CAHAYA CINTA

CAHAYA CINTA
CAHAYA CINTA 26


__ADS_3

BAB 26 🌹


" Kita lihat aja nanti siapa yang akan dihubunginya, Aku merasa dia tidak ada hubungan sama sekali dengan keluarga Alvara, karena terlihat jelas diwajahnya menyimpan kebohongan." Gumam Bima didalam hatinya sembari menyunggingkan senyumannya disudut bibirnya.


" Iya sayang, cepat hububgi aja langsung keluarga kamu, biar dia merasakan akibatnya." ucap Prily.


" Nggak usah Pak Daffa,jangan dihubungi, nanti masalahnya semakin panjang, mohon maaf bila kekasih aku ini terlalu ceplas ceplos,maafkan dia, aku akan pergi dari sini." ucap Bianca sembari berdiri dan meraih tangan Bima untuk mengajaknya pergi dari hadapan mereka.


" Ayo kita pergi sekarang, kalau kamu berlaku kaya gitu, lambat laun kita akan ketahuan!" bisik Bianca ditelinga Bima.


Bima tertawa pelan kemudian dia menarik pelan tangan Bianca agar menyuruhnya untuk tetap duduk kembali, dan diapun menatap Bianca jauh dibening bola matanya sembari berucap.


" Aku tidak akan pergi dari sini sebelum mendengar langsung kalau si meja strikaan itu menghubungi salah satu keluarga Wibawa yang katanya dia adalah keluarga dekatnya itu!" ucap Bima membuat Bianca terkejut dan terlihat ada rasa kecemasan diwajahnya, Daffa pun langsung menyahut.


" Bagus! kalau kamu ingin tetap disini!" ucapnya sembari menatap marah terhadap Bima.


Bima hanya tetap tersenyum dan menatap Daffa dengan penuh arti.


Terlihat Daffa mengambil ponselnya dan membuka ponselnya kemudian dia pun menepuk jidadnya sembari bersuara.


" Astaga! aku lupa nomer semua keluargaku itu ada diponsel satunya." ucapnya tersenyum.


" Hahaha...itu artinya kalau kamu bukan dari keluarga Wibawa."


" Hei!!! Jangan asal bicara ya! aku memang benar dari keturunan keluarga Wibawa."


" Kamu bukan keturunan dari keluarga Wibawa melainkan dari keluarga yang langka.."


Daffa pun langsung menatap kearah Bima.


" Aku saja yang akan menghubungi salah satu keluarga Wibawa tepatnya Anaknya yang berada diluar Negeri itu!" ucap Bima.

__ADS_1


Sontak saja membuat mereka yang ada diruang tengah itu pun terkejut dan menatap tidak percaya pada ucapan Bima, terutama Daffa.


" Siapa Bima ini!!" gumamnya dalam hati.


" Astaga Bima! apa yang kamu lakukan? aku tidak ingin kita jadi sasaran keluarga Wibawa!"


ucap Bianca sembari menatap kearah Bima.


" Kamu tenang aja...Aku akan mengurus semuanya." ucap Bima menyakinkan Bianca.


" Wah! Sok-sokan ya kamu mau menghubungi, aku rasa kamu itu hanyalah menghubungi orang lain yang mengatas namakan keluarga Wibawa!!" ucap yang lain meremehkan Bima dengan senyuman mengejeknya itu, dan yang lainnya pun ikut tertawa lepas menertawakan Bima.


Bima hanya tersenyum di sudut bibirnya dan diapun langsung mengambil ponselnya dan menghubungi nomer Alvara dan meletakkan ponselnya diatas meja dengan posisi loudspeaker menyala, mereka yang memperhatikan itupun langsung terdiam dan saling pandang, terutama Daffa dan Prily yang terus menatap kearah Bima dengan tatapan marahnya.


Ponsel Bima terus berbunyi namun belum dijawab Alvaro, mereka yang memperhatikan ponsel Bima itupun mulai tersenyum karena tidak ada jawaban dari seberang sana.


" Siapa yang bohong disini? Daffa ataukah lelaki itu?" ucap salah satu keluarga Bianca.


Awal pertama memang tidak diangkat oleh Alvaro, menambah kesenangan di wajah mereka dengan kebohongan yang diucapkan mereka pada Bima, lagi-lagi Bima hanya tersenyum saja kemudian kembali menghubungi Alvaro tidak berapa lama suara dari ponsel Bima pun terdengar.


" Ya Bima, Kamu di mana sekarang? kami sudah menunggu kamu di kantor Wibawa group, kenapa sampai sekarang kamu belum sampai juga." ucap Alvara.


" Iya nih Bima, kamu nyangkut di mana Bim.?" sambung suara di dalam ponsel tersebut. Membuat mereka yang ada di ruangan itu pun terkejut, Bima kemudian mengambil ponselnya yang sudah tersambung dengan Alvaro itu.


" Aku lagi ada di suatu tempat, Oh ya Alvaro Aku ingin bertanya denganmu, apakah kamu mengenal seorang Daffa.?"


" Daffa? Daffa siapa?"


Bima pun kemudian mengganti panggilan suaranya itu menjadi panggilan video call, Bima sengaja menggunakan video call pada Alvaro agar Alvaro bisa melihat langsung wajah Daffa.


" Tuh orangnya, apakah kamu mengenal dia?" tanya Bima.

__ADS_1


" Siapa dia? aku tidak mengenal sama sekali dia, bahkan aku pun baru melihat saat ini, memang dia kenapa.?"


Bima terdiam sejenak, sedangkan Bianca pun merasa heran dia menatap ke arah Bima sembari bergumam.


" Siapa laki-laki yang ada di sampingku ini, bukankah dia bekerja di bagian Biro kontrak kekasih, kenapa dia mengenal keluarga Wibawa?" ucapnya merasa heran.


Bima menoleh ke arah Bianca, kemudian dia pun menyentuh tangan Bianca, membuat Bianca terkejut jantung Bianca pun berdegup kencang karena dia tidak ingin membuat kesalahan di keluarga Wibawa dia tetap ingin bekerja di kantor tersebut.


Bianca pun berusaha melepaskan tangannya dari tangan Bima, namun Bima tetap memegangnya dan tidak melepaskan Bianca, Bianca hanya pasrah sembari menghela nafasnya dengan panjang sembari bergumam kembali di dalam hatinya dan meletakkan tangannya di kedua keningnya tersebut.


" Ya Tuhan apa yang akan terjadi nantinya denganku, karena aku sudah mengajak orang yang kenal dengan keluarga Wibawa dengan dekat, Matilah aku huhuhuhu..." gumamnya sembari memejamkan matanya.


" Kalau boleh tahu siapa mereka? Kenapa kamu bisa kenal dengan mereka terutama si Daffa itu, ada masalah apa kamu di sana Bima, kalau kamu perlu bantuan kami akan segera ke sana kirim alamatnya segera Bim?" sambung Dewa.


" Tidak usah Dewa, aku bisa menangani semua ini yang aku ingin tahu aja apakah kalian mengenal dia, karena dia mengaku sebagai keluarga Wibawa tepatnya keturunan Wibawa entah yang ke berapa." ucap Bima.


" Apa? apa aku tidak salah dengar nih?! mengaku sebagai keluargaku!" ucap Alvaro, Bima menganggukkan kepalanya.


" Sekarang kirim alamatnya, aku akan menemuinya sendiri." ucap Alvaro.


Bima tersenyum mendengar ucapan Alvaro.


" Tidak usah Alvaro, aku akan menghadapinya sendiri, sebentar lagi aku akan menemui kalian, aku akan menyelesaikan semuanya."


" Baiklah kalau seperti itu, kalau kalian memang tidak mengenal dia, aku akan menyelesaikannya sendiri Assalamualaikum..."


" Waalaikumsalam..." ucap mereka berbarengan di seberang sana, Bima pun kemudian memutus sambungan bicaranya tersebut dan meletakkan kembali ponselnya di atas meja sembari tersenyum menatap ke arah Dafa yang sudah mulai gelisah menundukkan kepalanya sembari memainkan jari jemarinya itu.


" Sebenarnya siapa laki-laki yang ada di hadapanku ini, terbongkarlah sudah siapa sebenarnya diriku ini di hadapan mereka." gumamnya


Terlihat buliran bening keringat mengalir diwajah Daffa karena sebentar lagi kebohongannya akan terbongkar di hadapan keluarga Prilly yang sudah sangat membanggakan kekayaan dari Daffa, Prilly kemudian menyenggol Daffa sembari bersuara.

__ADS_1


" Kenapa bisa dia mengenal keluargamu, kenapa kamu diam saja bahkan orang yang ada di dalam telepon tersebut pun tidak kenal denganmu, siapa yang berbohong disini? kamu atau dia!" ucap Prilly sembari menatap ke arah Daffa dengan tatapan penuh tanda tanya besar.


__ADS_2