CAHAYA CINTA

CAHAYA CINTA
CAHAYA CINTA 45


__ADS_3

BAB 45🌹


" Astaghfirullahaladzim, Maafkan saya pak, saya tidak sengaja." Ucapnya karena kepalanya menyentuh tangan laki-laki itu yang tidak lain adalah Dewa.


" Tidak apa-apa, kamu kenapa? Kenapa wajah kamu takut seperti itu, ada apa? Katakan pada saya."


" Oh...Anu pak, tidak ada apa-apa." Ucapnya berusaha tersenyum.


" Kamu dimarahin oleh pak Yanuar?"


Rusdi terdiam.


" Sekali lagi saya bertanya denganmu, apakah kamu dimarahi Pak Yanuar?" Tanya Dewa, namun Rusdi tetap terdiam dia menundukkan kepalanya, Dia pun melihat ID card dipakai oleh Rusdi.


" Rusdianto, Adisten dari Pak Yanuar." Dewa menganggukan kepalanya.


" Maaf pak Mungkin ini kesalahan saya, saya telah mengganggu Pak Yanuar karena saya telah menyampaikan pesan dari sekretarisnya pak Abiyasa, tapi dia marah-marah sama saya ,30 menit yang lalu saya sudah memberikan pesan itu padanya, tapi dia tidak juga datang menemui pak Abiyasa, Saya takut Pak kalau dipecat nantinya."


" Siapa yang akan memencet kamu?"


" Pak Yanuar pak."


" Rusdi, yang berhak di sini memecat kamu itu pak Abiyasa, bukan Pak Yanuar, bahkan dia juga sebentar lagi akan dipecat atas kesalahannya sendiri "


Mendengar ucapan Dewa, Rusdi pun langsung mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Dewa.


" Bapak tidak salah berbicarakan?"


" Sudahlah kamu pasti akan tahu sendiri mantinya, sekarang kembalilah kamu ke ruanganmu, nanti aku yang akan memanggil Pak Yanuar itu." Ucap Dewa dianggukkan oleh Rusdi.


" Saya permisi dulu pak!"


" Iya.." Ucap Dewa kemudian Dewa pun membuka pintu ruangan pak Yanuar, tanpa dia mengetuknya sama sekali.

__ADS_1


Pak Yanuar terkejut dia mengira Rusdi membuka pintu itu dan dia pun langsung bersuara kencang.


" Astaga! Kamu sudah kubilang jangan buka pintu ruanganku lagi! Kamu mau aku pec..." Pak Yanuar menghentikan bicaranya karena yang ada di depan pintu adalah Dewa.


" Kenapa kamu mau mencet aku?" Ucap Dewa sembari menyenderkan tubuhnya ditiang pintu sambil mensedekapkan tangannya doda.


" Kamu lagi! Kamu lagi! sebenarnya kamu ini siapa sih, kamu ini kayak jelangkung aja,yang tiba-tiba muncul dan tiba-tiba hilang !"


" Hoho...Ya benar sekali tebakan kamu, aku adalah jelangkung yang bisa menyerupai siapa saja, aku juga bisa menyerupai istri kamu, aku juga bisa menyerupai anak kamu, bahkan aku juga bisa menyerupai Bos kamu dan aku juga bisa menyerupai malaikat pencabut nyawa kamu! Pilih aja yang mana, agar aku bisa berubah dengan cepat." Ucap Dewa santai namun penuh penekanan dikata-kata malaikat pencabut nyawa.


" Heh! Urusan kamu denganku apa sih! Aku tidak ada urusan dengan kamu! Sekarang pergi dari ruanganku!"


" Aku hanya menyampaikan pesan saja, Kamu dipanggil sama Pak Abiyasa, jangan sampai Pak Abiyasa sendiri yang menjemput kamu di ruangan kami ini, ingat kamu itu digaji oleh pak Abiyasa tapi kamu tidak mau menemui dia di ruangannya, Hemmm... jangan-jangan kamu memiliki kesalahan yang sangat besar ya, sehingga kamu tidak mau menemuinya dan mengulur waktu seperti ini."


Mendengar ucapan dari Dewa, Pak Yanuar pun langsung berdiri dari duduknya dan menggebrak meja, hampir saja Dewa mengeluarkan rasa terkejutnya dengan kata-kata rangkaiannya, namun dia langsung menguasai dirinya.


" Siapa yang bilang aku memiliki kesalahan yang paling besar, aku di sini hanya mengerjakan beberapa pekerjaanku yang harus diselesaikan dengan cepat, makanya aku mengulur waktu!" Ucapnya sambil keluar sembari melangkah menuju ke arah Dewa, Dewa kemudian mengangkat tangannya dan menyandarkan tubuhnya di pintu ruangan itu karena Pak Yanuar mendengus dengan kesal lewat di hadapannya, Dewa pun terkekeh dia melihat langkah demi langkah Pak Yanuar yang terlihat di wajahnya seperti kebakaran jenggotnya itu dan sudah menjadi lahan gersang di wajahnya.


Lalu Dewa melangkah menuju ke arah ruangan papah Abiyasa.


***


Bu Elly yang sudah berada di mobil pribadinya itu pun memerintahkan pada sopir pribadinya untuk menuju ke arah tempat kerja suaminya yaitu Wibawa Group dengan kecepatan sedang sopir pribadinya itu pun melajukan kendaraannya.


" Aku harus tahu siapa wanita yang akan menjadi maduku di kantor itu, karena aku tidak ingin dia menikah lagi, kalaupun sampai dia ketahuan menikah lagi, aku tidak akan terima, aku harus mendapatkan sebagian dari hartanya aku tidak ingin dimadu daripada aku dimadu lebih baik aku minta cerai darinya." Ucapnya.


" Bisakah lebih cepat lagi Pak, aku ingin cepat melihat Tuanmu di kantornya, apa yang dikerjakannya itu." Ucapnya pada sopir pribadinya itu.


" Baik Nyonya Besar." Ucap sopirnya tersebut sembari melajukan sedikit kencang kendaraannya agar cepat sampai di kantor Wibawa group tersebut.


***


Sesampainya di ruangan papah Abiyasa, dia pun mengetuk pintu ruangan pak Bosnya itu.

__ADS_1


Belum sampai ketukan kedua dan tidak ada suara dari dalam untuk menyuruhnya masuk, tapi terdengar suara yang menyuruhnya masuk dari luar.


" Masuk saja, pintu itu tidak terkunci, karena pintu itu terbuka untuk Bapak dan mereka yang ada di dalam menunggu Bapak sedari tadi, jadi Bapak tidak perlu untuk mengetuk pintu lagi." ucap Dewa sambil tersenyum.


Pak Yanuar pun menoleh ke arah Dewa dan merasa terkejut dengan kehadiran Dewa yang begitu cepat berada disampingnya segesit putaran angin.


" Kenapa? Kamu terkejut ya... Karena aku bisa dengan cepat sampai di sini berbarengan dengan kamu, Ya namanya juga tenaga muda mampu kalahkan tenaga yang tua, lagi pula tenaga muda ini lebih gesit daripada tenaga yang tua, seperti anda!" Ucap Dewa sembari pintu dibuka oleh Dewa.


" Silahkan masuk, mereka semua sudah menunggu Anda!" Ucap Dewa memoersilahkan pak Yanuar masuk kedalam.


Benar saja mereka yang ada di dalam pun menoleh ke arah Pak Yanuar.


Pak Yanuar terkejut melihat ke dua orang yang baru tadi malam bertemu dengannya sudah berada di ruangan Papah Abiyasa sang Bos besarnya itu, kemudian matanya pun menatap ke arah Bima dia mundur selangkah, Dewa pun langsung berbicara.


" Hey! Kenapa Anda mundur selangkah? Apa Anda takut ya dengan salah satu dari mereka itu dan Anda mungkin terpikir siapa itu? Kalau anda ingin tahu silakan Anda masuk ke dalam dan duduk!"


Namun Pak Yanuar hendak melangkah meninggalkan ruangan itu, Dewa meraih tangan Pak Yanuar dia langsung menyuruh pak Yanuar masuk ke dalam ruangan Papa Abiyasa dan Dewa pun langsung menutup pintu ruangan itu serta menguncinya, terlihat wajah ketakutan dari wajah Pak Yanuar.


" Kenapa kamu takut? Janganlah takut gitu dong! Tadi katanya kamu tidak merasa takut dan tidak merasa bersalah, sekarang ada di ruangan pimpinan besar kamu, kenapa tiba-tiba kamu merasa takut, bukankah kamu tadi sudah membentak asisten kamu dan kamu juga berani berucap ingin memecatnya, benar kan Pak Yanuar?" Ucap Dewa sembari terkekeh membuat Pak Yanuar tidak berdaya dan menundukkan kepalanya.


" Silahkan duduk pak Yanuar! Ada yang ingin aku bicarakan denganmu!" ucap Papa Abiyasa.


" Baik Pak." Ucapnya sembari menundukkan kepalanya dan dia pun duduk di depan mereka semua sembari bergumam di dalam hatinya.


" Siapa sebenarnya mereka? Kenapa mereka ada di sini dan terlihat akrab dengan Pak Bos."


" Heh! Nggak usah kamu bergumam seperti itu, karena aku mengetahui isi hati kamu, jangankan isi hati kamu tapi isi didalam otak kamu pun aku mengetahuinya, kamu belum tahu siapa kami, makanya sekarang kami akan memperkenalkan padamu hari ini!" Ucap Bima, Pak Yanuar terkejut karena Bima mengetahui apa yang dipikirkan oleh Pak Yanuar.


Dewa, Alvaro, dan Arsya pun kemudian menatap ke arah Bima.


" Dari mana kamu tahu pikiran dia Bro?" Tanya Arsya.


" Aku hanya ngarang." Jawab Bima sembari berbisik.

__ADS_1


" Kenapa dia jadi tahu ucapan ku dalam hati, tapi wajahnya mirip sekali dengan ibu Clarissa itu, apakah dia Anaknya ?" Gumamnya lagi sembari menoleh sesaat pada kearah Bima.


" Kamu kaget ya, kamu pasti bertanya-tanya siapa Aku ini? karena wajahku ini mirip yang kamu sebut Mak Lampir itu, Iya kan?!, Aku memang anaknya si Mak Lampir yang kamu beri gelar itu, tapi aku bukan grandong!" ucapnya sembari menatap lekat ke arah Pak Yanuar, Pak Yanuar pun terkejut dengan ucapan dari Bima, namun masih tetap menundukkan kepalanya, seakan-akan dia sudah mendapatkan karma dari semuanya.


__ADS_2