CAHAYA CINTA

CAHAYA CINTA
CAHAYA CINTA 70


__ADS_3

BAB 70 🌹


Setelah Alvaro berbicara dengan sang Papa, Alvaro kemudian meletakkan ponselnya kembali di meja semula, dia menghelan nafasnya dengan panjang dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa sembari menatap ke arah kedua sahabatnya yang duduk berdampingan di bibir ranjang Hotel Wibawa itu.


" Ada apa Alvaro?" Tanya Bima.


" Iya ada apa nih, siapa yang meninggal.?" Sambung Dewa.


" Hhhh..." Alvaro terdengar menghela nafasnya dengan panjang dan mengusap wajahnya dengan pelan.


" Ada kabar duka..."


" Kabar duka dari siapa?" Tanya Dewa dianggukkan Bima.


" Setelah aku berbicara dengan Papa mengenai masalah Hendri yang sudah kita selesaikan dan ditangani oleh pihak yang berwajib itu, Papa kemudian mendapatkan telpon yang mengaku dari istrinya Pak Haris, yang mengatakan kalau Pak Haris sudah mengetahui kejahatan keponakannya itu, saat pak Haris mendengar semuanya, pak Haris mengalami serangan jantung dan meninggal dunia, itu menurut Papah dari keterangan istrinya, Papa juga tidak tahu keluarganya pak Haris itu dapat kabar dari siapa, kalau si Hendri sudah ketahuan dalang dari semua perbuatan yang telah dilakukannya itu."


" Sekarang apa rencana kita selanjutnya?"


" Papah mengatakan Papa dan Mama saja yang menuju ke rumah Pak Haris, kita sementara waktu menunggu saja apa selanjutnya yang akan diperintahkan oleh Papa pada kita, karena seminggu lagi Papa dan yang lainnya akan berangkat ke Kanada."


" Kalau mereka semua berangkat ke Kanada, itu artinya kita saja yang ada di sini." Sambung Dewa.


" Ya begitulah sepertinya..." Jawab Alvaro.


" Kenapa Mama, Papa, nggak bilang ya sama aku?" Lanjut Bima.


" Mereka baru saja merencanakan ini, mungkin nanti setelah kita pulang mereka akan mengatakannya pada kita, terutama kalian berdua dan juga Arsya."


" Sebelum Mama dan Papa berangkat ke Kanada, Aku mau memperkenalkan Bianca terlebih dahulu pada mereka, aku ingin mengetahui reaksi mereka, apakah mereka menyukai Bianca atau tidak." Ucap Bima seraya menghela nafasnya dan mengubah posisi duduknya.


" Aku yakin Tante Clarissa akan setuju saja, kalau kamu sama Bianca, secara Aku menilai Bianca itu orangnya seperti Tante Clarisa juga sih " Sambung Dewa.


" Maksud kamu seperti harimau betina gitu?" Sambung Alvaro terkekeh.


" Ya sepertinya... Hahaha." Ucap Dewa disambut Alvaro tertawa dengan lepas, sedangkan Bima hanya Bima mendelik ke arah mereka berdua.


" Aku yakin Tante Clarissa memang setuju kalau kamu dan Bianca bersama." Ucap Alvaro tersenyum.


" Kapan rencananya kamu akan mengenalkan Bianca pada Tante Clarisa dan Om Marco?" Tanya Dewa.


" In sya Allah, setelah aku pulang dari misi kita ini."


" Baguslah! Secepatnya lebih baik." Sambung Dewa.

__ADS_1


Mereka pun tersenyum...


" Oh ya Wa, aku dan kamu kekantor polisi sekarang biar Bima bersama Arsya disini memeriksa kembali apa yang kurang bersih dan segera dibersihkan biar tidak ada noda lagi di hotel ini." Ucap Alvaro dianggukkan Dewa dan Bima.


Sesuai kesepakatan yang sudah diucapkan Alvaro, mereka berdua pun melangkah keluar kamar menuju lobby, Alvaro dan Dewa menuju kearah kantor polisi menggunakan kendaraan inventaris hotel, sedangkan Bima duduk di kursi lobby sembari menunggu kedatangan Arsya.


***


Arsya yang sudah mengantarkan Ayana pulang kerumahnya itupun langsung melajukan mobilnya menuju kearah hotel keluarga Wibawa, setelah dia berpamitan dengan keluarga Ayana.


Arsya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan tidak membutuhkan waktu lama mobil Arsya sudah terparkir di tempat parkir hotel tersebut, dia keluar dari mobil dan bergegas menuju ke arah kamar di mana salah satu sahabatnya berada, namun saat dia hendak masuk ke dalam lift suara Bima pun memanggilnya.


" Arsya! Aku di sini..." Panggil Bima, Arsya menoleh ke arah kanan di mana suara Bima menggelegar, dia tersenyum dan melangkah menuju ke arah Bima yang sedang duduk di lobby.


" Ngapain kamu sendirian di sini? Mana yang lain?"


" Alvaro dan Dewa ke kantor polisi, karena Alvaro sudah dihubungi oleh pihak yang berwajib untuk memberikan keterangan tentang si Hendri itu. Sedangkan aku memang sengaja menunggu kamu di sini."


" Naik apa mereka, bukankah mobil aku bawa? "


" Mereka berdua menggunakan mobil inventaris hotel."


Arsya menganggukkan kepalanya.


" Kita harus mengoreksi terlebih dahulu semuanya apakah sudah pas atau tidak siapa yang kita pilih orangnya dan memeriksa lagi apa yang harus di perbaiki, agar semua tidak ada lagi noda yang menempel di hotel ini." Terang Bima sembari tersenyum.


" Oke..." Ucap Arsya sembari melangkah kembali bersama Bima menuju kedalam lift, dan menuju keruangan Administrasi hotel.


Didalam lift...


" Oh ya, ada kabar dari keluarga Pak Haris, pamannya dari Hendri."


" Ada kabar apa?"


" Pak Haris meninggal dunia.."


" Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, ini karena pasti dia mendengar kalau keponakannya itu sudah berbuat curang."


" Ya begitulah menurut ceritanya."


" Kapan kita pulang dari sini ?" Tanya Arsya, mereka melangkah keluar bersamaan dari dalam lift tersebut.


" Menurut Alvaro besok, karena kita harus menginap satu malam dulu di sini untuk membenahi semuanya dan memastikan semuanya di sini memang sudah benar-benar bersih dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan membenahi semua administrasinya."

__ADS_1


Arsya menganggukkan kepalanya, mereka berdua kemudian memasuki ruangan Administrasi hotel untuk memeriksa kembali semuanya.


***


Keesokan harinya tepat jam 08.00 pagi mereka pun bersiap-siap untuk meninggalkan Hotel Wibawa, karena pekerjaan mereka dan tugas yang diberikan oleh Papa Abiyasa sudah mereka selesaikan dengan sebaik mungkin, mereka memastikan tidak ada lagi orang-orang yang tidak bisa menghargai kepercayaan orang yang ada di hotel Wibawa tersebut.


Mobil yang dikendalikan oleh Bima pun meninggalkan Hotel Wibawa.


" Bim... Kamu antarkan aku terlebih dahulu ya sampai rumah." Ucap Arsya.


Mereka bertiga pun menoleh sesaat ke arah Arsya.


" Kenapa mesti ke rumahmu terlebih dahulu, padahal kan kita ini melewati rumahku dulu." Ucap Dewa.


" Karena ada hal yang sangat penting, aku ingin segera sampai di rumah dan mengambil mobilku."


Mereka bertiga lagi-lagi saling bertatapan, kemudian mereka pun tersenyum, karena mereka memahami akan Arsya.


" Kenapa kalian tersenyum?" Tanya Arsya sembari melihat ke arah ketiga sahabatnya tersebut.


" Ya iyalah kami tersenyum, kami itu paham kok dengan kamu." Ucap Alvaro.


" Memang kalian memahami apa?Awas lho, jangan berpikiran yang nggak-nggak." Ucap Arsya tersenyum.


" Kami tidak berpikir yang enggak-enggak, cuma satu pikiran aja, ya nggak Varo, Bim..." Ucap Dewa sembari terkekeh, diikuti oleh Alvaro dan Bima, sedangkan Arsya hanya tersenyum getir, karena dia tidak mengira kalau ketiga sahabatnya itu mengetahui keinginan dia yang ingin menjemput Ayana.


" Kamu ingin menjemput Ayana kan?" Tanya Dewa.


Arsya pura-pura terkejut dengan ekpresinya yang dibuat sedemikian rupa.


" Hadehhh....! Udah deh, nggak usah terkejut segala, kami tahu kok, kami mendukung kamu, memang seharusnya kamu itu bangkit dari keterpurukan kamu kehilangan seseorang yang sangat kamu cintai, tapi kamu tidak merasa nggak sih kalau Ayana itu sangat mirip sekali dengan Aisya." Ucap Dewa sembari menoleh ke arah Arsya.


Arsya hanya menghela nafasnya dengan dalam.


" Benar apa yang dikatakan Dewa, aku juga memperhatikan kalau Ayana itu sangat mirip sekali dengan Aisya, kamu juga tidak sadar ya kalau dilihat nama Ayana juga sangat mirip dengan Aisya, Ayana Aisya Putri." Ucap Bima.


" Mungkin dia ditakdirkan untuk kamu Sya, kamu harus mengungkapkan isi hati kamu pada Ayana, sebelum Ayana diambil orang." sambung Alvaro.


Di anggukkan Bima dan Dewa.


Arsya hanya menghela nafasnya dengan panjang dan menyandarkan tubuhnya di jok mobil tersebut.


Hening! Di dalam mobil tidak ada lagi pembicaraan satu sama lain, mereka membiarkan Arsya larut dalam pikirannya, karena Arsya masih merasa bimbang dan ragu, dia sebenarnya ingin mengatakan cinta pada Ayana, tapi dia takut Ayana sudah memiliki belahan jiwa yang lain.

__ADS_1


__ADS_2