
BAB 56๐น
Setelah Arsya menikmati kue dan minuman yang sudah di pesannya itu Arsya kembali berdiri dari duduknya dan diapun ditegurkan Alvaro kembali.
" Mau ke mana kamu Sya? Apa kamu masih penasaran dengan wanita itu?"
" Iya nih, kayanya kamu masih penasaran banget ya Sya..." Sambung Dewa.
" Hooh nih...Buktinya aja tadi kamu mengambil kue punyaku." ucap Bima, Arsa pun langsung menoleh ke arah Bima dia kembali duduk di tempatnya.
" Masa sih? Aku mengambil kue kamu."
" Kamu nggak sadar ya?" Sambung Dewa.
Arsya hanya menggelengkan kepalanya.
" Coba lihat kue kamu masih utuh kan." Ucap Alvaro sembari tersenyum.
Arsya kemudian menoleh ke arah piring yang ada di depannya, dia tersenyum dan kemudian menepuk jidatnya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi tersebut.
" Arsya, kalau kamu merasa penasaran dengan wanita itu kamu bisa menanyainya lagi nanti." ucap Alvaro.
" Benar apa yang dikatakan Alvaro, kamu bisa menanyakannya setelah dia pulang dari kerjanya." Ucap Bima.
Arsya menghela nafasnya dengan panjang.
" Kalian itu salah paham denganku, Aku tidak terlalu penasaran dengan dia, aku mau ke belakang sebentar aja kok, karena aku sudah tidak bisa menahan untuk ke kamar kecil."
Mereka tersenyum dan mengangguk, Arsya pun melangkah menuju ke arah belakang.
Ayana dan rekan kerjanya itu pun berbicara berdua sambil jalan menuju ke arah belakang.
" Sebenarnya siapa dia Ayana? Kenapa dia mendekati kamu, tapi sebenarnya dia ganteng banget.."
Ayana tersenyum...
__ADS_1
" Aku juga tidak tahu, katanya sih mau mengambil jaket yang pernah dipinjamkannya padaku."
" Jaket? Apa memang benar dia meminjamkan sebuah jaket padamu?"
" Aku tidak mengenal dia sama sekali, lagian tanpa basa-basi dia langsung mengatakan ingin mengambil jaket itu, tapi aku memang benar nggak tahu jaket apa yang dia maksud."
" Hemmm....Hati-hati Ayana, siapa tahu itu hanya modus aja."
Ayana menoleh ke arah rekan kerjanya itu
" Iya, siapa tahu itu hanya modus dia ingin berkenalan denganmu, secara kamu itu cantik, putih, perawakan kamu seperti seorang model, dengan body aduhai, sampai pak Hendri pun selalu memberikan fasilitas yang terbaik untukmu, tapi kamu tidak mau sama sekali menerimanya."
" Ya iyalah aku tidak mau, nanti istrinya pak Hendri pasti marah dan dia akan berpikiran yang tidak-tidak, makanya aku selalu menghindari Pak Hendri, kalau seandainya dia ada di sini, itu semua juga atas bantuan kamu Lani untuk menghindarkan aku dengan pak Hendri." ucap Ayana sembari merangkul rekan kerjanya sekaligus sahabatnya itu yang bernama Lani.
Saat mereka berada di ruangan belakang mereka berdua pun menghentikan langkahnya dan berlindung di sebuah tempat air yang ada di ruang belakang itu dan tidak jauh dari kedua orang yang sedang berbicara itu.
Karena mereka melihat Pak Hendri yang sedang berbicara dengan kepala bagian di resto tersebut, tepatnya adalah orang kepercayaan Pak Hendri, Ayana dan Lani mendengar jelas pembicaraan mereka.
" Bagaimana Farhan, Apa kamu sudah memberikan apa yang aku berikan untuk Ayana?"
" Sudah Pak! Semua sudah diambil Ayana, bahkan dia juga sudah pindah dari rumahnya dan menempati rumah Bapak sekarang yang telah diberikan oleh Bapak padanya." Ucap Farhan membohongi pak Hendri, padahal Ayana tidak pernah sama sekali menerima pemberian dari pak Hendri untuknya.
Ayana dan Lani pun terkejut mendengar pembicaraan mereka itu.
" Apakah benar Ayana kamu sudah menerima pemberian dari Pak Hendri ?"
" Tidak ada, sumpah! Aku tidak mau menerima apapun dari dia, lagi pula aku memang tidak mau menerima pemberian itu." Ucap Ayana berbisik.
" Itu artinya pak Farhan yang telah mengambil semuanya."
" Bisa jadi..." Ucap singkat Ayana.
" Ini uang untuk Ayana, kamu kasihkan padanya dan katakan dariku, nanti sore aku akan menemuinya dan mengajaknya berlibur."
" Baik Pak, saya akan memberikan uang ini padanya."
__ADS_1
Terlihat pak Hendri pun menepuk pundak Farhan dengan pelan sembari tersenyum, dia pun kemudian melangkah meninggalkan Farhan, setelah Pak Hendri keluar dari arah belakang Ayana pun kemudian mendekati Farhan.
" Pak Farhan!" Panggil Ayana, Farhan langsung menoleh dan sedikit terkejut dengan panggilan Ayana.
" Sejak kapan dia ada disitu? Apakah dia mendengar aku berbicara dengan pak Hendri?" Gumamnya dalam hati sembari menatap Ayana yang sudah ada dihadapannya itu.
" Kenapa ? Bapak terkejutkan karena saya ada disini?"
" Hem...Sayangnya aku tidak terkejut sama sekali." Ucapnya sembari berlagak santai karena sudah kepergok Ayana dia baru saja bicara dengan pak Hendri secara sembunyi seperti itu.
" Apa yang Bapak lakukan dengan mengambil semua pemberian dari Pak Hendri atas nama saya."
Farhan pun lagi-lagi terkejut.
" Ternyata dia sudah mendengar semuanya." Gumamnya sembari mendekati Ayana dan Lani, dan mereka berdua mundur satu langkah.
" Bagus! Kalau kamu sudah mengetahui semuanya, lagi pula kamu tidak akan mau mengambil apa yang diberikan oleh Pak Hendri padamu, dari pada mubazir jadi akulah yang mewakilinya, kamu bisa mengikuti arahan dariku saja, kalau kamu memang tidak suka dengan Pak Hendri, apa salahnya kamu bilang aja suka dengannya sekedar ingin menyenangkan si tua itu, soal pemberian dari dia biar aku yang mengurusnya."
" Kenapa Bapak seperti ini pada saya."
" Ayana, kamu itu jangan terlalu jual mahal, kalau kamu sebenarnya juga membutuhkannya, tapi kamu sok tidak mau menerimanya, sekarang nih uang yang diberikan pak Hendri untukmu, aku kasihkan padamu, terimalah! Kalau pembicaraan yang sudah kamu dengar itu adalah urusan Aku dengan pak Hendri." Ucapnya sembari meraih tangan Ayana dan meletakkan uang yang sudah diberikan oleh Pak Hendri padanya itu, namun Ayana langsung menarik tangannya dengan kuat, membuat uang itu jatuh ke lantai ubin keramik.
" Tidak!! Saya tidak sudi menerimanya! Dan saya tegaskan sekali lagi pada bapak! Saya tidak akan menerima apapun yang diberikan pak Hendri pada saya."
" Ayana!!" Ucap Farhan sedikit keras, karena tidak ada orang selain mereka ditempat itu tidak terlalu terdengar sampai keluar, tapi Arsya mendengar suara yang sedikit agak keras itu karena posisi Arsya sangat dekat dengan mereka, Arsya pun melangkah mendekati arah suara, dia melihat ke arah ruang belakang tersebut, terlihat dua orang gadis dan satu orang laki-laki sedang berbicara.
" Bukankah itu wanita yang tadi, kenapa dia terlihat marah dengan laki-laki itu dan kenapa uang berserakan di lantai ubin keramik itu." ucap Arsya dalam hatinya sembari matanya tetap menatap ke arah ketiga orang tersebut.
" Berani sekali kamu bicara seperti itu padaku hah?!!" Ucap Farhan mulai emosi.
Ayana dan Lani terdiam namun diwajah Ayana menyimpan kekesalan pada Farhan.
" Sepertinya ada yang tidak beres disini, aku akan memperhatikan dari sini, apa yang sebenarnya terjadi." Ucap pelan Arsya berlindung ditempat Ayana dan Lani saat bersembunyi ditambah lagi ruang belakang itu sangat sepi dari karyawan resto.
Bersambung...๐น
__ADS_1
Maaf buat yang tidak suka dengan cerita saya ini, mohon ditinggalkan saja. Karena alur cerita memang mengalir begitu saja, dan ini hanya hiburan semata๐๐๐น
Terimakasih yang masih menunggu dengan kelanjutannya cerita ini, dan terimakasih juga Atas komentar yang membangun saya untuk terus berkarya.๐๐๐น