CAHAYA CINTA

CAHAYA CINTA
CAHAYA CINTA 67


__ADS_3

BAB 67 🌹


Dewa langsung menghubungi pihak yang berwajib, agar segera diproses tentang perbuatan yang telah dilakukan oleh Pak Hendri pada Hotel Wibawa.


" Baiklah Pak manager, ada beberapa orang nantinya akan menjemput kamu ke sini dan kamu sudah mengatakan ingin mempertanggungjawabkan semua perbuatan kamu itu terhadap keluarga Wibawa dan keluarga kamu sendiri."


Mendengar ucapan Dewa, Pak Hendri pun langsung mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Dewa.


" Bisakah masalah ini kita bicarakan lagi, jangan bawa saya ke tempat yang berwajib."


" Kenapa? Kamu merasa takut? Makanya kalau ingin berbuat sesuatu yang sangat berakibat fatal itu, kamu harus memikirkannya lagi, jangan asal kamu lakukan saja permasalahan yang tidak semestinya terjadi." Ucap Bima.


" Tapi sayangnya permintaan kamu itu tidak bisa kami penuhi." Sambung Arsya.


" Kamu bisa berbicara seperti itu jika seandainya pak Abiyasa yang menyelesaikan masalah ini, tapi sayangnya kamu tidak berhadapan dengan Pak Abiyasa, tapi melainkan dengan Alvaro putranya." Sambung Dewa.


" Benar apa yang dikatakan mereka, apapun keputusanku tidak bisa diganggu gugat lagi, karena ini sudah menyangkut keluarga Wibawa, banyak kabar berhembus di luar sana, kalau hotel ini mau dijual karena gara-gara kamu, dan keluarga Wibawa merasa terganggu dengan ucapan kamu itu, mereka menganggap keluarga Wibawa akan bangkrut dengan cara menjual salah satu aset keluarga kami, sekarang pertanggung jawabkan semua kesalahan kamu itu di depan yang lebih ahlinya lagi." Ucap Alvaro


Pak Hendri hanya menghela nafasnya dengan penyesalan yang dalam, dia menundukkan kepalanya sembari bergumam di dalam hatinya.


" Aku akan membusuk di dalam sana, dan aku tidak bisa lagi untuk menghirup udara segar seperti yang sering aku lakukan setiap pagi, aku hanya bisa menikmati sinar mentari pagi di tempat tinggalku yang baru." Gumamnya di dalam hati sembari merasakan rasa penyesalan yang tiada batasnya baginya.


" Aku benar-benar menyesal, tapi tidak ada lagi orang yang bisa mendengarkan kata penyesalanku ini, karena percuma aku mengatakannya pada mereka, pasti mereka tidak akan pernah percaya dengan ucapanku ini, aku sudah kehilangan segala-galanya, aku juga sudah kehilangan orang yang sangat aku sayangi yaitu istriku sendiri." Ucapnya di dalam hati sembari menghela nafas beratnya.


Setelah beberapa saat mereka menunggu akhirnya beberapa orang pihak yang berwajib pun datang dan segera membawa Pak Hendri dan Farhan ke kantor mereka, setelah Alvaro berbicara pada pihak yang berwajib, mereka pun menganggukkan kepalanya dan berpamitan dengan mereka semua yang ada diruangan itu, Alvaro dan ketiga kawannya akan menuju ke arah kantor polisi setelah berbicara dengan Ayana.


Setelah kepergian mereka berdua, Alvaro menghela nafasnya dengan lega dan menghubungi sang papah, Arsya kemudian duduk berhadapan dengan Ayana.


Arsya hanya tersenyum, begitu juga dengan Ayana, Bima dan Dewa saling pandang, kemudian Bima pun bersuara.


" Hadeh! Kalian berdua ini kenapa hanya saling senyum saja, cobalah untuk saling berbicara."

__ADS_1


Lagi-lagi mereka berdua tetap tersenyum sampai akhirnya Ayana pun berbicara.


" Terima kasih ya Mas, karena sudah menolong aku untuk yang kedua kalinya."


" Oh tidak apa-apa, Arsya memang seperti itu." Sambung Dewa sembari mendekati Arsya.


Arsya pun menoleh ke arah Dewa yang duduk di pegangan kursi tersebut yang ada di sampingnya, sebelum Arsa kembali berkata, Bima pun langsung berbicara.


" Itu soal biasa, Arsya memang orangnya sangat is the best, Arsya adalah lelaki yang terbaik, Ayana pun tersenyum, karena Arsya tidak diberi kesempatan untuk berbicara pada Ayana.


"Oh ya Ayana, nanti pulangnya diantar sama Mas Arsya ya..." Sambung Dewa, Arsya terkejut, dia langsung mencubit keras paha Dewa,dan juga paha Bima, Dewa dan Bima yang berusaha menahan rasa sakit dari cubitan Arsya pun langsung menepiskan tangan Arsya.


" Sakit Bro... Cubitan kamu itu kayak cubitan seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta..." Ucap Dewa tertawa lebar.


" Hooh sakit bener..." Ucap Bima sembari mengusap bekas cubitan Arsya.


Arsya pun lagi-lagi mendelik ke arah Dewa dan Bima.


Ayana tersenyum dia pun menganggukkan kepalanya.


" Kamu sudah tahu ceritanya?" Tanya Arsya karena tidak ada lagi yang menghalangi dirinya untuk berbicara, Dewa dan Bima sudah menjauh dari samping kiri dan kanannya, karena kedua tangan Arsya sudah memberikan cubitan termanis untuk mereka berdua, Ayana pun menganggukkan kepalanya.


" Ya Mas, saya sudah tahu semuanya karena Lani sudah menceritakan pada saya."


" Syukurlah kalau kamu sudah mengetahuinya, jujur Aku tidak menganggap Ayah kamu itu sebagai seorang pengemis, tapi aku ikhlas memberikan itu semua kepadanya, kamu jangan salah sangka dulu padaku Ayana."


Ayana hanya menganggukkan kepalanya saja, dan tersenyum manis pada Arsya, dia pun kemudian bergumam di dalam hatinya.


" Ya Tuhan kenapa aku hanya menganggukkan kepala saja, padahal kan aku tadi ingin menyangkal semua kata-katanya dan ingin mengembalikan uang itu padanya, tapi kenapa mulut ini rasa kaku untuk mengatakan itu semua, aku tidak ingin menahan uang yang pernah diberikannya pada Ayah, karena aku sudah berbicara pada Ayah ingin mengembalikan uang itu."


" Sudahlah Ayana, kamu jangan memikirkan perihal uang yang pernah diberikan Mas Arsya kamu itu, dia ikhlas memberikannya pada calon mertuanya." ucap Bima disambut oleh Dewa dengan tertawa lepas, Arsya pun refleks melemparkan gumpalan kertas berkas palsu tersebut ke arah mereka, namun mereka pun langsung meloncat dan tidak mengenai mereka lemparan Arsya, Alvaro yang sudah selesai berbicara dengan sang Papah pun merasa heran melihat Bima dan Dewa saling berpelukan.

__ADS_1


" Kalian ini apa-apaan sih, masa jeruk makan jeruk sih, nggak malu tuh sama Ayana."


Mereka pun baru menyadarinya dan masing-masing mendorong tubuh mereka dengan pelan.


" Isht! Apaan sih, amit-amit!" Ucap mereka berdua sembari terkekeh.


" Arsya itu mau melempar kami dengan berkasnya si Hendri, karena dia terlanjur ketahuan kalau dia naksir dengan Ayana." Ucap Bima membuat Arsya pun semakin salah tingkah dihadapan Ayana gara-gara perkataan Bima dan Dewa, sedangkan Ayana berdebar-debar jantungnya saat dia mendengar ucapan dari Bima, walaupun itu dianggap oleh Ayana hanya sebuah candaan semata, namun mampu menggetarkan jantungnya dan membuat irama jantung yang tidak beraturan.


Ayana kemudian berdiri dari duduknya, lalu dia pun berpamitan dengan mereka.


" Maaf Mas semuanya, saya harus melanjutkan pekerjaan saya."


" Lho kenapa buru-buru Ayana?" Tanya Alvaro.


" Karena pekerjaan saya banyak Mas, terima kasih banyak sebelumnya karena sudah membantu saya." Ucapnya sembari menangkupkan kedua tangannya di dada, dan dia pun langsung berpamitan dengan mereka, Arsya pun terdiam dan hanya menatap kepergian Ayana.


" Ayana!" Panggil Dewa, Ayana pun menoleh kembali.


" Jangan lupa ya nanti kalau sudah pulang, jangan pulang duluan, nanti Mas Arsya akan mengantarkan kamu pulang."


" Iya Ayana, kalau kamu pulang duluan,Mas Arsya akan gantung diri dipohon wortel Hahaha..." Ucap Bima tertawa lepas sembari disambut tawa Alvaro dan Dewa, sedangkan Arsya tersenyum simpul.


Ayana tersenyum pada Dewa dan Bima, kemudian dia menatap ke arah Arsya, dan Arsya menganggukkan kepalanya sembari memberi isyarat sambil memejamkan matanya sesaat pada Ayana, Ayana lagi-lagi tersenyum dan spontan suara Ayana berucap.


" Iya ..."


" Yes! Berhasil..." Ucap Bima dan Dewa sembari menyatukan telapak tangan mereka satu sama lainnya.


Ayana pun tersenyum lebar kemudian meninggalkan ruangan di mana mereka berempat masih berada di dalam.


Arsya mengusap leher belakangnya dengan tangannya dan tersenyum lebar menyandarkan tubuhnya disandaran sofa dengan tatapan ketiga sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2