CAHAYA CINTA

CAHAYA CINTA
CAHAYA CINTA 49


__ADS_3

BAB 49🌹


Bima kemudian menceritakan pada mereka semua tentang informasi yang didapatnya itu, Alvaro mendengarkan semuanya tanpa ada yang tertinggal satu kata pun yang diceritakan oleh Bima padanya.


Alvaro menghela nafas leganya dan menyandarkan tubuhnya disofa dengan senyumannya, Alvaro menatap lagit-langit ruangannya itu.


" Akhirnya aku menemukan kamu Amara, begitu perihnya hidup kamu sehingga kamu banting tulang untuk keluargamu, walaupun aku tidak mengetahui bagaimana seluk-beluk keluargamu, Amara! Tunggu aku Amara, aku akan menjemput kamu, kita akan hidup bahagia selamanya." Gumamnya di dalam hati sembari senyum-senyum sendiri.


Mereka terdiam dan larut dalam lamunan mereka.


Hening! Tidak ada suara, namun keheningan mereka itu diganggu dengan suara ponsel Alvaro, dan mereka pun menatap ke arah Alvaro yang masih merentangkan tangannya dan memejamkan matanya, mengekspresikan wajah bahagianya itu.


Alvaro tidak menyadari kalau ponselnya yang ada di dalam saku celananya itu berbunyi, Dewa pun berdiri dari duduknya dan dia pun langsung menyentuh saku celana Alvaro, membuat Alvaro terkejut.


Dia langsung menangkap tangan Dewa..


" Eh, Dewa apa-apaan sih ?Kenapa kamu menyentuh saku celanaku ?"


" Jangan mempunyai pikiran yang Nggak-nggak, aku mau mengambil ponsel kamu aja kok, biar tidak mengganggu lamunanmu, dari tadi ponsel itu berbunyi siapa tahu penting." Ucap Dewa tersenyum karena melihat ekspresi wajah Alvaro terlihat lucu.


" Astaga! Aku benar-benar tidak mendengar, ini pasti dari kantor polisi, ayo kita ke sana." Ajak Alvaro sembari mengambil ponselnya dan menjawab panggilan itu.


" Kita berbagi tugas aja dulu, aku dan Alvaro menuju ke sana, kamu dan Bima berada di sini, Bima bisa mencari tahu keberadaan Bianca. Kenapa beberapa hari ini dia tidak masuk bekerja." Ucap Arsya, dianggukan oleh Bima dan Dewa.


Kemudian mereka pun mempersiapkan diri mereka sesuai dengan tugas yang sudah mereka sepakati, Arsya dan Alvaro kemudian keluar dari ruangan dan menuju ke arah lobby untuk menuju ke arah kantor polisi sembari menerima telepon dari pihak yang berwajib, Alvaro kemudian memasuki mobil pribadinya dan beberapa saat mobil itu pun meninggalkan kantor Wibawa Group.


" Bima bagaimana kalau kamu menghubungi Bianca, kamu pasti ada nomor ponselnya kan?" Tanya Dewa.


" Sebentar dulu, aku cek di ponselku. Aku juga lupa apakah aku memiliki nomornya atau enggak." Sahut Bima terkekeh.


" Kamu ini gimana sih, cewek secakep itu kamu tidak memiliki nomor ponselnya."


" Aku kan nggak kepikiran sampai ke situ Dewa, untuk meminta nomer ponselnya."


Kemudian Bima pun mencari nomor Bianca di dalam kontak ponselnya, tapi sayangnya dia memang tidak sempat meminta nomor telepon Bianca, dia pun kemudian menyadarkan tubuhnya di sofa.


" Kamu kenapa?" Tanya Dewa.


" Aku lupa minta nomor ponselnya, pantesan aja tidak ada di save kontakku."


" Ya udah kita tanyakan dengan pihak kantor dulu, apakah selama beberapa hari ini dia ada masuk kantor." Ajak Dewa.


" Oke?" Jawab Bima, kemudian mereka berdua pun keluar dari ruangan dan saat hendak menuju ke arah lift, mereka melihat Rusdi melangkah melintasi mereka sembari menganggukkan kepalanya tanda hormat pada mereka berdua.


" Rusdi tunggu sebentar." Ucap Dewa.


" Iya Pak, Ada apa Pak?"


" Selama ini kan kamu jadi asistennya Pak Yanuar, apakah selama ini ada yang bernama Bianca menjadi OB di sini ?"

__ADS_1


" Oh iya pak, memang ada seorang OB bernama Bianca, tapi dua hari yang lalu dia sudah mengundurkan diri dan surat pengunduran dirinya sudah ditandatangani oleh pak Yanuar." Terang Rusdi.


" Apa? dia mengundurkan diri?" tanya Bima.


" Iya Pak..."


" Kenapa kamu tidak bilang kalau ada salah satu OB yang mengundurkan diri ?" Tanya Dewa.


" Bukan satu aja pak, tapi ada beberapa OB pak yang sudah mengundurkan diri, kurang lebih 5 orang termasuk Bianca."


" Sekarang saya minta dengan kamu hubungi ke 5 OB itu dan tetap bekerja seperti biasanya, karena hak mereka masih ada di sini." Ucap Dewa dianggukan oleh Rusdi.


Kemudian Rusdi pun mohon diri dari hadapan mereka berdua, untuk menghubungi kelima OB yang memang harus dipanggil kembali untuk bekerja termasuk Bianca, Bima menghela napasnya dengan panjang Dewa menatap ke arah Bima.


" Kamu Kenapa Bim?"


" Aku harus menemui Bianca."


" Kenapa mesti harus ditemui ?Kan sudah dihubungi sama Rusdi."


" Aku yakin dia tidak akan mau lagi masuk bekerja di sini."


" Baiklah kalau seperti itu, kita tunggu mereka berdua agar kita bisa menemui Bianca, dan Alvaro bisa menjelaskan semuanya pada Bianca."


Bima menganggukan kepalanya, mereka pun melangkah kembali menuju ke arah ruangannya dan tidak jadi menuju ke ruangan yang lain.


Alvaro dan Arsya yang sudah menyelesaikan tugasnya di kantor polisi kembali menuju ke arah kantor, dia melihat jam yang melingkar di tangannya tersebut menunjukkan pukul setengah dua siang dia pun melajukan kendaraannya menuju ke arah kantor karena Bima dan Dewa masih ada di kantor Wibawa group.


" Assalamualaikum Pah..."


" Waalaikumsalam Nak, Kamu sekarang di mana ?"


" Alvaro sama Arsya lagi di jalan menuju ke arah kantor Wibawa, karena baru saja menyelesaikan urusan di kantor polisi tentang masalah Pak Yanuar itu."


" Ya udah papah tunggu di kantor


Ada yang ingin Papa bicarakan denganmu."


" Oke pah, siap! Assalamualaikum..."


" Waalaikumsalam ..."


Alvaro pun memutus sambungan bicaranya, Arsya menatap ke arah Alvaro.


" Memang ada apa Varo?


" Papa menunggu kita kita di kantor, karena ada yang ingin dibicarakan oleh Papa sekarang."


" Jangan-jangan ada misi kembali nih." Ucap Arsya sembari tersenyum.

__ADS_1


" Aku juga menduga kaya gitu sih."


Dianggukkan Arsya dan Alvaro kemudian melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang menuju ke arah kantor Wibawa group, selang beberapa menit mobil itu pun sudah memasuki halaman kantor tersebut, Alvaro memarkirkannya dengan rapi, mereka berdua melangkah menuju ke arah lobby masuk ke dalam lift dan menuju ke arah lantai atas di mana ruangan mereka berada, sebelum mereka berdua menuju ke arah ruangan Papah Abiyasa, mereka terlebih dahulu menuju ke arah ruangan mereka sendiri terlihat Bima dan Dewa duduk menyandarkan tubuhnya di sofa dengan memainkan ponselnya masing-masing, mereka berdua menoleh ke arah pintu di mana kedua sahabatnya itu melangkah mendekati mereka.


"Kalian sudah makan siang?" Tanya Bima.


" Sudah." Jawab Arsya.


" Di restoran itu tempat Amara bekerja?"


" Tidak!" Jawab Alvaro.


" Kalau kalian mau makan di restoran itu, bareng-bareng dong, hehehe." Ucap Bima lagi sembari terkekeh.


" Kalau kalian sudah makan apa belum?"


" Kami sudah makan di kantin, dan kalian tahu apa yang kami berdua makan di kantin." Ucap Bima.


" Apa?" tanya Alvaro dan Arsya berbarengan.


" Kue dan gorengan bikinan calon kakak ipar." Ucap Bima sembari mengusap perutnya sembari terkekeh, begitu juga dengan Dewa yang terkekeh karena kekenyangan memakan kue dan gorengan bikinan Amara.


" Kami memborong kue dan gorengan bikinan Amara itu dan kami juga harus menghabiskannya dan sebagiannya ada di atas meja tuh, kami bawa ke ruangan ini, karena terlihat di kantin tidak ada yang berminat dengan kue dan gorengan buatan Amara."


Alvaro menoleh ke arah kantong kresek yang ada di atas meja tersebut dia merasa sedih dengan perjuangan Amara.


" Simpan di ruanganku, biar aku yang akan memakannya nanti." Ucapnya dianggukan oleh Bima yang langsung berdiri mengambil bungkusan kresek berisikan kue dan gorengan itu pun masuk ke dalam ruangan Alvaro dan meletakkannya di atas meja kerjanya.


" Oh ya, Papa menyuruh kita untuk ke ruangannya."


" Untuk apa?"


" Aku juga tidak tahu, tadi papa menghubungi aku mungkin dikiranya kita tidak ada di kantor."


" Jangan-jangan kita ada misi lagi nih."


" Ya itu yang aku bilang pada Alvaro." Ucap Arsya sembari tersenyum.


Mereka pun langsung berdiri bersamaan.


" Oke siap! Kita laksanakan lagi misinya, tapi sebelum kita melaksanakan misi bagaimana nanti setelah pulang kantor kita ke tempat Bianca." Ajak Bima.


" Oke! Aku juga ingin mengatakan sesuatu sama Bianca." Kata Alvaro.


" Ada sesuatu? soal apa?"


" Hahaha... Jangan cemburu dulu Bim."


" Siapa yang cemburu? Aku kan berhak nanya Varo..." Sanggah Bima sembari terkekeh.

__ADS_1


" Ada aja..." Alvaro terkekeh, Bima pun terlihat berpikir sesaat dan kemudian dia langsung tersenyum mengikuti langkah para sahabatnya menuju lift dan membawa mereka ke lantai atas kembali di mana ruangan Papa Abiyasa berada.


__ADS_2