
BAB 65 🌹
" Memang kenapa kalau aku menjadi calon suaminya Ayana, itu sah-sah saja kan."
" Itu tidak akan pernah aku biarkan!!" Teriak keras pak Hendri.
Alvaro kemudian berdiri dari duduknya.
" Kamu marah ya? Calon istri kamu diakui sama orang lain, begitu juga dengan aku! Aku lebih marah lagi padamu, Bahkan kamu akan aku penjarakan sesuai dengan perbuatan kamu yang sudah ingin menjual aset keluargaku.!!"
Pak Hendri terdiam, Dia kemudian menundukkan kepalanya.
" Sekarang lebih baik kamu jujur saja, apa yang membuat kamu ingin menghancurkan keluarga Wibawa?" Tanya Dewa sembari menatap ke arah Pak Hendri.
" Aku tidak pernah ingin menghancurkan keluarga Wibawa, tapi aku di sini tidaklah salah, jelas-jelas tertulis diberkas itu pemilik hotel ini adalah Haris, kenapa kalian masih ngotot ingin menyalahkan aku, aku disini sekedar ingin mencari orang yang ingin membeli hotel ini, kalau kalian tidak ingin membelinya silakan saja kalian keluar, jangan mengaku-ngaku sebagai keluarga Wibawa, karena aku tahu pak Abiyasa tidak memiliki anak yang seperti kalian." Ucapnya, namun dia tidak sadar mengatakan kalau dia mengenal papah Abiyasa.
" Apa Pak Abiyasa? Katanya kamu tidak kenal dengan pak Abiyasa kenapa sekarang kamu mengatakannya kalau kamu tidak mengetahui pak Abiyasa memiliki anak lelaki?!" Ucap Arsya.
Sontak saja pak Hendri terkejut dan dan menundukkan kepalanya sembari bergumam.
" Astaga! Betapa Bo*dohnya aku, kenapa aku katakan kalau kalau pak Abiyasa itu tidak punya anak lelaki,akukan memang tidak tahu ada dan tidaknya anaknya! Matilah aku!!" Gumamnya sembari memejamkan matanya sesaat meresapi kebo*dohannya itu.
" Heh! Makanya kalau mau berbohong itu belajar dulu pada ahlinya." Ucap Bima sembari menunjuk kearah Dewa, Dewa yang awalnya tersenyum langsung sadar apa yang diucapkan Bima padanya, dia hanya mendelik kearah Bima.
" Aku ogah punya murid kayak sih Hendri ini, karena bohong aku itu berfaedah, tidak seperti dia berbohong pada istrinya, berbohong juga pada orang yang percaya dengannya, dan menyalahgunakan jabatannya sebagai manajer di hotel ini, serta berani-beraninya dia ingin menjual Hotel milik orang lain dengan atas nama orang lain juga.!" Ucap Dewa.
__ADS_1
" Bener banget cocoknya dia ini kita kasihkan pada orang yang memang bisa memproses kesalahannya." Sambung Arsya.
" Kalau kamu belum tahu siapa sebenarnya anak dari pak Abiyasa keturunan Wibawa asli, kamu harus mencari tahu siapa anak dari Pak Abiyasa itu, kamu tidak tahu siapa anak bapak Abiyasa itu? Sini aku kasih tahu, dia memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan dan sekarang salah satu dari anaknya itu ada di hadapan kamu!!" sambung Bima sembari menunjuk kearah Arsya namun langsung arah tangan Bima diluruskan Arsya kearah Alvaro.
" Bukan disini Bima tapi disana.." Ucap Arsya tersenyum lebar.
" Oh iya,biasa lagi esmoni, makanya salah arah." Ucap Bima tersenyum dalam amarahnya pada pak Hendri.
Namun terlihat Pak Hendri tetap tidak percaya kalau Alvaro adalah anak dari Papah Abiyasa, pintu ruangan itu pun diketuk beberapa kali, Arsya membukakan pintu tersebut dia melihat wajah cantik Ayana, Arsya pun tersenyum.
" Silahkan masuk..." Ucapnya.
Ayana melangkah menuju ke arah mereka.
" Silahkan duduk Ayana..." Sambung Dewa.
" Yang aku takutkan akhirnya terjadi juga." Gumam Farhan terlihat wajahnya menampakan rasa cemasnya sesekali dia mengusap wajahnya yang tidak berkeringat, namun sekujur tubuhnya sudah mengeluarkan keringat dingin.
Sebelum mereka berbicara mereka dikejutkan dengan pintu ruangan pak Hendri terbuka dengan lebar.
" Papah!" Panggil seorang perempuan tidak terlalu tua dan tidak juga terlalu muda, mereka menatap kearah sang ibu tersebut dan menatap heran karena baru kali ini mereka melihat sang ibu tersebut.
Wanita itu tak lain adalah Bu Fany istrinya pak Hendri dan diapun menghentikan suaranya seketika setelah dia melihat banyak orang diruangan suaminya itu dan matanya tertuju pada sosok seorang gadis yang sedang duduk tidak jauh dari suaminya tersebut. Dia terus menatap tajam ke arah Ayana, dia pun mulai berpikiran kalau Ayana adalah wanita simpanan sang suami, sehingga suaminya itu rela menceraikannya.
" Apa jangan-jangan itu wanitanya Mas Hendri, sehingga Mas Hendri mencampakkan aku begitu saja dan sekarang dia sepertinya dipergoki berduaan di dalam ruangan ini,dan mereka berdua di sidang mendadak seperti ini." Gumamnya sembari menyunggingkan senyum sinisnya di sudut bibirnya tersebut.
__ADS_1
Dia melangkah mendekati Ayana dengan cepat, saat dia hendak meraih tubuh Ayana, Arsya yang dekat dengan Ayana langsung menepiskan tangan Bu Fany.
" Heh Bu! Jaga sikap ibu, memangnya ibu ini siapa?"
" Kenapa kamu melindungi wanita itu!! Pasti wanita itu adalah wanita simpanan dari suami saya!"
" Dia bukan wanita simpanan dari suami Ibu, melainkan dia adalah calon istri saya, kalau ibu mau tahu ceritanya silakan ibu duduk di sini! Biar ibu tahu apa yang terjadi pada suami ibu, sehingga kami berada di ruangan ini dan ibu juga harus tahu bagaimana sikap suami ibu terhadap calon istri saya." Ucap Arsya, lagi-lagi Ayana terkejut, dia pun bergumam di dalam hatinya.
" Ya Tuhan, dua kali laki-laki yang ada di hadapanku ini menolongku dari orang-orang yang jahat." Gumamnya sembari menatap lekat ke arah Arsya, Arsya menoleh sesaat ke arah Ayana, dan dia pun memberikan senyuman termanisnya pada Ayana walaupun sebenarnya Arsya berusaha berdamai dengan detak jantungnya, saat bola mata Ayana menebus pancaran bola matanya Arsya, mereka berdua saling pandang sesaat, Arsya pun kemudian dikejutkan oleh suara dari ibu Fany yang mencak-mencak ingin meraih Ayana, namun tidak bisa dan dia tetap tidak percaya dengan ucapan Arsya.
" Ibu, lebih baik ibu duduk dulu disana, biar ibu bisa mengetahui apa yang terjadi diruangan ini." Ucap Dewa sembari mendekati ibu Fany.
Bu Fany mendengus dengan kesal dan melangkah menuju sofa yang kosong dan menghentakkan tubuhnya disofa dengan sendekap tangan didada dan menatap sinis pada suaminya dan Ayana.
" Baiklah ibu, sekarang ibu bisa mendengarkan langsung apa yang terjadi." Ucap Dewa.
Ayana menghela nafasnya dan langsung bicara karena dia tidak ingin dikatakan sebagai pengganggu rumah tangga orang lain yang tidak pernah dilakukannya itu.
" Ibu, saya tidak pernah memiliki hubungan gelap sama suami ibu, pak Hendri."
" Ayana!Apa yang kamu katakan barusan, kamu tidak memiliki hubungan khusus padaku, kamu bohong! Jadi apa selama ini yang kamu terima dari ku hah?!!"
" Saya tegaskan saya tidak pernah menerima apapun dari Bapak! Semua yang Bapak berikan pada saya sudah saya kembalikan pada Bapak melalui pak Farhan!" Sangkal Ayana.
" Apa?!" Ucap Pak Hendri.
__ADS_1
" Aduh!! Celaka aku!" Gumam Farhan sembari menundukkan kepalanya, dan pak Hendri menatap tajam pada Farhan.
Sedangkan sang istri menatap lekat kearah suaminya dengan tatapan amarahnya.