
BAB 31 🌹
Nenek Sri pun kemudian menyerahkan ponsel Alvaro, setelah pembicaraannya dengan papa Abiyasa selesai, Papa Abiyasa pun kemudian berbicara dengan Alvaro.
" Selesaikanlah nak masalah yang kalian hadapi sekarang ini." ucapnya sebelum menutup pembicaraan tersebut sembari saling mengucapkan dan membalas salam, Alvaro kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
" Apakah kalian sudah jelas siapa aku sebenarnya?" tanya Alvaro sembari masih mensedekapkan tangannya di dada dan menatap mereka satu persatu, Pak Yakult yang sedari tadi selalu menyangkal serta memarahi Bianca dan berbicara sedikit keras itu pun hanya terdiam dan tertunduk tidak ada satu kata pun keluar dari mereka.
Prilly yang mengetahui semuanya itu pun terdiam, Bianca kemudian mendekati Alvaro.
Bianca mensedekapkan tangannya di dada.
__ADS_1
" Bapak Alvaro, Maafkan saya karena semua ini terjadi karena saya yang mengajak Bima ke sini."
Bima kemudian mendekati Bianca, sedangkan Alvaro tersenyum pada Bianca.
" Katakan pada mereka semua, siapa Kamu itu sebenarnya yang mengaku sebagai keluarga Wibawa!! kalau kamu mengetahui sebenarnya keluarga Wibawa itu seperti apa?!! tidak pernah ada kesombongan di keluarga itu! dan tidak pernah mereka memamerkan kekayaan serta kehebatan mereka untuk menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitarnya!! jelaskan sekarang!! ucap Bima sembari menunjuk ke arah Daffa, sedangkan Daffa terkejut dengan ucapan Bima namun dia hanya terdiam, dia tidak bisa berkata satu patah kata pun, karena dia sudah merasa terjebak diantara dua jurang itu.
" Eh jangkrik! kok malah diam sih! tadi sinis amat kamu berbicara pada kami, kok malah jadi jangkrik goreng sih, yang tinggal di santap, kamu mau aku makan sekalian hah! sudah ketahuan kamu berbohong akhirnya kamu tidak bisa berbicara ya!" sambung Dewa.
Lagi-lagi Daffa hanya terdiam sembari bergumam di dalam hatinya.
" Daffa!! apa benar yang dikatakan mereka, kalau sebenarnya kamu itu bukanlah dari keluarga Wibawa? Kenapa kamu lakukan semuanya ini pada keluarga kami, katakan apa motif kamu melakukan semua ini terhadap keluarga kami, apa karena kamu hanya ingin menarik perhatian Prilly?" tanya nenek Sri.
__ADS_1
Daffa masih terdiam, dia hanya menundukkan kepalanya saja, sedangkan Prilly menatap Daffa dengan lekat sembari bersuara.
" Katakan padaku! Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu berkata bahwa kamu adalah keturunan keluarga Wibawa! Kenapa kamu mesti berbohong pada keluargaku?Jangan-jangan kedua orang tua kamu itu juga orang tua bohongan! Sebenarnya kamu siapa?' Tanya Prilly namun sayangnya Daffa tetap terdiam.
" Oh ya Nek, nenek di sini dianggap mereka sebagai orang tua yang sangat tua." ucap Dewa.
" Dewa, kamu apaan sih Dewa, nenek itu memang sudah tua, makanya dia disebut dengan nenek!" ucap Arsya.
" Hehehe... Maksud aku, dia itu memang udah tua, tapi seharusnya pikirannya itu jangan berpihak pada satu orang saja, aku sedari tadi melihat kalau nenek ini mengatakan yang tidak pantas untuk dikatakan kepada cucunya, di sini Aku tidak sebagai pembela dari cucunya ataupun siapa saja, tapi di sini aku mengatakan semuanya kepada nenek itu, agar di masa tuanya nenek itu tidak menyesal nantinya." ucap Dewa sembari menata kearah Nenek Sri.
Nenek Sri hanya terdiam, Awalnya dia menatap sinis kepada ke-4 lelaki yang ada di hadapannya termasuk cucunya tersebut, pun sekarang tatapan itu berubah menjadi tatapan yang tidak sinis lagi, namun menatap dengan begitu ramahnya pada mereka.
__ADS_1
" Benar apa kata kamu Nak, nenek memang bersalah, selama ini nenek tidak memandang mana yang baik, mana yang buruk di keluarga nenek, karena yang selalu nenek lihat hanyalah siapa saja yang bisa berbuat baik kepada nenek dan mendapatkan apa yang diinginkan nenek dengan sempurna." ucapnya sembari menundukkan wajahmu.
" Maaf nek! masalah ini belum selesai!" ucap Bima sembari terus menatap ke arah Daffa yang sedari tadi hanya terdiam.