
Apartemen milik William yang memiliki kemewahan melebihi hotel bintang lima, mampu memberikan kenyamanan bagi dua pasang pengantin baru yang tengah menghabiskan waktu bersama di ruang keluarga.
"Jadi, kapan terakhir kamu akan melunasi hutangmu, Guen? aku mampir kesini untuk membicarakan tentang ini," jelas Citra dihadapan Carcas dan Samuel.
Guen tersenyum tipis menatap wajah tampan suaminya, "bagaimana minggu depan kita ke Loumarin, untuk melakukan pelunasannya, hubby? kebetulan sisanya hanya 175.000 euro, Citra bersedia membantu kita," tanyanya sedikit berbisik tapi dapat didengar oleh Sam.
"Hmmm, boleh. Aku sangat mengetahui bagaimana jika kita melakukan pelunasan sebelum waktunya. Lebih baik kamu mengirim surat kepada Bank Alister, agar mereka mempersiapkan semua berkas yang harus kamu terima tanpa menunggu lama," jelas Carcas.
Guen mengangguk mengerti, menatap kearah Citra dan Sam.
"Saya akan membayar melalui projek pada mu, dear," jelas Guen pada Citra.
Citra menatap lekat wajah Guen dan Carcas secara bergantian, "jangan pikirkan untuk pembayarannya, aku membantumu, karena kau telah membantuku untuk menikah dengan Sam. Itu sangat berharga, Guen," senyumnya.
Guen tersenyum tipis, "aku tidak ingin mengingat apapun setelah ini, yang penting aku akan membayar padamu. Aku tidak ingin ada balas budi di persahabatan kita. Bagiku, kamu sudah mau membantu itu sudah sangat cukup. Keadaan ku harus memilih, Cit. Antara menerima tawaran William atau kamu, karena sudah jatuh tempo dan harus mengambil tindakan cepat," jelasnya panjang lebar.
Citra dan Samuel tersenyum bahagia, mendengar penuturan Guen, "kamu sudah cukup menderita dear, aku tidak ingin kalian terlalu berat memikirkan utang yang tidak seberapa. Makanya aku tanya William dan ingin menemui mu disini."
Citra menggenggam jemari tangan Guen, tersenyum senang, kemudian memeluk tubuh mungil itu.
"Terimakasih, akhirnya kamu mau menerima tawaran ku untuk membantumu. Aku benar-benar khawatir dengan keadaan Salsa dan Kasih sahabatmu. Mereka berdua seperti kehilangan arah, bahkan tidak menyangka jika kamu meninggalkan mereka secepat ini," ucap Citra.
"Aku dengar butikmu dikawal oleh pengawal Papa Ken, Salsa dan Kasih juga merasa tenang," tambah Citra tersenyum.
Guen tersenyum lega mendengar celotehan Citra padanya, "terimakasih kamu masih mau mendatangi butik, walau aku tidak berada disana," ucapnya.
Citra tersenyum, menggenggam jemari Samuel yang berada disampingnya tanpa sungkan dihadapan Guen dan Carcas.
"Kita sahabatkan? aku senang bisa dekat dengan kalian saat ini. Oya Cars, kenapa Papa Ken mengambil semua fasilitasmu? apakah kalian berseteru?" tanya Citra penasaran.
Carcas menatap Citra penuh selidik, "apakah sekota Loumarin mengetahui statusku hanya anak haram?" batinnya.
"Hmmm aku hanya berbeda pendapat dengan Papa. Tidak ada yang mesti dipikirkan," ucap Carcas menatap Samuel dan Citra bergantian.
__ADS_1
Guen memotong pembicaraan mereka, "kami tidak ingin mengingat apapun sesuatu yang buruk, Cit," jelasnya menenangkan suami.
Citra dan Samuel merasa tenang, setidaknya kabar yang mereka dengar dari pihak pihak lain tidak berdampak dengan kedekatan mereka.
Begitu banyak kerabat terdekat mereka menyatakan bahwa Carcas adalah putra Keanu Alister dari hasil perselingkuhan. Bagaimana tidak, saat mereka bersitegang, semua pengawal dan pelayan mendengar perdebatan anak dan bapak itu. Hingga sampai ketelinga Samuel dan Citra, tapi keduanya enggan untuk bertanya lebih detail karena menjaga perasaan sahabat dan istrinya.
.
Dua bulan berlalu, kesedihan Gerry tampak jelas diwajah yang sudah tampak tua. Keriput disudut mata dan dibeberapa kulitnya terlihat jelas. Wajah itu kini seperti sudah lama tidak menerima asupan gizi yang cukup karena tingkat strees yang melanda akhir akhir ini.
Jenar yang tengah membantu Gerry mempersiapkan semua kebutuhannya, merasakan sesuatu karena kondisi kesehatan majikannya tampak semakin memburuk.
"Nyonya, maukah kamu saya telfonkan Tuan Keanu? malam tadi beliau menginap diapartemen miliknya, kondisimu semakin memburuk Nyonya," ucap Jenar menggenggam jemari Gerry.
Gerry membuang wajahnya, dengan mata berkaca-kaca, "tidak usah, saya tidak membutuhkan dia," jelasnya menahan tangis.
Jenar mengambil tindakan untuk Gerry agar wanita paruh baya itu mendapatkan perawatan medis atas izin Keanu.
"Bagaimanapun Tuan besar harus tahu kondisi Nyonya saat ini," bisik Jenar berlalu meninggalkan kamar Gerry, menghubungi Keanu dan Carcas.
π"Ya," Keanu.
π"Tuan, kondisi Nyonya besar saat ini memburuk, beliau tidak ingin saya bawa kerumah sakit. Dia hanya menghabiskan waktu dikamar tanpa mau mendengar nasehat dari saya, bagaimana Tuan?" tanya Jenar.
π"Ya, saya akan kembali pukul 10.00, tolong beri vitaminnya saat ini. Dia sudah lama tidak mengkonsumsi obat itu, karena dia ingin mengakhiri hidupnya secara perlahan," jelas Keanu tanpa ada yang ditutupi.
Deg,
π"Baik Tuan," jawab Jenar menutup telfonnya.
"Apakah Nyonya Gerry sengaja melakukan hal ini untuk menarik perhatian Tuan Ken dan perhatian Tuan muda?" batin Jenar lagi.
Jenar bergegas mencari obat obatan perawatan kecantikan Gerry, benar saja, obat obatan itu masih tertata rapi, masing masing masih tertutup rapat dan penuh.
__ADS_1
"Aku harus menghubungi Tuan muda, bagaimanapun ini Nyonya besar adalah ibunya," batin Jenar.
Jenar mengambil handphone miliknya, mencari nomor telepon Carcas, menekan tombol hijau kemudian menunggu lama tanggapan dari seberang sana.
π"Hmmm, ada apa?" tanya Carcas kaku.
π"Maaf Tuan muda, saya mau memberitahu bahwa Nyonya besar Alister sedang drop. Kondisinya sedang tidak baik baik saja. Saya harap Tuan muda mau menemuinya," ucap Jenar.
π"Ya," Carcas menutup telfonnya, tanpa mau berbasa basi.
Jenar mendengus kesal, wajahnya menggeram, ingin sekali dia memaki Carcas karena kekakuannya yang enggan bersahabat menyambut telfonnya jika menyangkut Gerry.
Pelayan itu membawa obat obatan ke kamar Gerry, memaksa wanita itu agar mengkonsumsi vitamin kulitnya.
"Nyonya minumlah obat ini, jika anda tidak mengkonsumsinya, akan berdampak buruk pada kesehatan anda. Tuan Keanu dan Tuan muda akan kembali kekediaman kita," jelas Jenar memberi vitamin itu ketelapak tangan Gerry.
Gerry melempar obat itu kesembarangan arah dengan wajah memerah. Dia tidak ingin mengkonsumsi vitamin yang menjadi ketergantungan pada tubuhnya. Matanya basah dan sembab, karena selalu menangis dan meratapi kepedihan hatinya.
"Tenanglah Nyonya, anda harus bertahan. Kalau tidak Tuan akan membawa anda kerumah sakit," tegas Jenar.
Mata Gerry menatap manik mata Jenar, wajah yang biasa ceria bahkan selalu tersenyum itu, kini tampak dingin dan semakin tua.
βBiarkan aku mati, aku tidak ingin hidup jika untuk dikhianati," isaknya kembali menangis.
Jenar mengusap lembut lengan Gerry, "Nyonya, jika anda mati, apakah Tuan besar akan meratapinya? tidak Nyonya, dia bahkan bahagia dan akan menikah dengan wanita itu," ucapnya lembut agar Gerry tidak seperti mayat hidup.
Gerry menangis terisak, tidak ingin melanjutkan perdebatan dengan Jenar. Dia mengambil obat yang berada ditangan pelayannya, lalu meminumnya tanpa diminta.
Jenar tersenyum sumringah, ada kelegaan dihatinya, melihat Gerry mau mengalah, demi mempertahankan hidup lebih lama.
"Syukurlah, takut juga Nyonya besar meninggalkan Tuan Ken," kekehnya dalam hati, membantu Gerry untuk tetap beristirahat setelah menghabiskan beberapa piring makanan.
Tobe continue...
__ADS_1
Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah.β€οΈ