
BAB 37 🌹
Dewa yang melangkah mendekati mereka pun langsung duduk di samping Bima.
" Kok lama amat sih Wa, ke belakangnya?" Tanya Bima.
" Aku tadi sebenarnya udah selesai ke belakangnya, namun aku mendengar ada dua orang OB yang berbicara, benar kata kamu Bima tentang permasalahan yang dihadapi Bianca kekasih kontrakmu itu."
" Kok bilangnya seperti itu sih,.." Delik Bima.
" Terus aku bilangnya gimana Bunglon? kamu kan memang di kontrak Bianca hehehe...."
" Harusnya bilang itu kekasih beneran, capung! Hahahaha..."
Mereka pun tertawa...
" Berita apa yang kamu dengar Dewa?" Tanya Arsya.
" Kalian mau tahu?..."
Mereka mengangguk...
Dewa pun Kemudian menceritakan semua yang didengar olehnya sampai selesai dan mereka pun mendengarkan cerita Dewa.
" Kurang gula! " Ucap Bima sembari meletakkan gelas minumannya, mereka menatap kearah Bima.
" Kalu kurang gula noh tamba sana!" Ucap Dewa.
" Bukan minumannya Dewa..."
" Terus kenapa bilang kurang gula?"
" Kalau aku sebut kurang itu, kurang ini, ntar heboh lagi paham kan apa yang aku maksud, wahai Mas Dewa yang masih mencari Mbak Dewi yang tidak tahu ada dimana Mbak Dewinya itu terperangkap...Heheheh." Ucap Bima sembari menyentuh dagunya Dewa membuat Dewa menepiskan tangan Bima sembari mendelikkan matanya ke arah Bima.
"Alvaro, dan Arsa hanya tertawa melihat ulah kedua sahabatnya itu.
" Kembali ke pokok permasalahan, kita harus menyelesaikan ini semua." Ucap Alvaro dianggukan oleh ketiga sahabatnya tersebut.
" Kalian mau tahu mereka itu dulunya takutnya sama siapa?"
"Siapa??" Ucap ketiganya.
" Harimau betina yang ada di sini!"
__ADS_1
" Harimau Betina ?" tanya mereka bertiga lagi sembari menatap ke arah Dewa.
Dewa pun memuncungkan mulutnya ke arah Bima, Arsya dan Alvaro saling pandang, kemudian menatap ke arah Bima membuat Bima merasa heran Bima pun langsung protes.
"Lho! Kenapa kalian melihat ke arahku? Aku bukan Betina melainkan aku laki-laki Bro..."
Alvaro pun sadar Apa yang dimaksudkan oleh Dewa.
" Ya benar banget, Harimau Betina!" Ucap Alvaro tersenyum.
"Isht! Apa-apaan sih! Kenapa aku yang dibilang Betina? Kan aku sudah bilang, aku ini laki-laki tulen...Apa perlu bukti??" Ucapnya menatap para sahabatnya.
" Boleh! Tunjukkan segera....!" Ucap Arsya dan Alvaro, sedangkan Dewa terkekeh.
" Hehehe....Canda bukti..." Ucap Bima hanya mengekspresikan wajahnya yang malu-malu.
Mereka bertiga tertawa...Membuat penghuni kantin itu pun menatap kearah mereka berempat, namun mereka tidak memperdulikan tatapan mereka yang keheranan itu.
" Tapi aku penasaran, siapa sih Harimau Betina itu?" Tanya Bima.
" Kan sudah dibilang sama Dewa, siapa Harimau Betinamya." Sambung Arsya
" Aku tidak terlalu jelas, kalian kan mengatakan kalau Harimau betina itu aku kan, sedangkan aku lelaki."
" Iya! Kamu adalah Harimau Betina, tapi versi laki-laki Broo..." Ucap Alvaro.
" Mamah?!"
Mereka bertiga pun menganggukkan kepalanya...
" Widih!! Mamahku hebat juga ya, jadi Harimau Betina di sini, tapi mereka juga tidak sadar kalau masih ada titisannya di sini, kita bisa membasmi mereka sekarang.!"
" Itu pasti!!" Ucap ketiga sahabatnya.
" Kalau didengar ceritanya dari Dewa, kasihan juga mereka ya... Jangan mentang-mentang mereka memiliki pendidikan rendah lalu direndahkan sama sekali dan tidak diberi hak-hak mereka." ucap Arsya dianggukan oleh Alvaro Bima dan Dewa.
" Kita akan menyusun rencananya, kita tidak perlu langsung menuju ke ruangannya ataupun menangkap basah dia di kantor ini, aku memiliki rencana sendiri." Ucap Dewa.
" Bagaimana Rencananya."
" Jangan bicara disini, ntar malam kita kumpul dirumah baru Alvaro aja biar kita bisa membicarakannya." Ucap Dewa.
Dianggukkan mereka akhirnya kesepakatan pun ditentukan, mereka kemudian berdiri dari duduknya dan menuju ke arah ruangan mereka setelah mereka membayar makan siang mereka.
__ADS_1
Tidak sedikit yang tahu kalau mereka adalah karyawan baru di kantor Wibawa Group, tapi tidak dengan kepala OB yang berada di ruangannya itu, dia tidak mengetahui kalau ada penambahan karyawan di kantornya tersebut, dia hanya duduk santai di ruangannya dan dia tidak pernah mengerjakan apapun selain mengawasi anak buahnya, walaupun sebenarnya pekerjaan dia banyak namun dilimpahkannya kepada anak buahnya tanpa sepengetahuan yang lain.
" Beberapa tahun ini aku merasa orang yang sangat bahagia, karena apapun keinginanku terpenuhi, sedangkan gaji pokok ku sendiri tidak terganggu, aku bisa mengambil dari mereka yang sudah menuruti kehendakku dan tidak terlalu banyak protes yang terpenting mereka bisa menerima gajinya setiap bulannya, sedikit-sedikit lah bonus untuk mereka... Hahaha." Ucapnya sembari menaruh kedua kakinya di atas meja dan menyandarkan tubuhnya di kursi sembari menikmati sebatang rokok yang ada di tangannya itu.
" Ternyata enak juga tidak ada si Mak Lampir itu, kalau seandainya dia masih ada di sini mungkin aku tidak bisa menikmati hari-hariku seperti ini, dia selalu aja mengawasi kepala bagian yang lain-lain, aku rasa kepala bagian yang lainnya juga merasa senang setelah dia tidak berada di kantor ini lagi dan aku leluasa melakukan apa saja yang aku inginkan, karena tidak terlihat sama sekali, aku selalu bermain dengan halus."
Lagi-lagi dia pun terkekeh, merasa senang karena tidak ada lagi penghalangnya, semenjak Clarissa ditempatkan di perusahaan baru untuk menjadi pimpinan di sana.
Pintu ruangannya pun diketuk seseorang, dia menoleh ke arah ruangan terlihat Udin membuka pintu ruangannya, dia menoleh ke arah Udin.
" Ada apa kamu ke sini, aku tidak menyuruh kamu masuk ke ruanganku!"
" Saya disuruh Bu Widya untuk mengantarkan kertas ini pada Bapak."
" Letakkan saja di atas mejaku." Ucapnya.
Udin pun melangkah mendekat menuju ke arah meja kerjanya Pak Yanuar setelah meletakkan kertas titipan Bu Widya bagian kehadiran karyawan, Udin lalu keluar sambil melirik ke arah Pak Yanuar yang begitu santainya meletakkan kaki di atas meja, Udin pun bergumam di dalam hatinya.
" Ya Tuhan, sombong sekali dia ini, menganggap bahwa kantor ini milik dia sendiri, suatu saat pasti akan ketahuan juga belangnya." Ucapnya di dalam hati sembari melangkah meninggalkan Pak Yanuar tersebut dan menutup kembali ruangan itu.
***
Setelah jam pulang kantor mereka pun kemudian melangkah menuju ke arah mobil mereka masing-masing karena rencana mereka akan dilanjutkan jam 07.00 malam setelah sholat Isya.
Alvaro, Bima, Dewa, dan Arsya, meninggalkan kantor Wibawa group menuju ke rumah orang tuanya masing-masing.
Arsya yang mengendarai mobil pribadinya itu pun dengan kecepatan sedang dan fokus menatap lurus ke depan, namun di saat dia melewati sebuah penyeberangan untuk khusus pejalan kaki Dia melihat seorang lelaki tua yang menggenggam tongkat yang terbuat dari kayu hendak menyeberangi jalan namun terlihat sekali dia kesulitan melewatinya, Kemudian Arsya mendekatinya dan turun dari mobilnya itu.
Arsya mendekati lelaki paruh baya itu, dan menegurnya.
" Bapak mau ke mana ?" Tanyanya sembari menyentuh tangan lelaki paruh baya tersebut.
Namun Arsya terkejut, ternyata lelaki tua itu tidak dapat melihat.
Lelaki paruh baya itu pun kemudian memegang tangan Arsya dengan satu tangannya yang membawa sebungkus kantong kresek hitam.
" Apakah Bapak sudah sampai di tempat parkiran angkot?" Tanyanya.
" Parkiran angkot ? Memangnya Bapak mau ke mana ?
" Bapak mau pulang, pasti anak Bapak sangat khawatir, seharusnya Bapak menuruti apa kata anak Bapak, tidak boleh keluar rumah kalau dia belum datang dari bekerja, Bapak harus cepat-cepat sampai di rumah, makanya Bapak menuju ke parkiran angkot."
" Bapak sudah benar, kalau Bapak sudah sampai di tempat parkiran angkot, saya adalah sopir angkotnya, ayo saya antar ke rumah bapak sekarang."
__ADS_1
" Benarkah Nak...?"
" Iya Pak..." Ucapnya sembari mengarahkan Bapak tersebut menuju ke arah mobil pribadinya.