CAHAYA CINTA

CAHAYA CINTA
CAHAYA CINTA 60


__ADS_3

BAB 60🌹


" Kalian tidak usah khawatir, kami yang akan mengurus semuanya." ucap Arsya dianggukan oleh ketiga sahabatnya itu.


" Sekarang katakan apa yang terjadi diantara kalian dengan si Farhan dan si Hendri itu." ucap Dewa.


" Pak Hendri itu menginginkan saya sebagai istri simpanannya, tapi saya menolaknya, berbagai macam pemberiannya sudah diberikan untuk saya melalui Pak Farhan, tapi saya menolaknya dan pak Farhan tidak mengembalikan pemberian Itu kembali kepada Pak Hendri, melainkan dia yang menikmatinya, sekarang Pak Hendri menuntut itu semua pada saya melalui Pak Farhan agar mengatakan kepada saya kalau sore ini dia akan bertemu dengan saya, saya mendengar pembicaraan mereka berdua di belakang, saat Pak Hendri pergi, makanya saya marah dengan pak Farhan, sejak dulu dia menghendaki saya sebagai istrinya tapi saya tidak mau berbagai keperluan datang ke rumah saya dari orang suruhannya, namun saya kembalikan, saat saya berangkat bekerja dan memberikannya kembali pada Pak Farhan." Terang Ayana, kemudian mereka pun menganggukkan kepalanya.


" Mereka tidak akan bisa memecat kalian." Ucap Alvaro.


Alvaro terlihat marah sampai giginya bergemeretak mendengar cerita dari Ayana, karena kepercayaan yang diberikan oleh Papanya Itu disalahgunakan untuk kesenangannya semata.


" Tapi bagaimana caranya? Sedangkan Mas-Mas ini kan hanya pengunjung di sini dan hanya menginap beberapa hari di sini, pastinyakan tidak mungkin karena Pak Hendri itu sangatlah berkuasa." Ucap Lani.


" Tenang saja, kalau sahabat saya ini sudah berbicara tidak ada yang bisa untuk menghalanginya ataupun menentangnya." Sambung Dewa.


" Oh ya, sebelumnya kenalkan kami saya adalah Bima, dan ini adalah Dewa, dan itu adalah Arsya dan ini adalah Alvaro." Mereka semua menangkupkan kedua tangannya di dada begitu juga dengan Ayana dan Lani.


" Kalau dia ingin bertemu denganmu, Kamu bisa hubungi saya." ucap Arsya sembari memberikan nomor pribadinya pada Ayana, Ayana menatap ke arah Arsya kemudian dia menoleh ke arah Lani, Lani hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum Ayana pun kemudian mengeluarkan ponselnya yang ada di dalam kantong celemeknya itu, Dia kemudian mencatat nomor Arsya dan menyimpannya di dalam ponselnya.


" Kalau dia ingin bertemu katakan saja iya, dan kamu harus menghubungi kami terlebih dahulu." ucap Bima dianggukan oleh Ayana.


" Baiklah Mas kalau seperti itu kami kembali bekerja, kami tidak nyaman dilihat para karyawan yang lain." Ucap Ayana.


" Baiklah, lanjutkanlah pekerjaan kalian .." Ucap Alvaro.


Ayana menganggukan kepalanya tapi tidak dengan Lani.


Lani terdiam terlihat wajahnya berubah sedih, mereka menatap kearah Lani karena dia tidak beranjak dari duduknya.


" Ada apa Lani? Kenapa kamu masih duduk disini?"


Lani menghela nafasnya dengan panjang dia menengadahkan wajahnya dan menatap ke arah Ayana yang sudah berdiri dari duduknya itu, Lani menarik nafasnya itu dengan berat dia tidak beranjak dari duduknya, membuat mereka yang duduk di meja itu pun merasa heran dengan Lani

__ADS_1


Ayana kemudian duduk kembali dia menyentuh tangan sahabatnya itu dan satu tangannya lagi berada di pundak sahabatnya tersebut, dia menatap sahabatnya itu dengan tatapan rasa herannya.


" Ada apa Mbak Lani?" tanya Alvaro.


" Saya masih belum merasa yakin dengan keterangan ataupun bantuan dari kalian."


" Kenapa kamu tidak yakin?"tanya Bima.


" Tidak yakin kalau kami tidak dipecat dari pekerjaan kami ini, Karena kata-kata Masnya tadi."


" Kenapa kamu bisa berbicara seperti itu?" tanya Arsya.


" Saya pernah berbicara dengan pemilik Hotel ini, namun tidak ada tanggapannya sama sekali."


" Memangnya Mbak tahu pemilik hotel ini siapa?"


" Pak Abiyasa itu setahu saya, saat itu saya mengetahui kalau hotel ini ingin dijual oleh Pak Hendri dan saya pun langsung menghubungi bapak Abiyasa, karena saya tahunya kalau bapak Abiyasa adalah pemilik hotel ini yang sah. Tapi saat saya berbicara dengannya, saya mengatakan kalau hotel ini mau dijual tapi tanggapan Pak Abiyasa hanya biasa saja, dia tidak terdengar terkejut ataupun menanggapi tentang ucapan saya, karena saya tidak mengatakan siapa saya sebenarnya, maksud saya...( Sembari menghela nafasnya) Saya menghubungi tanpa nama itu, mengatakan kalau hotel ini mau dijual, agar ada tindakan dari pak Abiyasa pada Pak Hendri, jujur saya menopangkan hidup saya di restoran ini, kalau seandainya Hotel ini dijual otomatis restoran ini pun ikut terjual, dikarenakan restoran ini satu paket dengan hotel Wibawa." Terang Lani.


" Lani, kapan kamu hubungi pak Bias? Kok aku tidak tahu?" Tanya Ayana.


Mereka berempat pun saling berpandangan, sekarang mereka mengetahui siapa yang menghubungi Papa Abiyasa.


" Dari mana kamu mendengar Pak Hendri berbicara?" Tanya Dewa.


" Saat itu dia berbicara dengan Pak Farhan, di ruangan Pak Farhan, saya salah memang saat itu karena menguping pembicaraan mereka berdua."


" Mbak Lani, kamu tidak salah, malah kamu bagus lagi mendengarkan pembicaraan orang yang ingin berbuat jahat di tempat kamu bekerja." Sambung Arsya.


" Sebaiknya kalian tenang aja, percayakan dengan kami, kalian tidak akan pernah dipecat dari restoran ini, apa yang aku katakan ini benar! Tunggu saja hasilnya dari kami, kamu pasti akan mengetahui siapa Kami sebenarnya." ucap Alvaro, Lani menganggukkan kepalanya.


" Baiklah Mas-Masnya kami kembali kerja " ucap Lani dianggukkan Ayana.


Mereka pun kemudian berdiri dan melangkah hendak meninggalkan mereka.

__ADS_1


Arsya pun menoleh ke arah jaket yang masih menggantung di kursi yan diduduki Ayana, dia mengambilnya dan berdiri seraya meraih tangan Ayana dan memberikannya pada Ayana.


" Ayana... Ambillah jaket ini, jagalah dia dengan baik, aku mengikhlaskan jaket ini untukmu." ucapnya.


Mereka bertiga pun tersenyum, Ayana menatap ke arah Arsya dia hanya mengangguk dan memberikan senyuman manisnya, karena dia tidak bisa berdamai dengan degupan jantungnya, setelah Arsya menyentuh tangannya itu.


" Terimakasih." Ucapnya singkat.


Ayana dan Lani pun kemudian meninggalkan mereka, Arsya menghela nafasnya dengan panjang dan duduk kembali di kursinya.


" Kenapa kamu memberikan jaket itu padanya, padahal sejak dulu kamu mencari-cari jaket itu." Tegur Alvaro.


" Bukankah itu milik Aisya?" Tanya Dewa.


" Iya, itu memang milik Aisya, tapi anggap saja aku memberikannya dengan orang yang tepat untuk pahala buat Aisya."


" Tapi kalau dilihat-lihat sekilas mukanya mirip banget loh sama Almarhumah Aisya." ucap Bima dianggukan oleh mereka berdua.


Arsya langsung menatap ke arah Bima.


" Kok pendapat kamu sama ya dengan aku." Ucap Arsya tersenyum.


" Ya siapa tahu itu jodoh kamu, untuk mengulang kembali percintaan kedua orang tuamu, Tante Nadine kan kembar dan sekarang kamu juga mendapatkan jodoh yang kembar hahaha." Sambung Dewa sembari tertawa lepas.


Mereka pun ikut tertawa menyambut tertawa Dewa, setelah tertawa itu reda Bima bersuara.


" Sekarang giliranmu Dewa, Aku sudah mendapatkan pujaan hatiku, Alvaro dalam proses Begitu juga dengan Arsya sama-sama Masih proses terus kamu mana.?"


" Tidak tahu.... Ke mana jodohku itu, entah dia belum nyampe bertemu aku, atau dia belum bisa mencari aku hehehe." ucapnya sembari terkekeh.


" Baiklah sekarang kita menyusun rencana itu kemudian kita bertemu dengan Pak Hendri." Sambung Arsya.


" Oke kita tunggu saja, dia pasti seperti orang kebakaran jenggot, setelah mendapatkan keterangan dari anak buahnya itu." Lanjut Bima.

__ADS_1


" Ayo kita kembali ke kamar, Kita tunggu Dia menuju ke arah kamar kita." ucap Alvaro lagi dianggukan oleh mereka.


Kemudian mereka pun meninggalkan Resto setelah membayar makanan mereka itu mereka pun langsung menuju ke arah kamar yang sudah ditempati empat sekawan itu.


__ADS_2