CEO, Gadis Bersyarat

CEO, Gadis Bersyarat
Kau istriku..


__ADS_3

"Kita jalan sekarang," tanya Carcas berusaha baik.


"Terserah," jawab Guen masih enggan untuk tersenyum.


Carcas menggandeng tangan istrinya menuju mobil sport berlalu membelah malam di Loumarin.


"Malam ini aku akan membuat mu bertekuk lutut Guen," batin Carcas melirik ke wajah wanita yang enggan tersenyum.


Saat memasuki loby hotel Carcas dan Guen di sambut meriah oleh pelayan hotel, karena telah memesan kamar termewah untuk menghabiskan malam bersama istri tercinta. Kado terindah yang di berikan Citra untuk Carcas tanpa sepengetahuan Guen.


Pintu ballroom terbuka lebar, beberapa kerabat Carcas seusianya saling memeluk mengucap selamat, bukan tidak sedikit sahabatnya menggoda istri Carcas karena kecantikannya.


Suara dentuman musik begitu keras saat Carcas dan Guen berbaur di pesta pelepasan malam lajang mereka. Tentu menjadi pemandangan baru bagi Guen karena tidak menyangka akan ada acara seindah ini. Wanita itu sedikit menjauh dari pandangan Carcas menyaksikan suaminya tertawa lepas bersama sahabatnya.


"Bangsawan maah bebas, ngadain acara sampai jam berapa," gerutu Guen meraih kursi duduk di salah satu meja yang telah di sediakan.


Saat tengah menikmati segelas cocktail dan beberapa minuman soft yang dibawa pelayan, Guen di kejutkan dengan kehadiran sahabat Carcas yang sangat baik memberi ucapan selamat pada gadis mungil itu.


"Haaiiii, kenapa kau tidak ikut gabung dengan mereka?" sapa pria Prancis memilih duduk disamping Guen.


"Haiii,"


Guen tersenyum, menatap ke arah Carcas, Citra dan Samuel.


"Apakah kau dari Keluarga Bangsawan Jepang Nona?" tanyanya membuat Guen mengunci bibirnya.


"Hmmmm apa itu penting Tuan?" tanya Guen tersenyum tipis.


"Yaaaah setidaknya Nyonya Gerry menginginkan putranya menikah dengan Bangsawan seperti Citra, Anggel dan Carenina," jujurnya.


"Ooogh, aku hanya pemilik butik wedding dress di persimpangan jalan dekat kota. Jika kau ingin menikah, bisa memesan gaun di tempat ku," ucap Guen memperkenalkan dirinya mengalihkan pembicaraan mereka tentang Gerry.


"Jangan panggil Tuan, panggil saja Ken," senyumnya mengulurkan tangan pada Guen.


"Aku akan memesan beberapa gaun pengantin untuk di bawa ke negara ku, jika kau bersedia aku akan membawa gadisku ketempat mu. Besok ada beberapa acara yang harus aku isi bersama Samuel dan Citra," jelasnya panjang lebar.


"Baik Ken, aku akan menunggu mu," ucap Guen memberi kartu nama pada Ken.


Ken dan Guen saling bercerita seputar bisnis. Keduanya memiliki hoby yang sama, selera music yang sama dan menyukai masakan Jepang yang sama. Olahraga juga sama yaitu tenis.


"Kapan kau ada waktu, kita bisa bermain bersama," ajak Ken menyesap seloki vodka.


"Boleh, mungkin setelah hmmmm, kabari saja," senyum Guen enggan melanjutkan kalimatnya.


Suasana malam semakin hangat, Citra sibuk dengan sahabatnya, Samuel dan Carcas sibuk dengan dunia mereka. Guen dan Ken hanya duduk seperti orang kehilangan pasangan.


Saat 2 jam acara berlangsung, Carcas mulai gelisah, mencari keberadaan istrinya. Matanya memerah karena terlalu banyak minum minuman beralkohol tinggi, membuat pandangannya sedikit kabur.

__ADS_1


"Guen?" batin Carcas saat melihat Guen tertawa lepas didekat Ken.


Berkali kali dia mengusap matanya, memastikan istrinya atau bukan tengah duduk berdua dengan musuh buyutan Samuel, Citra dan Carcas. Dengan mantab Carcas mendekati Guen, memberi bogeman keras pada Ken yang telah berani mendekati istrinya.


Bhuuug,


Bhuuug,


Bhuuug,


Ken tumbang saat bogeman itu melayang tepat di hidungnya.


"Carcas!" teriak Guen melerai kesalah pahaman suaminya.


Darah mengalir deras di hidung Ken, membuat dia tak mampu melawan.


"Beraninya kau mendekati istri ku," geram Carcas.


Guen memeluk tubuh Carcas, "stop, jangan lakukan lagi," mohonnya.


"Aku tau istrimu Carcas," tawanya menghina Guen.


"Dia hanya wanita yang kau selamatkan dari hutang," teriaknya semakin keras membuat seluruh mata memandang ke arah Guen dan Carcas.


Guen menatap penuh selidik, wajahnya menyeringai bak devil, cukup dia dihina di hadapan orang masa dulu. Kini jangan pernah menghinanya, karena dia susah payah berjuang menghadapi hidup tanpa menyusahkan orang lain.


Sorot mata Guen membulat, meletakkan sepatu heelsnya tepat di leher Ken yang masih berada di lantai ballroom.


Guen menekan keras tumit sepatu heelsnya tepat di leher pria Prancis itu. Hanya tinggal satu hentakan maka akan menancap tajam tepat di nadinya.


"Aaaaagh," erang Ken


"Guen," teriak Citra mendekati sahabat barunya, melepas kaki Guen dari leher Ken.


Jemari Guen menggenggam erat, buku buku tangannya memutih, dia tidak pernah berharap berkumpul dengan orang-orang sombong seperti mereka, hanya memanfaatkan dan menghina orang biasa sepertinya.


Carcas melihat darah itu akan mengalir deras dari leher pria yang mengaku sahabatnya.


"Pangawal, bawa dia keluar!" perintah Carcas pada pengawal yang sudah mendekat.


Mata Guen masih menatap tajam ke arah Ken, dia yakin pria itu adalah orang yang mengetahui tentang dirinya, "siapa dia?" batin Guen enggan beranjak dari tempat iya berdiri.


Gaun malam yang terbelah hingga paha, membuat kesan sensualnya semakin terlihat. Dia bukan wanita biasa, dia wanita hebat untuk melindungi dirinya sendiri, batin Samuel.


"Guen," sapa Carcas sedikit lembut.


Emosi keduanya seperti tengah di uji. Pelayan melewati mereka membawa 4 gelas minuman yang sangat menggugah untuk melembabkan tenggorokan keduanya. Guen mengambil 2 gelas, begitu juga Carcas.

__ADS_1


Samuel dan Citra saling berbisik, "kenapa Ken berani menghadiri acara kita? siapa yang mengundang mereka?" pertanyaan keduanya sama.


Acara tetap berlanjut. Berbeda dengan kondisi Guen dan Carcas. Keduanya merasakan ada perasaan aneh yang menyelimuti tubuh mereka. Sesekali Guen mencium aroma gelas yang sudah habis tak bersisa.


"Apa ini? kenapa pandangan ku sedikit aneh?" batin Guen.


Begitu juga dengan Carcas, dia merasakan ada sesuatu yang berbeda saat menghabiskan dua gelas minuman beraroma buah itu.


Carcas menarik tangan Guen sedikit memaksa agar meninggalkan ballroom lebih awal. Guen tidak melawan, dia mengikuti langkah kaki Carcas, memasuki lift menekan tombol menuju lantai 8. Sesuai janji Citra akan memberi satu kejutan untuk Carcas dan Guen.


Guen menutup mata, menyentuh tengkuk menggerakkan kepala kekiri dan kanan, menatap aneh pada Carcas. Hal yang sama di rasakan pria itu hingga membuat dia menghadap ke arah Guen. Susah payah dia menahan diri, untuk tidak memulai lebih dulu, kini justru dia tak mampu untuk menahan.


"Kau istriku Guen,"


Kecupnya m el um at bibir manis Guen menyandarkan tubuh gadis itu ke dinding lift menyesap bibir itu dengan sambutan hangat oleh Guen. Mereka tak bisa menahan saling meluapkan emosi bahkan Carcas merasa aneh akan sikap istrinya. Kepalanya ingin menghentikan semua ini, tapi tubuh keduanya mengatakan lain. Mereka semakin buas saat keluar dari lift dan tak mampu menghentikan ciuman mereka berdua. Cctv berkerja cepat menyaksikan adegan ciuman Putra Alister dan istrinya yang sangat dahsyat.


Gaun indah telah turun hingga bahu Guen, Carcas sudah tak sabar ingin membawa wanitanya kembali menikmati keindahan syurga Guenhumura.


Saat memasuki kamar perasaan keduanya semakin tak beraturan, ciuaman yang enggan terlepas hingga melupakan perasaan kebas yang sudah terasa, membuat Carcas sangat aktif membuka semua penghalang dikeduanya.


"Hmmmmfg,"


Guen seperti pasrah saat Carcas kembali me lu ma t daun telinganya, hingga cerug leher yang semakin membuatnya tak mampu menahan. Keduanya menggebu bahkan tak ingin menunggu lama. Rasa perih sisa pertama masih terasa bahkan saat ini Guen benar benar di buat gila oleh minuman yang masih menyelimuti tubuh kedua insan pengantin baru itu.


Tak ingin melepaskan mangsanya Carcas benar benar seperti singa kelaparan, tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengetahui hati Guen padanya.


Guen mengerang hebat saat Carcas berada di kelipatan belahan syurganya. Matanya tak mampu terbuka bahkan suara getaran penuh damba berharap Carcas akan membawanya menembus awan panas seperti suhu tubuhnya kali ini. Keduanya saling mereguk indahnya syurga dunia saat penyatuan mereka, keringat bercucuran hingga tak terasa luka di lengan Guen semakin ternganga.


"Aaaaagh,"


Keduanya mengerang hebat disisa terakhir pertempuran dahsyat laras panjang Carcas yang mampu memporak porandakan dunia baru bagi Guenhumura. Keindahan dunia yang berbeda hingga mencapai kebahagiaan.


Tangan Guen sangat lembut saat mendekap punggung tegap Carcas, "I love you Cars," ucapnya pelan saat terkulai lemas dengan mata terpejam.


Carcas tersenyum sumringah, merasa kemenangan berada di pihaknya. Mengusap lembut wajah Guen yang masih berada di bawahnya.


"I love you too Guenhumura,"


Carcas tumbang, tanpa melepas laras panjang di pemilik syurga dunianya.


Keduanya masuk ke mimpi mereka, belum menyadari apa yang terjadi di malam indah itu. Carcas memegang kartu as Guen karena memang ulah Samuel dan Citra untuk melunakkan hati Guen terhadapnya, tapi tidak untuk Ken.


⚑Walau kenak racun oleh para sahabat yang penting Guen udah jujur yah dengan perasaan sendiri, sedikit melegakan Carcas.😏


Apa? kurang hot? othor udah gedebug gedebug masuk ke dunia peracunan, jika kurang panas kita makan cabai yah....πŸ”₯🀭


"Oya siapa Ken?" 😏

__ADS_1


Tobe continue...


Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...πŸ™


__ADS_2