CAHAYA CINTA

CAHAYA CINTA
CAHAYA CINTA 64


__ADS_3

BAB 64🌹


" Apakah bisa Saya melihat surat-suratnya?" Tanya Dewa.


" Oh tentu Pak..." Ucapnya dengan senyumannya.


Kemudian dia berdiri dari duduknya dan mengambil beberapa berkas yang ada di dalam laci mejanya itu, dia pun kemudian menyerahkan berkas semuanya pada Dewa.


Sebelum Dewa membukanya, Alvaro langsung mengambil berkas itu, membuat Pak Hendri merasa heran karena Dewa hanya diam saja bahkan dia tersenyum membiarkan Alvaro menganbil berkas tersebut.


" Kenapa mereka yang mengambil alih untuk melihat berkas itu? Seharusnya Bosnya yang terlebih dahulu melihatnya, mereka hanya anak buas biasa aja kenapa mereka yang melihatnya duluan? Bagaimana sih??!!" Gumamnya.


Alvaro kemudian membuka satu persatu berkas tersebut, kemudian dia pun melempar berkas itu kembali keatas meja, membuat Pak Hendri terkejut.


" Hei!! Kamu sebagai bawahan aja sombong sekali, kenapa bisa seperti itu? Seharusnya kamu sopan sedikit, itu Bos kamu yang ada di samping kamu sedang berbicara dengan kliennya seperti saya, kenapa kamu melempar berkas itu dengan sedikit kasar di hadapan saya?" Ucap pak Hendri sangat marahnya.


Dewa kemudian tersenyum menanggapi protesan pak Hendri.


" Kenapa Bang Toyib tersenyum? Ini sama aja anak buah yang tidak punya etika pak."


" Tenang pak, jangan kaya orang kebakaran upil."


" Bapak! Saya serius kenapa bapak ngajakin bercanda?" Ucapnya dengan sedikit terlihat emosi yang tidak bisa dia sembunyikan dari pancaran wajahnya itu.


" Anak buah saya memang seperti itu pak, kalau dilihat berkasnya tidak sesuai dengan kriteria, mereka tidak akan pernah menyetujuinya, kalau anak buah saya tidak menyetujuinya, itu artinya saya juga tidak menyetujuinya, paham Bapak!" Ucap Dewa dengan nada santainya.


" Kenapa Pak? Padahalkan Bapak sudah berjanji dengan saya ingin membeli hotel ini, kenapa Bapak hendak berubah pikiran pak?"


" Saya memang ingin membeli hotel ini, tapi di dalam berkas itu ada kekeliruan yang sangat besar."


" Kekeliruan yang bagaimana pak? Berkas ini lengkap tidak ada kekeliruan, semua catatan awal pembangunan serta omset yang didapat tiap bulannya sudah tertera di sini."


" Tapi sayangnya ini palsu!" Sambung Arsya.


" Heh! Kenapa kamu bisa bicara seperti itu! Sedangkan kamu tidak melihat sama sekali berkas itu, yang melihat berkas itu adalah dia!(sembari menunjuk kearah Alvaro) bukan kamu!"

__ADS_1


" Heh pak! Walaupun saya tidak melihatnya tapi saya tahu kalau berkas itu palsu!"


" Jangan macam-macam kamu bicara!"


" Saya tidak macam-macam bicara pak! Hanya satu macam saja,yaitu Palsu!" Ucap Arsya tertawa membuat wajah pak Hendri memanas dan memerah namun dia tidak bisa meluapkan amarahnya itu.


Farhan pun terkejut, Dia kemudian menatap ke arah ke empat orang yang ada di hadapannya itu


" Apa saya bilang Pak Hendri, mereka memang pembohong! Dia hendak membohongi bapak dengan mengatakan berkas yang ada di atas meja itu palsu!" Ucapnya.


" Benar apa kata anak buah saya, kalian memang ingin membo*dohi saya, tapi sayang saya tidak mudah dibo*dohi oleh kalian!"


" Oh rupanya kamu tidak terima dengan apa yang kami ucapkan?" Sambung Bima.


" Ya iyalah saya tidak terima, karena kalian sudah berkata seperti itu!"


" Kamu mengatakan pemilik ini adalah Pak Haris, sedangkan pemilik aslinya bukan Pak Haris, melainkan Abiyasa Putra Wibawa, lagi pula nama hotel ini sama dengan perusahaan yang dipimpin oleh pak Abiyasa, sejak kapan keluarga Wibawa menjual aset keluarganya dengan atas nama orang lain!!" Sambung Alvaro dengan nada tinggi membuat pak Hendri terkejut saat Alvaro menyebut nama Papah Abiyasa Putra Wibawa.


Mendengar ucapan dari Alvaro Pak Hendri pun tidak bisa berkata apa-apa, Dia hanya terdiam.


" Siapa kalian??!" Tanya Pak Hendri sembari menatap ke arah mereka.


" Kamu mau tahu siapa kami?" Tanya Dewa dengan wajah tersenyum.


" Yang jelas kami masih seorang manusia bukan dedemit!" Sambung Bima sembari tertawa lebar.


" Kamu tidak perlu bercanda saya serius!!"


" Heh pak saya tidak bercanda, dari tadi saya serius pak! Anda saja yang tidak serius, ditanya tak jawab!" Sanggah Bima.


" Apa maksudnya?"


" Seharusnya aku yang bertanya padamu, Apa maksudnya kamu mau menjual Hotel keluargaku!!" Ucap Alvaro.


" Apa?? keluarga kamu... Hahaha... Kamu jangan bercanda, kan saya sudah bilang pada kalian, kalau hotel ini milik Pak Haris, bukan milik siapa tadi...Ah iya kamu bilang tadi Abiyasa, siapa Abiyasa! Saya tidak tahu siapa dia, jangan asal ngaku-ngaku." Ucapnya tertawa lebar.

__ADS_1


" Astaga orang ini! Masih saja berbicara seperti itu, padahal di hadapannya adalah pewaris keluarga Wibawa, mau cari mati nih orang!" Gumam Bima sembari menatap lekat ke arah Pak Hendri.


" Sudahlah! kamu tidak usah bicara seperti itu lagi, karena buang-buang waktu saya saja, kalau kalian hanya mengaku-ngaku sebagai pemilik hotel ini jangan mimpi! Sebaiknya kalian pergi meninggalkan hotel ini karena saya malas untuk melayani kelakuan kalian yang mengada-ngada tentang kepemilikan hotel ini." Ucapnya dengan tegas sembari menatap ke arah ke empat orang tersebut.


" Yang harus pergi itu kamu dodol! Bukan kami, kamu masih belum mengetahui ya kami ini siapa, Oh iya kami lupa untuk memperkenalkan diri, dengar baik-baik ya! Buka mata, buka telinga dan juga pikiran kamu, agar kamu bisa mengetahui siapa kami, Aku adalah Bima dan ini adalah Arsya, itu adalah Dewa, dia mengaku sebagai Bang Toyib hanya ingin mengelabui kamu dan ini adalah Alvaro anak dari Bapak Abiyasa Putra Wibawa, sudah jelas?? Apa masih kurang jelas dengan penjelasan aku ini?? Kalau masih kurang jelas kami bisa menghubungi Bapak Abiyasa langsung dan kami akan menanyakan siapa sebenarnya Haris itu."


Mendengar ucapan Bima Pak Hendri pun terkejut, wajahnya sudah mulai berubah pucat setelah mendengar ucapan dari Bima, Bima berdiri dari duduknya dan mendekati Pak Hendri.


Pak Hendri yang hendak berdiri pun langsung disuruh Bima duduk kembali, Pak Hendri menghela nafasnya dengan panjang.


" Hai pak manager! kamu mau ke mana? tadi kamu yang lantang berbicara, sudah tidak ingin meladeni kami lagi, Oh ya aku lupa... (sembari mondar-mandir di depan pak Hendri, karena kursi yang diduduki Pak Hendri itu diputar oleh Bima menghadap ke arahnya) keterangan dari anak buah kamu si Firanha itu memang benar, kalau Arsya mengaku sebagai calon suaminya dari Ayana, wanita yang masih muda belia itu, kamu bilang apa? Calon istrimu, Oh! Rupanya kamu suka daun muda ya? Kalau kamu memang suka daun muda, daun tua yang kamu miliki itu mau kamu kemana kan Pak Tua!"


" Enak aja bilang aku Firanha!!" Gumam Farhan mendengus dengan kesal.


" Kenapa diam pak Tua??" Tanya Bima sembari sendekap tangan didada.


" Huh!! Bukan urusan kamu!" Ucapnya dengan penuh penekanan dan terdengar nada kesal diucapannya.


" Benarkan Pak Hendri? apa yang aku katakan, kalau mereka ini adalah orang yang jahat! ingin membo*dohi Bapak."


Arsya kemudian berdiri dari duduknya, dan mendekati Farhan. Farhan pun mundur beberapa langkah dan akhirnya mentok di sebuah kursi di depan meja kerja Pak Hendri, dia pun langsung terhempas spontan duduk di kursi itu.


" Kamu memang tidak salah berbicara seperti itu, tapi sekarang kalian berdua akan menanggung akibatnya, dan yang lebih jahat dari kami adalah kamu!!" Ucap Arsya sembari mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celananya.


" Siapa yang mau kamu hubungi?"


" Apakah aku harus bilang dulu padamu Firanha?!"


Farhan terdiam.


" Silakan kamu ke ruangan Pak Hendri sekarang, kamu harus menjelaskan semuanya." Ucapnya dalam ponsel pribadinya itu yang tak lain adalah Ayana yang dia hubungi.


" Apakah kamu memanggil Ayana?" Tanya Farhan, mendengar ucapan Farhan Pak Hendri pun menatap ke arah Farhan, mereka berdua saling tatap-tatapan.


" Masalahnya apa kalau aku menghubungi Ayana, kamu kan sudah tahu kalau aku adalah calon suaminya Ayana, jadi hak aku dong Mau mengatakan apa saja ataupun memanggilnya, bahkan bisa tidur bersamanya, bukan urusan kalian lagi kan??" Ucap Arsya tertawa, mendengar ucapan Arsya, Pak Hendri pun langsung berdiri dari duduknya, Tapi sayangnya lagi-lagi Bima menahannya, sedangkan Pak Hendri hanya bersuara.

__ADS_1


" Jangan macam-macam kamu dengan Ayana!!" ucapnya dengan suara kerasnya.


__ADS_2