? Rapat apaan nih, kok aku ngga diajak? " tanya Dion setelah sadar kalau semua tim 3 berkumpul didepan tenda wanita.
" Ngga ada, ayo balik " seret Dhan. Dia menarik kerah baju belakang Dion.
" Tes... tes.... 1, 2, 3, cek " terdengar suara dari pengeras suara, sepertinya pengumuman akan kembali diserukan.
" Pengumuman, untuk semua peserta. Bagi yang belum bangun cepat bangun, bagi yang sudah segera berkemas. Kita akan kembali ke Mercusuar University pukul 6 lebih 15 menit, sekarang pukul 5.30, masih ada 45 menit lagi untuk kalian semua bersiap. Segera laksanakan " titah sang penyiar.
" Itu Kak Erina, kan? " tanya Mora.
" Iya " jawab Lanlan.
" Kita mesti beres beres sekarang, bakal gawat kalo sampai waktunya keburu abis " ajak Gaby.
Dhan yang sempat berhenti sejenak karena harus mendengar pengumuman, kembali menyeret Dion untuk kembali ke tenda.
" ENGGAK " tegas Dhan. Justru semakin kencang dan semakin cepat dia menarik kerah baju Dion.
°•°•°•°•°•°•°•°•°•°
" Buruan beberes " titah Dhan.
" Iya iya " jawab Dion menurut. Dia sudah seperti kerbau yang dicocok hidungnya, selalu menurut apa yang dikatakan oleh Dhan.
" Dhan, aku boleh nanya ngga? hee " ucap Dion, dia takut kalau sampai membuat Dhan marah.
" Tanya aja " balas Dhan.
" Kamu tadi ngapain disana? " tanya Dion.
" Ngga ngapa-ngapain " balas Dhan.
" Kalo ngga ngapa-ngapain, kok pagi banget kamu udah disana? " selidik Dion.
__ADS_1
" Harus banget ya, aku bahas semua yang aku lakuin? " ucapan Dhan terdengar tajam dan menohok.
" Hee, engga harus sih " balas Dion meringis.
" Udah, cepet beberesnya " titah Dhan lagi.
" Iya, galak banget " jawab Dion menggerutu.
°•°•°•°•°•°•°•°•°•°
Pukul 6.15 pagi, semua peserta juga Pengurus Kampus kembali ke Mercusuar University. Meski tidak terbilang mulus, namun acara kemarin cukup memuaskan.
Setelah hari ini, tiap jurusan harus kembali fokus pada mata kuliah mereka. Tidak ada lagi yang namanya bersantai, sesuai dengan julukan Kampus Mercusuar, tiap mahasiswa harus bersaing untuk mendapatkan nilai terbaik.
Di kampus ini, sedikit berbeda dengan kampus pada umumnya. Biasanya prestasi mahasiswa teratas pasti selalu diduduki oleh orang itu itu saja, namun berbeda dengan Mercusuar University. Tiap semester selalu berganti nama di setiap peringkatnya, semua itu terjadi karena masing masing mahasiswa memiliki kepintaran, kemampuan dan keahliannya sendiri.
Nama selalu berputar, bahkan setiap mahasiswa pernah menduduki peringkat pertama dalam kampus itu. Persaingan memang sangat ketat, apabila terdapat satu nama yang tiga kali selalu menempati peringkat pertama, maka dia akan mendapat beasiswa full sampai lulus. Bahkan merasakan fasilitas kampus yang terbilang menggiurkan.
Belum pernah terjadi dalam sejarah, satu nama yang sampai 3 kali menduduki posisi itu. Oleh karenanya, tidak ada yang tau fasilitas apa yang akan mereka rasakan nantinya.
" Aaakh, akhirnya sampai juga " ucap Dion.
" Iya, alhamdulillah ya. Aku udah cape banget nih " timpal Mora meregangkan badan.
" Tim 3 disuruh menemui Asisten Dosen " ucap Dhan.
" Hah? Sekarang banget nih? " tanya Mora.
" Iya " jawab Dhan, berjalan menuju ruangan Asisten Dosen.
" Aduh, kita bisa istirahat bentar ngga sih? " rengek Mora.
" Udah ikut aja, kayaknya tim 3 dipanggil karena berhasil melakukan misi " jelas Lanlan.
" Iya, kemarin Kak Reno kan bilang kalo yang menang hadiahnya akan diserahkan pas kita kembali ke kampus " timpal Gaby.
" Oh iya ya, lets go dong kalo gitu " ucap Mora setuju.
Mereka bertiga mengikuti Dhan yang sudah disusul Dion menuju ruangan Asisten Dosen, bersiap menerima hadiah akan keberhasilan tim 3.
°•°•°•°•°•°•°•°•°•°
Kira-kira apa ya, hadiah yang akan mereka dapatkan selain nilai plus pada semester awal?
__ADS_1
O iya, kotak Lanlan dari Dhan juga belum dibuka kan? Gimana dong? Apaan nih isinya? 😁
next episode ya 😉 makasih 🙏 jangan lupa like, rate dan tap favorit 👌🙏