
BAB 19🌹
" Bagaimana kita melewati tembok ini karena kita membawa Febri." ucap Dewa.
" Kamu berdiri di situ saja dulu, Aku mencari jalan keluarnya untuk kita bisa membawa Febri keluar dari rumah neraka ini." ucap Bima, dia pun kemudian melangkah mencari celah yang bisa Bima buka, sampai akhirnya Bima menemukan sebuah pintu di samping kiri rumah tersebut dia pun tersenyum.
" Terima kasih ya Allah, karena Engkau telah memudahkan kami." Gumamnya, kemudian dia pun melangkah tergesa-gesa mendekati Alvaro dan Dewa yang sedang berada di kegelapan di belakang rumah Ibu Fatma tersebut.
" Bagaimana? Apakah kamu sudah mendapatkan jalan keluarnya?" tanya Alvaro dianggukan oleh Dewa.
" Sudah! Lewat sini." ucap Bima, Mereka pun kemudian mengendap-ngendap dengan pelan-pelan lalu Bima pun membuka dengan cara yang sama pintu yang menempel di tembok tersebut.
" Alhamdulillah, akhirnya kita bisa membuka pintu ini, tapi jalan ini sepertinya sedikit sulit karena berbeda dengan jalan yang kita lalui tadi." ucap Bima
" Bagaimana kalau kita melewati belakang tembok itu dan kita kembali ke jalan yang tadi,yang kita lewati semula." ucap Alvaro,lalu Bima kembali mengunci pintu tersebut dengan cara yang sama seperti semula dan tidak menimbulkan kerusakan karena Bima sudah lihai dalam segala hal.
Saat mereka berada di belakang tembok tersebut ponsel Alvaro pun bergetar, dia langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya itu dia kemudian melihat pemanggilnya, dia lalu menjawab panggilan Arsya, dengan sedikit berbisik Arsya bersuara.
" Bodyguard itu masuk ke dalam, hanya tersisa satu orang yang ada di depan, tapi terlihat dia tidak sadarkan diri, entah dia itu mabuk ataupun dia sedang tertidur." ucap Arsya.
" Kami sudah berada di luar dan kami juga sudah membawa Febri keluar." ucap Alvaro sembari memutus sambungan bicaranya.
" Kita bisa lewati jalan itu karena menurut keterangan dari Arsya mereka masuk ke dalam dan yang ada di depan hanya satu orang saja, lebih baik kita segera pergi dari sini." ucap Alvaro.
" Baiklah, kalau seperti itu, bagaimana denganmu Dewa, apakah kamu masih mampu menggendong Febri.?" tanya Bima.
__ADS_1
" Aku masih kuat karena badan Febri sangat lemah sekali di samping itu dia terlihat sangat ringan karena badannya sangat kurus, lebih baik kita segera membawanya ke rumah sakit dan dirawat sebagaimana mestinya." ucap Dewa dianggukan oleh mereka, kemudian mereka pun melangkah meninggalkan belakang tembok tersebut dan menuju ke arah Arsya, tapi mereka tidak melakukan jalan merangkak karena posisi saat itu dalam keadaan membawa Febri yang sedang sakit, saat keadaan terlihat aman, Mereka pun kemudian melangkah meninggalkan tempat tersebut menuju ke arah mobil Arsya, terlihat jalanan sudah mulai sepi, saat mereka ingin menyeberang terlihat dari arah kanan jalan sebuah mobil memasuki halaman rumah tersebut, Mereka pun kemudian bersembunyi sesaat, setelah terlihat aman Mereka pun tergesa-gesa menyebrang jalan dan langsung membawa masuk Febri ke dalam mobil dengan dipangku Dewa dan Bima duduk di belakang, Arsya pun dengan cepat menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi karena posisi jalanan sudah terlihat sepi dari pengendara, dia pun menuju ke rumah sakit Wibawa untuk membawa Febri agar bisa ditangani lebih lanjut.
" Alhamdulillah, akhirnya kita menemukan Febri dan bisa membawanya ke rumah sakit, mereka memang pintar menjaga rumahnya tapi mereka sangat bodoh tentang pengamanan itu, halaman belakang tidak diberi kamera pengintai." ucap Bima.
" Tapi apakah saat kita menyebrang dari jalan tadi kamera pengintai di rumah itu bisa merekam kita.?" tanya Dewa.
" Tidak! kamera pengintai itu tidak berfungsi lagi " jawab Bima sembari tersenyum.
" Kok kamu tahu.?" tanya Arsya.
" Aku sudah bilang selama ada Bima semua urusan lancar." ucap Bima sembari tersenyum.
Mereka hanya menganggukkan kepalanya, terlihat senang di wajahnya, karena Febri Sudah mereka temukan.
" Sekarang kita harus membawa istrinya Febri bertemu dengannya, tapi dengan cara apa?" tanya Arsya.
Mereka pun mengangguk.
" Ya Allah kenapa Febri seperti ini,terlihat sekali badannya kurus dan tidak terurus, mungkin Febri dibuat menderita sampai akhir hayatnya, sepertinya dia ini dicekoki dengan obat tidur, karena dia hanya bisa memejamkan matanya." ucap Dewa.
" Kekejaman mereka itu akan segera berakhir." sambut Alvaro.
Kemudian mobil yang dikendarai oleh Arsya memasuki halaman rumah sakit Wibawa tepatnya di depan ruang UGD, Alvaro turun dari mobil tersebut dan langsung meminta bantuan kepada suster jaga dengan cekatan suster jaga pun mengambil bunker dorong rumah sakit untuk meletakkan tubuh Febri dan segera di tangani oleh dokter ahlinya.
Walaupun Dewa seorang dokter dan anak dari pemilik Rumah Sakit itu dia tetap mempercayakan pada dokter-dokter yang bertugas di rumah sakit tersebut, Mereka pun hanya bisa bersandar menunggu keterangan dari Dokter tersebut.
__ADS_1
Mereka berempat duduk di kursi ruang UGD itu. Menunggu dokter yang menangani Febri dan menjelaskan kondisi Febri saat ini.
" Bagaimana selanjutnya rencana kita.?" tanya Dewa.
" Besok kita berkunjung kembali ke Cafe itu, bagaimana reaksinya kedua orang tersebut setelah kehilangan Febri di rumahnya dan tidak merusak rumahnya tersebut, karena Bima bermain halus." ucap Alvaro dianggukan mereka.
Di rumah Ibu Fatma dan Pak Dedi.
Suami istri itu yang baru saja datang dari beberapa Cafe untuk mengambil penghasilan dari beberapa usaha yang di besar luaskan oleh Febri itu pun terkejut karena di ruangan kamar di mana Febri berada saat dia memeriksa Febri sudah tidak ada.
Dia berteriak memanggil keempat penjaga rumahnya tersebut.
Bodyguard itu pun kemudian memasuki rumah menemui sang majikan.
" Kalian aku suruh menjaga di rumah kenapa sampai Febri tidak ada kalian tahu Febri tidak bisa berjalan, Kenapa Febri hilang dari kamarnya, ke mana aja kalian!! cepat periksa semua pintu, Siapa yang berani masuk ke dalam rumah ini dan kamu periksa kamera pengintai yang ada di luar.!!" ucap ibu Fatma memerintahkan ke 4 bodyguard-nya itu.
" Kamu harus sabar dulu, kita harus mencari tahu sebenarnya ini kenapa bisa Febri hilang." ucap Pak Dedi
" Inilah yang aku takutkan, ketakutan yang sangat besar ini akhirnya terjadi juga, gimana aku bisa tenang dan gimana juga aku bisa sabar, rumah sudah dijaga dengan ketat ada juga kamera pengintai, Tapi kita masih kecolongan juga, kalau Sheila yang melakukannya tidak mungkin, karena dia berada di cafe tidak bisa keluar kalau malam seperti ini." ucapnya.
Suami istri itu pun hanya terdiam kemudian salah satu dari penjaganya itu pun melaporkan kejadian semua nya padanya.
" Bos tidak ada yang rusak dari pintu jendela, semua sudah kami periksa tapi tidak ada yang mencurigakan." ucap salah satu dari penjaga tersebut.
Kemudian salah satunya datang kembali menghadap kehadapan Ibu Fatma melaporkan tentang kondisi kamera pengintai tersebut.
__ADS_1
" Kamera pengintai tidak bisa digunakan dan gambarnya semua menghitam."
" Apa!!! Siapa yang berani melakukan ini semua denganku dia tidak tahu siapa aku, berani-beraninya dia melawanku!!" ucap Ibu Fatma sembari berdiri dari duduknya menahan amarahnya sambil mengepalkan kedua tangannya.