CAHAYA CINTA

CAHAYA CINTA
CAHAYA CINTA 66


__ADS_3

BAB 66 🌹


" Apa yang kamu lakukan padaku Farhan, sehingga kamu membo*dohi aku seperti ini, aku percaya denganmu tapi ternyata kamu menusukku dari belakang!" Ucapnya dengan keras.


Namun Farhan tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap Pak Hendri.


" Katakan padaku Farhan, kenapa kamu lakukan itu denganku?! Apapun yang kamu minta denganku, Aku sudah memberikannya tapi kenapa kamu tega menghianati Aku."


" Maafkan saya pak, karena saat itu Ayana tidak mau mengambil pemberian Bapak, daripada mubazir lebih baik saya yang mengambilnya.


" Apa kamu bilang? Mubazir? Seharusnya Kamu bicara padaku, kalau memang dia tidak mau menerima pemberianku, tidak seperti ini caranya, kamu telah membuat luka di hatiku dan aku kecewa denganmu! Kesalahan kamu tidak bisa Aku maafkan.!!"


Farhan hanya terdiam dan masih tetap menundukkan kepalanya, sembari memainkan jari jemari tangannya, karena dia tidak bisa berbicara lagi, semua sudah ketahuan sama Pak Hendri. Hening! Tidak ada suara sama sekali di dalam ruangan itu, kemudian Alvaro menepukkan kedua tangannya melepas keheningan itu,sembari tersenyum. Kemudian Dia mendekati Pak Hendri dengan posisi kedua tangannya berada di dalam saku celananya seraya menatap tajam ke arah Pak Hendri.


Pak Hendri menatap ke arah Alvaro.


" Bagaimana rasanya dikhianati oleh orang kepercayaan? Sakit? Tentu saja pastinya sakitkan! Nah! begitu juga dengan Papahku, kamu sudah dijadikan orang kepercayaan sama Papahku yang menganggap kamu itu adalah orang yang baik! Sama seperti Paman kamu Haris yang telah merekomendasikan kamu pada Papahku kala itu, tapi sayangnya kamu sudah mengkhianati itu semua, bahkan sekarang pamanmu itu dalam keadaan sakit parah, itu semua gara-gara kamukan!!"


Pak Hendri pun terkejut, sontak saja dia langsung menatap ke arah Alvaro.

__ADS_1


" Kenapa kamu terkejut ya? Karena aku sudah mengetahui semuanya, tidak usah kamu terkejut di sini karena sebentar lagi kamu akan mendekam di penjara!"


Mendengar ucapan dari Alvaro, istri Pak Haris pun langsung berdiri dan mendorong kuat Alvaro, namun karena dorongan itu tidak menggemingkan Alvaro dari berdirinya di hadapan suaminya itu, dikarenakan posisi Alvaro berada di dekat Bima, sehingga dengan cepat Bima menahan tubuh Alvaro, terlihat istrinya pak Hendri tidak percaya dengan ucapan Alvaro.


" Kamu jangan mengada-ngada bicara seperti itu, kami kenal dengan pak Abiyasa, tidak mungkin pak Abiyasa memiliki anak seperti kalian!"


" Hebat! Karena Ibu sudah mengenal keluarga Wibawa, asal Ibu tahu Pak Hendri ini..." Ucap Bima sembari menunjuk Pak Hendri yang sedang duduk di kursi dan tidak bergeming sama sekali, dikarenakan Bima masih ada di depan suaminya dan posisi pak Hendri hanya bisa menundukkan kepalanya saja, Bima pun melanjutkan bicaranya.


" Asal ibu tahu, kalau suami Ibu tidak pernah mengenal pak Abiyasa itu menurut keterangannya dari awal, asal Ibu tahu juga si tua ini sudah mau menjual hotel ini dengan orang lain dan mengatasnamakan orang lain juga."


Bu Fany pun mendekati suaminya, dia pun langsung menarik kerah baju suaminya tersebut.


" Apa benar yang dikatakan oleh mereka Pah! Kamu sangat keterlaluan! Kamu tahu sendiri kalau pak Abiyasa sangat baik dengan kita, kenapa kamu balas dengan kejahatan kamu padanya! Kamu sangat keterlaluan!! Kenapa kamu begitu tega menghianati pak Abiyasa, kamu sudah diberi posisi yang nyaman, kamu juga diberi jabatan tinggi di hotel ini, tapi kenapa kamu memanfaatkan kebaikan orang lain dengan cara seperti ini Pah?!! Kamu sangat keterlaluan Pah!!" ujarnya sembari mendorong suaminya dengan kuat, sedangkan Pak Hendri hanya pasrah dan menundukkan kepalanya.


" Kalau kamu memang benar anaknya pak Abiyasa, silahkan apa saja yang akan kamu lakukan dengannya, aku tidak akan ambil peduli lagi, ataupun kalian ingin membuatnya menderita seumur hidup, silahkan saja! Aku tidak akan membelanya, Aku permisi!" Ucapnya sembari meninggalkan mereka yang ada di ruangan tersebut, Bu Fany pun melangkah menuju ke arah luar tanpa menoleh ke arah belakang lagi. Sedangkan Pak Hendri hanya menatap kepergian sang istri, dan dia pun bergumam di dalam hatinya.


" Ini semua salahku! Karena ambisiku yang sudah ingin memiliki harta orang lain dan terlalu iri dan dengki pada orang yang telah bahagia seumur hidupnya, membuat aku menggali lubang kuburan aku sendiri, mau teriak, mau menyesalpun sudah tidak ada gunanya lagi." Gumamnya di dalam hati sembari menghela nafasnya dengan berat.


" Sekarang kamu menyadari apa yang telah kamu lakukan atau kamu bisa mengakuinya di hadapan kami, kenapa kamu bisa mengganti nama dari hotel ini menjadi nama orang lain dan kenapa ada keinginan untuk kamu menjualnya katakan pada kami." Ucap Bima.

__ADS_1


Pak Hendri hanya menundukkan kepalanya, beberapa saat, lalu Bima kemudian menyentuh dagunya dan mengangkat wajah Pak Hendri.


" Gunakanlah mulutmu untuk berbicara, tidak usah kamu berdiam seperti itu, bagaimana tadi kamu merasa hebat sebagai seorang Pak manager di hotel ini, sekarang gunakan kekuasaan kamu itu untuk menjawab pertanyaan dari kami, terutama pertanyaan aku yang tadi belum kamu jawab!!" Ucap Bima dengan nada tegas, Pak Hendri pun hanya pasrah dengan keadaannya sekarang, karena dia sudah tidak bisa lagi untuk membela dirinya sendiri, dikarenakan semuanya sudah diketahui oleh grup kinclong.


Terdengar Pak Hendri mengela nafasnya dengan berat, kemudian dia pun mengeluarkan suaranya.


" Maafkan saya..."


" Apakah dengan kata maaf itu kamu bisa merubah keadaan kamu dan apakah dengan kata maaf itu kamu bisa mengembalikan kepercayaan Pak Abiyasa pada kamu lagi dan apakah dengan kata maafmu itu bisa menolong kamu untuk bebas dari kesalahan kamu, aku rasa tidak!" Ucap Dewa.


" Saya memang bersalah, Saya memang orang yang sangat bo*doh, menggunakan kepercayaan Bapak Abiyasa dengan keinginan saya sendiri, jujur saya iri dengan Bapak Abiyasa, kemewahan, kebahagiaan, dan kebaikannya, sangat melebihi dari segala-galanya, saya tidak tahu setan apa yang telah merasuki saya."


" Setan bermata satu!!" Sambung Bima.


" Makanya kamu bisanya melihat dengan satu arah, tapi kamu tidak melihat ke kiri dan ke kanan, serta ke belakang kamu, kamu hanya tetap melihat kekurangan orang lain tapi kamu tidak melihat kelebihan dan kebaikan yang ditebarkan oleh orang tersebut." Lanjut Arsya.


" Saya memang mengakui kesalahan saya, saya akan mempertanggungjawabkan semua yang telah saya lakukan, pada Pak Abiyasa, ataupun pada istri saya dan pada om saya sendiri, Ayana maafkan saya."


Ayana hanya menatap kearah pak Hendri namun dia hanya diam saja.

__ADS_1


Arsya menatap ke arah pak Hendri, namun dia tidak bisa melihat tatapan mata Pak Hendri, karena saat ini posisi Pak Hendri sedang menundukkan kepalanya, jadi dia tidak bisa melihat apakah Pak Hendri itu berkata benar atau hanya bohong belaka.


" Apakah laki-laki ini berkata benar dengan penyesalannya atau hanyalah permainannya saja, aku tidak bisa melihat langsung ke arah matanya, karena dia menundukkan kepala terus." Gumam Arsya sembari memperhatikan Pak Hendri yang berbicara sambil menundukkan kepalanya itu.


__ADS_2