CEO, Gadis Bersyarat

CEO, Gadis Bersyarat
Kerasnya kepalamu...


__ADS_3

Haiii readers, jangan lupa kasih like, vote and coment, jangan kecewakan othor... please...


🌹🌹🌹


"Baik, 6 bulan. Perlakukan aku sebagai suamimu dengan sangat baik. Setelah itu pergilah, aku tidak akan perduli. Anggap kita hanya menjalani perjanjian sesuai kontrak," jelasnya tegas tanpa memohon tak bergeming.


Baginya lebih baik begini, dibandingkan harus mendengar kata kata kasar dari Guen tentang pikiran menolak pernikahan dan menyesali semua perbuatan Carcas.


"Mana ada yang bertepuk sebelah tangan," kesal Carcas kaku dalam hati.


Guen tak menolak ataupun melawan. Bagi wanita kepala batu sepertinya, harus mampu menahan beban berat yang menimpa kali ini. Masa depan tentang keindahan pernikahan dan kemesraan malam pertama pupus sudah karena semua direnggut paksa oleh Carcas, CEO bodoh menurut Guen, untuk menyelamatkan butik miliknya.


"Antarkan aku pulang," ucap Guen sedikit berbisik.


Carcas tersenyum, "kita akan tinggal bersama di apartemen ku selama 6 bulan. Kau akan ke butik setiap hari melakukan pekerjaanmu dan,"


Belum sempat ucapannya tersambung, Guen justru dengan tegas menolak.


"Aku tidak mau tinggal di manapun selain butik," ucapnya menantang.


"Baik, kita hidup masing-masing seperti ingin mu di awal, besok pagi aku tunggu kau menyerahkan uang 400.000 euro ke Bank ku, pergilah sesukamu," geram Carcas berbisik sinis.


"Bukankah kita akan tinggal di butik? kenapa mesti aku ikut denganmu ke apartemen? aku tidak mau meninggalkan sahabatku," tegas Guen frustasi.


"Heiiii, kau takut kehilangan sahabat, atau tidak ada yang membantumu haaah? aku sudah mempersiapkan semua koki, pelayan pribadi, bahkan semua kebutuhanmu selama 6 bulan bersama ku. Tugasmu hanya melayaniku gadis kecil," senyum Carcas menyeringai seperti akan menerkam Guen yang tampak ketakutan.


Bukan Guen namanya, jika tidak berani menantang bahkan sangat berani menatap mata sipit yang indah dihadapannya. Membuat salivanya salah mengalir, bahkan ada hasrat tersembunyi saat tatapan kembali bertemu, membuat wanita itu tersedak,


"Uhuuugh uhuuugh uhuuugh," tepuk Guen pada dadanya.


Carcas tersenyum smirk, "bagaimana cara melunakkan kerasnya kepalamu," bisiknya mengusap lembut punggung Guen.


"No, I say no, no," tegas Guen menjawab dengan nafas masih terasa sesak.


"Aku heran pada mu, jika kau tidak melawan, mungkin semua akan baik bahkan kita akan bulan madu bersama! tapi karena seperti ini, kita lihat bagaimana kedepannya. Aku tidak ingin tampak bodoh dihadapan wanita seperti mu, Guenhumura," jelas Carcas kaku.


Ada perasaan bersalah di hati Guen, telah kasar pada Carcas, tapi dia tidak ingin laki laki di hadapannya menginjak injak harga dirinya jika berharap penuh. Kecewa karena berharap itu sangat menyakitkan, bahkan menyayat hati dan jiwanya untuk dilupakan.


Guen menarik nafas panjang, "jawab aku, sejauh mana hubungan mu dengan wanita bernama Anggel dan Carenina,"


Pertanyaan Guen sangat melenceng dari topik pembicaraan mereka. Saat ini mereka membicarakan tentang pernikahan, tempat tinggal dan polemik lainnya.


"Kenapa tiba-tiba kepalanya bertanya tentang Anggel dan Carenina?" batin Carcas, emosi membludak seperti gas 30 kilogram jika ada.


"Apa maksudmu? kenapa nama mereka kau sebut dalam permasalahan kita? apakah dari tadi kita menyebut mereka?" tanya Carcas sinis.


"Jawab aku! jika tidak, aku tidak akan ikut denganmu ke apartemen," tegas Guen membuang pandangannya.


Carcas menaikkan kedua alisnya, menatap selidik pada Guen, "apa kau sedang di landa cemburu?" tanyanya terkekeh.


Gedebug,

__ADS_1


Tangan Guen mendarat ke punggung Carcas membuat laki laki itu meringis menahan sakit.


"Aaaaugh kau kenapa? kenapa terus memukulku? apakah aku tidak pantas untuk kau belai seperti tadi malam?" tanya Carcas menatap tajam mata Guen.


Deg,


Guen menjauhkan wajahnya dari tatapan suaminya yang sudah mendekat bahkan sudah siap menyerangnya untuk masuk ke dunia lebih mengerikan. Posisi mereka masih dengan suasana kamar sedikit memanas.


"Jangan lakukan itu," tegas Guen membuang pandangannya kembali.


Carcas dengan mudah dapat meraih cerug leher indah nan bersih tanpa noda membuat Guen sedikit mendesis dengan mata tertutup.


"Bibir mu mengatakan tidak, tapi tubuhmu sangat menginginkannya gadis kecil," bisik Carcas tersenyum smirk.


Tangan Guen mengepal, entah kenapa dia tak mampu menahan sentuhan tangan suaminya. Berharap penuh damba, bahkan ingin merasakan sesuatu dengan sadarnya.


"Hmmmmfgh,"


Carcas semakin tertantang, saat melihat wanitanya pasrah menerima perlakuannya.


"Tenanglah, aku akan melakukan dengan sangat hati-hati," bisik Carcas membuka kimono penutup tubuh mungil Guen.


Guen menahan tangan Carcas, "jangan lakukan Cars, aku mohon," ucapnya pelan berusaha keluar dari tubuh yang semakin dekat tanpa jarak.


"Why? aku suamimu, aku sangat menyukaimu, bahkan aku bahagia memilikimu seutuhnya. Bisa kau ceritakan ada apa denganmu? aku tidak mampu menahan jika sudah melihatmu seperti ini Guen. Aku terbius oleh semua yang ada di dirimu, keras kepalamu, sikapmu, membuat aku ingin melakukan lebih setiap hari, agar aku mendengar ucapan cinta dari bibir mungilmu," bisik Carcas semakin membawa wanitanya terbang melayang bersama harapan.


"Cars please,"


Guen tak mampu menahan sentuhan tangan itu kembali membelit lembut nadinya membuat dia benar benar seperti kehilangan arah.


Keduanya benar benar terlena, Carcas sangat handal menaklukkan hati Guenhumura untuk masalah ranjang, tapi tidak untuk melunakkan kerasnya hati wanita yang sudah resmi di nikahinya.


"Bersuaralah sayang, aku sangat ingin mendengarkan irama dari bibirmu," bisik Carcas saat menikmati keindahan benda kenyal yang menjadi candu baginya.


"Eehmmz,"


Guen benar benar dibawa terbang oleh Carcas dengan segala kelihaiannya menaklukkan hati wanita.


Laras panjang sudah memberontak sejak tadi, harus melesat dengan sempurna masuk kedalam indahnya syurga Guenhumura.


"Aaaaagh,"


Terdengar keindahan suara getaran istrinya, membuat Carcas semakin bersemangat memompa penuh semangat, bahkan lebih dahsyat.


Tatapan mata keduanya saling berbicara tanpa berucap, Guen sangat menikmati dalam keadaan sadar, tanpa pengaruh minuman atau pemaksaan.


"Kau sangat sempurna Guen," bisik Carcas me lu m at penuh bibir Guen yang terbuka sejak laras panjang kembali berjelajah didalam sana.


Entahlah, Carcas enggan berhenti bahkan semakin kencang menghentakkan mencari satu titik untuk kebahagiaan mereka dalam penyatuan cinta yang tidak terucap.


20 menit Carcas dan Guen saling bersahutan manja, tanpa pertikaian atau kata kasar yang terucap dari bibir mungil itu, hingga akhirnya mencapai finish meraih kemenangan mereka berdua.

__ADS_1


Dengan nafas masih menderu, Carcas dan Guen saling berpelukan enggan berucap. Keduanya masuk ke dalam pemikiran mereka masing masing.


"Apakah seperti ini rasanya menikah?" batin Guen mengusap lembut punggung Carcas yang masih berada diatasnya.


"Ikutlah denganku Guen, aku akan menjagamu, percayalah. Aku mencintaimu," kecup Carcas dikepala Guen.


"Maaf, tinggallah kau bersama ku. Aku tidak mungkin meninggalkan butik," ucap Guen pelan.


"Yeees, kau akan menerima aku Guen," batin Carcas mengecup puncak kepala istrinya kembali.


"Bisakah kau lembut pada ku? selayaknya pengantin baru yang sedang jatuh cinta?" bisik Carcas.


"Hmmmm, akan aku coba,"


Guen mencari keberadaan wajah Carcas, menatap lekat wajah tampan suaminya.


"Biasakan kau menjawab Anggel dan Carenina?" geram Guen.


Membuat Carcas melepaskan laras panjang dari syurganya, berbaring di samping Guen. Pelan dia mengusap perut ramping istrinya, kembali meremas benda kenyal yang sangat menarik perhatian.


"Mereka hanya wanita penggila harta. Aku bersahabat dengan Anggel saat menjalin hubungan dengan Carenina. Dia menjauhi ku, karena aku tidak seperti yang dia harapkan. Mereka berfikir aku adalah pria kaya yang suka menghamburkan uang, aku lebih suka menghabiskan waktu bersama buku dan anjingku Snowy. Aku hanya menjadikan dia partner ranjang, tanpa sepengetahuan Ayah. Akhinya kami berpisah. Dia hanya wanita yang haus akan uang Guen, bukan wanita pejuang. Maafkan aku," senyum Carcas memiringkan tubuhnya menghadap Guen.


"Apakah kau akan kembali kepada mereka? apakah Carenina sudah menikah? apakah dia akan merebut mu dari ku? atau justru Anggel yang diam diam menyukaimu, hingga dia ingin aku menjauhkan diri dari mu?" semua pertanyaan Guen membuat Carcas tidak mengerti.


"Apa maksudmu? aku dan Anggel hanya teman, sahabat, seperti aku dan Citra. Dia memiliki kekasih, aku tidak pernah menyukai dia. Dia gadis baik Guen," bela Carcas.


"Apa menurutmu seseorang akan menghujamkan gunting padanya dia gadis baik?" tanya Guen sarkas.


Carcas terdiam, sejenak berfikir kejadian beberapa waktu lalu, "apa yang dia katakan padamu?" tanyanya penasaran.


"Dia ingin memiliki mu Cars, justru dia ingin menikah dengan mu," jelas Guen.


Carcas tertawa geli, merangkul tubuh mungil gadis itu.


"Dia hanya bercanda, Ibuku sangat sayang padanya, tidak mungkin aku menikah dengan sahabat, sama seperti Citra," jelas Carcas semakin mendekap.


"Apakah Citra tahu tentang hubungan ku dengan Samuel?" tanya Guen.


Carcas mendengus kesal, "hanya aku yang tahu, Citra tidak mengetahuinya," jawabnya.


"Hmmmm,"


Guen kembali pada pikirannya, tidak mungkin dia akan terus melawan takdir pernikahan yang sudah terjadi, setidaknya bersahabat dengan keadaan mampu memberikan suport untuk diri sendiri, mengurangi penyakit tekanan darah tinggi.


Semoga kekal yah....🤧


Othor lagi khilaf untuk chapter ini... jadi agak agak melanjutkan sisa sisa pengantin baru...🔥


Setelah ini akan terbuka perlahan koreng di Keluarkan Alister, hubungan Samuel dan Guen, kenapa Carcas selingkuh bahkan.... iiiiighs... serem deh...


Simak terus kisahnya...

__ADS_1


Jangan lupa Like and Fav... Jika berbaik hati berilah bunga, vote bahkan love... agar othor semangat...


Gimana lanjut nggak niiih??? 🤧


__ADS_2