CAHAYA CINTA

CAHAYA CINTA
CAHAYA CINTA 54


__ADS_3

BAB 54 🌹


" Untung saja kamu tidak mengatakan yang sebenarnya pada mereka tadi, jika seandainya kamu katakan mungkin habislah kamu An, bukan kamu saja tapi aku juga, kamu mendengar sendiri kalau itu adalah temannya Pak Hendri." Ucap Tina sembari menelungkupkan wajahnya dimeja resepsionis tersebut.


Anita hanya menganggukkan kepalanya, dia pun bergumam di dalam hatinya.


" Syukur aku tidak mengatakan semuanya tadi, jika seandainya aku katakan mungkin aku tidak akan bisa bekerja di sini lagi." Gumamnya di dalam hati sembari menghela nafasnya dengan panjang.


Sesampainya mereka di kamar yang sudah ditunjukkan oleh para pelayan hotel yang membawa koper mereka itu, Arsya dan Alvaro menempati kamar 182 Bima dan Dewa menempati kamar 184.


Setelah kedua pelayan hotel itu meninggalkan mereka, Arsya dan Alvaro melangkah menuju ke arah kamar Bima dan Dewa, dia membuka pintu kamar tersebut dan masuk ke arah dalam mereka menghentakkan tubuh mereka di kasur empuk yang ada di kamar tersebut.


" Masalah ini jadi misteri, aku tadi sempat mendengar mereka berbicara, kalau semua harus dirahasiakan dan sesuai dengan aturannya Pak Hendri." ucap Bima.


Bima menghela nafas panjangnya, kemudian dia melanjutkan bicaranya.


" Kalau mereka sampai mengatakan pada para tamu, mereka akan dibuatkan masalah kecil berujung dengan pemecatan, itu yang aku dengar dari mereka berdua di meja resepsionis tadi."


" Dia memang keterlaluan! Sudah dikasih hati malah minta jantung, sudah dikasih daging malah minta ikan kering, orang seperti itu harus perlu diadili." Sambung Arsya dianggukkan oleh mereka bertiga.


" Yang aku herankan apa yang membuat dia hendak menjual hotel ini? Surat-suratnya dapat darimana dia?!" Ucap Alvaro.


" Itulah yang harus aku korek keterangannya darinya." Sahut Dewa.

__ADS_1


" Bagaimana nanti pertemuan kamu dengannya? Apakah langsung bertemu atau kamu jeda waktunya agar kita bisa melihat perlakuan dia pada bawahannya di hotel ini?" Tanya Alvaro pada Dewa.


" Aku akan menghubungi dia dan aku akan meminta waktu untuk istirahat sesaat, mungkin nanti malam bertemu dengannya." Ucap Dewa sembari mengambil ponselnya yang ada di saku celananya tersebut, Dia kemudian menghubungi nomor pribadinya Pak Hendri, saat Pak Hendri melangkah menuju ke arah kamar tamunya yang ditunggunya itu, ponselnya pun berdering dia mengambil ponselnya dan melihat si pemanggilnya ternyata, pak Toyib dari Arab tertera tulisan di dalam layar ponselnya itu, dia tersenyum dan langsung menjawab panggilan tersebut.


" Sekarang Bapak ada di kamar mana? Kamar 182 atau kamar 184.


" Saya berada di kamar 184, tapi saya ingin istirahat dulu sebentar, karena saya capek walaupun saya menggunakan fasilitas pribadi dari Arab ke Indonesia saya perlu istirahat beberapa jam, nanti kalau kita bertemu saya akan menghubungi Anda lagi." ucap Dewa.


" Baiklah Pak Toyib, saya akan menunggu kabar dari Anda." ucapnya kemudian melangkah berbalik arah menuju ke arah ruangannya kembali dan dia tidak jadi menuju ke arah ruangan Dewa dan para sahabatnya itu.


Setelah Dewa menyudahi pembicaraannya mereka pun tertawa lepas.


" Semangat sekali dia dia menjawab panggilanku sampai lupa mengatakan hallo...." Ucap Dewa masih dengan tertawa lepas.


" Padahal kita adalah malaikat mautnya " Sambung Bima.


" Hendak kemana kamu Sya?" Tanya Bima.


" Aku mau keluar kamar mau liat-liat hotel ini, sekalian cari info." Ucapnya.


" Oke, aku ikut .." Ucap Bima.


Dianggukkan Arsya.

__ADS_1


" Kalian mau ikut juga?"


" Ya iya lah ikut, aku mau keresto hotel ini." Ucap Alvaro dianggukkan Bima, mereka pun langsung menuju kearah luar kamar hotel menuju kearah resto hotel yang terletak disamping hotel tersebut, sembari mereka melihat-lihat keadaan hotel berbintang milik keluarga Wibawa itu.


Diruangannya pak Hendri tersenyum, sembari berbicara sendiri sambil memutar mutar kursi kerjanya tersebut.


" Akhirnya! Ada juga pembeli hotel ini, sekarang aku sudah merasa puas karena kehancuran Abiyasa akan terlihat di sini, dia terlalu sombong memiliki kekayaan yang banyak, tapi di saat aku sudah memberikan yang terbaik untuknya dia tidak mau menyerahkan hotel ini di bawah tanggung jawabku, tapi melainkan dia menyerahkan tanggung jawab ini pada Om Haris, tapi sekarang Om Haris tidak bisa berkutik lagi, dia hanya bisa memberikan tanda tangan semuanya, karena sekarang dia berada di kursi roda... Hahaha, itu juga adalah perbuatanku! Karena dia sebagai Om tidak bisa memperjuangkan aku untuk menjadi pemimpin di hotel ini, sekarang dia sudah menerima akibatnya. Akhirnya aku bisa menguasai ini semua, tunggu saja kehancuranmu Abiyasa, yang sangat kamu percayai Dan yang kamu anggap sebagai teman baik itu sekarang akan menghancurkanmu karena semua ini sudah aku ubah atas nama Haris. Aku sudah membencimu selama ini kamu tidak pernah memberikan yang terbaik untukku, mana! katanya keluarga Wibawa yang sangat berwibawa dan adil itu, tapi nyatanya kamu tidak pernah memberikan yang terbaik untukku, Aku hanya menjabat sebagai manajernya saja di hotel ini tapi tidak menjadi pemimpin utamanya, masih saja tertuliskan Om Haris sebagai pemimpin utamanya di hotel ini, sungguh! keterlaluan kamu Abiyasa, tunggu saja kehancuranmu dengan penjualan hotel ini, setelah dibayar nantinya Aku akan pergi dari sini tidak akan bisa mereka menemukan aku begitu juga denganmu! Karena aku tidak bersalah dalam hal ini, yang bersalah adalah Om Haris hahaha...Bahkan Abiyasa tidak tahu kalau kawannya itu sedang sakit karena aku sudah mengatakan kalau Om Haris ada sedikit keperluan pulang kampung dan disans susah sinyal, Hahahaha, kena sekarang kamu Abiyasa..." Ucapnya lagi-lagi tertawa lepas di dalam ruangannya tersebut.


Dia kemudian berdiri dari duduknya dan melangkah menuju ke arah jendela, dia menatap ke arah Resto yang terlihat dari arah jendelanya itu, dia melihat seorang wanita sedang membuang sampah di tempat sampah yang tidak jauh dari hotel tersebut.


" Sayangku...Kamu semakin hari semakin cantik, sebentar lagi aku akan memboyong mu pergi dari kota ini, kita akan hidup bersama, sudah tidak sabar hati ini ingin memilikimu, aku akan segera menceraikan istriku dan hidup bersama denganmu, kamu gadis impianku." Ucapnya tersenyum sembari terus menatap wanita tersebut.


Wanita itu masuk ke dalam restoran dan sudah tak terlihat lagi, Pak Hendri pun langsung duduk di sofa dia menaruh kedua kakinya di atas meja dan menyandarkan tubuhnya sembari menengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruangannya itu, dia pun terlihat sangat senang sekali, padahal dia tidak tahu kalau orang yang ingin membeli hotel tersebut memiliki ikatan yang kuat dengan keluarg Wibawa, terutama Papah Abiyasa.


" Aku ingin sekali melihat kehancuranmu Abiyasa, sekarang di sini aku tidak akan pernah lagi menjadi jongosmu, karena selama ini kamu tidak pernah menghargai aku, aku bersusah payah menaikkan omset di hotel ini, tapi sayangnya kamu malah memberikan kepercayaan untuk pimpinan utamanya ke Om Haris, walaupun aku adalah keponakannya yang direkomendasikannya untuk menjadi manajer di hotel ini, tapi kamu tidak pernah memberikan aku kepercayaan menjadi pimpinan hotel ini, aku sudah tidak sabar ingin melihat kamu menderita Abiyasa karena kehilangan satu aset keluarga kamu ...hahaha." Ucapnya kemudian dia pun mendengar ketukan di pintu ruangannya tersebut, dia menatap ke arah pintu dan dia bersuara menyuruh si pengetuk untuk masuk, pintu terbuka terlihat seorang wanita membawa satu buah berkas dan diberikannya padanya.


" Ini Pak berkasnya yang Bapak minta."


" Bagus! Terima kasih ya Yuni karena kamu sudah menyimpan berkas ini dengan aman."


" Apa sih yang nggak buat bapak." Ucapnya tersenyum.


" Bagus! Nanti aku akan transfer untukmu."

__ADS_1


" Siap pak..." Ucapnya sembari tersenyum dan melangkah meninggalkan Pak Hendri, kemudian pak hendri mengambil berkas itu, yang isinya semua yang sudah dibuat oleh Pak Hendri bersama dengan beberapa orang yang terlibat di dalamnya tersebut atas nama Haris Santo.


" Dengan ini aku akan mendapatkan lebih dari apa yang selama ini aku terima dari Abiyasa." ucapnya sembari tersenyum merasa dirinya menang mendapatkan semuanya itu.


__ADS_2