
BAB 69🌹
" Kenapa kamu tidak mau pulang, kamu masih mau di sini, biasanya kamu kuajak pulang dengan cepat kamu mengiyakan, tapi kenapa hari ini kamu dengan cepat menggelengkan kepalamu.?" Tanya Lani sembari menatap kearah Ayana dengan heran.
Ayana tersenyum.
" Tidak ada apa-apa, baiklah aku akan ikut denganmu pulang ke rumah, ayo Sekarang kita pergi dari sini." Ucap Ayana sembari meraih tangan Lani.
Lani hanya menatap ke arah Ayana, lagi-lagi dia merasa ada yang aneh dengan sahabatnya itu.
Namun Lani tetap mengikuti langkah sang sahabat, Ayana menyadari siapalah dirinya, yang hanya sebagai seorang wanita biasa, yang terlahir dari keluarga sederhana, Ayana pun menggandeng tangan Lani untuk keluar dari ruangan di mana loker mereka berada, Mereka pun tersenyum-senyum sambil berbicara melangkah menuju ke arah parkiran di mana motor Lani berada, walaupun di benak Ayana memiliki pikiran yang tidak menentu, sesampai di parkiran, dia pun menengok kiri dan kanan, tidak terlihat wajah Arsya, dia menghela nafas panjang.
" Mungkin dia hanya bercanda saja tadi untuk mengantarkanku pulang." Ucapnya dalam hati sembari tersenyum getir.
Lani pun kemudian menyalakan mesin roda dua kesayangannya itu, untuk segera pulang ke rumah.
Saat Ayana hendak menaiki motornya Lani, seseorang pun memanggilnya dari arah yang berbeda.
" Ayana...!" Panggil Arsya, Ayana pun menoleh begitu juga dengan Lani yang merasa terkejut karena dia tidak menyangka kalau Arsya yang memanggil Ayana, Lani menoleh ke arah Ayana dan kemudian memamatikan mesin motornya tersebut, lalu dia pun turun dari motornya menatap ke arah Arsya.
" Mas Arsya mendekatimu Ayana, apakah kamu ada janji dengan Mas Arsya? tanya Lani, Ayana menoleh ke arah Lani sesaat dan dia pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
" Kenapa kamu tidak bilang dari tadi Ayana, kalau kamu bilang dari tadi denganku mungkin aku tidak akan memaksa kamu untuk ikut denganku."
" Aku malu untuk mengatakannya padamu." Ucapnya, sebenarnya dia berusaha berdamai dengan debaran jantungnya, setelah Arsa berada di hadapannya.
Lani dan Ayana tersenyum, Arsya membalas senyuman kedua wanita yang ada di hadapannya itu, kemudian dia pun berbicara pada Ayana.
" Kenapa kamu tidak menghubungi aku saat kamu pulang, aku kan sudah janji padamu ingin mengantarkan kamu pulang, untung saja aku segera ke parkiran, kalau tidak kamu sudah pulang lebih dulu."
Ayana tersenyum...
" Maaf ya Lani, Ayananya aku pinjam untuk aku antarkan pulang, hari ini dia tidak ikut dengan mu." Ucap Arsya tersenyum.
" Oh iya Mas, nggak apa-apa, dibawa pulang ke rumah Mas juga nggak apa-apa kok Mas, saya perbolehkan sekali...Hehehe, maaf Mas bercanda..." Sahut lani tersenyum.
Ayana pun langsung mencubit lengan Lani dengan pelan.
Arsya tersenyum, menambah rasa tak menentu dihati Ayana karena melihat senyum Arsya.
__ADS_1
" Kalau begitu saya permisi dulu Mas, saya titip Ayana ya.." Ucapnya dianggukan oleh Arsya, kemudian dia pun langsung menaiki motornya dan beberapa saat kemudian motor Lani pun sudah hilang di tatapan mata Ayana.
Lani percaya kalau Arsya akan mengantarkan pulang Ayana ke rumahnya dengan selamat, karena dia yakin Arsya adalah laki-laki yang sangat baik dan tidak akan macam-macam pada Ayana.
Arsya tersenyum pada Ayana, Ayana pun tersenyum padanya dengan manis, karena tidak ada lagi kata-kata yang ingin diucapkannya, karena Ayana masih berdamai dengan perasaan dan degupan jantungnya yang semakin berdebar dengan cepat.
" Ayo sekarang aku antar pulang." Ucap Arsya, kemudian Arsya pun membukakan pintu mobilnya untuk Ayana.
" Terima kasih ya Mas." Ucapnya dianggukan oleh Arsya.
Arsya masuk ke dalam mobilnya dan siap mengendalikan kuda besi milik Bima itu, menuju ke arah rumah Ayana, di dalam mobil Ayana terdiam, dia hanya memainkan jari jemarinya dan sesekali menoleh ke arah samping luar jendela mobil yang tertutup dengan rapat itu.
Sedangkan Arsya menatap lurus ke depan dan sesekali dia menoleh ke arah Ayana yang terlihat salah tingkah berada dalam satu mobil dengannya itu, Arsya pun tersenyum.
" Sudah lama kamu bekerja di restoran Wibawa?" Tanya Arsya memulai pembicaraan tersebut.
" Iya Mas, sudah lama."
" Oh ya Mas, aku ingin mengembalikan uang yang pernah kamu berikan pada Ayahku"
Arsya menoleh sesaat pada Ayana, kemudian dia fokus lagi menyetir.
Ayana tersenyum...
" Maafkan aku ya Mas."
" Kamu tidak salah, untuk apa meminta maaf padaku, yang salah itu aku yang seharusnya minta maaf padamu, karena membuat kamu kepikiran dengan perihal uang yang kukasihkan pada Ayah kamu itu."
Lagi-lagi Ayana hanya tersenyum, begitu juga dengan Arsya yang tersenyum sembari menatap sesaat kearah Ayana, mobil yang dikendalikan Arsya itu pun melaju dengan kecepatan sedang menuju ke arah kediaman rumah pribadinya Ayana.
***
Sedangkan di hotel Wibawa ketiga sahabatnya yang masih berada di dalam kamar nomor 184 itupun, masing-masing merebahkan dirinya di ranjang hotel dan di sofa hotel tersebut, siapa lagi kalau bukan Alvaro, Bima, dan Dewa.
" Aku berharap sekali kalau Arsya memang benar-benar menyukai Ayana, kalian melihat nggak sih, kalau Ayana itu adalah wanita yang sangat baik dan keibuan sekali." ucap Dewa.
Alvaro dan Bima pun menoleh ke arah Dewa.
" Kenapa kalian menoleh ke arahku? Apakah ada yang salah dengan ucapanku?"
__ADS_1
" Hmmm... Sebenarnya tidak ada yang salah dengan ucapan kamu, aku juga sependapat kok dengan kamu." Sambung Alvaro.
" Tapi ada yang sedikit aneh dari ucapan kamu itu." Sambung Bima yang masih tetap menatap layar ponselnya, karena dia memainkan sebuah game yang ada di dalam ponselnya tersebut, dan dia pun tidak menoleh sama sekali ke arah Dewa walaupun dia berucap seperti itu, Dewa langsung mengambil ponsel yang dipegang oleh Bima, Bima pun langsung tertawa dan duduk dari rebahannya itu, dia duduk bersila di atas tempat tidurnya sembari menatap ke arah Dewa.
" Kenapa kamu menatap aku seperti itu Dewa? Apakah aku salah bicara?" Tanya Bima tersenyum lebar.
" Ya iyalah kamu salah, kenapa kamu bicara seperti itu."
" Bicara yang mana Mas Dewa Asmara..."
" Kata salahnya..." Ucapnya merajuk dengan wajah ditekuk sembari menatap kearah Bima.
" Hahahaha...Lucu banget Wa, wajah kamu ditekuk kaya itu ..."
" Hahah..Ekpresinya itu imut banget deh..." Sambung Alvaro.
Dewa pun ikutan tertawa lepas...
" Aku jadi sewotkan..." Ucap Dewa.
" Memang ada yang aneh tuh, dengan ucapan kamu tadi..." Sambung Bima.
" Anehnya di mana Bima sakti...!" Ucap Dewa.
" Kok kamu bilang sikapnya seperti keibuan, memang kamu tahu sikap keibuan itu seperti apa?"
" Ya iyalah aku tahu, sikap keibuan itu seperti Mamiku Anindita, Mamiku itu adalah inspirasiku, di samping mamiku itu cantik,dia juga sangat sayang keluarga, walaupun dia sibuk tapi dia masih perhatian sama aku, dan papiku, dan adikku juga, serta para pasien dan para pekerjanya. Aku pengen mencari seorang kekasih yang sikapnya seperti mamiku." Ucap Dewa dengan bangga berucap tentang kekagumannya pada sang Mami.
" Aamiin...." Bima dan Alvaro mengaminkan ucapan dari Dewa.
Dewa hanya tersenyum saja.
" Memang benar sih apa yang kamu katakan itu, aku juga menilai tentang seorang Ayana sangat cocok sekali dengan Arsya." Sambung Alvaro.
Mereka pun menganggukkan kepalanya di ruangan kamar 184 itu hening, tidak ada suara sama sekali.
Kemudian mereka pun dikejutkan dengan suara ponsel Alvaro yang berdering, Alvaro langsung duduk dari rebahannya di sofa itu dan mengambil ponselnya, dia melihat layar ponselnya tersebut yang tertera pemanggilnya adalah Papa Abiyasa, dia langsung menjawab panggilan tersebut. Mereka berdua yang ada duduk di atas tempat tidur itu menatap ke arah Alvaro, Alvaro berbicara sesaat dengan sang Papa, mereka hanya bisa mendengarkan sepihak karena Alvaro tidak menloudspeaker pembicaraannya dengan papa tersayangnya itu.
" Innalillahi wa inna ilaihi rojiun..." Ucap Alvaro
__ADS_1
Bima dan Dewa terkejut dan saling pandang, merasa heran dengan ucapan Alvaro dan mereka berdua pun bertanya-tanya ada kabar duka dari siapa.