CAHAYA CINTA

CAHAYA CINTA
CAHAYA CINTA 55


__ADS_3

BAB 55🌹


Mereka pun memasuki area resto hotel dan mengambil tempat disebuah meja yang kosong karena resto itu sudah banyak pengunjungnya.


Salah satu pelayan Resto pun mendekati mereka setelah mereka duduk.


" Mau pesan apa Mas? Ini buku menunya silakan ..." Ucap pelayan tersebut.


Alvaro mengambil buku itu dan melihat-lihat menu yang ada di resto itu, walaupun sebenarnya mereka sudah sarapan pagi tapi mereka hanya memesan minuman dan kue saja.


Setelah memberitahu keinginan mereka pada pelayanan itu, Alvaro pun kemudian memberikan buku menu itu pada pelayan tersebut dan pelayan itu pun meninggalkan mereka.


Mata mereka pun menyapu seluruh Resto itu dengan tatapan mata mereka, tidak ada keanehan sama sekali yang mereka lihat di restoran hotel tersebut.


Arsya yang melihat seorang wanita sedang membersihkan beberapa meja yang tidak jauh dari mereka itu menatap lekat kearah wanita itu, dia menyakinkan penglihatannya itu.


" Itukan wanita ...." Ucapnya pelan dan menatap terus kearah wanita tersebut yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.


" Bagaimana Sya... Apakah kamu mendapatkan keanehan di sini? Arsya...?" Tegur Bima, namun Arsya tidak menghiraukan pertanyaan Bima yang diarahkan padanya itu, dia terus menatap seorang wanita yang sedang membersihkan meja itu, Alvaro dan Dewa pun melihat ke arah Arsya kemudian Alvaro menyentuh pundak Arsya dengan pelan membuat Arsya terkejut.


" Ada apa Arsya ? Apa yang kamu lihat.?"


Arsya menatap kearah mereka bertiga dengan lekat.


" Ada keanehan Sya?" Tanya Dewa.


" Iya Sya, kalau kamu menemukan sesuatu bilang pada kami, kita inikan detektif handal hehehe... Biar semua tahu siapa kita dari kakek, Ayah dan ibu kita sudah bergelar detektif keluarga Wibawa, kalau tidak ada yang suka cuekin aja..." Ucap Bima dianggukkan Alvaro dan Dewa.


" Bukan keanehan yang aku lihat soal Hotel dan restoran, tapi..." Arsya menggantung kalimatnya.


" Tapi Apa Sya ?" Tanya Dewa.

__ADS_1


" Kalian melihat perempuan yang pakai celemek warna pink itu ?"


" Iya, yang mana ?" Tanya Dewa.


" Itu yang membersihkan meja..."


" Arsya, semua di sini perempuannya memakai celemek warna pink Arsya, namanya juga pelayan resto, jadi yang mana? Dan ada tiga wanita yang membersihkan meja itu yang kamu maksud perempuannya yang mana Sya?"


" Itu yang pakai jam tangan warna hitam..."


" Memangnya kenapa dengan perempuan itu?" Tanya Alvaro.


" Dia sepertinya wanita yang aku pinjamkan jaket pemberian dari Aisya yang aku ceritakan saat kita berada di luar Negeri."


Mereka pun Saling pandang, Arsya kemudian berdiri dari duduknya dan mereka bertiga hanya membiarkan Arsya melangkah menuju mendekati wanita tersebut.


Arsya menyentuh pundak wanita itu dengan pelan, wanita itu pun terkejut dan dia langsung menoleh ke arah samping lalu dia mundur satu langkah dari depan Arsya.


" Maaf Mbak, kayaknya saya dan Mbaknya pernah ketemu, Apakah Mbaknya ingat saat Mbak berada di Kanada?"


" Kanada?"


" Iya Mbak, apakah Mbaknya ingat?"


Perempuan itu terdiam sesaat.


" Saya hanya ingin mengambil jaket yang pernah saya pinjamkan pada Mbaknya kala itu."


" Jaket? Saya tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Masnya."


" Kita pernah bertemu, tepatnya di Kanada saat itu Mbaknya di kejar-kejar oleh dua orang laki-laki dan Mbak minta tolong pada saya, Saya hanya ingin mengambil jaket itu aja Mbak, karena itu adalah sangat berharga bagi saya."

__ADS_1


" Maaf Mas, Mungkin Masnya salah orang, saya tidak mengerti dengan ucapan Masnya."


" Ayana...!" Panggil salah satu rekan kerjanya, Ayana menoleh ke arah suara dia kemudian melihat rekannya itu mendekati mereka.


" Ayana, kalau sudah selesai di sini lebih baik kita menyelesaikan di belakang lagi, karena masih banyak yang perlu kita selesaikan." ucap salah satu rekannya itu sembari tersenyum ke arah Arsya.


" Ada apa Mas? Ada yang perlu kami bantu,? Kalau Masnya ingin mengeluhkan tentang pelayanan Resto ini silahkan katakan saja, kami akan memanggil manager Resto ini sekaligus manager hotel." Ucapnya.


" Oh, tidak ada apa-apa Mbak,mungkin benar kata Mbaknya saya salah orang karena Mbaknya tidak mengenali saya."


Rekan kerja Ayana pun menoleh ke arah Ayana, seakan-akan mencari tahu apa yang terjadi.


" Terima kasih, maafkan saya karena mengganggu." Ucap Arsya, kemudian dia pun melangkah meninggalkan kedua wanita tersebut untuk kembali ke arah meja di mana ketiga sahabatnya sedang duduk, Ayana dan rekan kerjanya itu pun saling pandang, kemudian Ayana menggelengkan kepalanya, karena sang rekan kerja pun memberi isyarat pada Ayana apa yang terjadi di antara Ayana dan Arsya tamu di resto tersebut.


Sesampainya di kursinya pertanyaan pun datang dari sang sahabat.


" Apakah benar dia wanita yang ada di Kanada?" tanya Alvaro.


Arsya menggelengkan kepalanya.


" Dia tidak mengenali aku sama sekali, aku juga tidak tahu, padahal aku jelas-jelas memberikan pinjaman jaket yang diberikan oleh Aisya padanya, aku hanya ingin mengambil jaket itu darinya bukan mencari tahu tentang dirinya."


" Jangan khawatir Bro, nanti aku akan menanyakannya langsung dengannya kalau misi kita ini sudah selesai." ucap Dewa sembari dianggukan oleh mereka.


Kemudian mereka pun menikmati minuman dan kue yang telah di pesan mereka itu, dan Arsya larut dalam lamunannya.


" Kenapa saat aku melihat kewajahnya hatiku bergetar? Dan perasaanku tidak menentu? Apakah artinya ini?" Gumamnya dalam hati sembari mengambil kue Bima yang ada disampingnya membuat Bima merasa heran dan mereka pun saling pandang dan tersenyum sedangkan Arsya tidak menghiraukan sikap para sahabatnya yang menatap kearahnya.


Mereka berempat pun tersenyum dan memperhatikan Arsya yang asyik mengunyah kuenya itu.


Mereka membiarkan Arsya larut dalam lamunannya.

__ADS_1


__ADS_2