
BAB 63 🌹
" Apa salah saya Pak, sehingga Bapak menggampar saya seperti ini, seharusnya Bapak berterima kasih dengan saya, karena saya sudah memberitahukan semuanya pada Bapak, kalau seandainya saya tidak mengasih tahu kepada Bapak, mungkin Bapak tidak mengetahui apakah Ayana mau menerima Bapak, kalau tidak saya bicara seperti ini Bapak tidak akan pernah mengetahui kalau Ayana sudah memiliki calon suami." Ucap Farhan sembari mengusap usap pipinya yang kena gampar pak Hendri.
" Calon suami apanya?! Tapi kamu sudah membuat saya malu dan saya menjadi bersalah dengan tamu saya sendiri, seharusnya kamu itu menyelidiki terlebih dahulu,kebenarannya, apa memang benar lelaki itu adalah calon suami Ayana sungguhan,dan apa memang nenar dia menginap di sini atau tidak, kalau begini bagaimana jadinya.!"
Farhan mendengus dengan kesal dia pun kemudian mengusap wajahnya dengan kasar dan mengusap rambutnya dari arah belakang ke depan kemudian dia pun bersuara kembali.
" Tapi kenapa Bapak sekarang terlihat takut sekali, lelaki itu memang mengatakan nomor 182 tempat dia menginap, ini pasti teman komplotan mereka juga, mereka pasti ada di dalam." Ucapnya dengan menyakinkan pak Hendri.
Alvaro mendekati Farhan
" Apa kamu bilang hah! Aku tidak paham apa yang kamu maksudkan dan siapa yang aku sembunyikan di dalam, kalau kamu ingin mengetahuinya silakan masuk ke dalam."
Farhan pun kemudian menerobos masuk kamar Alvaro, dia mencari-cari kesana kemari namun dia tidak menemukan Arsya dan Dewa, dia pun kemudian keluar kembali.
" Bagaimana, Apakah kamu menemukan orangnya itu?" Tanya pak Hendri.
Farhan menggelengkan kepalanya, lagi-lagi gamparan pun mendarat di pipi Farhan membuat Farhan terkejut untuk kedua kalinya.
" Benaran Pak, saya tidak bohong! Dia mengatakan nomor 182, kalau seandainya saya bohong buat apa saya mengarang cerita."
" Aku tidak percaya lagi ucapanmu."
Kemudian ponselnya Pak Hendri berdering, dia langsung mengambil ponselnya yang berada di saku celananya itu, dia melihat panggilan tertulis "Bang Toyib"
" Celaka! Dia pasti sudah menghubungi pimpinannya." namun Pak Hendri tidak menjawab panggilan itu, dia menatap ke arah Alvaro yang masih mensedekapkan tangannya di dada itu.
" Bapak tolong, maafkan saya, siapapun Bapak, mohon bicaralah pada Bang Toyib kalau saya hanya termakan emosi saja. Ini semua gara-gara anak buah saya yang tidak becus." Ucap pak Hendri sembari melirik sinis Farhan.
" Sepertinya saya tidak bisa lagi bicara sama pimpinan saya, sekarang Bapak sudah ingat pimpinan saya kan? Siapa orangnya, dan lihat kamar ini, bapak bisa mengingatnya saat di resepsionis, siapa yang menginap di nomor 182 dan kamar 184." Ucap Alvaro.
Kemudian pintu kamar 184 pun terbuka, Dewa, Bima, dan Arsya keluar dari kamar itu, karena Farhan tidak mengetahui apa yang dibicarakan oleh Pak Hendri pada Alvaro, Dia pun melihat wajah Dewa dan wajah Arsya, dia langsung mendekati Mereka kemudian dia pun berteriak.
__ADS_1
" Ini dia Pak! Ini dia orangnya! Ini laki-laki yang mengaku sebagai calon suaminya Ayana dan ini temannya yang mengaku Bang Toyib dan menginap di 184 Pak..."
Pak Hendri pun kemudian menarik kuat Farhan dari hadapan mereka.
" Kamu jangan mengada-ngada, kamu tahu siapa mereka, mereka adalah tamu yang Aku tunggu, datang dari Arab dan akan segera membeli hotel ini, Kamu jangan menghancurkan rencanaku hanya karena aduan kamu yang tidak benar itu."
" Benar Pak merekalah berdua orangnya, percayalah pada saya Pak."
Namun Pak Hendri tidak menggubris ucapan dari Farhan dia kemudian mendekati Dewa dan yang lainnya.
"Ada apa ini? Kenapa baju kamu seperti ini Alvaro ?" Tanya Dewa pura-pura tidak tahu duduk permasalahannya.
" Ini adalah perbuatan dia Pak Bos." Ucap Alvaro sembari menunjuk ke arah Pak Hendri.
Pak Hendri pun terlihat gelagapan, Dia kemudian mencari cara agar Dewa alias Bang Toyib itu tidak marah padanya.
Dewa menoleh ke arah Pak Hendri dengan tatapan tajamnya.
" Oke! Saya akan mengikuti apa kemauan Anda." Ucapnya dianggukan oleh Pak Hendri.
Kemudian mereka pun melangkah menuju ke arah lift, setelah keluar dari lift mereka menuju ke arah ruangan Pak Hendri.
" Silakan duduk pak.." Ucap pak Hendri mempersilahkan ke empat orang tersebut duduk di sofa, Farhan yang hendak meninggalkan mereka pun langsung ditegur kan oleh Dewa.
" Tolong Pak, anak buahnya tetap diruangan ini, biar dia tahu siapa saya sebenarnya dan juga anak buah saya ini." Ucap Dewa dengan terdengar nada yang sedikit tegas, dianggukan oleh Pak Hendri.
" Farhan kamu tidak boleh ke mana-mana, kamu tetap berada disini, di dalam ruangan ini." Ucapnya sembari duduk di hadapan mereka dan Farhan tetap berdiri di samping Pak Hendri.
" Maafkan saya pak, atas kelancangan anak buah saya, yang menuduh anak buah Bapak berbuat tidak menyenangkan."
" Tapi sebelumnya ada apa? siapa yang dipermasalahkan?" Tanya Dewa sembari menatap kearah pak Hendri, kemudian menatap ke arah Farhan yang hanya menundukkan kepalanya.
" Sebenarnya ini ada apa sih? Kenapa mereka berdua seakan-akan tidak mengetahui semuanya, padahal mereka yang sudah mengaku dan mengatakan kalau salah satu dari mereka adalah calon suaminya Ayana, tapi di sini mereka tidak sama sekali mengenali aku, apakah ini permainan mereka? kalau iya matilah aku! Aku akan ketahuan kalau aku selama ini yang mengambil semua pemberian Pak Hendri untuk Ayana." Gumamnya, keringat dingin sudah mulai muncul di seluruh tubuh Farhan, namun dia tetap berdiri dan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
" Ada permasalahan sedikit di restoran katanya salah satu dari anak buah Bapak mengaku sebagai calon suami dari calon istri saya."
" Apa calon istri Bapak?" ucap Dewa seakan terkejut.
Pak Hendri tersenyum bangga.
" Apa saya tidak salah dengar nih? memangnya Bapak mau menikah berapa kali ?" Tanya Dewa.
" Maaf Pak, saya menikah cuma satu kali, mungkin jodohnya telat jadi saya menemukan calon istri saya yang bekerja di restoran ini."
" Masa iya sih." Sambung Bima, namun Pak Hendri langsung menatap ke arah Bima dan dia bergumam di dalam hatinya.
" Ini anak buah hebat banget sih ngomongnya seperti itu, kaya bukan anak buah dia aja, dia langsung menyerobot seperti itu berbicara." Gumamnya sambil menatap kearah Bima.
" Oh ya pak, saya pribadi memohon maaf pada anak buah Bapak tadi, karena emosi saya sampai salah sasaran."
" Baiklah! Saya maafkan, kita akan melanjutkan pembicaraan tentang pembelian hotel ini."
" Oh iya pak dengan senang hati."
" Saya ingin bertanya siapa pemilik hotel ini sebenarnya?"
" Pemilik hotel ini adalah Pak Haris."
" Pak Haris? di mana dia sekarang?"
" Dia adalah paman saya, dia meminta tolong pada saya untuk menjual hotel ini."
" Kenapa hotel ini bisa dijual?"
" Saya juga tidak tahu Pak, karena saya cuma disuruh saja untuk menjual hotel ini dan menawarkannya pada pengusaha yang terkenal, mungkin ini adalah jodoh Bapak." Ucapnya tersenyum.
Terlihat Alvaro memasang muka amarahnya, namun Arsya mengetahui itu, dia pun kemudian menepuk pelan pundak sahabatnya tersebut, Alvaro menoleh ke arah Arsya dia hanya tersenyum dan menginsyaratkan dari tatapan matanya, kalau dia masih bisa bersabar di saat ini, tapi tidak tahu dengan nanti.
__ADS_1