
BAB 36 🌹
Kepala pimpinan HRD itu membawa mereka ke sebuah ruangan di mana di dalam ruangan itu ada 4 pintu khusus untuk bagian mereka masing-masing dan ruang utamanya adalah tempat pertemuan mereka setelah menjelaskan semuanya kepada keempat laki-laki tersebut kepala pimpinan HRD itu pun meninggalkan mereka setelah mengucapkan dukungannya untuk Alvaro Bima Arsya dan Dewa mereka berempat pun menganggukkan kepalanya Dan tersenyum kemudian mereka berempat memasuki ruangannya itu namun mereka tidak masuk ke ruangan mereka masing-masing setelah mereka membuka pintu ruangannya itu mereka duduk di ruang tengah di mana terlihat sofa sudah tersedia
" Bagaimana sekarang, apakah kita harus segera beraksi menuntaskan permasalahan yang dihadapi para OB disini." Ucap Dewa.
" kita harus memahami dulu kinerja mereka bagaimana." Sambung Alvaro.
Sekarang waktunya kita beraksi ucap Bima dianggukan oleh mereka bertiga.
Kemudian mereka pun memasuki kamar yang sudah tersedia di mana ruangan itu adalah ruangan mereka masing-masing dan mereka pun memperhatikan isi ruangannya itu apa yang pantas dan tidak pantas berada di dalam ruangannya tersebut mereka berempat pun merenovasi ruangannya sendiri dengan gaya mereka sendiri agar mereka merasa nyaman berada di ruangan tersebut.
Tepat makan siang Alvaro mengirim chat pribadi kepada sang mama dia tidak pulang untuk makan siang bersama Begitu juga dengan ketiga sahabatnya, Bima Arsya dan Dewa mereka semua pun ikut mengirimkan chat pribadi kepada orang tuanya.
Mereka bertiga menuju ke arah kantin tapi tidak dengan Dewa Dia menuju ke arah belakang karena ada keperluan yang tidak bisa ditunda lagi.
Sembari menunggu Dewa yang masih berada di belakang mereka bertiga sudah memesan makanan beberapa karyawan yang memang menghabiskan waktu makan siangnya di kantin itupun menatap ke arah mereka tidak sedikit banyak cewek selama mengagumi paras tampan yang dimiliki oleh ketiga lelaki tersebut Namun ada juga beberapa laki-laki yang memandang tidak suka dengan mereka padahal mereka tidak tahu kalau yang mereka lihat itu adalah orang-orang khusus keluarga Wibawa.
Saat dewa berada di kamar kecil dia mendengar dua orang berbicara yang tidak lain adalah karyawan OB.
" Aku cape rasanya bekerja di sini." Ucap salah satu dari OB itu.
" Memangnya kenapa? kamu kan masih memerlukan banyak uang untuk orang tua kamu, aku dengar orang tua kamu dalam keadaan sakit."
__ADS_1
" Tapi gajih disini tak cukup, kita kan tidak seperti orang yang berpendidikan tinggi, untuk makan saja aku sulit apalagi biaya kos." Ucapnya terdengar sedih dalam nada bicara.
" Usman ..Kita harus kuat, karena kita datang dari kampung untuk mencari pekerjaan di kota, Benar apa yang dikatakan orang² ibu kota lebih kejam dari ibu tiri."
" Benar kata kamu Din, tapi kalau begini terus bisa-bisa orang tuaku pergi terlebih dahulu dari aku, sudah beberapa bulan ini aku belum bisa mengajak mereka berobat, aku hanya janji-janji saja pada mereka, semakin aku lihat terlalu banyak potongan gaji yang sering kita dapatkan."
Dewa pun kemudian keluar dari kamar tersebut sembari tersenyum mereka berdua yang sedang mengepel lantai itu pun menundukkan kepalanya tanda hormat pada Dewa.
" Hey ...Nggak usah seperti itu, Aku Bukan Bos kalian, Aku sama seperti kalian juga."
" Maksudnya, kamu mau juga melamar jadi OB di sini?"
" Ya bisa dikatakan begitu, karena aku ingin mengkinclongkan kantor ini."
" Bukankah di sini memberikan pekerjaan sesuai dengan gajinya, apalagi seperti kalian ini yang membersihkan kantor ini sehingga menjadi bersih tanpa noda."
" Ah! Itu cuma dilihat dari pandangan saja." Ucap Usman, kemudian menyandarkan tubuhnya di dinding dan merosotkan tubuhnya duduk di lantai ubin keramik kantor tersebut.
" Lebih baik aku menyarankan kamu nggak usah terima pekerjaan ini, memang pekerjaan OB sangat diperlukan di sini, tapi tidak sedikit banyaknya ada yang tidak tahan dalam pekerjaannya, ada pekerjaannya yang banyak tapi gajinya cuma sedikit, bahkan untuk bayar kontrakan aja tidak cukup, saya berkeluarga dan anak saya sekolah, tapi karena saya hanya menggunakan ijazah sekolah menengah pertama, jadi ya seperti ini di gajinya daripada Saya lontang-lantung mencari pekerjaan tidak mendapatkannya, lebih baik saya terima tawaran ini." Ucap Udin yang masih memegang gagang pel lantai itu.
" Maaf, kalau boleh tahu sebenarnya siapa yang membawa kalian bekerja di sini.?"
" Pak Edo, Dia tetangga saya, dia juga sama seperti saya, kata Pak Edo kepala bagian OB mencari karyawan banyak, setidaknya 4 sampai 5 orang lah, yang bekerja sebagai OB di sini banyak keluar masuk disebabkan tidak tahan dengan kerjaannya.
__ADS_1
" Kalau boleh tahu kepala OB itu siapa?"
" Pak Yanuar, awalnya sih kata Pak Edo Dia itu tidak seperti ini, Tapi semenjak Ibu Clarissa tidak lagi berada di kantor ini, dia semakin menjadi."
" Memangnya Ibu Clarissa itu siapa? Sangat ngaruhkah disini?" Tanya Dewa sembari tersenyum karena mereka menyebutkan nama sang Tante.
" Saya tidak pernah bertemu dengan beliau, Tapi menurut keterangan Pak Edo yang lama bekerja di sini tidak pernah ada pemotongan gaji sedikitpun ataupun saat kita minta izin tidak bekerja, sepeser pun tidak pernah dipotong sama sekali, tapi setelah Ibu Clarissa tidak lagi berada di kantor ini, semuanya lepas kendali, sampai Bos utama di sini pun tidak tahu karena yang lebih detailnya lagi adalah ibu Clarissa yang selalu mengawasi semua kepala bagian di sini, itu menurut cerita Pak Edo." Terang Udin.
" Waduh Tante hebat juga ya, Ngaruh banget disini." Gumamnya sembari menganggukkan kepalanya.
" Memang ke mana Ibu Clarissa kenapa bisa keluar dari sini?" Tanyanya, padahal dia tahu kalau sang Tante menangani salah satu perusahaan yang lain.
" Ibu Clarissa menangani perusahaan yang baru, itu juga menurut keterangan Pak Edo, kalau menurut keterangan Pak Edo itu saya mengambil kesimpulan lebih baik Ibu Clarissa kembali lagi ke sini biar hak kami itu tidak dipotong, kami juga tidak mau izin Kami ingin bekerja terus dan mengabdikan diri kami bekerja di sini, tapi setidaknya sesuailah dengan gaji yang harus diterima, kalau sedikitpun kami mengalami kesalahan Pak Yanuar akan marah dengan kami, ini aja saat makan siang kami harus membersihkan dulu, kadang-kadang kami makan juga mencuri-curi waktu."
" Kenapa kalian tidak bilang dengan pimpinannya langsung?"
" Karena kami tidak ada keberanian, kami adalah pegawai rendahan, lagi pula kami tidak seperti orang-orang yang lain yang memiliki pendidikan tinggi daripada kami, makanya saya sarankan lebih baik tidak usah aja bekerja di sini, padahal kantor Wibawa group ini sangatlah bagus dari pandangan orang-orang yang ada di luar sana, tapi nyatanya Saya merasakan sendiri Kalau bekerja di sini hanya diperlukan tenaga saja, bahkan dihargain pun tidak! Sekali lagi Kamu lebih baik nggak usah menerima pekerjaan ini."
Dewa tersenyum...
" Baiklah terima kasih informasinya, nanti saya akan memikirkannya lagi, apakah saya tetap bekerja di sini atau tidak." Ucapnya.
Dianggukkan mereka berdua, kemudian mereka pun berdua melanjutkan kembali pekerjaannya, Dewa langsung melangkah meninggalkan mereka berdua sembari bergumam di dalam hatinya.
__ADS_1
" Berani sekali dia ya, dia tidak tahu kalau salah satu dari kami ini ada titisannya harimau betina yang sudah lepas dari kandangnya, siap memangsa dirinya, tunggu kami Yanuar! " Gumamnya sembari terus melangkah menuju ke arah kantin di mana ketika sahabatnya sudah menunggu.