CAHAYA CINTA

CAHAYA CINTA
CAHAYA CINTA 44


__ADS_3

BAB 44🌹


Sesampainya di lantai atas pak Yanuar pun langsung menuju ke arah ruangannya, namun saat dia hendak membuka pintu ruangannya dia melihat Dewa yang melintas di depan ruangannya, dia pun terkejut dan melepas kacamatanya agar bisa melihat jelas ke arah Dewa, dan Dewa memang mengetahui kalau itu adalah Pak Yanuar, tapi dia pura-pura tidak mengenalnya, sama sekali.


Dewa pun berbalik arah karena melihat Pak Yanuar merasa heran dengan kehadirannya itu, walaupun sebenarnya dia memang sengaja melalui ruangan tersebut.


" Hey pak, Kacamatanya tolong dipasang dong kalau ingin melihat jelas, jangan dilepas pak, apa gunanya kalau bapak berkacamata tapi bila melihat orang malah melepas kacamatanya itu, sama saja Bapak hanya gaya-gayaan menggunakan kacamata itu hehehe..." Ucap Dewa sembari tersenyum, kemudian dia berbalik hendak melangkah meninggalkan Pak Yanuar, namun Pak Yanuar langsung menegurnya.


" Hey...!"


Pak Yanuar melangkah menuju ke arah Dewa.


" Tunggu sebentar!"


Dewa tersenyum sembari kedua tangannya berada di saku celananya.


" Ada apa ya pak?"


" Bukankah kamu ini yang tadi malam datang ke rumah saya? Buat apa kamu di sini? saya kan tidak menerima kamu untuk bekerja sebagai OB di sini. Kok kamu bisa masuk ke dalam kantor ini.?"


" Hahaha..." Tawa Dewa lepas membuat Pak Yanuar kebakaran jenggot, sembari menatap tajam dengan muka amarahnya ke arah Dewa.


" Kenapa kamu tertawa hah! Aku bertanya dengan kamu! Kenapa kamu menjawabnya dengan tertawa hah!!"


" Hemmm...Hehehe...Apa Bapak mengenal saya? Sedangkan saya baru aja melihat Bapak di sini, Oh ya...Hemmm... Lupa saya untuk memperkenalkan diri saya pada pak...(sembari melihat nama yang ada di id card yang dipakai pak Yanuar)" Pak Yanuar, Saya sudah bekerja di sini cukup lama ya, tapi saya baru tuh melihat Bapak bekerja di sini, Apakah Bapak hanya berdiam diri di dalam ruangan saja, sehingga Bapak tidak mengetahui kalau saya sudah ada di sini sejak tiang perusahaan ini didirikan, Bapak ke mana aja Pak! Sampai Bapak tidak mengetahui kehadiran saya pak?!" Ucapnya membuat pak Yanuar bergetar bibirnya menahan amarahnya.

__ADS_1


" Hai! Kamu, jangan bicara yang tidak-tidak, kamu selalu saja mengoceh tidak ada artinya, saya di sini sudah lama bekerja dan menjadi orang kepercayaan di sini, saya tuh yang merekrut semua OB yang ada di sini, kalau tidak ada saya mana ada OB di sini yang bisa dibayar murah!" Ucapnya keceplosan,(Astaga kenapa aku berkata begitu! Aduh! Ketahuan juga nantinya nih). Ujarnya bergumam dalam hatinya.


" Apa Pak? ulangi lagi dong perkataan Bapak dibayar murah? Bukankah disini tidak dibayar murah ya pak, atau jangan-jangan bapak ada sesuatu dengan para OB-OB disini?" Ucap Dewa tersenyum sembari menatap santai pak Yanuar.


Mendengar ucapannya keceplosan seperti itu pak Yanuar pun merasa gelagapan, Dia kemudian menengok kiri dan kanan namun dia menganggap perkataan dia itu tidak terlalu terdengar oleh orang yang lain, terkecuali mereka berdua saja.


" Ehem...( Pura-pura ada sesuatu yang mengganjal ditenggorokannya, sembari menatap kearah lain) Bukan begitu maksud saya, Maksud saya dibayar murah itu mereka mau mengerjakan apa saja dengan diberi bonus ya lumayan banyak lah." Ucapnya.


" Oh begitu ya Pak, Baiklah! lanjutkan saja pekerjaan Bapak, saya mau menuju ke ruangan saya.


" Eh! Saya belum selesai bicara dengan Anda!"


Namun ucapan dari Pak Yanuar tidak diindahkan oleh Dewa, dia hanya melangkah meninggalkan Pak Yanuar dengan menyunggingkan senyumnya, Karena dia sudah bisa membuat Pak Yanuar kebingungan.


" Siapa dia, kenapa dia tidak mengenali aku? Bukankah dia tadi malam bertemu denganku secara langsung? Kenapa di sini dia tidak mengenali Aku dan Dia juga tidak memperkenalkan dirinya padaku, padahal dia mengatakan ingin memperkenalkan dirinya di hadapanku, Apakah dia memiliki saudara kembar yang sama-sama terlalu banyak bicara dan siapa tahu juga dia memiliki banyak istri dan anak juga! Ah! sudahlah yang penting dia tidak ada hubungannya dengan tamu aku tadi malam, mungkin wajahnya aja yang sama." Ucapnya kembali hendak masuk ke dalam ruangannya, namun sebelum dia menutup pintu ruangannya tersebut dia pun dikejutkan oleh asistennya yang selalu diberikannya tugasnya sangat banyak padanya itu dia adalah Rusdi.


Pak Yanuar menoleh ke arah Rusdi dia kembali menutup pintu ruangannya itu.


" Ada apa kamu memanggilku!"


" Mohon maaf Pak, Bapak dipanggil ke ruangan Pak Abiyasa."


" Ke ruangan Pak Abiyasa? Ada apa?"


" Maaf Pak saya tidak tahu, saya diperintahkan oleh sekretarisnya untuk memanggil Bapak, karena Bapak sudah ditunggu di sana."

__ADS_1


" Baiklah! silahkan kamu pergi, aku akan menuju ke sana." Ucapnya.


Rusdi pun menganggukkan kepala dan berbalik arah menuju ke arah ruangannya yang tidak jauh dari ruangan Pak Yanuar itu, pak Yanuar pun kemudian terdiam sejenak kembali bergumam di dalam hatinya.


"Ada apa ini ?Kenapa Bos besar bisa memanggilku, biasanya tidak pernah aku dipanggil olehnya, karena pekerjaanku selalu saja baik di matanya."


Setelah berbicara itu pun dia menghelan nafasnya dengan panjang dan membuka pintu ruangannya, dia masuk ke dalam dan menutupnya kembali Dia meletakkan tas kerjanya dan duduk di kursi kerjanya tersebut.


Dia lagi-agi terdiam, sembari memikirkan apa sebenarnya dia dipanggil oleh Bos besarnya itu, namun dia tidak cepat untuk menuju ke ruangan papah Abiyasa.


Setengah jam berlalu, dia tidak keluar dari ruangannya, dia juga tidak langsung menuju ke arah ruangan Pak Bosnya itu, ketukan di pintu ruangannya itu membuyarkan lamunan dirinya yang masih menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya dan menatap langit-langit ruangan kerjanya itu.


" Masuk!" Ucapnya sembari menatap ke arah pintu ruangan itu, terlihat Rusdi lagi di hadapannya.


" Aduh! Ada apa kamu ke sini lagi hah!!"


" Maaf Pak Saya ditelepon lagi oleh sekretaris Pak Abiyasa, untuk segera memanggil bapak ke ruangannya, karena sudah sejak tadi Bapak ditunggu, tapi bapak tidak menuju ke sana."


" Heh!! Kamu ini apa-apaan sih! itu urusan saya tau nggak! Bukan urusan kamu! Kalau nanti Dia menyuruh saya lagi ke sana kamu tidak usah bilang kalau saya ada di ruangan saya, bilang saja saya belum datang atau saya pergi ke mana, cari alasan yang tepat dong!!"


" Tapi maaf Pak, saya sudah bilang kalau Bapak sudah ada di ruangan Bapak, dan saya juga sudah bilang sama sekretarisnya pak Abiyasa kalau Bapak sudah menerima pesan dari saya." Ucapnya sembari menundukkan kepalanya.


" Astaga! Bo*doh sekali kamu ini! Tidak bisa membuat alasan yang lain, apa mau saya pecat kamu hah!! Seharusnya kamu itu menuruti saya, bukan menuruti sekretarisnya Pak Abiyasa!!" Ucapnya dengan nada kerasnya membuat Rusdi hanya menundukkan kepalanya sembari memainkan jari jemarinya karena dia tidak ingin sama sekali dipecat dari kantor tersebut, apapun dia lakukan asal dia tetap dipertahankan di kantor itu, karena dia sangat memerlukan pekerjaan itu.


" Pergilah kamu dari ruanganku!!"

__ADS_1


" Ba..Ba... Baik Pak." Rusdi hanya menganggukkan kepalanya, kemudian dia pun menutup kembali pintu ruangannya itu, saat dia menutup pintu ruangan dia bertemu dengan seseorang dia pun terkejut karena orang itu menyentuh pundaknya.


__ADS_2