CAHAYA CINTA

CAHAYA CINTA
CAHAYA CINTA 23


__ADS_3

BAB 23🌹


Dua hari sudah mereka menangani urusan Febri dan istrinya, akhirnya semua sesuai dengan keinginan mereka, usaha Febri yang dirintisnya pun sudah kembali ke tangan Febri dan sepasang suami istri yang sudah menjahati Febri dan istrinya itu pun sudah mendapatkan ganjarannya sesuai dengan perbuatannya itu.


Bima yang berada dirumahnya setelah sarapan pagi bersama keluarganya itu sedang duduk santai diruang tengah.


" Jadi ya kalian hari ini mengunjungi kantor Wibawa?" tanya Papah Marco.


" Iya Pah, jadi rencananya Bima langsung menuju kekantor Wibawa Group."


Papah Marco menganggukkan kepalanya.


" Kamu harus teliti dalam bekerja di kantor Wibawa karena banyak tikus-tikus yang menginginkan keju yang besar, walaupun mereka sudah mendapatkan bagian kejunya masing-masing." ucap Mama Clarissa sembari tersenyum.


" Pasti mah, Bima akan teliti bahkan akan meneliti mereka semua hehehe." ucapnya kemudian ponselnya berdering dia melihat ke layar ponselnya ternyata Alvaro yang memanggilnya dia pun langsung menjawab panggilan Alvaro.


" Ya Alvaro."


" Kamu sekarang di mana Bim.?"


" Masih nyantai sama mama dan papa."


"Jam 09.00 ya kita ke kantor."


" Oke siap, masih ada waktu 45 menit lagi."


" Oke!" ucapkan lalu memutus sambungan teleponnya.


" Baiklah,Mah, Pah, Bima siap-siap dulu."


Dianggukkan oleh kedua orang tuanya, kemudian dia pun berdiri dari duduknya dan melangkah menuju ke lantai atas di mana kamar pribadinya berada, beberapa saat dia mengganti pakaiannya itu, dia bercermin dan tersenyum sembari bersuara.


" Sempurna!" ucapnya sembari tersenyum sendiri kemudian dia pun keluar dari kamarnya dan melangkah menuruni anak tangga, Dia menuju ke arah di mana kedua orang tuanya yang masih duduk di ruang tengah tersebut, Bima kemudian meraih kedua tangan orang tuanya itu dan mencium punggung tangan mereka dan berpamitan dengan anggukan dan tatapan mata kedua orang tuanya Bima melangkah meninggalkan kedua orang tuanya tersebut menuju ke arah mobilnya, beberapa saat kemudian mobilnya pun meninggalkan rumah kediaman pribadi kedua orang tuanya itu menuju ke arah Wibawa Group.


Di sebuah rumah yang sederhana seorang wanita pun melangkah keluar dari rumahnya dan menutup kembali rumahnya tersebut, dia melangkah meninggalkan rumah kediaman Almarhum kedua orang tuanya itu,dia menuju ke arah jalan raya.


" Di mana dia, kok sampai jam segini belum nyampai juga sih, katanya mempunyai ciri-ciri mobil berwarna putih polos." ucapnya sembari menengok kiri dan kanan dari kejauhan terlihat mobil yang dimaksud dia kemudian menggapai-gapai mobil itu pengemudi yang ada di dalam mobil itu yang tak lain adalah Bima langsung menghentikan mobilnya, Dia membuka kaca jendelanya sembari menatap ke arah wanita tersebut.

__ADS_1


Wanita itu pun mendekati Bima sembari bersuara.


" Kenapa lama sekali sih, aku menunggu sudah dari tadi, sampai-sampai aku menunggu ke depan sini." ucapnya.


Bima pun kemudian melepas kacamata hitamnya dia merasa heran dengan ucapan wanita yang ada di luar mobil tersebut.


" Ya Allah...ganteng banget kamu, pas banget dengan pikiranku..." ucap Wanita itu membuat Bima tambah bingung.


Bima kemudian turun dari mobil sembari menatap ke arah wanita yang ada di hadapannya itu.


" Maksudnya apa ya.?"


" Kan tadi sudah dijelaskan sama tempat kerja kamu, aku sudah menghubungi tempat kerja kamu itu, katanya kamu sudah berangkat,malah siang datangnya, sudah jam berapa ini? mana kunci mobilnya, biar aku yang bawa agar sampai ke tempat tujuan dengan cepat." ucapnya sembari mengambil kunci mobil yang ada di tangan Bima, Bima hanya melongok karena dia tidak mengerti dengan ucapan wanita tersebut, wanita itu pun kemudian memasuki mobil Bima dan duduk dibelakang stir


Perempuan itu pun kemudian mendongakkan kepalanya keluar dari mobil tersebut.


" Ayo buruan! Nanti terlambat, kamu sudah beberapa menit terlambat menjemput aku, kamu mau ikut apa nggak, Nanti aku tinggal kalau kamu tidak mau ikut!" ucap perempuan itu, Bima merasa bingung sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan bergumam di dalam hatinya.


" Perasaan itu mobil aku, kenapa dia memerintah aku sih?"


Bima hanya menganggukkan kepalanya kemudian berjalan ke arah depan dan duduk di samping wanita tersebut.


Wanita itu pun melajukan mobil Bima dengan kecepatan tinggi Bima berpegangan dengan kuat.


" Kamu bisa nyetir nggak sih.... hati-hati dong kalau nanti terjadi apa-apa gimana.?"


Wanita itu hanya tersenyum saja.


" Ini semua salah kamu! aku sudah terlambat, sudah beberapa jam yang lalu aku menunggu kamu, tapi kamu tidak datang-datang juga."


" Memangnya kamu mau ke mana sih?" tanya Bima, dia juga merasa bingung mau dibawa ke mana oleh wanita yang dia juga tidak kenal siapa wanita tersebut.


" Aku mau menghadiri acara keluarga besar Almarhum Ayahku."


" Acara keluarga besar? kenapa kamu tidak ajak ibu kamu?"


" Hem...kedua orang tua ku sudah tiada."

__ADS_1


" Oh, Maaf kan aku."


" Tidak apa-apa Aku maafkan hehehe..."


" Sebenarnya aku capek karena selalu diolok-olok dan selalu dihina oleh mereka,dibilang perawan tua lah, nggak punya kekasih lah, nggak laku lah, nggak bisa memberikan cucu pada kedua orang tua ku sampai tiada, cape aku dengan ucapan mereka."


" Terus apa hubungannya dengan orang yang kamu tunggu itu."


" Pakai nanya lagi, yang aku tunggu itu kamu, karena kamu sudah aku kontrak untuk beberapa minggu ke depan."


" Apa? kamu kontrak beberapa minggu ke depan?"


" Iya..." ucapnya santai.


" Memangnya kamu sanggup membayar aku.?"


" Sanggup lah, perjanjiannya kan tadi dua juta aja aku bayar kamu, itu juga aku mengumpulkan uangnya, untuk bisa membalaskan rasa sakit hatiku pada mereka, habisnya aku selalu dihina, aku memang anak yatim piatu, aku hanya bekerja sebagai Cs disebuah perusahaan yang terkenal itupun aku hanya digaji tidak seberapa, yah yang penting bisa kontrak kamulah hehehe...." ucapnya lagi-lagi berbicara apa adanya.


" Memangnya kamu bekerja di perusahaan mana.?"


" Aku bekerja di perusahaan Wibawa group, tapi tepatnya di kantornya, kenapa kamu masih banyak tanya terus sih? Memangnya kamu bekerja di sana? udahlah kamu nggak usah bekerja di sana, biar aku aja yang bekerja di Wibawa group, kamu tetaplah bekerja dibiro kontrak kekasih, biar aku bisa ngontrak kamu lagi kalau sandiwara ini sukses." ucapnya tersenyum sembari menoleh sesaat kearah Bima.


" Kamu bilang tadi kamu menabung, memangnya selama berapa tahun, sampai mengumpulkan uang dua juta."


" Bertahun-tahun lah, kamu kan tahu sendiri pekerjaan Cs itu seperti apa, gajinya juga sedikit, tapi aku menikmati kok pekerjaan itu."


" Tidak mungkin di kantor Wibawa grup itu membayar karyawannya sedikit."


" Kamu tidak percaya ya, ya udah!"


" Memangnya kamu menerima gaji tidak langsung ke bagian bendaharanya gitu.?"


" Kami ini menerima gajinya dari kepala cleaning service nya langsung dari tangannya kami menandatangani gaji kami secara manual juga melalui dia, loh kok aku jadi curhat ke kamu sih, Kamu kan baru aku kenal, udahlah sekarang kita sudah sampai sebelum kita turun dari mobil ini kamu berpura-pura sebagai kekasih aku, yang memiliki kekayaan melimpah, karena aku ingin memberi efek jera pada mereka, biar aku tidak dihina lagi, Awalnya aku memang tidak mau mengikuti acara keluarga ini, tapi karena aku sudah habis pikir dan aku juga selalu dicemoohkan oleh mereka, tidak ada yang membela aku semenjak kedua orang tuaku tiada, aku kan jadi sakit hati dan jenuh juga aku dengan omongan mereka, mau melawan Aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena mereka semua ada di atasku, aku ini hanyalah seonggok semut kecil di mata mereka." ucapnya sembari menyadarkan tubuhnya di jok mobil.


Bima menghela nafasnya dengan panjang dia menatap gadis yang di sampingnya itu.


" Hemm.. cantik juga wanita ini, Tapi kasihan juga dia selalu dicemooh kan oleh oleh keluarganya, sekaya apa sih mereka, sehingga mereka membanggakan kekayaan mereka itu, Baiklah!! aku akan mengikuti permainan mereka, dan aku akan membantu wanita ini, lumayanlah jadi pacar bohongannya, hehehe... tapi aku juga tidak menolak kok jadi pacar nyatanya." ucapnya masih menatap dengan lekat ke arah wanita itu yang terdiam di tempat parkir disebuah rumah besar tersebut yang tidak tahu pemilik Rumah itu siapa namanya, karena Bima tidak mengenalnya.

__ADS_1


__ADS_2