CAHAYA CINTA

CAHAYA CINTA
CAHAYA CINTA 46


__ADS_3

BAB 46. 🌹


Saat mereka hendak menanyakan sesuatu pada pak Yanuar, pintu ruangan kerja Papah Abiyasa diketuk dari luar, mereka semua pun menatap ke arah pintu, mereka yang ada di dalam ruangan itu pun saling pandang.


Papah Abiyasa bersuara menyuruh si pengetuk masuk, handle pintu bergerak namun pintu tidak terbuka, Dewa tersenyum... Dia kemudian berdiri dari duduknya.


" Maaf Om, pintu tadi Dewa kunci dari dalam."


" Waduh! Pantas saja tidak bisa terbuka." Ucap Papah Abiyasa tersenyum.


Dewa melangkah menuju ke arah pintu, kemudian dia pun membuka pintu ruangan itu, terlihat wajah seorang wanita siapa lagi kalau bukan mama Clarissa.


" Tumben pintu ruangan dikunci? Memang ada apa?"


" Kami sedang pertemuan meja persegi panjang..." Ucap Dewa sembari terkekeh, Mama Clarissa pun ikut terkekeh juga, dia belum menyadari kalau di sofa itu duduk pak Yanuar.


" Bias ada yang ingin aku bicarakan denganmu, tentang perusahaan yang aku tangani." Mama Clarissa masih belum sadar kalau ada Pak Yanuar yang masih menundukkan kepalanya karena dia terkejut melihat Mama Clarissa berada di dalam ruangan itu.


Pak Yanuar hanya bisa bergumam di dalam hatinya, keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya dia memainkan ujung jari jemarinya.


" Celaka aku, sebentar lagi akan tamatlah riwayatku sekarang, karena wanita yang aku singgung namanya itupun sekarang hadir di dalam ruangan ini, bukan mereka yang akan menghakimi aku melainkan dialah yang terlebih dahulu, padahal aku sudah diberi peringatan satu kali olehnya, namun aku tidak mengindahkannya setelah diberi kesempatan kala itu." Gumamnya.


" Apa yang ingin kamu bicarakan Ris?" Tanya papa Abiyasa.


" Tentang...." Namun Mamah Clarissa menggantung kalimatnya, karena matanya tertuju pada Pak Yanuar yang masih menundukkan kepalanya itu dengan posisinya semula.


" Si kepret, ada apa dengan dia, Kenapa dia disini, Apakah dia bikin masalah!" Ucap Mama Clarissa sembari mendekati Pak Yanuar namun sebelum Dia mendekatinya, papah Abiyasa pun meraih tangannya dan menyuruhnya duduk di sampingnya.


" Kamu duduklah dulu jeng, jangan emosi ntar gula darah semakin manis." Ucap Papah Abiyasa sembari terkekeh.


" Memanb aku sudah manis dari sananya, heh Bim, apakah kalian yang mengetahui dan memergoki dia ini membuat ulah?" Tanyanya pada sang anak.


" Yap Madem! Benar sekali Mah." jawab Bima.

__ADS_1


" Bagus! Tidak sia-sia Mama mendidik kamu agar bisa menjadi orang yang mengetahui kejahatan orang lain seperti dia, dan sudah menandatangani sertifikat dari Mamah."


" Hehehe... Tapi Mah, yang parahnya lagi ternyata Mama di sini dikatakannya Mak Lampir!!" Ucap Bima sedikit emosi mengatakannya.


Mendengar ucapan sang anak, mama Carissa pun langsung berdiri dari duduknya.


" Apa?! Kamu Yanuar! mengatakan aku Mak Lampir! Memangnya dia siapa?? apa tidak lebih dari Mak Lampir? Jawab Bima!"


" Apa yang dijawab Mah?" Tanya Bima merasa heran dengan ucapan sang Mamah, dan ketiga sahabatnya tersenyum.


" Bukan kamu, mamah salah sebut, maksud mamah si kepret ini! Jawab Yanuar! Apa kamu lebih baik dari Mak Lampir?!"


Pak Yanuar tidak menyahut dengan ucapan Mamah Clarissa, karena dia tidak bisa berkutik bila dihadapan Harimau Betina itu.


" Tenanglah dulu Clarissa, nanti kamu bisa tekanan darah rendah, menghadapi dia, biarkan anak-anak kita yang memberikan pelajaran untuk dia." Ucap papah Abiyasa tersenyum, dia tahu sikap dan sifat sahabatnya itu.


" Nggak bisa dibiarkan nih orang, dibiarkan semalni ngelunjak! aku jadi gemes! kKenapa dia bisa jadi mengatakan aku seperti itu, rupanya selama ini aku memberikan kesempatan sekali lagi ternyata di pergunakannya dengan menghina aku. Jika tahu seperti ini tidak aku beri kesempatan kamu Yanuar!... Bima!!."


" Kuliti dia sampai terlihat tulang belulangnya, setelah itu tulangnya di remukan dan buang kelaut Atlantik!"


" Siap Madam laksanakan!Akan Bima gebrek dia!"


Mendengar ucapan Mama Clarissa dan Bima pak Yanuar bergidik mendengar ucapan dari ibu dan anak itu, dan yang lainnya pun tersenyum, Dewa hanya berusaha menahan tawanya.


" Makanya kalau jadi orang itu harus amanah! Menjalankan semua perintah dari pimpinan jangan semuanya kamu buat seperti itu, apalagi kamu sudah membuat OB-OB yang ada di kantor Wibawa group ini menderita dan kamu juga mengatasnamakan kantor ini untuk merekrut orang-orang yang memang memerlukan pekerjaan, tapi sayangnya kamu telah mencemarkan nama Wibawa Group."


" Maaf pak Abiyasa, saya tidak merusak nama Wibawa group, Saya tidak melakukan apa-apa karena mereka berdua lah yang telah menjerumuskan saya, mungkin mereka berdua sudah mengatakan kepada bapak tentang pertemuan kami tadi malam." Ujarnya membela diri.


" Eh pak Yanuar!! Kami memang bertemu dengan Anda tadi malam, tapi sayangnya Anda tidak mengetahui siapa Kami sebenarnya." ucap Arsya.


" Ya benar! Kamu tidak mengetahui siapa Kamikan?! sekarang kami akan memperkenalkan diri kami di hadapan kamu, biar kamu bisa mengetahui siapa kami sebenarnya!"


" Kami memang sengaja bertemu dengan kamu Pak Yanuar hanya ingin mengetahui apa yang telah kamu perbuat selama ini, jangan dianggap pimpinan kamu itu mudah dimanfaatkan, seharusnya kamu sadar diri!!" Ucap Dewa lagi membuat Pak Yanuar menatap ke arah Dewa sembari bergumam di dalam hatinya.

__ADS_1


" Astaga!! Ternyata aku kena jebak oleh mereka, tapi mereka hubungannya apa dengan keluarga Wibawa ,, Aku hanya mengetahui kalau laki-laki itu anak dari wanita yang sangar ini, mereka bertiga siapa?" Gumamnya.


" Eh! Kamu pasti bertanya-tanya siapa kami, asal kamu tahu, Kami adalah keluarga dari Wibawa dan ini adalah anak dari pimpinan kamu!" Ucap Dewa sembari memegang pundak Alvaro, membuat Pak Yanuar terkejut keringat dingin yang semula tidak terlalu deras keluar sekarang terlihat membasahi sebagian wajahnya, dia menghapus keringat dingin tersebut.


Arsya mengeluarkan rekaman yang telah mereka persiapkan, saat bertemu dengan Pak Yanuar tadi malam, mereka mendengarkan rekaman pembicaraan itu, pak Yanuar terdiam.


" Apa maksud kamu berbicara seperti itu? Kamu bilang aku di bawah rata-rata kalau aku di bawah rata-rata, kenapa kamu bekerja denganku!! Sekarang aku ingin semua permasalahan yang ada di kantor ini aku serahkan dengan mereka berempat, karena mereka berempat penerus ku!! Apapun keputusan dari mereka aku akan menyetujuinya!"


" Maafkan Pak, Maafkan saya, bukan maksud saya untuk berbicara seperti itu."


" Keputusan sekarang ada di tangan ke 4 orang yang ada di hadapan kamu ini, Alvaro! papah serahkan dengan kamu masalah ini!"


" Baik Pah."


" Pak Yanuar, saya sebenarnya tidak terima saat Bapak berbicara seperti itu tentang Papa Aku, saat kita bertemu tadi malam!"


" Maafkan saya pak!" Ucapnya menatap ke arah Alvaro, Clarissa dan abiyasa hanya menatap mereka yang menyelesaikan semuanya itu, karena mereka berdua sudah menyerahkan kepada empat orang anak mereka tersebut titisan dari abu gosok.


Papa Abiyasa dan Mama Clarissa pun kemudian berdiri dari duduknya.


" Pak tolong saya, Pak Maafkan saya, Saya ingin diberi lagi kesempatan satu kali, saya akan memperbaiki semuanya!" Ucap pak Yanuar memohon pada Papah Abiyasa.


Namun Papah Abiyasa dan Mama Clarissa melangkah meninggalkan mereka dan tidak menghiraukan ucapan Pak Yanuar, setelah pintu ruangan itu tertutup pak Yanuar terlihat gemetaran, karena dia melihat tatapan mata Bima, Alvaro, Arsya, dan Dewa sangat tajam menatap ke arahnya, dia pun kembali menundukkan kepalanya.


" Apakah selama ini perbuatan Anda tidak dipikirkan kedepannya hah?!!" Yanya Arsya


" Sekarang mana sikap martabat yang anda perlihatkan pada kami tadi malam! Keluarkan sekarang dihadapan kami." Ucap Dewa.


" Dan di mana tanggung jawab Anda saat berbicara tentang pimpinan Wibawa group yang di bawah rata-rata itu??!!" Tanya Alvaro.


" Dan di mana gaji para OB yang sudah dipotong itu, kembalikan dengan segera! Kalau Anda tidak mengembalikannya, apakah anda ingin rumah sakit atau kuburan!!" Ucap Bima.


Mendengar ucapan Bima, dia pun terkejut dan menatap ke arah Bima dengan tatapan tidak menentu, Karena rasa ketakutannya sudah mulai dia rasakan, kakinya sudah mulai gemetaran kedua telapak tangannya basah oleh keringat dingin yang sudah mulai membanjirinya.

__ADS_1


__ADS_2