CAHAYA CINTA

CAHAYA CINTA
CAHAYA CINTA 50


__ADS_3

BAB 50🌹


" Assalamualaikum Pah..." sapa Alvaro sembari membuka pintu ruangan papa Abiyasa.


" Waalaikumsalam.." sahut Papa Abiyasa sembari tersenyum melihat keempat orang lelaki memasuki ruangan tersebut dan duduk di hadapannya.


" Sudah selesai semua urusannya?"


" Sudah Pah, ada apa Papa memanggil kami ke ruangan papa?"


Papa Abiyasa kemudian menghela nafasnya dengan panjang dan menutup laptopnya yang ada di hadapannya tersebut.


" Ada satu masalah yang harus kalian selesaikan."


" Tentang apa Om?" Tanya Bima.


" Hehehe, kamu antusias sekali sih Bim, sama seperti mamahmu."


" Namanya juga titisan harimau betina hehehe.." ucapnya membuat mereka yang ada di dalam ruangan itu terkekeh.


Begitu juga dengan Papa Abiyasa yang tertawa pelan.


" Begini, Papa tadi menerima sebuah telepon yang mengatakan kalau hotel Wibawa yang berada di perempatan jalan sana, sebentar lagi akan dijual, dia tidak mengatakan siapa dirinya yang menghubungi papa itu."


" Hah? Dijual? Berani sekali dia mau menjual aset Wibawa group." Ucap Dewa.


" Nah itu dia yang membuat Om heran Dewa..."


" Apakah perempuan atau laki-laki yang menghubungi papah?"


" Perempuan Nak."


" Mereka tidak bisa menjual begitu saja tanpa ada persetujuan dari Om, terkecuali mereka memiliki surat kuasa dari Om yang sudah ditanda tangani." Ucap Arsya.


" Iya, memang benar apa kata kamu Arsya, tidak ada yang bisa menjual selain persetujuan dari Om, tapi bisa saja surat itu di palsukan, karena sekarang adalah jaman teknologi."


"Hemmm... Benar juga apa yang dikatakan Om Abiyasa." Sahut Dewa.


" Terkecuali orang yang memang pintar dalam memalsukan segala hal, sehingga dia bisa ingin menjual hotel itu." sambung Bima


" Bagaimana tentang omsetnya pah, apakah ada penurunan dalam laporan yang diberikan oleh manajer itu setiap bulannya,,?" Tanya Alvaro.


" Omset memang mengalami penurunan, papa sih menganggapnya biasa saja, tapi setahu Papa banyak yang menginap di sana, karena sering Papa liat kendaraan sangat banyak parkir di depan hotel kita itu."


" Siapakah orang kepercayaan papa di hotel itu?"


" Kalau dibilang kepercayaan sih bukan juga, namanya Hendri dia direkomendasikan oleh teman Papa, karena dia adalah keponakannya."

__ADS_1


" Apakah papah merasa curiga dengan dia.?"


" Kalau masalah kecurigaan Papa sedikitpun tidak curiga padanya, terlihat dia orang baik apalagi Om nya itu sangat baik sekali orangnya."


" Baiklah pah, kami akan mencari tahu semuanya."


" Ya sudah kalian bisa melaksanakannya besok hari, terserah caranya seperti apa, itu urusan kalian, Papa ingin kabarnya secepatnya, Oh ya,Papah berencana akan berangkat ke luar negeri dan perusahaan ini sementara waktu papa serahkan pada kalian berempat sebelum adikmu datang Varo."


" Siap! Kami berempat akan semampunya menjaga amanah dari Papa, Papa nggak usah memikirkan itu semua, kami akan menyelesaikannya." Ucap Alvaro dianggukan oleh keempat sahabatnya itu.


" Ya udah kalau seperti itu, ayo kita pulang karena waktunya sudah pulang."


" Alvaro dan yang lainnya ada keperluan sebentar Pah di luar, mungkin Alvaro akan pulang sedikit telat."


" Baiklah kalau begitu papa terlebih dahulu pulangnya, takut Mama mu menunggu."


Dianggukan oleh mereka berempat, setelah mencium punggung tangan papah Abiyasa, Papa Abiyasa pun langsung melangkah meninggalkan mereka berempat yang masih berada di ruangannya itu, mereka berempat menghela nafasnya dengan panjang dan menyadarkan tubuhnya di sandaran sofa yang ada di ruangan Papa Abiyasa itu.


" Hemmm...Berani sekali orang itu mau menjual hotel berbintang kita, mereka belum tahu dengan kita, sekarang kita kasih tahu dia." Ucap Arsya.


" Oke! Kinclong akan segera membersihkan noda-noda yang membekas, dengan sekali kepak akan segera dibersihkan tidak akan tertinggal lagi " ucap Dewa.


" Semangat !!" Ucap Alvaro.


" Kinclong beraksi." sambung Bima.


" Membasmi noda!" Ucap mereka berbarengan, kemudian mereka berdiri dari duduknya mereka keluar dari ruangan Papa Abiyasa menuju ke arah lobby.


Beberapa saat mereka sudah mulai dekat dengan rumah Bianca, sebelum sampai di depan rumah Bianca terlihat dari jauh Bianca dan dua orang lelaki sedang adu mulut dan terlihat juga Bianca ditarik dengan sedikit ka*sar dipaksa masuk ke dalam mobil mereka dan motor Bianca pun dijatuhkan begitu saja, ketika itu mereka yang berempat melihat kejadian itu pun dengan cepat Alvaro melajukan mobilnya menuju ke arah mereka dan menghalang depan mobil milik kedua orang tersebut, Bianca yang hendak disuruh masuk ke dalam mobil itu pun berhenti, mereka bertiga menatap ke arah mobil Alvaro, Alvaro dan 3 sahabatnya keluar dari mobil tersebut, melihat yang datang adalah Bima dan kawan-kawannya, Bianca berusaha melepaskan tangannya.


" Lepaskan wanita itu!" ucap Bima dengan lantang.


Kedua lelaki itu pun tersenyum sinis, lalu melepaskan tangan Bianca dan Bianca langsung berlari kearah belakang Bima.


" Kamu tidak apa-apa ?"


" Iya ..." Ucap Bianca.


" Heh!! ada urusan apa kalian dengan wanita itu hah! "


" Bukan urusan kalian!! Seharusnya aku yang bertanya pada kalian berdua!!" sahut Dewa.


" Kalian tidak tahu ya! Kalau perempuan itu sudah memiliki hutang yang banyak pada bos kami."


" Heh bakul pasir! Kalau kamu ingin menagih hutang boleh saja! Tapi tidak dengan begini caranya!" Ucap Dewa.


" Sudah jangan banyak omong! berikan wanita itu pada kami, biar dia berhadapan langsung dengan bos kami."

__ADS_1


" Bilang pada bos kamu perempuan ini tidak bisa kamu bawa dari dia ( sambil menunjuk kearah Bima), karena dia lebih banyak berhutang padanya daripada pada bos kamu itu!!" ucap Dewa, mendengar ucapan Dewa itu, mereka bertiga terkejut, dan Bianca lebih terkejut lagi, dia menatap ke arah Bima, Bianca bergumam di dalam hatinya.


" Hutang? Perasaan aku nggak pernah berhutang dengan dia, apa dia ke sini menagih uang kontrak yang aku katakan kepada dia saat itu ya?"


" Tidak mungkin dia punya hutang pada Dia!"( Menunjuk kearah Bima)


" Dia berhutang hati padanya!!"


" Hah?! Berhutang hati? Apaan sih Dewa? Tanya Bima dan Alvaro serta Arsya hanya tersenyum.


" Udah diam aja." Ucap Dewa santai.


Kedua orang itupun terdiam dan keheranan dengan ucapan Dewa, namun mereka kembali berbicara.


" Tapi kami tetap akan membawa dia." Ucap salah satu dari mereka berdua, Alvaro langsung melangkah menahan langkah mereka berdua yang hendak mendekati Bianca dan Bima.


" Stop disitu! Kalau boleh tahu berapa utang wanita ini pada bos kamu !"


" Lima juta."


Alvaro kemudian mengeluarkan uang cash yang ada di dalam mobilnya, Dia pun kemudian memberikan kepada laki-laki tersebut.


" Katakan pada Bos kamu, jangan sekali lagi kamu mengganggunya dan jangan sekali-kali kamu main ka*sar pada wanita ini, kalau kalian tidak ingin berhadapan dengan kami untuk yang kedua kalinya!! Nih! bawa sana uangnya, katakan pada bos kamu pesanku tadi!" ucap Alvaro, kedua laki-laki itu pun mendengus dengan kesal, kemudian mereka pun masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil tersebut meninggalkan rumah Bianca.


Bianca terkejut karena Alvaro membayarkan hutang kedua orang tuanya tersebut.


" Terima kasih, karena kalian sudah membantu saya, saya akan membayarnya dengan cara mencicilnya."


" Tidak usah kamu pikirkan itu, kami ke sini ada perlu denganmu." Ucap Bima dianggukkan mereka bertiga.


" Apakah kamu menagih hutang kemaren soal kontrak itu?" tanya Bianca pada Bima.


" Kamu tidak ada berhutang padaku."


" Tapi tadi apa maksudnya hutang hati? "


" Hahaha...Aku cuma sengaja aja berbicara seperti itu." Sambung Dewa.


" Iya Bianca, dia hanya berpura-pura saja berbicara seperti itu, tapi kalau tidak dicegah sama Dewa Mungkin dia akan lebih panjang berbicaranya, kalau dia kehabisan kata-kata mungkin kepalan tangannya yang berbicara." ucap Alvaro.


Mereka pun terkekeh bersama, Bianca hanya tersenyum saja.


" Oh ya, ayo masuk kita bicara di dalam aja." Ucapnya kemudian mengambil motornya yang sudah dibenarkan posisinya oleh Arsya.


Mereka pun masuk ke halaman rumah Bianca, mereka berempat duduk di lantai ubin keramik teras rumah tersebut.


" Kenapa kalian duduk di sini? kita bicara di dalam aja." Ajak Bianca.

__ADS_1


" Tidak usah kita bicara di sini aja biar kita menikmati angin semilir sore." Ucap Alvaro.


" Baiklah kalau mau kalian seperti itu." Ucap Bianca sembari duduk bergabung bersama mereka.


__ADS_2