
Guen masih menahan rasa sakit, sesekali mendesis menahan perih, "hssst sakit banget," ucapnya menutup mata masih menyentuh lengan terasa nyeri.
"Tenang Guen," ucap Carcas menambah kecepatan.
Guen hanya meringis tidak menghiraukan Carcas.
Setibanya di rumah sakit, Carcas menggendong Guen yang masih mengenakan gaun pengantin, tuxedo masih membalut tubuh pria tampannya, seperti sepasang pengantin akan menuju kamar peraduan mereka.
Seketika mata mereka bertemu seketika itu juga kaki Carcas tersangkut di anak tangga.
Bhuuug,
Keduanya malah terjatuh tapi tangan kekar pria oriental itu dapat menahan tubuh gadis yang ada di dekapannya.
"Aaaaugh lepas!" bentak Guen saat merasa tubuh Carcas semakin mendekat.
Kedua mata itu saling tatap, bibir mereka tak mampu berucap, hanya menikmati getaran yang berdendang ria di lubuk hati terdalam, menanti siapa yang akan mengalah merendahkan egonya.
Saat bibir Carcas akan menyentuh bibir mungil yang sudah menjadi miliknya, tangan Carcas merasa basah seperti ada yang mengalir deras disambut telapak tangannya.
"Darah, kau terluka," bisik Carcas bergegas membawa Guen ke Unit Gawat Darurat.
Guen hanya menghirup aroma tubuh pria tampan itu, ada yang menggelitik relung jiwanya yang hampa. Hampir 6 tahun dia menikmati kesendirian, kini seorang CEO bodoh hadir untuk memporak-porandakan pikiran dan perasaannya.
Carcas mendudukkan Guen di kasur rumah sakit, meminta dokter segera mengobati lengan istrinya.
"Ssssshz," terdengar desisan lembut dari bibir Guen sedikit tertahan.
Suster segera membersihkan luka yang ternganga, terlihat tulang putih di dalamnya, di hiasi daging sobekan kemerahan.
"Kita jahit yah Tuan, karena lukanya sangat dalam," ucap suster.
Carcas mengangguk setuju, "berikan yang terbaik, jangan sampai jahitannya membuat kulit istriku rusak," tegasnya menatap sinis ke arah Guen untuk menegaskan status mereka.
Guen mendelik, pupil bola matanya membesar, tentu tak ingin mendengar penegasan dari bibir Carcas, karena enggan berharap.
"Kita akan menyuntikkan anti keloid setelah menjahitnya, saya akan memberi bius dosis rendah agar anda tidak merasa sakit Nona," jelas dokter segera melakukan tindakan.
Guen terdiam, ada sedikit rasa takut di raut wajahnya. Carcas mendekat pada gadis keras kepala itu untuk menenangkannya. Sedikit memeluk, saat jarum suntik menembus kulit mulus Guen.
Guen membenamkan wajah imutnya di perut Carcas, sekali lagi dia mencium aroma yang tidak biasa. Aroma tubuh maskulin yang sangat khas keluar dari pria tegap nan rupawan saat obat bius memasuki aliran darahnya. Tangannya terasa kebas, terasa daging mulus itu ditarik tarik oleh dokter agar segera merekat. Guen kembali meremas kencang tubuh prianya, karena ada perasaan ngilu menyelimuti tubuhnya saat ini.
"Hmmmmfg,"
Lagi lagi Guen sedikit mengerang membuat Carcas merasakan sesuatu sedikit jorok bersemayam di kepalanya.
"Tahan," bisik Carcas di atas kepala Guen.
"Sakit," rengek Guen.
Setelah jahitan selesai, dokter kembali menyuntikkan obat keloid.
"Ini agak sedikit sakit Nona," ucap dokter menjentikkan jarum suntik.
__ADS_1
Lagi lagi Guen meremas tubuh Carcas seperti ada cairan yang sangat perih memasuki lengannya.
"Aaaaagh," lagi lagi Guen menahan erangannya membuat Carcas tersenyum smirk.
"Ternyata desahanmu sangat menggairahkan Guen," batin Carcas mengecup puncak kepala istrinya.
Sheeeer,
Darah Guen semakin mengalir deras, ada perasaan aneh saat Carcas menyentuh kepalanya dengan kecupan kecil.
"Oke sudah,"
Dokter menutup luka Guen dengan plaster, memberi antiseptik untuk membersihkan luka saat di rumah.
"Saya permisi," ucap Carcas menggendong tubuh mungil Guen.
"Baik Tuan Carcas, selamat atas pernikahan anda," ucap dokter karena mengenal Carcas adalah Keluarga Alister.
"Terimakasih,"
Carcas bergegas membawa Guen menuju mobil, membawa istrinya ke butik milik Guen agar mengganti gaun yang penuh darah.
Loumarin sangat cerah, secerah dua insan yang sudah terikat dengan sakral pernikahan . Perlahan Carcas memberanikan diri menggenggam jemari Guen tanpa ada penolakan dari gadis yang berstatus sebagai istri.
"Kita akan beristirahat di butik dan nanti malam menghadiri acara pelepasan malam lajang kita di hotel Citra," tegas Carcas tak ingin di bantah.
Deg,
Otak Guen semakin berkecamuk, "apakah itu penting?" tanyanya sedikit sinis.
"Yaaa, aku sudah menjadi suamimu, kau istriku, kita akan melakukannya Guenhumura," tegas Carcas.
"Itu tidak ada di perjanjian kita dan kau berjanji tidak akan menyentuhku Carcas,"
Guen kembali menegaskan.
Seketika Carcas menginjak rem mobil, menatap lekat pada wajah gadis yang super keras baginya.
"Kau tahu, apa kewajiban istri? dan aku tidak ingin ada penolakan Guenhumura," tatap Carcas lekat.
"Apa kau menjebakku?" teriak Guen.
Carcas tersenyum tipis, "apa aku seperti menjebakmu?" tanyanya kembali melajukan kendaraan.
Guen benar benar kalah, "lebih baik mengalah jika dia menuntut haknya," batin Guen.
"Tapi aku tidak mencintaimu," tegas Guen.
"Hmmmm,"
Carcas hanya tersenyum smirk, "kita lihat saja apa benar kau tidak mencintaiku," ucapnya tipis.
"Oooough God,"
__ADS_1
Guen benar benar kalud bahkan dia merasa masuk keperangkap Keluarga Alister karena kebodohannya demi menyelamatkan butik. Dia seperti telah menjual dirinya sendiri. Menyetujui semua syarat tanpa membaca dengan seksama point yang tertulis dikertas putih sebanyak 6 lembar itu.
"Kau menjebakku," tangisnya pecah, tak dihiraukan oleh pria sombong dan angkuh yang berada disampingnya.
Carcas memarkirkan mobil, di depan butik. Terlihat Salsa dan Kasih sedang membersihkan butik, dengan pintu utama sedikit terbuka.
"Tenanglah, aku akan menggendong mu hingga ke kamar,"
Carcas bergegas turun menggendong tubuh Guen, membawa masuk kedalam butik.
"Tuan, apa Guen baik baik saja?" tanya Salsa melihat darah dan tangan sahabatnya terbalut plaster.
"Ya, dia hanya terluka sedikit karena kebodohannya," jelas Carcas dingin.
Guen menepuk dada Carcas dengan perasaan kesal.
"Jangan lakukan itu jika kau tidak ingin aku robek sore ini," ancam Carcas membuat tangan mungil itu terhenti.
Mereka tiba di kamar Guen yang sudah tertata rapi, Carcas meletakkan tubuh istrinya dengan pelan diatas ranjang kingsize berwarna biru lembut dengan tirai putih menambah kesan romantis. Aroma lavender menerawang di tiap sudut kamar memberi kesan bahwa gadis itu pecinta wewangian.
"Pulanglah," perintah Guen melepas tangannya dari leher Carcas.
"Kenapa hmmm? apa kau takut saat berdua dengan ku di dalam kamar? tidak ada yang menolongmu?" goda Carcas.
"Kau akan menghadiri pesta, tidak mungkin akan mengenakan baju yang sama," jelas Guen melepas jepitan dan bunga di rambut hitamnya.
"Ck aku akan meminta pengawal untuk mengantarkan pakaian ku ke sini," ucap Carcas melepas tuxedonya.
"Terserah,"
Guen memilih berdiri membelakangi Carcas untuk melepas gaunnya yang menyesakkan. Gadis itu menggapai baju kimono dan tangan mungil itu berusaha melepas pengait yang sulit dia gapai di belakang tubuh indahnya.
"Aku akan membantumu," bisik Carcas melepas pengait gaun hingga membuat punggungnya terbuka lebar.
"Aaaaagh sana," geramnya mendorong tubuh Carcas hingga terjatuh diranjang.
"Kau,"
Carcas menggeram. Saat gaun terlepas pria itu mendekap tubuh mungil Guen, membuat gadis itu berteriak seperti akan di pe r k osa oleh suami sendiri.
Pria oriental itu m el u m at kasar bibir mungil Guen agar berhenti berteriak. Guen benar benar meronta menolak perlakuan Carcas padanya.
Plaaaak,
Guen benar benar menampar kasar wajah Carcas membuat wajah pria itu merah padam. Dengan ganas dia mengunci tubuh gadis itu dalam kungkungannya, enggan untuk menghentikan perbuatan memberi hukuman yang pantas karena perasaan kesal di perlakukan kasar oleh seorang gadis yang sudah di nikahinya.
OOO, bisakah kalian jangan saling menyakiti...Carcas dan Guen.
Othor binuuun....😏
Tobe continue...
Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...🙏
__ADS_1