
BAB 61 🌹
Diruangan pak Hendri, Farhan menunggu lama kedatangan pak Manajer itu, kalian pasti bertanya kenapa bisa ruangan seorang Manajer dimasuki oleh seorang bawahan, jawabannya bisa, karena pak Manajer itu hanya memperbolehkan orang-orang kepercayaannya saja yang boleh memasuki atau sekedar menunggu di dalam ruangan pak Manajer itu bila ingin nertemu dengannya.
" Kemana sih si tua ini, kenapa sampai saat ini belum datang juga, sedari tadi aku menghubunginya tidak juga dijawabnya, menyebalkan banget nih orang " ucap Farhan sembari menyandarkan tubuhnya disofa ruangan itu dengan rasa kesalnya karena dia merasa marah dan emosi disebabkan baru saja mendapatkan masalah.
Di luar hatel, tepatnya dikomplek perumahan mewah dikediaman pak Hendri, terdengar pak Hendri bertengkar dengan istrinya, pertengkaran terjadi karena dipicu dengan perkataan pak Hendri pada istrinya, kalau dia ingin menceraikan istrinya itu dan dia juga mengatakan pada istrinya kalau dia sudah mendapatkan wanita lain jauh sebelum dia mengungkapkan ingin berpisah dengan istrinya itu.
" Aku harus menceraikan kamu! Karena aku sudah tidak sejalan denganmu, dan aku juga sudah bosan denganmu!"
" Aku tidak ingin diceraikan!! Karena aku sudah bertahan beberapa tahun denganmu dan kamu pernah berjanji padaku untuk membahagiakan aku pada orang tuaku! Kenapa sekarang kamu ingin menceraikan aku, kamu tidak ingat bagaimana kamu merebut aku dari suamiku terdahuluku?!! Sedangkan kamu sudah memiliki istri saat itu,aku bersabar dengan kamu karena kamu bertahun-tahun belum menceraikan istri tuamu itu, sampai akhirnya istrimu itu tahu sendiri, kalau kamu sudah menikahi aku, diapun mengalami depresi berat sampai akhirnya dia meninggal dunia, tapi sekarang kamu sudah memiliki aku, kenapa kamu mencampakkan aku begitu saja!! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!!" Ucap Fany sembari menatap lekat suaminya itu.
Pak Hendri dan Fany menikah sudah beberapa tahun lamanya, namun mereka tidak dikaruniai seorang anak pun, awal pernikahan mereka memang bahagia, walaupun Fany dinikahi Pak Hendri sebagai istri kedua, sekarang Fany merasa protes kalau dirinya akan ditinggalkan oleh suaminya itu, gara-gara seorang wanita yang belum diketahui siapa wanita tersebut, yang tak lain adalah Ayana yang dianggap Pak Hendri akan menerima cintanya itu, padahal pak Hendri tidak mengetahui kalau Ayana menolak semua pemberian dari Pak Hendri untuknya.
Pak Hendri tidak sadar kalau semua pemberian itu tidaklah sampai ke tangan Ayana, tapi berhenti di tangan Farhan. Dia merasa yakin kalau Ayana dan dirinya akan pergi dari luar kota itu.
" Terserah! Kamu mau bilang apa! Yang jelas aku sudah tidak menginginkan kamu lagi sebagai istriku, mulai saat ini silakan kamu pergi dari rumah ini, tapi kalau kamu tidak ingin pergi dari rumah ini silakan saja, aku memberikan rumah ini dan semua isi di dalamnya ini hanya untuk kamu, tapi kamu tidak boleh lagi bertemu denganku dan kamu harus menyetujui perpisahan ini, karena aku tidak ingin bersama denganmu lagi! Mengerti!!"
" Aku akan mencari tahu siapa wanita itu! Aku tidak ingin kamu diambil oleh wanita tersebut! Karena keputusanku untuk hidup bersama kamu dan melepaskan suami pertamaku hanya untuk dirimu, tapi kenapa kamu begitu tega!! Tidak ada angin tidak ada hujan kamu ingin menceraikanku! Aku tidak terima dengan ini semua.!!" Teriak sang istri.
" Terserah apa katamu! Aku tetap akan berpisah!!" Ucap pak Hendri sembari melangkah meninggalkan Ibu Fany.
__ADS_1
" Hendri!! Tunggu!! Aku belum selesai bicara!!"
Namun pak Hendri tetap melangkah menuju ke arah mobilnya, beberapa saat kemudian mobil itu pun meninggalkan rumah pribadinya tersebut, Bu Fany merasa geram dan dia pun langsung mengejar suaminya itu, tapi sayangnya suaranya yang keras memanggil suaminya itu tidak dihiraukan oleh Pak Hendri.
Di dalam mobil yang melaju begitu kencang, menuju ke arah hotel Wibawa Pak Hendri pun berbicara sendiri di dalam mobilnya.
" Tidak ada yang bisa menentang aku! Siapapun itu! Baik itu istriku sendiri ataupun orang tuaku!Tidak akan pernah aku biarkan mereka menentang keputusanku!" Ucapnya sembari terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, beberapa saat kemudian mobil itu pun memasuki halaman Hotel Wibawa, dia memarkirnya mobilnya dengan rapi dia merasa sangat emosi, namun saat dia melangkah menuju ke arah lobby dia melihat Ayana yang keluar dari dalam restoran tersebut, dia pun menyunggingkan senyumnya sembari bergumam di dalam hatinya.
" Amarahku seketika hilang dan mereda, setelah melihat wajah cantik Ayana, kamu memang bisa mendinginkan emosiku Ayana, kita akan pergi jauh setelah pekerjaan ini selesai, dan kita akan hidup bahagia." Ucapnya sembari tersenyum lebar, menatap ke arah Ayana.
Ayana yang dipandang oleh Pak Hendri pun tidak menghiraukan kalau dirinya sedang diperhatikan oleh Pak Hendri, walau sebenarnya Ayana mengetahui dirinya sedang diperhatikan itu, Ayana melangkah masuk ke dalam Resto tersebut dan hilang dari pandangan mata Pak Hendri.
Pak Hendri pun melangkah menuju ke arah lobby, dia mengambil ponselnya yang berada di saku celananya tersebut, dia melihat beberapa panggilan tidak terjawab dan dia membuka panggilan tersebut yang ternyata dari Farhan.
" Sekarang bapak di mana?" tanyanya.
" Aku sekarang di lobby, mau masuk ke ruanganku memang kenapa? Apakah kamu masih di restoran?"
" Saya menunggu sedari tadi di ruangan Bapak sekarang."
" Ada apa?"
__ADS_1
" Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Bapak, ada permasalahan sedikit yang menimpa restoran kita."
" Baiklah aku segera ke sana." ucapnya.
Mereka berdua pun memutuskan panggilan bicaranya dan bertepatan dengan pintu lift terbuka dan lift itu pun membawa dia ke arah lantai atas di mana ruangannya berada.
Saat dia keluar dari pintu lift tersebut dia pun mulai berpikir.
" Masalah apa yang terjadi sehingga Farhan menungguku sedari tadi."
Dia bergegas menuju ke arah ruangannya, sesampainya di dalam ruangannya itu dia langsung menghempaskan tubuhnya di sofa sembari menatap Farhan yang sedari tadi duduk di sofa ruangannya tersebut menunggu kedatangannya.
" Ada permasalahan apa.?" Tanya Pak Hendri sembari menatap Farhan.
Farhan kemudian membenarkan posisi duduknya dengan menopangkan kedua tangannya di pahanya sembari menatap ke arah Pak Hendri.
" Ada yang membuat onar di restoran kita."
" Siapa?" Tanyanya dengan menanggapi laporan dari Farhan dengan santai saja, karena bagi pak Hendri sudah sering Farhan melaporkan kejadian-kejadian di restoran tersebut, dari masalah yang kecil sampai yang besar.
" Farhan... Kamu sudah kesekian kalinya melaporkan permasalahan yang terjadi di restoran. Apakah kamu tidak bisa menghadapi permasalahan itu? Sehingga kamu selalu melaporkannya padaku, aku mempercayakan restoran itu padamu. Kenapa mesti aku yang harus selalu menyelesaikan masalah yang terjadi di restoran tersebut, setiap ada kejadian kamu tidak pernah bisa menyelesaikan masalah sekecil apapun, jangan selalu berlindung di bawah ketekku, kamu harus menghadapi semua yang sudah terjadi di restoran, karena itu adalah tanggung jawabmu." Ucap pak Hendri panjang lebar, Farhan menghela nafasnya dengan panjang.
__ADS_1
" Tapi ini masalahnya sangat pelik pak dan menyangkut Ayana."
Mendengar nama Ayana disebut Pak Hendri pun langsung terkejut. Dan Dia bereaksi terhadap pengaduan Farhan itu.