
BAB 27🌹
Daffa hanya terdiam tanpa suara dan dia pun langsung berdiri dan menatap kearah Bima dengan tatapan tajamnya seakan dia ingin melahap Bima dengan cepat, namun Bima tidak gentar sedikit pun karena dia sudah mengetahui kalau Daffa sudah berbohong.
" Kenapa? mau pergi sekarang! Setelah ketahuan kalau kamu bukanlah keluarga dari Wibawa!" ucap Bima santai sembari mensedekapkan tangannya didada.
" Kamu memang hebat! pintar sekali kamu bersandiwara didepan mereka dengan menyewa semua orang yang sudah kamu hubungi tadi, dan kamu kira aku percaya? Sayang sekali kamu salah! Aku sedikitpun tidak percaya dengan apa yang kamu mainkan!! " ucapnya sedikit bernada tinggi membuat semua orang yang ada didalam rumah itupun terkejut.
Prily pun langsung meraih tangan Daffa agar tetap duduk.
" Sayang, kamu harus sabar kita harus sabar menghadapi orang seperti dia, karena dia memang sepertinya ingin menguras emosi kamu, kamu jangan terpancing." ucap Prily sembari mengusap dada Dafa, Dafa hanya menganggukan kepalanya sembari menggenggam tangan sang kekasih, padahal di dalam hatinya Daffa dia pun merasa was-was dengan keberadaan Bima.
" Aku sengaja berbicara seperti itu agar dia percaya kalau aku memang adalah keturunan dari keluarga Wibawa, aku merasa curiga aja dengan dia begitu mudahnya dia langsung menghubungi keluarga Wibawa yang notabenenya sangat sulit untuk dihubungi terkecuali orang yang memang kenal dekat dengan mereka, tapi aku tidak percaya kalau yang dihubunginya itu adalah memang benar-benar keluarga Wibawa, aku tetap tidak yakin! dasar penipu kelas ulung." Gumamnya di dalam hati sembari menatap sinisnya, sedangkan Bima hanya menyunggingkan senyumnya pada Daffa yang dari tadi menatap sinis ke arahnya.
Bima kemudian menghubungi kembali semua sahabatnya dan menshare lokasinya pada mereka, karena kelakuan Daffa sudah membuat Bima naik pitam. Awalnya dia tidak ingin menghubungi mereka tapi karena ini sudah diluar kendali, Bima pun menginginkan para sahabatnya itu mengetahui secara jelas siapa Daffa.
__ADS_1
Kemudian keluarga Bianca berkumpul dari sang nenek,om dan tantenya berpindah duduk kearah ruang tengah, setelah mendengar perkataan Daffa sedikit tinggi terutama kedua orang tua Prily yang mendengar suara calon menantunya tersebut.
" Ada apa ini? kenapa denganmu Daffa, Kenapa kamu bersuara sangat tinggi seperti itu? apakah ada yang membuatmu marah? katakan pada Om." ucap Ayah Prily
Dengan sedikit angkuhnya Daffa tidak menghiraukan teguran calon mertuanya itu, dia menatap Bima dengan lekat dan sinis sekali.
" Papah, lelaki bayaran Bianca itu memgaku sebagai keluarganya Daffa, papah kan tahu kalau Daffa ini keturunan dari keluarga Wibawa yang terkenal itu,dia malah mengaku memgenal keluarga Wibawa..." kemudian Prily pun menceritakan semuanya pada papahnya itu semua sampai Bima menghubungi seseorang yang dianggap mereka adalah orang lain yang hanya mengaku sebgai anak dari penerus keluarga Wibawa.
Mendengar cerita sang anak pak Yakult pun menatap sinis kearah Bianca dan Bima, Bianca tak bisa berkutik dia hanya pasrah dengan keadaan sekarang, diapun hanya menundukkan kepalanya dan memainkan jari jemarinya.
" Siapa Kamu ini sebenarnya, Kenapa kamu menghubungi keluarga Wibawa, kamu kira kami bodoh hah?! mana ada keluarga Wibawa yang mau menjawab panggilan kamu yang sok kenal itu."
" Kenapa kamu berbicara seperti itu, Aku tidak ingin pekerjaanku menjadi jaminan dari omongan kamu." gumamnya di dalam hati, namun dia tetap menatap ke arah Bima seolah-olah Bima mengerti akan perkataan dari Bianca, dia pun hanya tersenyum sembari menepuk tangan Bianca dan dia pun langsung berucap dan didengar oleh mereka semua.
" Kamu nggak usah takut, kamu tidak akan dipecat ataupun akan diusir dari perusahaan Wibawa Group, karena aku berbicara dengan benar, kalau aku tidak bohong apa yang aku katakan ini tidak keluar dari jalurnya, karena dialah yang berbohong! ( lagi-lagi menunjuk kearah Daffa) dia tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan keluarga Wibawa!" ucap Bima lagi-lagi tersenyum pada Bianca,dan Bianca hanya menghela nafasnya dengan pelan dia mengaku pasrah karena dia tidak bisa lagi berbuat apa-apa setelah mendengar ucapan dari Bima
__ADS_1
" Apa yang dilakukan oleh Bima sekarang ini, Aku hanya bisa pasrah untuk menerima akibatnya dari ucapan Bima yang baru saja aku kenal ini."
Kemudian ponsel Bianca pun berdering dia mengambil ponselnya dan melihat siapa pemanggilnya dia pun cepat-cepat menjawab panggilan tersebut.
Terdengar suara di seberang sana menanyakan perihal di mana dia berada, Bianca merasa bingung karena yang memanggilnya adalah dari biro penyewaan kekasih tersebut.
Bianca tidak bisa berbicara ataupun membantah perkataan dari sang penelpon.
" Mbak Bianca, sekarang Mbak di mana? Aku sudah berada di depan rumah Mbak, aku sudah menunggu sedari tadi,tapi Mbak tidak keluar sama sekali dari rumahnya, aku harus menunggu sampai kapan Mbak, Mbak jadi nggak ngontrak saya? Halo... Mbak Bianca... Halo..." tidak ada jawaban dari Bianca pun langsung menatap ke arah Bima, dia pun cepat memutus sambungan bicaranya itu dan menonaktifkan ponselnya agar tidak dihubungi kembali, Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya sembari bergumam di dalam hatinya.
" Astaga!! Aku salah orang! Seharusnya bukan dia yang aku tunggu, apakah memang benar dia ada hubungannya dengan keluarga Wibawa? Ya Tuhan matilah aku kalau seperti ini melibatkan dia dalam masalah keluargaku." gumam Bianca.
" Sebenarnya ini ada apa? Kenapa kalian bertengkar seperti ini?" Tanya nenek Sri akhirnya angkat bicara nenek Sri panutan di dalam keluarganya tersebut.
Prilly pun menjelaskan semuanya kepada sang nenek, dia menceritakan awal mula terjadinya pertengkaran kecil itu yang mengakibatkan Daffa menjadi emosi, nenek Sri pun mendengarkan cerita sang cucu yang dibanggakannya itu, karena dia sudah mendapatkan calon suami yang memang sangat matang dari keluarga terpandang, memiliki perusahaan yang besar serta masih memiliki keluarga yang sangat terkenal yaitu keluarga Wibawa, mendengar cerita dari sang cucu nenek Sri pun menatap lekat ke arah Bianca, Bianca hanya bisa menundukkan kepalanya karena dia tidak bisa berkata-kata.
__ADS_1
" Katakan pada nenek Bianca, kenapa kamu menyewa orang untuk mempermalukan Daffa dan Prilly? Apakah selama ini kamu tidak suka dengan kesuksesan Prilly mendapatkan seorang calon suami yang sangat matang dan memiliki keluarga terpandang, kamu sama aja seperti ibu kamu!" ucap nenek Sri dengan ketus.
Mendengar ucapan neneknya itupun Bianca menatap ke arah neneknya, karena dia tidak menyangka sang nenek berucap seperti itu di hadapan mereka semua tentang ibunya yang sudah tiada.