CAHAYA CINTA

CAHAYA CINTA
CAHAYA CINTA 38


__ADS_3

BAB 38🌹


Arsya kemudian membukakan pintu mobilnya, Bapak tersebut pun memegang mobil Arsya.


" Kamu bohong ya Nak, ini bukannya mobil angkot, tapi sepertinya ini mobil mewah."


" Bapak salah, ini adalah mobil angkot yang saya modifikasi sendiri, agar terlihat seperti mobil kebanyakan yang dipakai orang kaya."


Bapak tersebut menyunggingkan senyum di wajahnya.


" Kamu bisa aja, namanya juga anak muda ya, tidak mau dikatakan sebagai sopir angkot, jadi mobilnya dimodif seperti mobil orang kaya, Hehehe...." Ucap si Bapak itu.


" Ya benar Pak, terkaan Bapaknya itu sangat benar sekali."


Arsya tersenyum sembari bergumam.


" Maafkan Aku ya pak, bohong sama Bapak, dari pada Bapak sendirian di jalan."


Arsya pun mempersilahkan Bapak tersebut masuk ke dalam mobilnya, Dia kemudian menutup pintu mobil tersebut, Bapak itu pun bergumam di dalam hatinya.


" Sepertinya anak ini bohong padaku, masa mobil angkot di modif seperti ini, rasanya dingin sekali, sejuk....Berada di dalamnya, tidak kepanasan seperti tadi di saat aku berada di luar." Ucapnya di dalam hatinya.


" Di mana rumah Bapak...?"


" Di jalan Delima satu nomor 45, jalannya bisa kok masuk angkot Nak, Oh ya Nak angkot ini berapa ongkosnya?"


Arsa pun menoleh sesaat ke arah Bapak yang ada di sampingnya,, Dia terlihat memegang uang lima ribu.


" Hari ini angkotnya gratis Pak."


" Jangan Nak! Kamu kan juga bekerja."


" Tidak Pak, hari ini saya memang menggratiskan orang yang naik angkot saya ini."


Bapak itu pun menganggukkan kepalanya.


" Oh ya Nak, siapa namamu?"


" Nama saya Arsya."

__ADS_1


" Nama Bapak Arvan."


" Kita sudah sampai pak, di depan rumah Bapak."


Arsa kemudian turun dari mobilnya dan membukakan pintu mobil tersebut, kemudian Bapak itu pun turun dari mobil, Arsya mengambil beberapa uang dari dompetnya dan memasukkannya ke dalam kantong kresek yang ada dipegang oleh Pak Arvan tersebut.


" Terima kasih Ya Nak sekali lagi, atas tumpangannya, semoga rezekimu selalu bertambah banyak dengan kamu menggratiskan saya ikut angkot kamu." Ucap pak Arvan tersenyum.


" Iya Pak sama-sama, Saya permisi dulu ya Pak." Ucapnya kemudian dianggukan oleh Pak Arvan, Mobil Arsya pun meninggalkan rumah Pak Arvan dan melajukannya menuju ke arah rumah kedua orang tuanya.


Salah satu tetangga pak Arvan pun mendatanginya sembari merasa kagum dengan Pak Arvan karena bisa menggunakan mobil mewah yang mengantarkannya itu.


" Wah Pak Arvan, beruntung sekali ya...."


" Kenapa Bu?"


" Bapak ikut mobil mewah."


" Bukan Bu, itu mobil angkot yang dimodifikasi seperti mobil orang kaya, itu cerita dari sopir angkotnya."


" Saya ini bisa melihat pak, tidak seperti Bapak, saya melihat sendiri kalau mobil itu memang mobil mewah, pengemudinya juga sangatlah tampan seperti orang kaya."


Pak Arvan pun terdiam dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Tetangga pak Arvan menoleh ke arah anak Pak Arvan tersebut.


" Ibu jangan sekali-kali bilang seperti itu ya! Bapak saya memang tidak bisa melihat! tapi jangan dikatain seperti itu dong."


" Saya tidak mengatainya Ayana...Karena saya melihat sendiri kalau Bapak kamu itu diantar oleh seorang laki-laki tampan menggunakan sebuah mobil mewah, tapi Bapak kamu itu mengatakan kalau dia itu ikut mobil angkot, apa saya salah? Tidak kan."


" Bapak tadi ke mana?"


" Bapak mau beli ini Nak." Ucapnya sembari memberikan kantong kresek tersebut pada Ayana, dia pun langsung membuka kresek itu, dia terkejut karena melihat beberapa lembar uang kertas ada di dalam kresek itu, namun dia tidak langsung mempertanyakannya kepada Bapaknya, dia tidak ingin diketahui oleh tetangganya itu, karena dia tidak ingin tetangganya itu berpikir yang tidak-tidak tentang Bapaknya itu.


" Ya udah, Ayo pak kita masuk." Ucapnya tidak menghiraukan tetangganya yang memang sering kepo dengan kehidupan keluarga Ayana.


" Iishhtt!...Dia malah pergi begitu aja, sudah dibilangin juga malah tidak mau terima kasih." Ucap tetangganya itu, kemudian berlalu dari hadapan Rumah Ayana.


Sesampainya di dalam pun Ayana kemudian menatap ke arah sang Bapak yang sedang duduk di lantai ubin keramik rumahnya tersebut, karena rumah mereka tidak menggunakan sofa ataupun sejenisnya.

__ADS_1


" Sekarang katakan pada Ayana, Bapak datang dari mana? Kenapa di dalam kantong kresek belanjaan Bapak ini ada uang beberapa lembar.?"


Terlihat Pak Arvan merasa terkejut dengan ucapan anaknya itu, Dia kemudian memalingkan wajahnya ke arah anaknya, Walaupun dia tidak bisa menatap wajah cantik anaknya itu.


" Bapak tidak tahu Nak, uang itu dari mana, Bapak hanya membawa uang dua puluh ribu aja, karena Bapak ingin membeli makanan ini, kalau menunggu kamu terlalu sore, jadi Bapak memberanikan diri untuk keluar rumah, Alhamdulillah Bapak menemukan penjualnya dan kembalian uangnya lima ribu, tidak tahu Bapak uang itu dapat dari mana."


Ayana pun hanya menghela nafasnya dengan panjang.


" Siapa yang memberikan uang ini pada Bapak? apa jangan-jangan yang dikatakan oleh Ibu Irma itu memang benar, orang kaya yang mengantarkan Bapak terus memberikan uang pada Bapak karena merasa kasihan sama Bapak." Ucapnya.


Pak Arvan hanya terdiam, dia tidak bisa menjawab ucapan Ayana.


" Di mana aku harus menemukan laki-laki itu, aku ingin mengembalikan uang ini karena aku tidak ingin keluargaku dikasihani, Aku tidak ingin Bapak dikira pengemis."


" Bapak juga tidak tahu Nak, siapa dia, dia begitu saja datang sama bapak dan mengantarkan Bapak ke rumah ini, Bapak sebenarnya juga merasa kalau mobil itu mobil mewah, tapi dia sendiri yang mengatakan kalau mobilnya itu mobil angkot yang dimodifikasi seperti mobil orang kaya, Bapak ingat namanya Arsya."


" Arsya? Sepertinya aku tidak asing dengan nama itu." Gumam Ayana.


" Di mana Bapak Bertemu dengannya?"


" Bapak juga tidak tahu, tapi waktu itu bapak bertemu dengan dia di depan penjual makanan ini, Ayana pun membuka makanan yang dibeli Bapaknya tersebut, dia mengetahui penjual itu sering mangkal di pertigaan jalan Rambutan.


" Baiklah pak, nanti Ayana yang akan mencari tahu siapa laki-laki itu dan mengembalikan uang ini."


" Iya Nak, Maafkan Bapak ya."


" Iya Pak, tidak apa-apa, lain kali kalau Bapak pengen sesuatu Bapak bisa katakan sebelum Ayana berangkat kerja, biar Ayana yang membelikannya."


" Ya Nak."


Ayana pun kemudian membawa makanan yang dibeli oleh Bapaknya tersebut kearah dapur dan menyiapkan untuk sang Bapak.


***


Tepat jam 07.00 malam Mereka pun kemudian berkumpul di sebuah rumah pribadi milik Alvaro, rumah hadiah ulang tahun Alvaro dari kedua orang tuanya. Mereka kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa rumah tersebut sembari menyusun rencana yang akan mereka lancarkan.


" Siap sekarang kalian?" Tanya Dewa.


" Sudah siap!" Ucap mereka bertiga.

__ADS_1


Kemudian mereka pun berbicara tentang rencana yang akan mereka lancarkan agar bisa membuat kinclong Pak Yanuar.


Mereka pun kemudian memahami rencana Dewa, lalu mereka meninggalkan rumah kediaman Alvaro menuju ke arah rumah kediaman pribadi Pak Yanuar yang mereka dapatkan dari pihak kantor, karena sebelum mereka pulang kantor mereka meminta alamat rumah lengkap kepala bagian OB itu.


__ADS_2