CAHAYA CINTA

CAHAYA CINTA
CAHAYA CINTA 25


__ADS_3

BAB 25🌹


" Hallo sayang...kamu dimana sekarang? keluarga aku sudah ngumpul semua nih,dan kakak aku yang dari luar Negeri mau kenal sama kamu, cepatan gih kesininya." ucapnya berbicara melalui ponselnya, setelah mendapatkan jawaban dari sang kekasih, diapun langsung meletakkan ponselnya kembali didalam tasnya.


" Bentar lagi kak, dia sampai...kakak pasti senang ketemu dengannya karena dia itu beneran dari keluarga Wibawa yang terkenal itu, dia juga punya perusahaan pribadi yang diwariskan papahnya untuknya." ucapnya senang.


" Prili sangat beruntung sekali, aku juga mau kaya kamu Pril..."


ucap salah satu dari mereka.


" Iya aku juga mau, aku ogah kaya Bianca, kerja aja mau-maunya jadi Cleaning servis dikantor keluarga calon suami Prili, kalau aku mending kerja dibagian lain dari pada dibagian itu." ucap salah satu lagi.


Bianca hanya tersenyum dia menghela nafasnya dengan berat.


" Kalian tidak boleh saling bicara seperti itu, karena Bianca adalah keluarga kita juga tidak baik kamu berbicara seperti itu sama aja kamu menjelekkan keluarga kamu sendiri, Baiklah kalian bicara aja dulu Kakak mau ke sana dulu bersama dengan yang lainnya karena ada yang ingin Kakak bicarakan dengan keluarga kita yang lain." ucap Fitri sembari berlalu dari mereka dan melangkah menuju ke arah keluarga yang lain.


Mereka kemudian menganggukkan kepalanya Bianca pun kemudian menundukkan kepalanya sembari memegang keningnya.


" Sekarang kak Fitri sudah tidak ada di depanku mungkin tidak ada lagi yang membela aku, mereka pasti menghinaku habis-habisan."


Mereka kemudian dikejutkan oleh seseorang yang melangkah sembari memanggil Prilly.


" Sayang sudah lama ya Maaf aku tadi ada pekerjaan, Biasa namanya juga seorang pengusaha, Jadi terlalu sedikit waktunya untuk kumpul-kumpul seperti ini." ucap Daffa kekasihnya Prilly,langsung duduk di samping Prilly.

__ADS_1


" Nggak apa-apa sayang, aku paham kok itu kan namanya juga pekerjaan kamu, jadi harus diselesaikan dulu." ucapnya sembari bergelayut ditangan Daffa manja dengan sang kekasih lebih tepatnya adalah tunangannya.


Bima menatap lelaki tersebut dia pun kemudian mencibir karena dia tidak mengenal sama sekali Daffa yang ada di hadapannya yang mengaku sebagai keluarga Wibawa.


Daffa memang lelaki yang terlihat sangat tampan, berpakaian rapi layaknya seperti orang yang memiliki kekayaan besar, semua yang dipakainya dari baju, celana, jam tangan dan aksesoris yang lainnya terlihat sangat mahal, wajar Daffa bersikap seperti orang kaya karena penampilannya sangat kece sekali.


Daffa memang sudah lama menjalin cinta dengan Prilly, bahkan mereka sudah bertunangan, keluarga Daffa dan keluarga Prilly sudah bertemu satu sama lain, dan memutuskan untuk mengikat percintaan mereka dengan bertunangan.


Ayah dan Ibu Prilly sama-sama memiliki usaha, Ibu Prilly memiliki usaha sebuah minimarket yang tidak jauh dari rumah mereka, dan ayahnya Prilly memiliki sebuah perusahaan kecil bergerak di bidang minuman kemasan.


Bima menatap lekat kearah Daffa sembari mengingat-ingat siapa sebenarnya Daffa seorang lelaki yang ada dihadapan Bima dengan gaya seolah-olah dirinya adalah seorang konglomerat tingkat atas.


" Aku tidak mengenal seorang lelaki yang ada di hadapanku ini, bahkan aku juga baru melihatnya, apa mungkin kakek Andre memiliki keluarga yang tidak aku kenal?" gumamnya dengan terus menatapnya.


" Oh ya, sayang kenalkan itu kekasihnya Bianca, dia memang tampan dan terlihat seperti orang kaya, tapi kita tidak tahu apakah dia itu kayak beneran atau cuma sekedar bermain sandiwara di hadapan kita, karena dia tidak bisa menyaingi aku." ucap Prily sembari menatap sinis kearah Bianca.


Daffa menoleh kearah Bianca dan kearah Bima yang tersenyum.


" Oh dia orangnya? kayaknya memang sewaan deh, terlihat banget dari penampilannya." ucapnya yang kemudian menatap ke arah Bima dengan tatapan tidak sukanya, karena terlihat Daffa tidak ingin disaingi dengan kekayaan yang dimilikinya, apalagi dia mengatasnamakan keluarga Wibawa, sedangkan dia tidak mengetahui kalau di depannya itu adalah seorang Bima yang masih ada hubungan dengan keluarga Wibawa, walaupun kedua orang tuanya hanya sebagai teman, sahabat, sekaligus dianggap saudara oleh keluarga Wibawa, tepatnya kakek dan Mamahnya tersebut.


Daffa memperhatikan Bima dengan lekat, terlihat sekali Daffa ingin mencari tahu siapa Bima sebenarnya.


Saat Bima menatap Daffa, mata mereka saling beradu, seakan-akan mengisaratkan untuk berperang.

__ADS_1


Daffa merasakan tatapan Bima terasa bagaikan petir yang mencambuk kedua matanya membuat Daffa merasakan perih dimatanya tersebut dan Daffa memejamkan matanya sesaat.


" Apa yang terjadi dimataku? kenapa mataku terasa perih sekali beradu pandang dengannya." gumamnya dalam hati.


Prily menoleh kearah sang kekasih dan dia merasa heran karena tidak biasanya Daffa kalah dalam beradu pandang dengan siapa saja, karena Prily merasa Daffa adalah orang yang hebat dalam segi apapun,dari kekayaan yang dimilikinya itu.


" Maaf, Aku dengar kamu dari keluarga Wibawa ya? kalau boleh tahu dari silsilah siapa ya?" tanya Bima sembari tersenyum tenang dengan ucapannya dengan menatap kearah Daffa.


Daffa yang mendapat pertanyaan seperti itu, bersikap tenang karena dia sudah terbiasa dengan pertanyaan seperti itu, Daffa tersenyum dengan penuh sombongnya.


" Kamu bertanya seperti itu, apa tidak salah dengan pertanyaan kamu itu?"


" Oh! tidak, jawab aja pertanyaan ku."


" Oke! kalau kamu ingin tahu siapa aku, aku akan menghubungi salah satu dari keluarga Wibawa, mereka yang akan memberitahukan semuanya padamu siapa aku, Aku sering berkunjung kerumah mereka apalagi anak mereka yang ada diluar Negeri Aku sangat kenal dekat sekali, bahkan kami sering bermain bersama kala kecil sampai sekarang." ucapnya dengan santai.


Bima tersenyum karena dia merasa tidak percaya dengan ucapan lelaki yang ada dihadapannya itu, karena dari ceritanya itu sudah tidak masuk akal.


" Kenapa kamu tersenyum?'


" Hehehe...kalau kamu benar dari keluarga Wibawa kenapa sedari tadi kamu tidak menghubungi mereka dan katakan pada anaknya yang ada diluar Negeri itu, bilang padanya aku tantang dia dalam duel catur!Aki akan mengalahkannya!!" ucapnya tersenyum disudut bibirnya seakan menantang pada Daffa, sembari bergumam dalam hatinya.


" Hahai...Sejak kapan ya Alvaro bisa main catur..." gumamnya tertawa dalam hatinya, terlihat Daffa menatap sinis kearah Bima.

__ADS_1


" Kamu nantangi hah?!!Berani benar kamu ya! kamu tidak tahu bagaimana keluarga kami itu melibas kamu nantinya!!"


" Yaiyalah aku berani, siapa takut dengan keluarga kamu itu!!" tantang Bima sembari tersenyum. Melihat Bima serius dengan ucapannya Bianca hanya bisa menepuk jidad sembari menundukkan kepalanya, Bima hanya melirik kearah Bianca sesaat kemudian Bima hanya tersenyum saja, sedangkan Daffa terlihat menahan amarahnya sembari menatap Bima dengan kemarahannya.


__ADS_2