
BAB 28🌹
" Nenek! Kenapa Nenek bicara seperti itu dihadapan mereka tentang ibu Bianca?Bianca kecewa dengan ucapan Nenek,ibu sudah tiada Nek, tidak sepantasnya Nenek bicara tentang ibu, biar bagaimana pun ibu adalah menantu Nenek orang yang sangat dicintai Ayah." Ucap Bianca tak dia bisa pungkiri buliran bening jatuh dari kedua bening bola matanya itu karena dia tidak kuasa menahan ucapan sang nenek yang berucap seperti itu Bianca merasa sekali kalau ibunya itu selalu saja disalahkan oleh keluarga ayahnya, jika tidak mengingat pesan sang ayah tidak boleh meninggalkan pertemuan keluarga dia tidak akan pernah bertemu dengan keluarganya lagi, Bianca pun menundukkan kepalanya karena buliran bening itu semakin deras keluar dari kedua bola matanya.
Bima menatap kearah Bianca, kemudian Bima menatap ke arah mereka semua terlihat senyum bahagia melihat Bianca terpuruk seperti itu, terlihat dari wajah mereka masing-masing, tidak ada yang membela Bianca sedangkan yang dianggapnya bisa membelanya seperti Tante dan Omnya serta sepupunya yang bernama Fitri itu pun tidak ada suara sama sekali, Bima pun bergumam di dalam hatinya.
" Ini sudah tidak bisa dibiarkan kenapa mesti di dalam rumah ini ada perbedaan seperti ini, bahkan mereka juga tidak melihat sisi baik dan sisi buruknya di antara keluarga mereka, hanya karena kekayaan dan popularitas membuat mereka bisa pilih kasih seperti itu." ucap Bima di dalam hatinya sembari menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Nenek pantas berbicara seperti itu, karena memang ibumu itulah yang mengajak ayahmu menikah dan karena ibumu lah, Ayah kamu mau meninggalkan keluarganya kala itu, kamu juga tidak sadar ya karena ulah ibumu membuat kakakmu tidak mau tinggal bersama dengan kedua orang tuamu, dia memilih jauh dari kalian daripada dekat dengan kalian saat ini, bahkan kedua orang tuamu meninggal pun dia tidak ada, itu sudah menunjukkan kalau kakakmu itu sudah kecewa dengan kedua orang tuamu, seharusnya kamu belajar dari situ."
" Nenek! kalau tidak tahu dengan ceritanya nenek nggak usah bicara tentang kakak Ku, kami sudah mencari dia tapi sampai saat ini kami tidak menemukannya, waktu ayah dan ibu masih hidup, tidak sepantasnya nenek bicara seperti itu di tengah-tengah mereka saat ini."
" Memang kenapa? kalau nenek bicara di tengah-tengah kami, Masalah buat kamu!" sambung Prilly.
Bianca hanya menghela nafasnya dengan panjang dia tidak bisa membela dirinya sama sekali, sedangkan Bima memahami semua cerita yang telah dilontarkan oleh mereka tentang Bianca,bukan Bima tidak ingin membantunya tapi dia harus memahami duduk permasalahannya, beberapa saat kemudian mereka dikejutkan dengan suara ketukan di depan pintu, terlihat tiga orang laki-laki berada di depan pintu tersebut, kemudian Bima pun berdiri sambil bersuara.
__ADS_1
" Masuklah! kami sudah menunggu kalian." ucap Bima, mereka semua menatap ke arah Bima kemudian menatap kembali ke arah ketiga laki-laki tersebut yang sedang melangkah menuju ke arah mereka, di mana mereka sudah terkumpul di ruangan tersebut.
" Hey!! siapa Kamu! kenapa menyuruh mereka masuk ke rumah kami, ini kan rumah kami, kami bisa aja tidak terima kalau kalian masuk begitu saja." ucap Prilly dianggukan oleh mereka semua, sedangkan Mereka pun merasa bingung dengan ketiga laki-laki tersebut.
" Aku memang mengundang mereka agar kalian tahu siapa dia sebenarnya?" ucap Bima sembari menunjuk ke arah Dafa, Dafa pun menatap ke arah Bima kemudian dia menatap ke arah ketiga laki-laki yang sudah berada di samping Bima, dia pun bergumam di dalam hatinya.
" Apakah disalah satu lelaki ini adalah keturunan Wibawa? Kalau iya hancurlah aku! karena selama ini tidak pernah orang mengetahui kalau aku ini sebenarnya bukanlah keturunan dari Wibawa." gumamnya dalam hati sembari memainkan jari jemarinya dan menoleh ke arah lain, calon mertuanya itu pun menatap ke arahnya, Begitu juga dengan keluarga yang lain, Mereka menatap lekat ke arah Daffa ingin mencari tahu apa yang sebenarnya disembunyikan.
__ADS_1