
BAB 53 🌹
Diperjalanan menuju kearah Hotel Berbintang milik Wibawa Group, Dewa mengambil ponselnya dan langsung menghubungi seseorang.
" Selamat pagi pak Hendri..."
" Pagi pak! Sekarang ada dimana pak?"
" Kami sudah berada dikota anda pak, dan akan menuju kehotel Anda pak Hendri."
" Oh Baik pak Toyib, saya akan segera kesana."
" Oke pak..." Ucapnya kemudian memutus sambungan bicaranya.
Mereka bertiga menatap kearah Dewa dan Bima pun menghentikan laju kendaraannya dan menepi kesamping jalan.
" Kenapa kalian menatap aku seperti itu?"
" Kamu menghubungi si Hendri?" Tanya Bima.
" Iya hehehe..." Jawab singkat Dewa.
" Dari mana kamu dapat nomornya?" Tanya Arsya.
" Papah yang beri ya?" Lanjut Alvaro.
"Hahahaa, jangan sebut namaku Dewa kalau aku tidak mendapatkan nomor pribadinya si Hendri."
Mereka bertiga pun saling berpandangan, Dewa tertawa lepas namun langsung ditutup mulutnya dengan gumpalan tisu oleh Arsya, Dewa pun tersedak.
" Aku kira kamu kasih aku kue Sya... Tapi ternyata bukan hihihi..." Ucap Dewa sembari cekikikan, mengeluarkan tisu dari mulutnya.
" Kami itu tidak perlu dengan tawa kamu, tapi kami perlunya dengan penjelasan kamu, lagi pula kamu tidak menjelaskan saat kita berada di kantor Wibawa group tadi." Protes Arsya.
" Aku memang sengaja tidak menjelaskannya pada kalian di sana, karena ini adalah misi kita untuk mengetahui dalang semuanya."
" Maksud kamu....?" Tanya Alvaro.
" Aku mencari tahu nomor manajer hotel itu dengan menghubungi pihak hotelnya dan mereka memberikan nomor tersebut, aku pun langsung menghubunginya dan berbicara melalui ponsel pribadiku dengan si Hendri itu, aku mengungkapkan keinginanku untuk membeli hotel tersebut dan dia pun terlihat sangat senang dalam nada bicaranya dengan alasan hari ini aku ingin bertemu dengannya secara langsung."
" Kenapa dia langsung mau menjualnya padamu?" Tanya Bima.
" Karena aku mengatakan Aku adalah pemilik perusahaan King Clong pakai spasi jarak penulisannya Aku katakan sama dia, dan aku juga mengatakan perusahaan ku ini bergerak dalam bidang pembuatan sabun dan Abu gosok yang ada di Arab dan aku bernama Toyib pengusaha terkenal di Arab. Aku katakan padanya kalau perusahaanku itu memang tidak pernah aku ekspos di media sosial, eh! Dia percaya aja, dan Aku pun mengatakan tawaran yang sangat tinggi untuk hotel yang akan dijualnya itu."
" Kamu bertanya padanya, sebenarnya Hotel itu milik siapa dan kenapa hendak dijual.?" Tanya Arsya.
__ADS_1
" Aku tidak bertanya Hotel itu milik siapa,dan kenapa mesti dijual, Aku katakan padanya aku mengetahui dari teman pengusaha yang ada di Indonesia tentang rencana penjualan tersebut, dan dia akan menjelaskan semuanya saat aku dan dia bertemu nantinya."
" Oke, bagus juga sih rencana kamu itu " Ucap Bima.
" Iya dong siapa dulu Dewa Asmara... Hahaha..." Ucapnya tertawa lepas, mereka pun ikut tertawa mendengar ucapan dari Dewa dan Bima kemudian melajukan kembali mobilnya itu menuju ke arah tujuan.
Beberapa saat kemudian mobil memasuki area parkir hotel berbintang itu, dan mereka pun diarahkan oleh bagian khusus parkir untuk memasuki blok parkir yang tersedia, setelah rapi memarkirkan mobilnya Bima dan kawan-kawan pun turun dari mobil tersebut dan melangkah menuju ke arah lobi melangkah ke arah resepsionis, karena mereka ingin check in di hotel tersebut beberapa hari, tidak ada yang mengenali mereka berempat, karena mereka baru saja memasuki hotel tersebut. Mata Dewa menyapu ruangan lobby tersebut terlihat tidak ada yang mencurigakan di ruangan lobby itu dan para tamu pun ada yang check in dan ada yang check out dari hotel tersebut.
Dewa bergumam di dalam hatinya.
" Hemmm... Kalau dilihat-lihat pengunjungnya sangat banyak sekali di hotel ini, tapi kenapa omset yang dilaporkan pada Om Abiyasa tidak sepadan dengan yang keluar masuk dari hotel ini?" Gumamnya sembari mengusap rambutnya sesaat seakan dia tidak memperhatikan para tamu tersebut.
" Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?" Tanya salah satu resepsionis tersebut.
" Oh iya mbak, saya ingin pesan dua kamar, apakah masih ada kamar yang kosong?" Tanya Alvaro.
" Sebentar saya cek dulu ya Pak."
" Oke Mbak.."
Beberapa saat kemudian Resepsionis itu berbicara.
" Ada tapi nomornya tidak berurutan, nomor 182 dan 184."
" Sebentar Pak saya ambilkan kunci kamarnya terlebih dahulu.."
Resepsionis yang mengambilkan kunci itu pun kemudian memberikan kunci kamar itu pada Alvaro.
" Maaf Pak atas nama siapa?"
Sebelum Alvaro menjawab, Dewa langsung bersuara.
" Bang Toyib....Dari perusahaan King Clong Group." Ucap Dewa tersenyum.
" Iya Mbak, Bang Toyib pemilik perusahan King Clong Group." Ucap Alvaro, Arsya dan Bima tersenyum mengalihkan pandangannya agar tidak terlihat oleh resepsionis tersebut.
" Baiklah pak, dua kamar atas nama Bang Toyib ya Pak "
Alvaro menganggukkan kepalanya.
" Mbak boleh bertanya?" Tanya Arsya.
" Iya pak, tanya apa ya?"
" Siapa pemilik Hotel ini?"
__ADS_1
" Pak..." Sebelum wanita itu mengatakan teman yang ada disebelahnya pun menyentuh tangannya dia menoleh kearah rekan kerjanya itu, membuat Kinclong saling pandang.
" Maaf pak, silahkan menempati kamar yang sudah disediakan, dua orang OB akan membawakan koper Bapak semua." Ucap wanita yang lainnya.
Mereka hanya mengangguk, dan mereka berdua tidak sadar kalau Bima masih berada dibawah sedang merunduk membenarkan tali sepatunya, dan Bima sempat mendengarkan ucapan kedua wanita itu.
" Anita, sudah dikatakan oleh pak Manajer tidak boleh mengatakan soal kepemilikan hotel ini, kalau kamu masih sayang dengan kerjaan kamu, aku sekedar mengingatkan saja, kamu tahukan pak Hendri kaya gimana, banyak sudah karyawan lama disingkirkannya, dan dibuatkannya masalah kecil dan berujung pemecatan dan mereka tidak bisa menuntut hak mereka yang sudah bertahun-tahun lamanya bekerja, mereka pun sampai diawasi juga, entah! Apa maksudnya semua itu."
" Maafkan aku ya Tina, aku memang sering ditanya siapa pemilik hotel ini, aku biasanya menjawab tidak tahu dengan cepat, tapi saat salah satu dari mereka bertanya aku langsung saja ingin mengatakan yang sebenarnya."
" Semoga saja ada jalan keluarnya karena aku cape juga dengan sikap pak Hendri pada kita." Ucap Tina.
Mereka berdua terdiam, Bima menganggukkan kepalanya dan langsung berdiri, kedua orang wanita itu nampak terkejut melihat Bima nongol di hadapan mereka seakan tidak tahu dan tidak mendengar dengan apa yang dikatakan oleh mereka berdua, Bima hanya tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya kembali, dan melangkah meninggalkan mereka dengan tatapan heran mereka berdua terhadap Bima, mereka berdua pun saling berpandangan Anita bersuara.
" Apakah dia mendengarkan kita berbicara?" Tanya Anita
" Mungkin saja iya dan mungkin saja tidak, aku juga tidak tahu dia tiba-tiba aja muncul di hadapan kita." Jawab Tina
Mereka berdua pun menghela nafasnya dengan panjang, terlihat dari arah pintu lobby seorang lelaki dengan badan yang berisi melangkah menuju ke arah mereka berdua.
" Pak Hendri datang, kita harus bersikap biasa saja." ucap Tina dianggukkan oleh Anita, Pak Hendri pun kemudian berbicara pada mereka berdua.
" Bagaimana sekarang hari ini? Apakah banyak yang menginap?"
Anita menganggukkan kepalanya.
" Bagus! Tapi kalian tidak ceplas-ceploskan bila ditanya para tamu yang check in di sini?"
" Iya pak, kami sesuai dengan perintah bapak."
" Bagus!" Ucapnya.
" Oh ya, apakah ada tamu yang check in di sini atas nama Pak Toyib dari perusahaan King Clong.?"
" Ada pak, baru aja mereka di arahkan ke kamar mereka." Jawab Anita.
" Mereka menginap di kamar mana?"
" Mereka ada berempat Pak kamar 182 dan kamar 184."
" Baiklah, aku akan menemui mereka."
Anita dan Tina menganggukkan kepalanya, kemudian mereka berdua saling pandang.
Pak Hendri lalu meninggalkan meja resepsionis itu menuju ke arah pintu lift, lift itu pun langsung membawa dirinya ke lantai atas di mana ruangannya berada.
__ADS_1