
Loumarin Prancis sangat menyejukkan, begitu tenang bahkan Guen enggan membuka mata. Kehangatan yang dia rasakan dari hembusan nafas sangat menenangkan perasaannya. Carcas tersenyum menatap wajah cantik istrinya masih meringkuk dicerug leher kekarnya.
"Ternyata kau sangat manja Guen," batin Carcas semakin mendekap tubuh mungil istrinya.
Guen semakin nyenyak, belum menyadari dimana dia berada.
1 jam sudah Carcas mendekap Guen, dia akan memberi kejutan kecil di pagi hari untuk istri pemalasnya, meraih gagang telepon, menghubungi pihak restoran agar mengantarkan susu hangat dan makanan kekamar mereka.
Citra dan Samuel sejak tadi menghubungi Carcas, tapi pria oriental itu enggan untuk menjawab panggilan sahabatnya.
Carcas melepaskan dekapannya, tangan mulai kebas, menutup tubuh Guen dengan selimut tebal agar selalu hangat. Perlahan Carcas membersihkan diri, meraih pakaian yang berserakan di lantai kamar, kemudian memakai kembali. Menghubungi pengawal agar mengantarkan pakaian miliknya dan Guen ke hotel.
Saat pelayan sudah mengantarkan makanan kekamar, otak mesum Carcas kembali bekerja. Melihat tubuh mulus itu sedikit terbuka membuat dia sulit untuk menelan salivanya.
Carcas kembali keranjang peraduan, mengelus perlahan wanitanya dengan perasaan cinta. Guen tersadar, merasa ada tangan yang sedang meraba syurganya terlonjak kaget.
Braaak,
"Aaaaugh,"
Guen terjatuh dari ranjang karena perasaan kaget.
"Guen!"
Carcas bergegas mendekati Guen, "kamu kenapa?" tanyanya sedikit panik.
"Kenapa kau lakukan lagi pada ku Cars? apa maksudmu!" teriak Guen.
Carcas tersenyum, bergegas dia menggendong tubuh mungil yang sangat keras kepala itu kembali membawanya ke ranjang.
"Tenanglah, apa kau lupa? tadi malam kau yang meminta, bukan aku, Guen," jelas Carcas lembut.
"Oooogh nggak mungkin,"
Guen mengusap kasar wajahnya, merasakan tubuhnya semakin remuk, apalagi baru terjatuh dari ranjang. Matanya melihat gaun dan underwear sudah tertata rapi di sofa kamar mereka.
"Apa yang nggak mungkin? apa perlu aku meminta pihak hotel untuk membuka cctv agar kamu bisa melihat betapa hotnya percintaan kita tadi malam?" jelas Carcas tersenyum smirk.
Guen membuang pandangannya, mengingat apa yang mereka lakukan hingga bagian ehemnya terasa perih bahkan sulit untuk bergeser. Guen menelan salivanya saat melihat Carcas membawa sarapan di hadapannya.
"Aku suapkan, setidaknya marah marah juga butuh asupan," senyum Carcas mengejek.
"Hmmmm,"
Guen mendengus kesal, menerima suapan dari tangan Carcas.
__ADS_1
Carcas sangat telaten memperhatikan istrinya. Setelah memberi asupan pada Guen mengisi lambung tengah, Carcas mengambil kotak P3K untuk mengobati luka di lengan istrinya.
"Kamu terlalu bersemangat, hingga lukamu, sedikit infeksi," jelas Carcas memoles dengan antiseptik.
"Bagaimana jika aku hamil?" tanya Guen masih jutek.
Deg,
Carcas menatap manik mata wanita dihadapannya. Merasakan jika dia tidak mengenakan pengaman atau apapun. Baginya Guen adalah istrinya, wajar jika seorang istri mengandung anaknya. Carcas menautkan kedua alisnya.
"Bagaimana apa? kalau kamu hamil, bagus dong! kita akan memiliki anak, aku jadi Papa kamu jadi Mama!" jawab Carcas enteng.
Wajah Guen menatap tajam, "semudah itukah? apakah di perjanjian kita ada tentang kehamilan? apakah kau tidak memikirkan dampaknya jika kita berpisah?" tanyanya sedikit panik.
Sheeeer,
Carcas benar benar kehabisan kata pada Guen, entah apa didalam benak wanitanya, hingga dia terlalu berat memikirkan hal hal yang belum tentu akan terjadi.
"Apa maksudmu? jika kau hamil, aku suamimu! jika kau hamil, kita akan terus bersama Guen!" tegas Carcas.
Gedebug,
Guen memukul punggung Carcas dengan sangat keras, membuat pria itu semakin emosi.
"Apa mau mu? aku serius dengan mu! siapa yang ingin berpisah dari mu, Guenhumura!"
"Aku tidak ingin pernikahan ini Carson Carcas Alister, kau menjebakku, kau memaksaku!" ucapnya dengan suara bergetar.
Carcas menggeram, benar benar meremas wajah mulus itu dengan wajah marah.
"Siapa yang memaksa mu? siapa yang menjebakmu? jika kau tidak ingin menikah dengan ku, tidak ingin melanjutkan pernikahan kita, silahkan kau bayar hutangmu detik ini juga! kau mengerti Guenhumura!"
Mata mereka saling menantang tanpa ada sisa perasaan cinta tadi malam. Ketakutan Guen terlihat sangat jelas, membuat Carcas semakin berteriak dalam dada jika dialah pemenangnya dalam pertarungannya kali ini.
"Kenapa kau tidak mengerti, kita sudah menikah, aku justru ingin memulai hidup baru bersamamu melupakan semua masa lalu, kenapa hanya aku yang memohon padamu! kenapa hanya aku yang mengakui bahwa aku mencintaimu? kenapa Guen? apa aku seburuk itu dimata mu? aku benar benar mencintaimu, aaaaagh,"
Carcas melepaskan genggamannya kasar dari wajah Guen, memilih menjaga jarak dari wanita yang sangat tidak menghargai dirinya.
"Jika kau ingin kita hidup masing masing, pergilah, aku tidak akan mengganggumu," ucap Carcas tanpa melihat Guen yang masih shook atas ucapannya.
Carcas duduk bersandar di sofa dengan tatapan kosong, sesekali melirik kearah Guen yang masih duduk menutup tubuhnya dengan selimut.
"Mandilah, aku akan mengantarmu pulang," ucap Carcas tanpa menatap.
Guen menahan tangisnya, dia tak ingin terlihat lemah di hadapan Carcas. Matanya berkaca-kaca, menahan dengan menatap langit kamar mereka.
__ADS_1
"Ada apa denganku?" batin Guen berkecamuk.
Guen berusaha beringsut turun dari ranjang, perlahan walau sedikit perih, "sssszh,"
Guen mengulum bibir bawahnya, merasakan sakit dibawah sana membuat dia sedikit kesulitan untuk berjalan, wanita itu terlihat lemah, air mata akan segera tumpah, tapi dia berusaha kuat walau hati terasa perih. Saat Guen berpegangan pada dinding akan memasuki kamar mandi, seketika...
Carcas menggendong tubuh Gue, membantu istrinya untuk membersihkan diri, tanpa berucap satu katapun.
Guen masih menahan egonya, saat Carcas mengusap lembut punggung dan membersihkan area syurganya.
Sheeeer,
Guen menahan tangan Carcas agar berhenti membantunya.
"Pergilah, kita pisah," ucap Guen membuat relung hatinya terasa diremas ingin menjerit kuat.
Ingin rasanya Guen memeluk Carcas dengan erat, mengungkapkan semua perasaan, tapi itu bukan Guenhumura. Dia tidak mungkin melakukan hal itu, karena akan berdampak pada harga dirinya.
Carcas tersenyum tipis, "ya," jawabnya tanpa memperdulikan ucapan Guen.
Jujur Carcas masih enggan untuk mengalah, hanya perasaan iba melihat istrinya bersusah payah karena ulah berdua, tapi ini semua atas permintaan istrinya.
"Kenapa kau begitu keras Guen? apa yang dilakukan Samuel pada mu, hingga kau sangat membenciku," batin Carcas.
"Aku sangat mengagumimu, bahkan aku merendahkan harga diriku untuk mengakui perasaanku. Apa apa dengan mu Guen? apa aku harus meninggalkanmu? bagaimana jika kau benar hamil? aku sangat muak dengan sikap kerasmu!"
Perasaan Carcas berkecamuk masih membantu Guen di kamar mandi.
20 menit Carcas membantu Guen, meminta wanita itu duduk disampingnya. Pelan Carcas menghadap Guen.
"Apa kamu yakin dengan ucapanmu? apa kamu sudah memikirkannya dengan baik?" tanya Carcas tenang.
Guen mengalihkan pandangannya lagi tak ingin menatap mata indah Carcas. Bahkan dia meremas jemarinya sendiri. Merutuki sikap egonya.
"Baik, kita coba perlahan untuk bersama. Jujur aku tidak ingin kau pergi dari kehidupanku, sampai aku bisa melunasi semua hutang pada mu," tegas Guen menata perasaannya.
"Baik, 6 bulan. Perlakukan aku sebagai suamimu dengan sangat baik. Setelah itu pergilah, aku tidak akan perduli. Anggap kita hanya menjalani perjanjian sesuai kontrak," jelasnya tegas tanpa memohon tak bergeming.
Baginya lebih baik begini, dibandingkan harus mendengar kata kata kasar dari Guen tentang pikiran menolak pernikahan dan menyesali semua perbuatan Carcas.
"Mana ada yang bertepuk sebelah tangan," kesal Carcas kaku dalam hati.
Hmmmm sepertinya kehilangan dulu, baru Guen nyesel yah, hachiiiin... hachiiiin....π₯Ίπ€§
Tobe continue...
__ADS_1
Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...π