CAHAYA CINTA

CAHAYA CINTA
CAHAYA CINTA 68


__ADS_3

BAB 68๐ŸŒน


" Sekarang tinggal urusan yang ada di hotel ini kita harus merombak semuanya dari segi administrasi dan keuangannya, kita jangan sampai salah memilih orang lagi." Ucap Alvaro dianggukan oleh ketiga sahabatnya itu, mereka kemudian berbagi bagian untuk menyelesaikan semuanya agar bisa selesai dengan cepat.


Setelah pembicaraan itu selesai dan menemukan kesepakatannya, mereka berempat pun kemudian melangkah keluar dari ruangan eks Pak Hendri untuk berbagi tugas dan menyelesaikan semua yang masih ada beberapa noda di hotel tersebut yang harus segera dibersihkan dengan sebersih-bersihnya dan merubah Hotel Wibawa jadi lebih bersih lagi.


***


Di restoran Wibawa tepatnya di ruang belakang Lani yang menunggu dari tadi cerita dari Ayana, merasa sudah tidak sabar ingin mendengar cerita tersebut. Namun Ayana hanya bisa tersenyum saja dan masih belum bisa cerita dengan Lani.


Bukan namanya Lani kalau dia tidak terus mendesak Ayana untuk menceritakan semua yang terjadi saat Ayana bertemu dengan Pak Hendri dan yang lainnya.


Karena selalu didesak oleh sahabatnya itu, akhirnya Ayana pun menceritakan semuanya pada Lani, Lani pun menghela nafasnya dengan panjang setelah mendengar cerita dari Ayana, dia merasa bersyukur karena Pak Hendri dan Farhan sudah mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatan yang mereka lakukan itu.


" Yes! Aku merasa senang sekali karena mereka berdua sudah mendapatkan hasil dari yang mereka lakukan itu." Ucapnya sembari tersenyum lebar.


Ayana menganggukkan kepalanya, namun dia tidak menceritakan perihal tawaran yang


diberikan oleh Arsya, untuk mengantarkan dia pulang pada Lani, karena dia masih merasa malu untuk bercerita pada sahabatnya itu.


Mereka kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya, sedangkan keempat laki-laki yang tampan tersebut masih menyelesaikan beberapa pekerjaan termasuk merombak semua prosedur administrasi Hotel Wibawa yang di percayakan pada Pak Hendri.


Tepat jam 04.00 sore semua pekerjaan mereka pun sudah selesai bertepatan dengan pekerjaan Ayana yang memang jam 04.00 itu adalah waktunya untuk pulang dan berganti dengan rekan kerja yang lainnya.


Ayana masih duduk di kursi dekat lemari lokernya itu, Lani kemudian mengambil peralatannya untuk segera pulang, namun dia merasa heran dengan Ayana yang masih duduk di kursi dan tidak bergeming untuk mengambil perlengkapannya di dalam lokernya itu, setelah mengambil jaket dan kunci motornya, Lani pun mendekati Ayana.


" Kamu kenapa Ayana ?"


Ayana hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


" Kamu tidak bisa menyembunyikan semuanya dariku Ayana, aku tahu pasti ada yang kamu sembunyikan ya kan?"


Ayana menghela nafasnya dengan panjang, dia hanya menoleh ke arah sahabatnya tersebut yang sudah duduk di sampingnya itu sembari memegang tangan Ayana.


" Katakan padaku ada apa.?"


" Aku masih berdamai dengan perasaanku saat ini."


" Maksud kamu perasaannya yang bagaimana? Apa kamu masih merasa takut kalau Pak Hendri dendam padamu begitu?"


" Bukan masalah Pak Hendri."


" Terus masalah apa?"


Lagi-lagi Ayana menghela nafasnya dengan panjang, dia membenarkan posisi duduknya sembari menatap ke arah Lani, Lani merasa bingung dengan sahabatnya itu.


" Tapi aku melihat di wajah kamu itu tidak menampakkan rasa sedih, ataupun ada sesuatu yang sangat rumit yang kamu hadapi."


Lanibtersenyum sembari menghela nafasnya.


" Aku tahu kamu Ayana, kalau kamu memang memiliki masalah yang sangat pelik, ataupun rumit sekali kamu pasti tidak bisa menyembunyikannya dari pancaran wajah kamu itu, tapi aku menilai wajah kamu itu menampilkan sesuatu yang sangat membahagiakan, Ayo.... Ada apa?? Katakan padaku, jangan-jangan kamu sudah jatuh cinta dengan seseorang nih."


" Iih...Kamu apaan sih..." Ucap Ayana sembari malu-malu karena ucapan dari sang sahabat itu yang membuat dia pun bertanya-tanya dalam dirinya, sembari berguman di dalam hatinya.


" Apakah aku sudah jatuh cinta dengan Mas Arsya." Ucapnya di dalam hatinya sembari menarik nafasnya dengan panjang.


" Katakan padaku, siapa laki-laki yang sudah menyentuh hatimu itu."


" Iih... Kamu apaan sih, aku tidak jatuh cinta."

__ADS_1


" Terus kenapa dengan wajah kamu? Sepertinya tersirat sesuatu yang sangat membahagiakan kamu, kamu bisa membohongi aku, tapi kamu tidak bisa membohongi perasaan kamu sendiri, jangan-jangan kamu jatuh cinta dengan laki-laki yang tampan yang sudah mengantarkan Ayah kamu itu, Kalau tidak salah namanya Mas Arsya ya... Hemmm aku akui, dia memang tampan! Pasti banyak wanita di luar sana mengharapkan menjadi kekasih hatinya, terutama kamu...." Goda Lani terkekeh.


" Kamu aja kali, bukan aku..." Ucap Ayana yang masih menutupi rasa perasaannya itu, yang sudah tidak menentu karena perkataan dari Lani.


" Jujurlah padaku Ayana, apakah kamu memiliki perasaan pada Mas Arsya.?"


Ayana menghela nafas panjangnya, dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi tersebut, Lani menatap wajah sahabatnya itu.


" Sebenarnya aku tidak tahu dengan perasaanku, apakah aku menyukainya atau tidak. Tapi sudah dua kali ini aku di tolong olehnya dari orang-orang jahat seperti Pak Hendri dan istrinya pak Hendri serta pak Farhan, jika bukan dia yang menghalangi istrinya pak Hendri, mungkin aku tidak duduk di sini bersama kamu, dia sangat baik sekali, di samping tampan Dia memiliki kharisma yang tidak bisa mungkin dilupakan oleh setiap wanita yang memandang ketampanan yang dimilikinya itu, tapi aku tidak tahu apakah dia memang juga ada rasa denganku atau hanya sekedar membantu aku saja, lagi pula aku juga tidak tahu apakah dia sudah memiliki kekasih di luar sana, atau tidak. Aku tidak ingin dikatakan sebagai pengganggu hubungan orang lain." Jelas Ayana.


" Tapi kamu suka kan dengan dia?"


" Kalau sekedar kata suka sih iya, semua wanita pasti ada rasa suka dengan lelaki yang memang sangat baik dengannya, apalagi sebaik dan setampan Mas Arsya."


" Terus kenapa kamu ragu, kalau memang kamu ada rasa suka dengannya, kamu bisa merasakan apakah dia itu memang benar-benar menyukai kamu atau hanya sekedar menolong kamu saja."


Ayana menghela nafasnya dengan panjang.


" Bukan aku merasa kepedean, tapi aku juga harus sadar diri, karena aku seorang wanita biasa dan bekerja di restoran ini, sedangkan Dia memiliki jabatan di kantor Wibawa dan masih ada keluarga sama pak Abiyasa, aku tidak ingin dikatakan oleh orang lain ataupun wanita lain di luar sana hanya mengajar kekayaannya saja, apalagi dia memiliki predikat keluarga Wibawa, kamu tahu kan bagaimana keluarga Wibawa." ucap Ayana.


Lani hanya menganggukkan kepalanya sembari berbicara.


" Memang benar keluarga dari Wibawa memang terkenal dengan kekayaan yang berlimpah, tapi apa salahnya kalau dia memang menyukai kamu, siapa tahu aja Dewi Fortuna berada di pihak kamu dan memenangkan hatinya Mas Arsya langsung kepincut denganmu, dan melamar kamu ingin menjadikan dirimu sebagai kekasih dan sekaligus istrinya."


" Iih... Kamu ini apa-apaan, itu hanyalah hayalan semata saja..."


" Hehehe..." Lani terkekeh pelan.


" Ya udah, sekarang ayo aku antar pulang." Ayana menggeleng membuat Lani merasa heran.

__ADS_1


*** Mohon maaf karena karya ini sedikit terganggu dalam updatenya yang terlalu lama, karena saya baru aja sembuh dari sakit dan masih dalam tahap pemuliha, mohon maaf yang sebesar-besarnya menjadikan pembaca setia CAHAYA CINTA menunggu kelanjutannya terlalu lama.. ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ˜Š ***


__ADS_2