
Suasana sangat menyejukkan di kota Paris, begitu menenangkan bagi kedua insan yang masih berselimut kabut kelam. Keduanya masih sibuk dengan pikiran masing-masing. Carcas enggan menemani Guen yang masih sibuk merevisi pekerjaannya seputar wedding dress.
"Guen, bisakah kau membawa aku bicara? kenapa kau diam saja? apa aku tampak buruk dimatamu? sehingga kau tidak ingin bicara dengan ku?" racau Carcas mendekati Guen dibalkon yang masih fokus pada layar laptopnya.
Guen tersentak, "apa maksudmu? aku sedang merevisi pekerjaan ku. Apakah aku harus larut dalam kelukaanmu? sementara aku harus menyelesaikan pekerjaan ini hingga pukul 00.00, karena itu akhir deadline-nya, Cars! apa aku harus menemani kau menangis? apa itu maksudmu?" tanyanya sedikit kesal.
Carcas semakin kesal, "jika aku memiliki uang aku tidak akan mengganggumu, karena aku akan menghabiskan waktu dengan beberapa temanku," kesalnya menatap lekat wajah Guen.
Guen geleng-geleng kepala, "dengar Cars, seharusnya dengan perubahan hidupmu yang seperti ini kau harus lebih tenang dan bersabar, berusaha bersahabat dengan keadaanmu! bukan malah mengeluh, meratap, menangis bahkan kau hanya membutuhkan uang untuk foya foya! jika kau membutuhkan uang, berapa yang kau butuhkan? aku akan memberi untukmu!" tegasnya menatap kesal kearah Carcas.
"Apa kau sedang menghina ku?" tanya Carcas merasa terpojok.
Guen semakin ternganga, "kenapa kau jadi sensitif, Cars? bukankah kau harus bertahan dan sabar? ada apa dengan mu? kenapa kau jadi berubah lebih seperti orang yang miskin akan moral! jika kau miskin dalam keuangan, seharusnya kau memiliki otak yang kaya! ternyata selama ini kau adalah CEO yang bodoh moral," sarkasnya.
Carcas semakin emosi mendengar perkataan Guen yang benar-benar telah menghinanya, "kau! apakah dengan aku menjadi seperti sekarang, kau malah menginjak injak harga diriku?" tatapan mata pria berwajah oriental itu memerah, bahkan tidak mampu membendung air matanya.
Guen mendekati Carcas yang berdiri tegap menantangnya, "tenanglah Cars, jika aku terlarut dalam masalah, kita akan sama sama terpuruk! kita tidak akan mampu bertahan dalam berjuang! bukankah suami istri itu harus saling menguatkan? istirahatlah, kau terlalu lelah dengan pikiranmu sendiri. Aku menghargai mu sebagai suami, belahan jiwaku, bahkan aku tidak ingin kau begini. Aku harap kau tetap bertahan dan sabar. Bertahan dan sabar, Cars," tegasnya memeluk tubuh tegap suami tercinta.
Carcas mendekap Guen, "apa kau tidak ingin menemani ku untuk beristirahat? setidaknya aku membutuhkan belaianmu agar aku kuat Guen," isaknya.
Guen menarik nafas panjang, dia hanya mendengar suara detak jantung Carcas yang benar benar tidak beraturan.
"Baiklah, aku akan menemanimu, karena aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan ku," Guen beranjak mengambil laptop dan membawa ke ranjang mereka.
Carcas tidur mendekap tubuh mungil Guen, enggan untuk melepasnya. Sementara wanita cantik itu mengusap lembut kepala suaminya, perlahan mengecup kening putih nan hangat itu.
"Tidurlah Cars, aku ingin melihatmu ceria seperti beberapa waktu lalu," kenang Guen.
Guen duduk bersandar pada dinding ranjang, sambil memangku laptop, sementara tangan Carcas melilit di perut rampingnya.
Carcas kembali menangis, dia menutup wajahnya dengan selimut, yang dia inginkan hanya perhatian dari Guen.
__ADS_1
Wanita cantik nan pintar bahkan mampu berfikir waras, saat keadaan tidak waras.
Drrrt drrrrt,
"William," batin Guen.
📞"Ya Tuan," Guen.
📞"Kamu dimana? saya direstoran, apakah desain akhir sudah kamu kirim ke email Vander?" tanya William.
📞"Hmmm, lagi saya kerjakan Tuan Will, sebentar lagi akan saya kirim, 20 menit," jelas Guen.
📞"Ya, karena beliau akan mengirim dana ke account mu, jangan lupa desain brandmu, sederhana tapi elegan," ucap Will.
📞"Oke Tuan," Guen menutup telfonnya, meletakkan handphone disampingnya.
Guen kembali menatap kearah Carcas yang masih pura pura menutup matanya, kembali fokus pada layar laptop menyelesaikan pekerjaan yang tersisa sedikit lagi.
"Hmmm, ini akan menjadi awal yang sulit buat aku dan Carcas," batinnya melirik kearah suami tercinta.
"Hmmm," jawab Guen masih fokus pada kegiatannya.
"Jika kita memiliki baby apa kau akan bahagia?" tanya Carcas tampak bodoh.
Guen tersenyum, "apa harus aku menolak untuk memiliki keturunan dari mu? jika aku boleh meminta pada Tuhan, aku ingin memiliki anak setelah kita benar benar kuat dalam menyikapi suatu keadaan. Saat ini aku hanya ingin menikmati keindahan sebagai seorang istri yang harus berjuang dalam keterpurukan suami," jelasnya.
"Apa kau masih mencintaiku Guen?" tanya Carcas terdengar lebih insecure.
Guen terkekeh geli, "jika aku tidak mencintaimu, aku tidak akan membelikan makan untukmu, tidak akan membawamu menginap bersama ku, tidak akan menemanimu disini," kecupnya pada kepala Carcas..
"Apakah pekerjaan mu sangat penting dari aku?" sindir Carcas.
__ADS_1
"Wait, aku masih fokus akan mengirim ini, email Vander, Vander, Vander, siip dapat, hmmm ya, ya, berikut ini hasil revisi wedding dress milik Guen. Brand Guen. Terimakasih, send," racau Guen masih fokus pada pesan yang tengah terbang menuju alamat email Vander.
Cliiing,
Pesan berhasil terkirim.
"Yes, berhasil," senyum Guen melirik kearah Carcas yang sedang menatapnya.
"Beres hubby," Guen meletakkan laptop dan handphone miliknya dinakas, kembali memiringkan tubuh kearah Carcas.
Pria oriental itu benar benar mendekap tubuh mungil Guen itu dengan erat.
"Pekerjaan ku sangat penting Cars, bahkan pekerjaan inilah yang membuat aku lengah dengan semua drama kehidupan sehari-hari yang kita jalani. Aku bersyukur kamu jatuh miskin saat ini, karena di kondisi seperti inilah kamu baru sadar siapa lawan dan kawanmu. Apakah para sahabatmu ada yang menghubungi mu? apakah mereka mau mengundang mu makan malam? atau sekedar basa-basi mengajak minum sebotol sampanye?" tanya Guen panjang lebar membuat Carcas semakin mendekap tubuh mungilnya.
"Apa kamu mau kita kerestoran? bertemu dengan William dan Nanta?" tanya Guen.
Carcas menggeleng, "aku tidak ingin bertemu dengan siapapun selain kamu. Aku hanya orang hina, pria lemah, bahkan bodoh. Aku bukan Carson Carcas Alister, melainkan hanya Carson Carcas," ucapnya tegas.
Guen mengusap lembut wajan Carcas, "dengar sayang, semarah apapun Papa padamu, hingga mencabut semua fasilitas yang ada dirimu, ini hanyalah sementara. Papa Ken hanya ingin kamu mengakui bahwa Elizabeth adalah ibu kandung mu Cars, bukan musuhmu. Mereka hanya memikirkan masalah mereka sendiri, tanpa menghiraukan perasaan kita selaku anak menantunya," jelasnya.
"Hmmm, ya! tapi aku benar-benar sakit mendengar cerita mereka. Mereka hanya orang tua yang egois, tanpa mau memikirkan perasaan siapapun. Jika aku melakukan kesalahan, mereka justru menghina dan menertawakan aku," rungut Carcas.
Guen tersenyum tipis, "kamu tahu kenapa Papa Ken menertawakan mu? karena kau masih membawa harta dan kekayaannya. Coba kau membawa hartamu sendiri, tidak akan ada orang yang berani menghinamu, jika pun ada yang menghina, kau akan lebih berani menantang mereka bahkan membunuhnya," jelasnya.
"Apakah seperti yang kamu lakukan selama ini sayang?" tanya Carcas lembut.
"Ya, karena aku berjuang tidak mudah tanpa tangan dan mulut mereka. Bangkitlah, berjuanglah, banggalah pada dirimu sendiri. Hidup terus berjalan dan berkembang, ada atau tidak ada dirimu di perusahaan Keluarga Alister, Bank mu akan tetap bekerja 24 jam setiap hari tanpa memikirkan perasaan mu," titah Guen membuat Carcas terdiam.
Deg,
"Benar juga," batin Carcas.
__ADS_1
Tobe continue...
Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah.❤️