
BAB 39 🌹
Mobil yang dikendarai Bima melaju menuju kearah rumah pak Yanuar.
Tidak memakan waktu lama mereka pun menemukan rumah tersebut, Alvaro melihat jam yang melingkar ditangannya itu.
" Masih ada waktu untuk bertamu."
" Buset dah! Rumahnya besar banget Varo, kalau dilihat-lihat jabatannya seperti pimpinan aja, bukan seperti bawahan." Ucap Dewa.
" Benar Wa..."
" Tapi Bima kamu harus tunggu dimobil." Ucap Arsya.
" Kenapa aku ditinggal? Aku kan ingin juga melihat wajah tuh Yanuar bagaimana sih wajahnya orang yang menganggap dirinya itu selalu benar dan memakan hak-hak orang lain."
" Kamu nggak nyadar ya muka kamu mirip Harimau Betina." Ucap Arsya tersenyum.
" Iya juga ya...Aduh Mamah! Kenapa sih wajah aku copy-an Mamah..."
" Memangnya kamu mau copy-an siapa Bim? " Tanya Dewa.
" Yah, setidaknya Copy-an Rithik Roshan lah." Ucapnya tersenyum.
" Rithik Roshan endas mu itu lho! Sudah syukur dimiripin emak mu dari pada mirip yang gelantungan dipohon itu, mau?" Sambar Arsya mengundang tawa mereka didalam mobil begitu juga dengan Bima yang tertawa lepas.
" Udah ah, mending kita segera kesana. Ntar kemalaman kita nggak bisa lagi bertamu." Ucap Bima dianggukkan mereka semua, kemudian Dewa sadar dan langsung menatap kearah Bima yang tersenyum.
__ADS_1
" Kita ?? Kami aja kali bukan kita, Kamu kan udah disuruh tinggal di sini aja, kalau kamu ikut ke dalam sana, sama aja bohong! ujung-ujungnya dia pasti akan curiga karena wajahmu itu sangat mirip dengan Mama kamu versi laki-laki, paham nggak sih?? kalau kamu nggak paham sini aku bikin kamu lebih paham lagi ya?! " Ucap Dewa sembari hendak meraih kepala Bima, namun Bima langsung terkekeh sembari berucap.
" Maksud aku itu kalian, kalau kalian masih menunggu di sini, kapan kalian menuju ke sananya." Ucapnya langsung menyingkirkan tangan dewa yang berada di dekat kepalanya, karena dia tahu kalau Dewa sudah hendak menarik kepalanya tersebut pasti ada sesuatu yang akan diperbuat Dewa pada dirinya itu.
" Nah gitu dong paham kan." Ucap Dewa lagi, sembari mengusap dagu Bima membuat Bima mendelik ke arah Dewa dan menepiskan tangan dewa yang berada di dagunya itu, Dewa pun terkekeh begitu juga Arsya dan Alvaro, karena ulah kedua orang sahabatnya itu yang tidak bisa damai kalau bertemu.
Mereka pun keluar dari mobil dan melangkah menuju kearah rumah pak Yanuar.
Didepan pagar rumah tersebut mereka diberhentikan seorang penjaga rumah itu.
" Mau apa kalian?" Tanyanya tanpa basa-basi dan tanpa kata 'Maaf' sembari menatap mereka dengan tatapan penuh tanda tanya itu.
" Ember pecah belah semua dirumah loe!!!" Ucap Dewa dengan keras yang terlihat kaget karena diberhentikan oleh penjaga rumah pak Yanuar yang muncul begitu saja.
Berhubung kedua temannya itu sadar akan penjaga mereka hanya tertawa pelan melihat dewa terkejut, Dewa memang kebiasaan kalau terkejut selalu saja keluar kata-kata yang menimbulkan tawa.
" Kami kesini mau ketemu Pak Yanuar." Ucap Alvaro.
" Bawa apa kalian kesini?"
" Bawa Rendang!" Sahut Dewa membuat penjaga itu menatap Dewa, Arsya dan Alvaro tersenyum.
" Hey! Jangan bercanda ya kamu!Tadi kamu sudah membuat aku kaget dengan suara kamu yang keras itu!" Ucapnya sembari menunjuk Dewa dengan jarinya.
" Heh Pak! Bukan bapak yang kaget tapi saya, karena Bapak keluarnya seperti hantu. Maaf Pak keceplosan, jadi saya terkejut eh... Malah Bapaknya yang terkejut dengan suara saya, itu baru permulaan Pak bukan akhirnya." Ucap Dewa membuat tatapan penjaga rumah itu pun sangat sinis padanya.
" Sudah saya bilang kamu jangan bercanda sama saya, kamu belum pernah ya merasakan kepalan tangan saya ini hah?!" Ucapnya sembari memperlihatkan genggaman tangannya ke arah Dewa.
__ADS_1
Arsya yang tahu akan sikap Dewa itu pun, dia langsung memegang tangan Dewa.
Dewa menatap ke arah Arsya, Arsya memberikan isyarat dengan anggukan kepalanya, agar Dewa menahan emosinya sesaat sebelum rencananya terlaksanakan. Dewa hanya tersenyum pada Arsya kemudian dia menatap kembali ke arah penjaga rumah Pak Yanuar tersebut, sembari berkata.
" Saya nggak bercanda Bapak! Lagian Bapak juga nanyanya gitu, 'Bawa apa kalian kesini' (mengulang perkataan penjaga itu) Kami kesini ini bawa berkas buat masuk kerja Bapak, kan Bos bapaknya itu lagi mencari karyawan dikantornya, karena Bos Bapak itu tidak bisa ditemui siang hari, makanya kami malam hari kesininya, paham Bapak!" Ucapnya.
" Bisa-bisa aku rendang beneran nih orang, dan aku kasih ke Buaya lapar. Gemes aku melihat genggaman tangannya itu seolah-olah dia sendiri yang memiliki genggaman sebesar itu, dia belum tahu tuh genggaman tangan Bima seperti, apa waduh kenapa ke Bima ya heheh." Gumamnya sembari tersenyum
Arsya dan Alvaro tersenyum mendengar Gumaman Dewa.
" Oke! Silahkan masuk!"
" Nah gitu dong dari tadi, kalau kaya ginikan enak tuh, nggak perlu ngejelasin terlalu ribet." Ucap Dewa dan penjaga itu hanya menatap sinis kearah mereka.
Mereka bertiga pun melangkah menuju ke pintu utama yang masih terbuka dengan lebar dengan tatapan penjaga rumah tersebut.
" Memangnya mereka mau pekerjaan seperti apa sih? Wajah mereka tampan-tampan semua tapi kenapa mereka mau menemui Pak Bos, setahu aku Pak Bos hanya merekrut orang-orang yang ingin bekerja di perusahaannya sebagai OB, apa mereka pantas menjadi seorang OB? Sedangkan wajah mereka aja tidak meyakinkan seperti itu, secara mereka tampan semua." Gumam penjaga rumah Pak Yanuar itu sembari melangkah menuju ke dalam pos penjagaan yang berada tidak jauh dari pagar rumah Pak Yanuar tersebut.
" Kesel aku karena dia memperlihatkan genggaman tangannya itu, sebenarnya darahku sudah mendidih saat itu juga dan akan naik di ubun-ubun dan keluar di atas kepala, tapi karena Arsya menahan aku agar bisa menguasai diriku, jika seandainya tidak ditahan sudah ku lempar dia kedepan Bima.!" Gerutu Dewa.
" Hehehe....Lho kenapa larinya ke Bima?" Tanya Arsya.
" Kan Bima titisannya Harimau Betina, jadi anak Harimau kan lapar tuh, Ya udah kita kasih aja dia itu sama Bima, biar Bima mencabik-cabiknya, set... set... set... Habis dah. Terus dimasak... Terus di makan sama Bima jadi lauk makan malamnya." Ucap Dewa sembari terkekeh, diikuti Arsya dan Alvara terkekeh juga.
Mereka bertiga melangkah menuju ke arah pintu utama rumah tersebut yang lumayan jaraknya antara gerbang rumah tersebut dengan pintu utama rumah Pak Yanuar yaitu lumayan jauh."
" Aku tidak menyangka rumah Pak Yanuar ini begitu mewahnya, tapi di balik kemewahan dia ini ada hak-haknya para OB di Wibawa Group, Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan nantinya pada kita setelah kita menemui dia ini, dan mengutarakan keinginan kita bekerja di Wibawa Group dengan melalui dia dan pasti dia akan terkejut besok paginya melihat kita berada di Wibawa Group dan dia akan menerima akibatnya atas perbuatannya terhadap OB-OB Wibawa Group." Ucap Arsya dianggukan oleh Alvaro dan Dewa.
__ADS_1