
BAB 22🌹
" Wibawa?" ucap pak Dedy seraya memegang tangan sang istri dan ibu Fatma langsung menunduk lemas.
" Habislah kita Mas..." ucapnya sembari menggenggam erat tangan suaminya.
" Hahaha...!! Mana ketawa kalian yang menggelegar itu!" ucap Dewa menatap sinis kearah mereka berdua.
" Kalian sudah tahukan siapa kami?! dan kalian juga ingin tahukan siapa yang membawa Febri dari rumah kalian tanpa merusak apapun dirumah kalian, itu adalah perbuatan kami!" ucap Bima.
" Kalian akan tanggung akibatnya!karma tabur tuai akan kalian rasakan." sambung Arsya.
" Apa yang kalian berdua dengar dari ketiga saudara ku itu akan kalian berdua rasakan." ucap Alvaro sembari mensedekapkan tangannya didada.
Mendengar ucapan Alvaro Ibu Fatma pun mendekati Alvaro dan hendak menyentuh tangan Alvaro namun ditepiskannya dengan cepat.
" Aku tidak ingin disentuh kamu! karena kamu sudah berbuat semau kamu sendiri!Seharusnya kamu sadar sebelum berbuat dan melakukan tindakan yang hanya menguntungkan diri kalian saja." ucap Alvaro menatap mereka berdua.
" Tolong jangan laporkan kami kepihak yang berwajib, kami mengakui kesalahan kami dan akan merubah semuanya."
" Tapi sayangnya terlambat!! pihak yang berwajib sudah menuju kesini! sudah enaknya bersenang-senang!tanpa memikirkan orang yang disakiti, giliran ketahuan memelas dengan wajah yang tidak bisa diartikan, kesedihan dan penyesalan sudah terlambat, tapi sayangnya kami tidak bisa dibohongi!makanya kalau mau berbuat itu dipikirkan terlebih dahulu untung dan ruginya! jangan asal aja ingin cepat kaya tapi melakukan sesukanya." ucap Dewa.
" Kami akui kami salah kami menyesal telah melakukannya pada Febri yang sebenarnya sangat baik pada kami." ucap Ibu Fatma sembari menundukkan kepalanya dengan kedua tangannya berada di depan sembari memainkan jari-jemarinya karena merasa ketakutan yang teramat sangat benderanya.
__ADS_1
" Sayang sekali penyesalan kalian itu tidak kami terima, karena kalau penyesalan datang di awal namanya itu pendaftaran, tapi sekarang penyesalan di belakang tiada artinya." ucap Bima sembari menatap lekat ke arah Ibu Fatma.
Ibu Fatma pun mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Sheila, dia pun kemudian mendekati Sheila dan meraih kedua tangan Sheila,namun Sheila menepiskan kedua tangan Ibu Fatma.
" Jangan sentuh Aku, selama ini aku sudah cukup sabar menghadapi kalian berdua, aku bertahan karena Mas Febri, tapi sekarang Mas Febri sudah berada di tempat yang aman, aku tidak akan pernah lagi menuruti kemauan kalian, dan aku akan menuntut kalian atas apa yang pernah kalian perbuat selama ini pada keluarga kecilku ini." ucapnya, mendengar ucapan itu pun Bu Fatma kemudian terduduk di bawah sembari menangis ke sesugukan, Pak Dedi pun kemudian terduduk di kursi Cafe tersebut, beberapa saat kemudian terdengar sebuah mobil pihak yang berwajib memasuki cafe itu, karena sebelum mereka berada di cafe itu mereka sudah melaporkan kejadian yang sudah menimpa Febri dan Sheila, beberapa orang memasuki Cafe tersebut dan berbicara dengan Alvaro, ketiga pihak berwajib itupun langsung membawa kedua pasangan suami istri itu menuju ke dalam mobil, salah satu dari pihak yang berwajib itupun berbicara pada Sheila.
" Ibu bisa ikut kami ke kantor untuk menjelaskan semuanya, karena kami memerlukan keterangan ibu."
" Baiklah nanti saya akan menuju ke kantor, tapi beri saya waktu untuk saya bertemu dengan suami saya."
Pihak yang berwajib itu pun menganggukan kepalanya, setelah bersalaman dengan Alvaro dan kawan-kawannya mobil yang membawa Ibu Fatma dan Pak Dedi itu pun langsung meninggalkan cafe itu, Mereka terlihat lega karena sekarang masalah Febri dan Sheila sudah teratasi.
" Terima kasih ya Mas, kalian sudah membantu saya, selama ini saya bertahan hanya untuk menunggu Mas Febri, bolehkah saya minta satu hal lagi Mas, bisakah Mas membawa saya bertemu dengan Mas Febri."
" Baiklah, sekarang kita menuju ke rumah sakit untuk kita bertemu dengan Febri, karena Febri sudah ditangani dengan ahlinya, in sya Allah penyakit Febri akan segera sembuh, karena dirawat sebagaimana mestinya." ucap Alvaro dianggukkan ketiga sahabatnya, Kemudian mereka pun meninggalkan cafe itu, Tapi sebelumnya Sheila dibantu mereka menutup cafe itu, dan disarankan oleh Arsya untuk tidak membuka cafe sementara proses berlanjut.
Perlahan-lahan mobil mereka pun meninggalkan Cafe menuju ke arah rumah sakit di mana Febri berada, di dalam mobil tidak ada sama sekali pembicaraan, mereka terdiam hanyut dalam lamunan mereka masing-masing, begitu pula dengan Sheila di dalam hatinya dia tidak henti-hentinya bersyukur karena sekarang dia bisa bertemu kembali dengan suaminya dan bisa merawatnya, senyum terukir di wajahnya karena dia merasa bahagia sekali.
Beberapa saat kemudian mobil mereka memasuki halaman parkir Rumah Sakit Wibawa, setelah mobil terparkir rapi mereka berlima pun turun dari mobil dan melangkah menuju ke arah ruangan VVIP di mana Febri dirawat.
Sesampai didepan ruangan itu Alvaro mempersilahkan Sheila masuk ke dalam, saat pintu terbuka Sheila melihat suaminya yang terbaring dibanker rumah sakit itu pun tidak kuasa menahan tangisnya, dia pun langsung memeluk suaminya itu, Febri dengan sekuat tenaga mengangkat tangannya dan memeluk sang istri, karena Febri masih mengingat dan mengenali istrinya itu.
" Ya Allah, Akhirnya aku bisa bertemu denganmu Mas." ucapnya berbicara sembari tersenyum dalam tangisnya, Febri menghapus air mata sang istri dan menganggukkan kepalanya, dia pun tidak bisa menahan rasa rindunya pada istrinya tersebut, Dia hanya bisa menganggukkan kepalanya dan di sudut matanya mengeluarkan air mata terlihat air mata itu mengalir antara senang dan sedih dia rasakan saat ini, mereka berempat pun mendekati Febri.
__ADS_1
" Apa kabar Febri?" ucap Bima Febri menoleh ke arah Bima.
Febri menatap lekat ke arah Bima karena dia berusaha mengenali Bima.
" Kamu lupa dengan aku Febri, aku Bima teman sekelas kamu di waktu SMA."
" Bima? Bima Sakti?" ucapnya dianggukan oleh Bima, dia pun tersenyum bahagia dan menggapai tangan Bima, Bima kemudian menggenggam tangan Febri.
" Kamu masih ingat kan dengan ketiga orang ini?" tanya Bima sembari menoleh ke arah ketiga sahabatnya itu, Febri menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
Alvaro, Arsya, dan Dewa, menyalami Febri disambut oleh Febri sembari tersenyum, terlihat rona bahagia di wajah Febri, Karena sekarang di rumah sakit Wibawa dia sudah bisa berkumpul dengan Istrinya dan bisa bertemu kembali dengan teman-teman semasa sekolahnya dulu.
" Terima kasih ya teman-teman karena kalian sudah membantu aku bisa bertemu kembali dengan istriku, Aku tidak menyangka bisa bertemu kembali dengannya, karena aku sudah kehabisan harapan, aku hanya pasrah dengan yang maha kuasa dan selalu berdoa agar doaku terjawab, akhirnya doa itupun dijawab yang maha kuasa,melalui kalian, dengan tangan-tangan kalian yang bisa menolong dan membantu aku bertemu dengan istriku kembali dan mengungkap kebenarannya." ucapnya, Mereka pun hanya menganggukkan kepalanya.
" Kamu tidak usah berterima kasih pada kami, tapi berterima kasihlah pada yang Maha Kuasa karena dengan izin Allah semuanya ini terjadi." ucapan Alvaro.
" Istirahatlah, biar kamu cepat memulihkan kondisi kamu sekarang ini." sambung Dewa.
" Semangatlah untuk sembuh agar kamu bisa kembali beraktivitas seperti dulu lagi." lanjut Arsya.
" Semoga cepat sembuh, kami akan mengurus semuanya sampai hak kamu kembali ke tangan kamu." ucap Bima dianggukkan para sahabatnya itu.
Febri tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dia pun menangkupkan kedua tangannya didada tanda terima kasih yang tidak terhingga pada keempat teman semasa sekolahnya itu.
__ADS_1
" Kamu tidak usah memikirkan biaya di rumah sakit ini, karena untuk kamu tidak akan ada mengeluarkan biaya sedikitpun, yang terpenting kamu harus fokus dengan kesembuhan kamu." sambung Alvaro, lagi-lagi dianggukkan ketika sahabatnya, Febri tidak bisa menahan rasa bahagianya, Dia hanya bisa menitikan air matanya di sudut matanya tersebut, Karena dia sudah dipertemukan oleh yang Maha Kuasa dengan orang yang baik seperti keempat orang yang ada di hadapannya itu.