
BAB 24🌹
" Hemm...Tidak apa-apa kamu curhat denganku, anggap saja Aku ini teman kamu heheh...Oh ya jadi sekarang aku harus menganggap kamu itu sebagai pacar aku, dan aku disini berperan sebagai pacar kamu, okelah! kalau masalah itu serahkan semuanya padaku." ucap Bima sembari tersenyum, dianggukan oleh perempuan tersebut sebelum mereka keluar Bima pun menatap ke arah wanita itu.
" Eit! Tunggu sebentar, kalau aku di sini berperan sebagai pacar kamu, aku belum kenal kamu, bahkan kamu juga belum menyebutkan nama kamu padaku, masa iya aku berpacaran dengan seseorang yang tidak tahu namanya sama sekali, ntar kalau di tengah mereka aku sebut apa kamunya." ucap Bima terkekeh.
" Astaga!" ucap perempuan tersebut sembari menepuk jidatnya.
" Maaf, aku lupa memberitahu kamu namaku, Aku Bianca Evelyn, Kamu bisa panggil aku Bianca saja."
" Apa? Bingka?" ucapnya tersenyum.
" Bianca! Bingka itu kue, emang wajah ini ada tampang kue apa? wajah cantik kaya gini dibilang Bingka, Bingka kentang kali! isht!" ucapnya sembari melirik kearah Bima.
" Hahahha...kamu lucu juga ya kalau marah..."
" Lucu dari mana? dari Monas dilihat menggunakan sedotan?! udah Ach! becanda mulu dari tadi!" ucapnya kemudian turun dari mobil di ikuti Bima, saat Bianca turun dia langsung dihampiri sepupunya anak dari pamannya yang super duper sombong dan selalu saja menghina Bianca jika saat bersama keluarga orang tuanya itu.
" Heh Bianca!berani juga kamu datang ke acara keluarga, biasanya kamu nggak pernah datang, kebanyakan kamu tidak pernah hadir walaupun masih ada kedua orang tua kamu, Hemmm, kamu mau pamer ya mobil mewah kamu ini?! sepertinya mobil ini bukan milik kamu, kamu minjam dari mana? Kok ada ya teman kamu yang mau meminjamkan mobil ini untuk kamu, secara kamu tidak mampu untuk beli mobil seperti ini, jangankan mobil ini yang pastinya mahal banget, mobil murah aja kamu nggak mampu beli,makanya kalau mau nyaingi aku tuh ngaca!" ucapnya sembari mendorong pelan pundak Bianca dan Bianca pun tersandar dipintu mobil Bima.
" Judes juga ya nih cewek, tapi nggak sejudes Dewa hehehe, kalau Dewa sudah pasti habis tuh cewek! Belagu amat ya! ada ya orang kaya gitu sombongnya minta Ampun, hidup lagi orang kaya gitu." ucapnya pelan.
Bima sengaja tidak menampakkan dirinya dia sengaja mendengarkan pembicaraan mereka berdua, karena bagi Bima belum saatnya dia keluar menampakkan wajahnya dihadapan wanita teman bicara Bianca itu.
Sepupu Bianca melangkah menuju kearah dalam dan Bianca menghela nafasnya dengan panjang, dia tidak ingin meladeni sepupunya itu.
" Kenapa kamu nggak lawan dianya? apa seperti ini kamu sering dikata-katain mereka?"
Bianca mengangguk.
" Aku memang nggak melayani ejekannya, kalau dilawan dia selalu ngadu dengan cowoknya yah bisa disebut tunangannyalah."
__ADS_1
" Memang siapa tunangannya?"
" Aku sih nggak tahu siapa tunangannya itu, karena aku hanya satu kali aja melihatnya, orangnya anggkuh banget sok terpelajar dan kaya raya, aku tidak ingin melawan tunangannya itu, karena tunangannya itu masih ada hubungannya dengan keluarga Bos aku."
" Keluarga Bos kamu?"
Bianca menganggukkan kepalanya.
" Keluarga yang terkenal dengan sepak terjangnya,. keluarga Wibawa, siapa yang berani melawan keluarga Wibawa sekali gepak, wuw...wus...wus...orang itu akan tamat riwatnya.Aku tidak ingin tamat riwayatku, aku masih ingin bekerja disana, makanya aku takut melawan sepupu aku itu, biarkan saja aku mengalah, ini hanya satu yang selalu terang-terangan mengejek aku, nanti kalau kamu masuk dan duduk ditengah-tengah mereka masih banyak lagi yang lainnya."
Bima menghela nafasnya dan menganggukkan kepalanya, didalam otaknya dia berpikir siapa yang mengaku keluarga Wibawa.
" Siapa nama sepupu kamu itu?"
"Prili..."
" Terus tunangannya itu bernama Prolo? " tanya Bima tersetawa pelan, membuat Bianca tertawa juga.
Lagi-lagi Bima menganggukkan kepalanya.
Terlihat seorang wanita dan lelaki paruh baya keluar dari dalam, dia terlihat tersenyum dengan Bianca.
" Bianca? kenapa nggak masuk kedalam?"
Bianca terkejut melihat dua orang tersebut, dia adalah adik kandung sang Ayah wajah dan prilakunya sama dengan Almarhum Ayah Bianca,dialah Om Pramono saudara Ayah Bianca yang berada diluar negeri dan memiliki usaha disana.
Om Pramono memeluk Bianca, Bianca tak kuasa menahan tangisnya karena diantara saudara sang Ayah hanya om Pramono lah yang tidak menghinanya ataupun mencemoohkannya, namun Bianca tidak ingin mengadukan semuanya pada Om nya itu, karena dia tidak ingin memecah belah keluarga Almarhum sang Ayah.
" Apa kabar Nak,semoga kamu baik-baik saja." ucap Om Pramono sembari mengusap kepala Bianca.
" Aku tidak baik-baik saja Om.." gumamnya dalam hati, dia lalu tersenyum pada Om nya itu sembari berkata.
__ADS_1
" Bianca baik-baik saja Om, oh ya Om, Kak Fitri mana?"
" Ada didalam...Ayo masuk..."
" Ini siapa?" tanya tante Sesil.
" Oh iya lupa Om,Tante, kenalkan ini kekasihnya Bianca, Namanya...Astaga Aku lupa menanyakan namanya siapa..." gumamnya dalam hati sembari menatap kearah Bima.
Seolah mengerti, Bima pun langsung mengulurkan tangannya sembari memperkenalkan namanya pada kedua orang yang ada dihadapannya itu.
" Bima, Om, Tante..." ucapnya tersenyum, Bianca menghela nafas leganya sembari tersenyum.
" Oh, Bima, Mari masuk..." ucapnya sembari mengajak keduanya masuk kedalam.
Mereka berdua mengikuti langkah kedua orang tua paruh baya tersebut, menuju kearah mereka semua yang berada diruang tengah, semua mata tertuju kearah mereka berdua, tidak satu dua orang yang membicarakan mereka berdua, dan saat mereka duduk diantara semuanya itu,Prili bersuara.
" Siapa lagi yang kamu bawa ini Bianca?"
" Kapan aku membawa banyak orang kesini?"
" Oh iya ya lupa Aku, kalau kamu nggak pernah punya kekasih jadi baru kali ini membawa lelaki kerumah Nenek ini,dan mungkin itu adalah cowok yang sengaja kamu jadikan kekasih bohongan kamu." ucapnya ketus berbicara diantara mereka semua.
" Prili! kamu ini nggak sopan banget sih! kalau ngomong itu dipikir, nggak usah bilang kaya gitu! Bianca kan juga keluarga kamu!" ucap Fitri anak dari Om Pramono.
" Iya-iya kak, maaf, habisnya dia kesini biasanya nggak ngajak siapapun, kenapa baru sekarang membawa lelaki, mana lelakinya ganteng banget kalah kan jadinya cowok aku!" ucapnya sembari melirik sinis kearah Bianca, dan membuat senyum diwajah Bianca karena Prili mengatakannya terlalu jujur tentang Bima.
" Oh ya kakak mau tahu dan kenal siapa cowok kamu itu, yah kata Om Sarif tunangan kamu, mana dia? kakak kan juga mau kenal dengannya, katanya dari keluarga Wibawa." ucap Fitri sembari tersenyum, terlihat Prili tersenyum senang.
" Bentar kak, aku hubungi dulu, katanya tadi dijalan menuju kesini."
" Hadeh! anak siapa sih cowoknya." gumam Bima dalam hatinya.
__ADS_1