CAHAYA CINTA

CAHAYA CINTA
CAHAYA CINTA 59


__ADS_3

BAB 59🌹


" Dia adalah Pak Farhan orang kepercayaan dari Pak Hendri, dia dipercayakan untuk memimpin Resto ini."


" Kenapa dia memarahi kalian berdua? Tanya Bima


" Karena saya protes dan membela diri saya."


" Kenapa? Dan ada apa? Sehingga kamu protes padanya? Ada salah apa kamu dengannya, sehingga kamu membela diri?" Tanya Alvaro


" Pak Hendri naksir berat pada Ayana." ucap Lani sebelum Ayana menjawab pertanyaan Alvaro.


" Ayana?" ucap Arsya terkejut.


" Ya Mas, apakah Masnya mengenal Ayana?"


" Tidak! Saya tidak mengenal Ayana, saya juga baru melihatnya di sini." ucap Arsya yang sebenarnya sangat penasaran juga dengan sosok Ayana yang ada dihadapannya itu.


" Sesungguhnya aku penasaran sekali padanya yang menjadi rasa penasaranku sekarang ini ada hubungan apa Ayana dan wanita yang ada Kanada? Sehingga wajahnya sangat mirip sekali, hampir tidak ada perbedaan."


" Sebelum saya menceritakan semuanya Saya mau bertanya pada Masnya ( sembari menatap kearah Arsya) Kenapa Masnya mengatakan kalau saya meminjam jaket Mas saat di luar Negeri?"


Arsya membenarkan posisi duduknya dan diapun menghela nafasnya dengan dalam.


" Hem...Mungkin wajahmu aja mirip dengannya, dan maafkan saya karena salah orang, kamu pasti tidak terkejut dengan saya yang langsung saja mengatakan ingin kengambil jaket itu,tapi sebenarnya perawakan dan wajah kamu mirip sekali dengan wanita yang sudah saya pinjamkan jaket itu."


Ayana menghela nafasnya dengan panjang.


" Pasti kak Ayani ..." Gumam Ayana pelan namun kasih bisa didengar mereka.


" Ayani?" Ucap Dewa yang duduk disamping Ayana.


Membuat Alvaro Bima dan Arsya pun menatap ke arah Ayana.


" Iya Mas, Saya memiliki saudara kembar bernama Ayani Aisya Putri, dia adalah kakak saya."

__ADS_1


" Kembar?" Ucap pelan Arsya merasa tidak percaya dengan ucapan Ayana.


" Beneran kembar? Maaf, maksud saya kalian benar-benar saudara? " Tanya Bima.


" Iya Mas kami kembar asli! Nggak ada rekayasa, saya tahu kalian pasti tidak percaya dengan keterangan saya ini."


" Hem... Bukannya tidak percaya, kami percaya dengan apa yang dikatakan kamu, tapi kalau kamu memang kembar kenapa dia berada di luar Negeri, sedangkan kamu ada di Indonesia.?" Tanya Bima.


" Dia ikut dengan Tante saya di sana, adik dari almarhum ibu saya, kami dipisahkan karena saat sekolah dulu Ayah tidak bisa bekerja lagi setelah kecelakaan yang menimpanya dan mengalami kebutaan, Tante Irna mengambil Ayani, sebenarnya dia tidak mau ikut ke sana, karena meninggalkan saya dan Ayah saya di sini. Tapi demi pendidikan ayah saya memperbolehkan Ayani dibawa ke luar Negeri, tapi tidak tahu bagaimana sekarang keadaan Ayani di sana."


" Memanghya dia tidak pernah memberikan kabar pada keluarganya di sini.?"


" Dia jarang berkomunikasi dengan kami, saya juga tidak tahu, setiap ditanya dia selalu berbicara dengan cepat,namun saat dihubungi ulang dia tidak pernah menjawab panggilan kami, terakhir dia ada memberi kabar, tapi sekarang sudah tidak ada lagi setelah dia mengirimkan paket pada saya, jangan-jangan...???" Ayana menghentikan kalimat bicaranya.


" Kenapa kamu menghentikan bicaramu? teruskan bicaramu." ucap Alvaro.


" Sebentar saya mengambil sesuatu..." ucapnya sembari berdiri dari duduknya.


Di saat Ayana berjalan menuju ke arah loker di mana barang pribadinya berada, Lani hanya menatap kepergian Ayana.


" Apa Mbaknya ini berteman dengan Mbak Ayana itu sudah lama?" Tanya Arsya.


" Tidak bisa melihat?" Gumam Arsya namun masih bisa didengar oleh mereka.


" Arsya, Apakah kamu mengenali orang tuanya Ayana?"


" Aku tidak mengenal orang tuanya Ayana, tapi saat kita hendak menemui Pak Yanuar waktu itu, setelah pulang dari kantor aku bertemu dengan lelaki paruh baya yang ingin menyeberang jalan untuk pulang kerumahnya, dia tidak bisa melihat makanya aku antar langsung ke rumah, dengan alasan mobilku itu mobil angkot, karena beliau itu sedang mencari angkot." Ucap Arsya.


" Hah? Apakah Masnya yang mengantarkan Om Arvan pulang ke rumah dan menyelipkan beberapa uang kertas itu?" Tanya Lani.


" Pak Arvan?Oh iya, namanya itu memang pak Arvan.


" Apakah orangnya ini ?" Tanya Lani sembari memperlihatkan foto Ayana bersama dengan ayahnya tersebut.


Arsya mengampul ponsel Lani dan melihat fhoto tersebut.

__ADS_1


" Nah iya benar inilah orang tuanya yang pernah aku tolong itu."


" Ayana mencari Masnya untuk mengembalikan uang tersebut."


" Memangnya kenapa?"


" Ayana tidak ingin orang tuanya dikasihani dia tidak ingin orang tuanya disangka pengemis Mas."


" Aku tidak mengatakan kalau orang tuanya dia itu pengemis, aku hanya memberikan uang itu dengan ikhlas."


" Tapi Ayana tidak mengetahui kalau yang telah memberikan uang itu adalah Mas dengan cara keikhlasan Mas." ucap Lani.


Arsya menghela nafasnya dengan panjang.


" Kenapa kamu nggak cerita dengan kami Sya?" Tanya Dewa.


" Aku kira itu hanya hal biasa tidak berkaitan seperti ini." ucap Arsya.


Kemudian Ayana pun datang membawa sebuah jaket ditangannya.


" Maaf Mas, Apakah ini jaketnya Mas yang pernah Mas pinjamkan pada saudara saya itu?" ucap Ayana sembari memberikan jaket yang ada di tangannya itu.


Arsya pun menatap Ayana sembari tangannya memegang jaket tersebut, dia pun langsung disenggol oleh Alvaro.


"Ayana menanyakan apakah itu jaketnya yang kamu maksud?" tanya Alvaro


Seketika kegugupan melanda Arsya, dia pun langsung menganggukkan kepalanya.


" Ambillah Mas, mungkin sudah ditakdirkan jaket itu kembali pada Tuannya bertepatan di tanah air."


" Oh....Kalau gitu nggak usah Mbak, ambillah..." Ucap Arsya yang seketika membuat para sahabatnya pun terkejut mendengar ucapan dari Arsya.


Ayana menatap ke arah Arsya, begitu juga dengan Arsya, mereka saling pandang seakan akan mereka berdua berbicara melalui kedua bola mata mereka.


Mereka yang ada pun Saling pandang, menatap ke arah Arsya dan Ayana, karena mereka berdua tidak ada suara sama sekali, Arsya menatap Ayana tepat di bola mata Ayana seakan menusuk masuk ke dalam bening bola mata tersebut, Ayana pun langsung merona merah wajahnya dan dia pun menundukkan kepalanya, Bima, Dewa dan Alvaro pun tersenyum.

__ADS_1


Lani langsung bersuara karena dia tidak memahami apa yang terjadi.


" Bagaimana nasib kami atas perkataan Masnya tadi pada Pak Farhan ?" Tanyanya membuyarkan suasana, Arsya kemudian sadar, dia pun langsung tersenyum dan mengusap wajahnya dengan pelan.


__ADS_2