CEO, Gadis Bersyarat

CEO, Gadis Bersyarat
Memohon...


__ADS_3

Guen benar benar menampar kasar wajah Carcas membuat wajah pria itu merah padam. Dengan ganas dia mengunci tubuh gadis itu dalam kungkungannya, enggan untuk menghentikan perbuatan memberi hukuman yang pantas karena perasaan kesal di perlakukan kasar oleh seorang gadis yang sudah di nikahinya.


Carcas sangat buas disana, seperti orang kelaparan bahkan sangat haus akan hal itu, memberi stempel kepemilikan tanpa ada perlawanan, karena kedua tangan Guen di kunci keras olehnya. Dia melucuti semua benang yang menempel agar tidak ada yang menghalangi aksinya, dengan mendengar isakan tangis Guen yang membuat telinga sedikit muak.


"Diam!" bentak Carcas diatas tubuh Guen.


Guen terdiam, dia terisak, menatap dengan tatapan kosong.


"Memohon lah Guen, agar aku tidak melakukannya dengan memaksamu," kecup Carcas menghirup dalam cerug leher putih Guen merasakan sesuatu sudah semakin memuncak hingga ke ubun-ubun kepala.


Guen hanya terdiam, susah payah dia menelan ludah mengunci bibir mungilnya agar tidak mengeluarkan suara yang bisa membangkitkan gairah pria yang hanya tinggal selangkah lagi menghentakkan laras panjang memasuki lembah syurganya.


"Aku mohon, jangan hancurkan masa depan ku Cars," bisik Guen menutup matanya.


Guen merasakan benda keras itu benar benar akan merobek kulit lembut hingga mengiris tipis urat nadinya.


"Kau istriku Guen,"


Carcas menatap lekat wajah Guen, membelai lembut wajah mulus yang berada di hadapannya, "maafkan aku," ucapnya sambil menghentakkan dengan satu hentakan.


Membuat gadis itu berteriak, kepalanya mendongak keatas, mata membulat, pandangannya menerawang, cengkraman kuat meremas pungung pria diatasnya, sangat menyesakkan saat laras panjang merobek kulit terhalusnya hingga menembus pori pori membuat Guen tak mampu berucap.


Carcas me lu m at bibir Guen dengan sangat liar saling bertukar saliva, me r e m a s bagian kenyal yang sejak tadi menampar wajah pria tampan itu.


"Stop," air mata Guen mengalir deras saat Carcas memulai aksinya perlahan hingga istrinya mengeluarkan suara bergetar yang membuat prianya semakin bersemangat memompa di bawah sana.


"Aaaaagh,"


Guen lagi lagi meremas pungung Carcas merasakan ada sesuatu yang akan meledak hebat di dalam dirinya.


"Aku mencintaimu Guenhumura," bisik Carcas terus bekerja keras untuk mencapai kebahagiaan mereka berdua.


"Aku akan membuat kau melayang Guen,"


Carcas benar benar gila oleh pesona Guen yang mampu menyesap kuat laras panjangnya dengan sangat ni k m a t dan berbeda dari wanita sebelumnya.


Lebih dari 20 menit Carcas membawa Guen menembus nirwana walau agak memaksa tanpa ada perasaan berdosa dan bersalah. Pria itu tersenyum puas saat mencapai titik finish dalam pelarian panjangnya karena berhasil menembus pesona wangi syurga Guenhumura.


"Kau mencintaiku Guen," ucap Carcas saat tubuhnya ambruk disamping istrinya.


Guen terus menangis merasa kehormatannya hilang di rebut oleh suami sendiri, yang menurutnya tidak dia cintai. Jauh di lubuk hatinya ada perasaan lega dan bahagia karena mampu memberikan yang terbaik untuk Carcas, walau ada rasa takut kehilangan.


"Kenapa kau tega melakukan ini pada ku Cars? apa salah ku? aku hanya tidak membayar tagihan butik ku, tapi kau tega menghancurkan masa depanku. Kalian egois," isaknya.

__ADS_1


Carcas tersenyum lega, membawa wanita itu kepelukan, mengecup pelan kening Guen.


"Istirahatlah, aku akan memintanya lagi sebelum menghadiri pesta kita," bisiknya membuat Guen berontak keras.


"Jangan melawan gadis kecil, kau milikku," tegasnya.


"Aku tidak ingin melakukannya lagi," tolak Guen.


"Hmmmm setiap sentuhan ku kau menikmatinya, jangan kau dustai hatimu," kecup Carcas pada benda kenyal yang masih berada di genggaman.


Guen hanya bisa menuruti perintah Carcas agar tidak berlaku kasar padanya. Sangat menyayat hati, karena harus menerima kenyataan jauh dari syarat yang mereka sepakati.


Carcas tak melepaskan tangannya dari perut ramping Guen, dia telah menyalakan alarm agar terjaga pukul 20.00 waktu Loumarin.


Alarm berbunyi, menyadarkan dua insan yang masih enggan membuka mata bahkan saling berpelukan di bawah selimut tebal berwarna biru lembut menghangatkan dua insan yang baru menyandang status baru.


"Bangun istri pemalas," ucap Carcas mengecup wajah Guen.


"Eeeegh,"


Guen terjaga sedikit meringis karena merasakan lengan yang kembali berdarah dan bagian ehemnya perih terasa.


"Kau terlalu aktif, karena tidak mampu menahan sentuhan ku pada tubuhmu," kecup Carcas di lengan Guen.


"Sssszh perih,"


"Aku akan membantumu,"


Carcas menggendong Guen menuju kamar mandi membantu istrinya membersihkan diri dan mengganti plaster dengan hati hati. Sesekali menggoda wanita yang tidak pernah manis di hadapannya.


"Tersenyumlah Guen. Aku sangat mencintaimu," ucap Carcas membuat Guen mengalihkan pandangannya.


Carcas mendengus kesal, "kenapa kau terlalu kaku, bahkan tidak bisa manis di hadapan ku?" kesalnya.


Guen memilih diam tak bergeming. Dia hanya lelah berharap lebih pada pria. Kecewa teramat dalam membuat dirinya enggan membuka lembaran kehidupan tanpa disadari menyakiti orang sekitar termasuk Carcas yang sudah menikahinya dengan berbagai polemik dan syarat.


"Maaf, aku hanya tidak bisa mencintaimu," ucap Guen pelan.


"What? kau tidak mencintaiku? apa yang kita lakukan dan wajah memohon mu apa itu tidak cukup bahwa kau juga mencintai ku Guen?" tanyanya membuat Guen mengunci rapat bibirnya.


"Jangan paksa aku! ini sudah keluar dari perjanjian kita, kau berjanji tidak akan menyentuhku, tapi apa? kau memaksa ku!" bentak Guen.


"Benarkah aku memaksamu? buka mata mu Guen, kau juga menginginkan ku! kau bahkan aaaaagh,"

__ADS_1


Carcas meninggalkan Guen di kamar mandi berlalu mengeringkan badannya, memakai bajunya asal, memilih meninggalkan kamar istrinya. Baginya Guen gadis kasar bahkan tak mudah di tebak.


"Baik Guen, aku akan membuatmu menyatakan cinta, dengan cara ku," batin Carcas berlalu.


"Tuan, anda mau kemana?" tanya Salsa.


"Hmmmm nanti sopir akan menjemput Guen. Bantu dia bersiap siap. Aku akan menemuinya di hotel Citra 20 menit lagi," tegas Carcas.


"Baik Tuan," tunduk Salsa, bergegas menghampiri Guen di lantai 3.


Tak lama berselang, Salsa sudah berada di kamar Guen. Melihat sahabatnya masih berbalut handuk kimono menangis meratapi nasib pernikahan yang tidak indah menurut Guen.


"Guen, kau kenapa menangis? bukankah kalian akan ke pesta? ini hari pernikahan mu, jangan kau rusak dengan pikiranmu sendiri,"


Salsa membantu sahabatnya mengenakan gaun malam berwarna hitam tanpa lengan, menutup tubuh indahnya dengan slayar senada di bahunya.


"Pakailah sepatu ini,"


Salsa menyodorkan heels tinggi agar terlihat lebih sensual.


"Aku tidak ingin melanjutkan semua ini," ucapnya di pelukan Salsa.


"Tenanglah, semua akan baik baik saja,"


Salsa mendekap sahabat kecilnya. Banyak yang ingin Salsa ungkapkan, tapi enggan untuk membahas sekarang. Baginya, saat ini Guen harus mampu menerima takdir yang sudah menjadi garis hidupnya.


Setelah jauh berkeliling dengan kepala masih berkecamuk, Carcas memilih menjemput Guen ke butik dengan melewatkan 20 panggilan telepon dari Samuel dan Citra.


"Kita harus pergi bersama Guen. Setelah ini aku akan melepas mu," ucap Carcas memutar stir kemudi menuju butik.


Benar saja, Guenhumura telah berada di bawah menunggu kedatangan yang menjemput.


"Selamat malam istriku," senyum Carcas berusaha semanis mungkin.


"Hmmmm,"


Guen menelan salivanya, mengagumi ketampanan pria yang sudah berdiri tegap di sampingnya.


"Kita jalan sekarang," tanya Carcas berusaha baik.


"Terserah," jawab Guen masih enggan untuk tersenyum.


Sulit sekali, 😏

__ADS_1


Tobe continue...


Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...🙏


__ADS_2