
BAB 48 🌹
Setelah pengambilan rapat itu pun selesai mereka kemudian kembali ke ruangannya dan Mama Clarissa meninggalkan kantor Wibawa Group dan Papa Abiyasa masuk ke ruangan kerjanya.
Saat di sofa ruangan mereka itu, mereka bertiga baru sadar kalau salah satu dari mereka tidak lengkap, mereka kemudian saling pandang sembari bersuara.
" Kemana Bima?" Ucap mereka, dan mereka bertiga pun sama-sama menggelengkan kepalanya.
Bima yang memang menghilang begitu saja dari langkah ketiga sahabatnya itu yang tidak diketahui oleh mereka, Bima yang ternyata melangkah menuju ke arah kantin yang berada di samping kantor Wibawa group, walaupun sebenarnya belum waktunya jam istirahat.
Dia kemudian mendekati pemilik kantin yang sedang merapikan kantinya itu.
" Hai Ibu selamat pagi, bisa buatkan saya teh manis?" Ucapnya."
" Oh siap pak.." Sahut bu kantin tersebut yang bernama Ibu Yosi.
Ibu Yosi pun kemudian membuatkan teh pesanan dari Bima, dia duduk di depan kasir kantin tersebut.
Beberapa saat kemudian Bu Yosi datang membawakan teh manis hangat pesanan dari Bima.
" Ini pak tehnya, silakan dinikmatin." Ucap Bu Yosi sembari hendak berbalik meninggalkan Bima, namun Bima langsung mencegah Ibu Yosi untuk tidak pergi dari hadapannya.
" Sebentar Bu, ada yang ingin saya tanyakan sama Ibu."
Bu Yosi pun merasa heran dia menatap ke arah Bima.
" Bagaimana kalau ibu duduk di depan saya, biar kita bisa berbicaranya." Ucap Bima dianggukan oleh ibu Yosi, dia pun kemudian duduk di depan Bima. Bima tersenyum sembari meneguk teh hangat buatan ibu kantinnya itu.
" Maaf Ibu, Mungkin pertanyaan saya sedikit mengganggu Ibu, karena sifat ingin tahu saya yang sangat besar sekali, sehingga membuat saya datang ke kantin ini dan menanyakan pada ibu secara langsung."
" Soal apa pak yang ingin Bapak tanyakan sama saya."
" Tadi pagi sebelum karyawan datang ke kantor ini, saya melihat seorang wanita menggunakan motor bebek, memakai pakaian berwarna abu-abu motif bunga kalau nggak salah berarti benar ya Ibu, biasalah Bu mata saya saat pagi sedikit berkabut hehehe...Kalau salah dibenarkan ya Ibu " Ucapnya tersenyum.
Bu Yosi hanya tersenyum saja.
" Tapi memangnya kenapa dengan dia Pak ?"
" Sebenarnya tidak ada apa-apa Bu, cuma saya ingin tahu apakah dia anak ibu atau keluarga Ibu, ataupun tetangga ibu?"
Bu Yosi tersenyum, sebenarnya dia bukan apa-apa saya, dia juga bukan tetangga saya, tapi dia adalah teman anak saya, anak saya itu bekerja di sebuah Resto mewah yang ada di kota ini."
" Kalau memang dia tidak ada hubungannya dengan ibu, hanya cuma teman anak Ibu saja, kenapa dia berada di kantor ini pagi-pagi sekali, bahkan saya melihat dia keluar dari kantin Ibu."
__ADS_1
Lagi-lagi Ibu Yosi tersenyum.
" Dia ke sini cuma mengantarkan titipan dagangannya pak setiap harinya."
" Titipan dagangannya buatan dia?"
Bu Yosi menganggukan kepalanya.
" Memang dia menitip dagangan apa sama ibu?"
" Kue dan gorengan."
" padahal dia kan bekerja di Resto yang mewah, pasti dia mendapatkan gaji yang besar, tapi kenapa dia bisa menitipkan dagangannya pada ibu lagi, bukankah itu pekerjaan yang sangat melelahkan, dia harus bangun pagi, beres-beres, terus membuat kue dan mengantarnya juga."
" Benar apa yang dikatakan Bapak, tapi karena dia memerlukan banyak uang, saya juga tidak tahu untuk apa, yang dikatakan oleh anak saya itu dia hanya memerlukan uang banyak untuk keluarganya."
Bima menganggukkan kepalanya dan memahami ucapan Bu Yossi.
" Oh ya Ibu, kalau boleh tahu siapa namanya?"
" Amara ...Amara anaknya sangat baik sekali, dia juga sopan pada semua orang, dia adalah koki yang handal di resto mewah itu."
Bima menganggukkan kembali kepalanya.
" Memangnya ada apa Pak? Kenapa Bapak bertanya tentang Amara.?"
Setelah Bima menghela nafasnya dengan panjang, dia menjawab pertanyaan dari Bu Yosi.
" Tidak apa-apa Ibu, saya cuma bertanya aja karena saya melihat dia baru pertama kali ada di sini, Oh ya Ibu kalau boleh tahu apakah dia sudah berkeluarga atau belum?"
" Setahu saya dia tidak berkeluarga, itu juga penjelasan dari anak saya."
Bima tersenyum.
" Baiklah Ibu, terima kasih lagi ya ibu atas keterangannya, Maaf Ibu jangan berpikiran yang tidak-tidak, tentang saya yang menanyakan Amara, karena saya baru kali ini melihat dia, saya kira dia adalah karyawan baru yang saya tunggu karena saya menunggu seorang karyawan baru yang direkomendasikan oleh perusahaan cabang untuk bekerja di perusahaan pusat ini."
" Oh begitu ya Pak."
" Iya Ibu, terima kasih ya Bu." Ucapnya kemudian Dia menghabiskan teh hangat itu.
" Berapa Bu tehnya?"
" Nggak usah Pak.."
__ADS_1
" Terima kasih banyak ya ibu."
" Sama-sama..." Ucapnya, kemudian Bu Yosi pun mengambil gelas yang sudah kosong bekas minum Bima, dia membawanya masuk dan mencucinya, sedangkan Bima melangkah dengan senyum-senyum kearah ruangannya, karena dia sudah mengetahui kalau gadis yang dilihat Alvaro itu bernama Amara, dan belum berkeluarga bisa dikatakan masih sendiri.
Dengan suara siulan Bima melangkah masuk ke dalam ruangannya, ketiga sahabatnya yang duduk di sofa pun menatap ke arah Bima, mereka merasa heran Bima masuk dengan senyum-senyum seakan-akan dia baru saja mendapatkan sesuatu yang dia inginkan.
Bima menghentakkan tubuhnya di samping Dewa, dan mereka menatap ke arah Bima dengan lekat tanpa suara, Bima kemudian sadar kalau ketiga sahabatnya itu menatapnya dengan lekat, Dia kemudian terkekeh tanpa sebab.
" Hehehehe... Kenapa kalian menatapku sedemikian lekatnya, memang ada apa di wajahku?"
" Tidak ada apa-apa di wajah kamu, tapi kenapa kamu masuk ke dalam sini dengan siulan kebahagiaan seperti itu?" tanya Arsya.
" Kamu dari mana.?" Tanya Alvaro.
" Iya nih anak satu ini menghilang begitu saja tanpa memberi kabar seolah kehilangan jalan pulang, tapi setelah tahu jalan pulangnya terlihat wajahnya dengan senyuman sumringahnya, memang kamu dari mana? Dan dapat kabar apa ? Sehingga wajah kamu seger kaya gitu?" Tanya Dewa.
" Nanyanya itu satu-satu, jangan random seperti ini."
" Lagian kamu masuk aja berlaga seperti itu ya jelas dong kami merasa penasaran." Sambung Arsya
" Arsya dan Dewa pasti akan bahagia mendengar berita ini, terutama Alvaro ..."
Alvaro yang mendengar ucapan dari Bima pun menatap ke arah Bima.
" Terutama aku? memang kabar apa?" Tanya Alvaro merasa heran.
" Kan aku tadi sudah janji denganmu Varo, aku akan mencari tahu tentang wanita yang kamu lihat tadi pagi."
Mendengar ucapan dari Bima, Alvaro pun kemudian berdiri dari duduknya dan beralih tempat di samping Bima, berhubung kursi yang didudukin Bima dan Dewa itu cuma bisa dua orang saja, Dewa pun akhirnya tersingkir.
" Penasaran kan kamu!" Ucap Dewa.
" Iya nih aku penasaran banget tau!"
" Penasaran sih penasaran tapi caranya jangan kaya gitu juga kali, main singkir aja." Delik Dewa sembari duduk disamping Arsya, dan mereka pun terkekeh, begitu juga dengan Dewa yang tersenyum dibalik delikannya pada Alvaro.
" Bagaimana ceritanya, aku penasaran itu menyangkut Amara kan." Ucap Alvaro.
" Tapi sebelum kamu mengatakan tentang Amara, aku tidak melihat Bianca, kamu bilang kan Bianca bekerja sebagai OB di sini?" Tanya Dewa.
Mendengar ucapan Dewa, Bima pun baru menyadarinya, beberapa hari ini dia tidak melihat Bianca masuk kerja setelah dia menjadi pacar pura-pura Bianca.
" Benar juga ya apa kata kamu Wa, kita sudah menyelesaikan tentang masalah OB, tapi Bianca tidak muncul sama sekali, seharusnya dia yang pertama yang tahu tentang kembalinya hak-hak mereka itu." Ucap Bima sembari menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
" Udah kalau seperti itu, nanti kita akan berkunjung ke rumah Bianca, tapi sebelumnya kamu cerikan dulu tentang informasi Amara." Ucap Arsya dianggukan oleh Alvaro dan Dewa.