CAHAYA CINTA

CAHAYA CINTA
CAHAYA CINTA 40


__ADS_3

BAB 40 🌹


Mereka bertiga pun melangkah dengan pasti sembari Dewa pun memberi isyarat pada Arsya untuk merekam semua pembicaraan yang akan dilakukan oleh mereka nantinya, sesuai dengan pembagian rencana tersebut, dan Arsya hanya menganggukkan kepalanya sebelum mereka sampai di pintu utama itu, seseorang pun menghampiri mereka.


" Waduh! Tidak di pintu gerbang tidak di pintu utama rumah ini semua ada penjaganya, kayak Sultan aja sih Pak Yanuar ini, bikin kesel lama-lama." Ucap Dewa sembari menatap ke arah penjaga tersebut yang sudah berdiri di depan pintu utama rumah keluarga Pak Yanuar itu, seorang laki-laki dengan perawakan kekar tinggi dan memiliki kumis tebal itupun mendekati mereka sambil memelintir kumisnya itu seakan memperlihatkan kesangarannya.


Mereka pun diberhentikan lagi langkah mereka tepat di teras rumah tersebut.


" Ada keperluan apa kalian bertiga ke rumah ini?"


" Pak kumis! Kami mau bertemu dengan Bos Bapak!" Ucap Dewa langsung.


" Hey!Enak aja kamu bilang aku pak kumis hah!"


" Terus saya bilangnya apa Pak! Karena Bapak punya kumis tebal Pak! Lagi pula Bapak tidak memperkenalkan diri Bapak siapa nama Bapak sebenarnya, makanya saya bilang Pak kumis, terkecuali saya bilangnya bapak itu botak, melainkan Bapak tidak botak baru Bapak marah! Itutuh rambut Bapak panjang kan? Jadinya bisa disebut Gondrong." Ucap Dewa sembari tersenyum, Alvaro dan Arsya lagi-lagi tersenyum dengan celotehan Dewa pada penjaga rumah Pak Yanuar itu.


Penjaga itu pun meraba kumisnya terus dia menganggukkan kepalanya sembari bergumam.


" Benar juga ya, apa katanya kalau aku memiliki kumis tebal."


" Gimana? Benar kan Pak, kalau kamu memiliki kumis tebal, jadi tidak salah kan kalau saya bilang Bapak itu Pak kumis." Ucapnya


" Iya benar-benar, eh! Kenapa jadi kamu yang memberi aku nama itu, aku punya nama yang bagus yang sudah diberikan oleh orang tuaku jadi jangan diganti-ganti dengan Pak kumis, ingat itu!" Ucapnya sembari menatap ke arah Dewa dengan tatapan tajamnya.


" Iya Pak, Bapak memang punya nama, Tapi sebaiknya Bapak tidak usah terlalu banyak bicara karena kami ingin bertemu dengan Bos Bapak." Ucap Dewa lagi. Arsya dan Alvaro hanya tersenyum dan mewakilkan pada Dewa.


" Untuk apa kalian bertemu ke sini?"


" Astaga Bapak bertanya lagi, apakah Bapak mengetahui orang yang sering ke sini ingin bertemu dengan Bos bapak itu ? apa untuk hangout atau untuk makan bareng ?"


" Ya nggak lah ..."


" Nah itu bapak tahu, itu artinya orang ke sini untuk apa Bapak???"


" Melamar pekerjaan!"


" Nah itu Bapak tahu lagi untuk apa orang ke sini eh! ngapain Bapak bertanya lagi pada kami."


" Eh kamu itu tamu, ngapain kamu berbicara seperti itu padaku!"

__ADS_1


" Bapak yang duluan bicara seperti itu pada kami, tak salah dong saya yang bicara karena saya mewakili teman-teman saya."


Penjaga pintu utama itu pun cengengesan sembari garuk-garuk kepalanya karena dia tidak bisa melawan omongan dari Dewa.


Dia pun hanya bisa menganggukkan kepalanya, kemudian dia menatap ketiga orang yang ada di hadapannya itu.


" Baiklah! Kalian tunggu di sini, Aku ingin masuk ke dalam dan mengatakan kepada Pak Bos ku,sebelum aku memperbolehkan masuk kalian tidak boleh untuk masuk. Ingat itu!"


" Siap Pak kumis!" Ucap Dewa.


Kemudian orang itu pun melangkah masuk ke dalam menuju ke arah Pak Bosnya yang sedang duduk santai di ruang tamu rumahnya itu.


" Kurang asem! di pintu gerbang ada penjaga, di pintu utama ada penjaga, jangan-jangan di pintu pribadinya juga ada penjaganya." Ucap Dewa sedikit gerah karena hendak bertemu dengan pak Yanuar melalui dua orang penjaganya. Arsya dan Alvaro pun terkekeh.


" Ini melebihi Om Abiyasa deh!" Ucap Arsya


" Nenar katamu Sya, di rumah cuma ada penjaga di depan gerbang rumah, bukan di depan pintu utama rumah seperti ini." Sambung Alvaro.


" Wah ini memang tidak benar, kita harus membasmi kutu ayam ini." Ucap Dewa dengan pasti.


" Kutu ayam?" Ucap Alvaro dan Arsya bersamaan sembari menatap ke arah Dewa.


" Benar apa kata kamu itu Dewa!" Ucap Arsya tertawa pelan melihat sang sahabat bersemangat membasmi kutu ayam.


Beberapa saat kemudian pak kumis itu pun keluar kembali.


" Silakan masuk, kalian ditunggu di ruang tamu."


" Tunggu sebentar Pak, kami mau tanya, ruang tamunya sebelah mana ya? sebelah kiri, apa sebelah kanan, nanti kalau kami masuk tapi kami tidak tahu ruang tamunya di mana, ntar kami salah masuk lagi, ujung-ujungnya kami masuk ke kamar tidur utama pak Bos Anda, ya nggak guys." Ucap Dewa terkekeh, dianggukkan mereka berdua.


" Dari tadi kamu ini banyak sekali ocehan kamu, seperti bayi yang baru saja belajar bicara!"


" Wah benar sekali Pak, Saya memang baru aja belajar bicara, Bapak tahu nggak, saya bicaranya saat saya sudah mau minta sesuatu pada kedua orang tua saya."


" Minta apa Bima??" Tanya Alvaro dan Arsya tersenyum.


" Minta dicarikan istri yang cantik, yang putih dan mulus, body aduhai. Dan saya berharap jangan sampai ketemu sama Bapak, karena kalau sampai wanita saya yang ciri-cirinya saya sebutkan tadi sampai ketemu sama Bapak bisa bahaya Pak..." Ucapnya mantap.


" Maksud kamu apa hah?!!"

__ADS_1


" Jangan sengot dong pak, eh! Salah jangan sewot dong Pak. Maksud saya wanita saya itu nantinya bisa pingsan pak kalau ketemu sama Bapak, karena kumis Bapak yang terlalu tebal sih! Kalau Bapak memberikan ciuman pada wanita saya itu, akan mengakibatkan hidung wanita saya menggelitik dan bersin, hatcuh... hahahah."


Arsya dan Alvaro tersenyum tertunduk karena mendengar Dewa yang tak cape berbicara itu.


" Kurang asem!!" Ucapnya menatap kearah Dewa dengan tatapan tajamnya.


" Dikasih gula aja pak biar manis.!" Ucap Dewa tertawa.


Penjaga itu pun tidak bisa lagi menjawab apa yang dikatakan Dewa, Dia hanya bisa mendelik ke arah Dewa.


Dewa pun dengan santai menanggapi delikan sang penjaga berkumis tebal.


" Baiklah Pak sebelah mana kami harus berbelok dari pintu utama ini ?" Tanya Alvaro.


Penjaga itu pun menghela nafasnya dengan panjang.


" Kalian bisa melangkah menuju ke arah kiri itu, bertepatan dengan ruang tamu di mana Pak Bos ku berada." Ucapnya sembari meninggalkan mereka kembali ke tempat duduknya, karena dia tidak ingin lagi berdebat dengan Dewa.


Mereka kemudian masuk ke dalam.


" Pantesan aja kelakuannya buruk, kebanyakan belok kirinya sih, tadi aja menuju ke rumahnya ini dari rumah kamu belok kiri, perempatan belok kiri, pertigaan belok kiri, sekarang rumahnya juga kita menyebrang ke sebelah kiri, masuk ke dalam rumahnya ruang tamunya tempat dia bersantai sebelah kiri, itulah menandakan orang jahat... Hehehe..." Ucap Dewa pelan sembari terkekeh, mengundang kedua sahabatnya itu terkekeh juga.


" Orang seperti itu tidak bisa kita biarkan, Aku berbeda seperti kakek, berbeda juga seperti Papahku, aku adalah aku dan siapa yang salah di mataku, akan mempertanggungjawabkan semuanya." Ucap Alvaro.


Saat mereka menuju ke arah yang ditunjukkan penjaga itu, seorang Asisten Rumah Tangganya pun menegur mereka.


" Maaf, mau bertemu dengan siapa Tuan Muda.?"


Belum mereka menjawab suara dari ruang tamu itu pun menjawab pertanyaan dari Asisten Rumah Tangganya tersebut.


" Biarkan mereka masuk, mereka akan bertemu denganku, lebih baik Bibi siapkan air minum saja." Ucap pak Yanuar, yang berada di depan pintu ruang tamunya itu sembari tersenyum pada Alvaro Dewa dan Arsya.


Asisten rumah tangga itu pun hanya menganggukkan kepalanya, kemudian dia pun meninggalkan tamu Tuannya itu.


Mereka bertiga tersenyum dan menganggukkan kepalanya sesaat.


" Silakan duduk, utarakan keinginan kalian bertemu denganku."


" Idih! Keset kaki, terlihat bangga sekali dia berbicara seperti itu, padahal kami adalah penghalang karirnya dan akan memutuskan karirnya tentang petualangannya dalam membuat orang menderita itu." gumam Dewa di dalam hatinya sembari duduk bersama dengan kedua sahabatnya tersebut di ruang tamu rumah Pak Yanuar.

__ADS_1


__ADS_2