CAHAYA CINTA

CAHAYA CINTA
CAHAYA CINTA 34


__ADS_3

BAB 34 🌹


" Kenapa kalian disini? tidak masuk kedalam?" Tanya Bima sembari menatap kearah para sahabatnya tersebut.


" Kami memang sengaja menunggu disini sekalian berbarengan naik ke atas bersama dengan kamu sambung Arsya.


" Oh ya Bima sebenarnya ketemu di mana kamu sama wanita tadi.?" Tanya Dewa.


" Iya aku juga dari tadi ingin menanyakan itu pada Bima, tapi kalau dilihat-lihat sebenarnya cocok juga sih wanita itu sama Bima, baru di tanah air kamu sudah menemukan wanita tidak seperti di luar negeri hehehe." sambung Alvaro dan dianggukkan oleh mereka berdua, Bima hanya tersenyum.


" Sebenarnya aku juga tidak tahu siapa dia, awal mula Aku berangkat dari rumah...." Bima pun kemudian menceritakan awal bertemunya dengan Bianca dan Bianca salah menganggap dirinya sebagai seorang pekerja di biro penyewaan kekasih, mereka bertiga menganggukkan kepalanya kembali sembari mendengarkan cerita Bima sampai selesai. Kemudian mereka pun menghela nafasnya dengan panjang secara berbarengan tanpa disengaja Bima menatap ketiga sahabatnya itu.


" Kalian bertiga mungkin tidak percaya apa yang akan aku katakan ini."


" Memangnya kenapa? Ada apa tentang wanita itu, wanita itu tidak salah, untuk meminta pertolongan kita dan baguslah ia bertemu denganmu terlebih dahulu." Sambung Arsya.


" Bukan masalah itu Sya..." ucap Bima.


" Terus apa?"


" Dia itu bekerja di kantor ini, dikantor Wibawa Group." Ucap Bima sembari menatap ketiga sahabatnya.


" Benarkah?" ucap Alvaro sembari menatap Bima.


" Kalau misalkan perempuan itu memang bekerja di sini, wajarlah namanya juga kita tidak pernah mengenalnya baru ini masuk kantor keluarga Wibawa." Sambung Dewa.


" Memang dia bekerja sebagai apa?" tanya Alvaro.


" Dia bekerja sebagai cleaning service di sini, tapi ada yang lebih menarik lagi dari ceritanya." Ucap Bima, mereka bertiga langsung menatap lekat ke arah Bima.


" Maksud kamu ?" Tanya mereka bertiga.


" Aku akan cerita semuanya tapi aku tidak mau ceritanya di ruangan ini, kalian tidak melihat tuh para karyawan di sini menatap ke arah kita, kita kan terlihat tidak jelas begitu, lagi pula kan mereka juga tidak mengenali kita, bagaimana kalau kita menemui Om Abiyasa." Ucap Bima dianggukkan oleh Alvaro dan yang lainnya.


Kemudian mereka pun berdiri dari duduknya dan melangkah menuju ke arah lift, mereka berempat pun menuju ke lantai atas di mana sang pimpinan berada, beberapa saat mereka berada di dalam lift pintu lift pun terbuka dan mereka melangkah menuju ke arah ruangan Papah Abiyasa, namun sebelum mereka sampai di ruangan tersebut mereka dicegah oleh sekretarisnya papah Abiyasa yang tidak mengetahui kalau diantara keempat orang itu ada anak pimpinan mereka sekaligus pemilik perusahaan tersebut.


" Maaf, saya tidak bermaksud untuk memberhentikan langkah kalian, tapi sebelumnya Mas-Mas ini mau bertemu siapa?" Tanya sekretaris Papa Abiyasa yang bernama Amita.


" Kami mau bertemu dengan Bapak Abiyasa." Ucap Alvara.


" Apakah kalian sudah membuat janji dengan beliau?"


" Kami sudah membuat janji dengan beliau dan kami disuruh ke sini sama beliau sendiri." Sambung Arsya tersenyum.

__ADS_1


" Kalau kalian membuat janji dengan beliau biasanya melalui saya, karena tidak semudah membalikan telapak tangan menghubungi pimpinan saya."


" Maaf Mbak kami memang sudah dihubungi oleh Bapak Abiyasa sendiri via ponsel pribadi " Sambung Bima.


" Baiklah, sebentar saya akan menanyakannya kepada pimpinan saya terlebih dahulu." Ucapnya dianggukan oleh mereka sembari tersenyum.


Amita sang sekretaris pun kemudian mengetuk pintu ruangan Papah Abiyasa.


" Dia tidak tahu kalau di hadapannya ini adalah anak dari pimpinannya.." Ucap pelan Dewa sembari tersenyum.


" Kitakan mengikuti prosedur yang ada." sambung Arsya.


" Benar sekali, kita harus mengikuti prosedur di kantor ini, seharusnya kita menghubungi sekretarisnya terlebih dahulu sesuai dengan peraturan kantor ini." Sambung Bima.


" Memangnya kamu tahu nomer ponselnya? Ngarang aja kamu Bim..." Delik Dewa sembari terkekeh, Bima hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Dan mereka pun hanya tersenyum, beberapa saat kemudian Amita datang menemui mereka dan mempersilahkan keempat lelaki tersebut memasuki ruangan pimpinannya.


" Makasih..." Ucap mereka pada sekretaris Papa Abiyasa.


Alvaro pun kemudian mengajak ketika sahabatnya untuk menuju masuk ke dalam ruangan sang papa.


Mereka berempat pun menghentakkan tubuh mereka di sofa di ruangan sang Papa, Papa Abiyasa melihat kedatangan para anak-anaknya pun langsung menghentikan pekerjaannya itu, dia melangkah mendekati mereka yang duduk di sofa.


" Masalah tadi sudah selesai pah... Awalnya kami sudah berada di sini namun karena personil kami kurang satu, makanya kami harus menunggu salah satu yang tidak ada itu."


" Pasti Bima..." Ucap Papah Abiyasa sembari tersenyum.


Bima tersenyum... Diapun kemudian menceritakan yang sudah dialaminya namun dia tidak menceritakan sepenuhnya pada Omnya itu tentang Bianca yang sudah bekerja di kantor ini


" Apakah kalian sudah membereskannya ? Berani-berani sekali dia mengaku sebagai keluarga Wibawa." Ucap papah Abiyasa


" Papah tenang aja semuanya sudah dibereskan." Ucap Alvaro.


" Semuanya sudah clear ternyata dia hanya terobsesi dengan keluarga Wibawa Om." Sambung Bima sembari tersenyum.


Papah Abiyasa pun menyadarkan tubuhnya di sandaran sofa sembari menghela nafasnya dengan panjang.


" Oh ya Bima katanya tadi ada yang menarik tentang cerita dari Bianca?" tanya Arsya.


" Maksudnya cerita menarik bagaimana.?" tanya Papah Abiyasa menatap heran ke arah mereka berempat.


" Ceritanya sebenarnya panjang Om."

__ADS_1


" Yah diperpendek aja bro..." Ucap papah Abiyasa tertawa.


" Hahahaha..."


Mereka tertawa bersama...


Awalnya Bima menceritakan semuanya pada papah Abiyasa semua kronologinya.


Papa Abiyasa sebenarnya hanya tahu tentang pengakuan seseorang kalau dia adalah keluarga Wibawa, namun kronologi yang lain Papah Abiyasa tidak mengetahuinya, dia pun terus mendengarkan cerita dari Bima.


" Sampai situlah ceritanya." Ucap Bima sembari terkekeh membuat mereka semua menghela napasnya dengan panjang.


" Terus yang kamu bilang ceritanya sangat menarik itu di mana?" Tanya Dewa.


" Kalian tidak menyimak cerita yang menarik yang aku ceritakan tadi?" Sahut Bima.


Mereka semua menggeleng membuat Bima tertawa lepas dan langsung saja mulut Bima ditutup dengan sikut Dewa, Bima pun menghentikan tawanya seketika, bergantian mereka yang ada di ruangan itu pun tertawa lepas melihat Bima tidak bisa tertawa lagi.


" Kamu apa-apaan sih Wa, mulutku ini malah ditutup dengan sikut kamu itu, untung tidak langsung aku gigit."


" Memang kamu bisa menggigit tulang punya Dewa? nanti kualat loh..." Ucap Arsya sembari masih tertertawa.


" Kamu cerita katanya menarik, tapi setelah didengar ceritanya nggak menarik sama sekali." Sambung Dewa mendelik pada Bima.


" Berarti kamu cemburu ya...hehehehe... kalau kamu kalah saing denganku." Ucap Bima sembari menaik turunkan alisnya seraya tersenyum lebar.


" Siapa yang kalah saing dengan kamu, kamu cuma hanya dianggap sebagai pacar sewaan yang belum tahu kan ke depannya." Ucap Dewa sembari terkekeh


Bima tertawa lebar...


" Berhenti nggak tertawa... Mau lagi nih?!" Ucap Dewa sembari hendak mengarahkan sikutnya lagi, namun segera Bima menutup mulutnya dengan kedua tangannya, Mereka pun tertawa dengan leluasa.


" Baiklah, kalau seperti itu Papah akan membawa kalian ke ruangan HRD dan memperkenalkan kalau kalian itu adalah karyawan baru atas rekomendasi dari Papah."


" Tunggu dulu Om, ini ada yang penting banget dan sangat-sangat menarik." Ucap Bima.


" Apalagi Bim...Dari tadi tidak ada menarik-menariknya kok." Sambung Arsya.


" Tenang Bro, kalian pasti akan terkejut dengan ucapanku." Ucapnya menyakinkan para sahabatnya.


" Tidak akan terkejut!" ucap Dewa.


" Oh sentimen amat sih Dewa, tapi Bro ini menyangkut kantor Wibawa Group."

__ADS_1


Mereka yang hendak berdiri pun kembali duduk dan menatap Bima dengan lekat.


__ADS_2